NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

3. Bertemu Pacar

Seorang bocah tengah menunggu di luar, wajahnya tampak cemberut. Dia melihat jam tangan kecilnya lalu berteriak.

"Ma... Kapan selesainya sih? Sudah belum!?"

Bocah itu, namanya Aeris—berusia enam tahun lebih sedikit, duduk di sofa sambil menggoyang-goyangkan kakinya.

"Kenapa sih perempuan kalau dandan lama banget? Heran deh!" gerutunya.

Sementara itu, di dalam kamar...

"Aduh... di mana ya lipstikku? Perasaan kemarin aku taruh di sini deh..." Seorang wanita yang memakai gaun off-shoulder mengobrak-abrik meja riasnya. "Mana itu lipstik mahal pula! Aduh!"

"Aeris! Sini dulu bentar!!" teriaknya dari dalam kamar.

"Kenapa!?" sahut bocah itu tak kalah nyaring, "Aeris malas jalan!"

"Cepat, kesini dulu!"

Mau tak mau, Aeris akhirnya menyeret kakinya menuju kamar sang mama.

Begitu bocah gembul itu muncul di ambang pintu, sang ibu langsung berkacak pinggang. Matanya menyipit menatap anaknya itu dengan ekspresi penuh kecurigaan.

"Kamu lihat lipstik mama? Yang warna nude, yang mama pake semalam"

"Li... lipstik?" Bocah itu tampak berpikir keras.

"Iya! Semalam masih ada di meja sini, sekarang pagi-pagi udah hilang aja. Jangan bilang kamu yang ambil lagi..." suaranya berubah tajam.

Bocah itu langsung kikuk. Mulutnya membuka-tutup seolah menimbang harus jujur atau tidak.

"Mm..."

"Jawab!" mata sang ibu menyala, penuh intimidasi.

"Jangan bilang kamu pakai buat mewarnai gambar kamu lagi!?" Tebaknya yang tepat sasaran.

Aeris langsung menunduk. "Iya... iya bener... Habisnya mama nggak mau nemenin aku gambar. Aku marah, terus aku ambil aja lipstik mama..." Lirihnya.

Alina, wanita itu memijat pelipisnya, napasnya terdengar berat.

"Mon Dieu... Kalau bukan anakku sudah aku depak dia..." gumamnya dalam hati.

Ini bukan kejadian pertama. Beberapa bulan lalu, peralatan make-upnya yang seharga setengah gajinya lenyap tak bersisa gara-gara Aeris membuang-buang isinya.

Bocah itu beralasan melakukan itu karena sang mama terlalu asyik mengetik sampai melupakan dirinya.

Alina menatap putranya datar. "Nggak mau minta maaf ke Mama?"

Aeris mendongak, kali ini wajahnya tampak lebih berani. "Nggak mau sebelum mama minta maaf duluan sama Aeris!"

"Ya ampun... ini anak!" Alina gregetan. Namun kemudian mengusap wajahnya kasar, lalu berjongkok sejajar dengan putranya. Tangannya terulur memegang kedua bahu si bocah kecil.

"Maafin mama sayang... Mama nggak bisa nemenin kamu menggambar karena ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalin," ucapnya pelan.

Wajah wanita itu dibuat semelas mungkin supaya putranya luluh.

"Jangan nangis ih" kata Aeris pelan, lalu tiba-tiba saja bocah itu menangis.

"Eh? Eh? Kok malah kamu yang nangis sekarang?" Alina tak bisa menahan senyumnya.

"Maafin Aeris... Aeris yang salah..." ucapnya sambil memeluk leher Alina erat-erat.

Alina tertawa kecil, mengusap kepala bocah itu lembut.

"Ganti ya?"

Aeris mengangguk "Nanti Aeris minta uang aja sama pacar mama," jawabnya polos.

Aeris tergelak.

Ia mengusap sisa air mata di wajah anaknya. "Udah yuk, sekarang kita berangkat. Nanti Om Leon nungguin."

Setelah keduanya siap, Alina dan putranya keluar rumah.

"Kita naik taksi?" tanya Aeris sambil menatap jalan.

"Hum," angguk Alina. "Nanti ketemuannya di resto."

Taksi yang mereka pesan tiba tak lama kemudian. Mereka masuk, dan sekitar sepuluh menit kemudian, tiba di sebuah restoran Korea.

Begitu turun, Aeris langsung berlari kecil ke depan pintu. "Mama cepetan, Aeris nggak sabar mau makan!"

"Iya, bentar dulu..." sahut Alina, masih menata penampilannya.

"Ini, Pak," katanya sambil menyerahkan uang pada sopir.

"Cepetaaaan!"

"Sabar, sayang..." sahut Alina, geli sendiri melihat tingkah anaknya yang seperti tak makan seminggu.

Saat mereka sudah di depan pintu resto, Aeris melirik-lirik sekitar.

"Mama... mana pacar mama?"

"Sebentar..." Alina lalu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Hallo, Leon?”

“Sorry, Sayang. Aku bakal datang telat, nggak apa-apa kan kamu nunggu? Tapi aku udah pesan meja nomor 12.”

“Oke.”

“Maaf ya...”

“Iya, nggak apa-apa. Kamu hati-hati di jalan.”

“Hum... see you there.”

“See you.”

“Apa katanya, Ma?”

“Om udah pesan makanan. Yuk, kita ke meja nomor 12,” jawab Alina sambil menggandeng tangan kecil Aeris.

“Ma... makan sekarang boleh kan?” tanya Aeris sambil menatap makanan tersaji di meja dengan mata berbinar.

“Silakan,”

Aeris langsung bertepuk tangan kecil.

Tak lama kemudian, sebuah mobil hitam mewah berhenti di depan restoran. Seorang pria yang kancing kemejanya terbuka turun tergesa-gesa dan berjalan cepat masuk ke dalam, pandangannya langsung tertuju ke meja nomor 12.

Saat melihat punggung wanita yang dicintainya, bibirnya mengulas senyum. Langkahnya pelan mendekat—hingga…

“Bwa!”

Alina tersentak kaget dan langsung menoleh.

“Ya ampun!” Katanya sembari mengusap dadanya.

“Sorry… aku ngagetin ya?” ucap Leon sambil terkekeh.

“Banget.”

Tatapan Leon lalu beralih ke Aeris, yang tampak tenang-tenang saja menyantap makanannya.

“Hei!” sapanya.

“Hai juga,” balas Aska singkat.

“Duduk dulu,” ucap Alina, menepuk sofa kosong di sampingnya.

“I miss you so much.”

“Padahal kita sering ketemu.”

“Tetap aja, rasa kangen nggak bisa dihitung dari frekuensi ketemu.”

“Boleh peluk nggak?”

“Hum,” jawab Alina sambil merentangkan tangan.

Leon langsung memeluk wanita itu erat, menciumi leher Alina, sementara Alina mengusap punggung pria itu lembut.

“Ehem! Udah dong mesra-mesraan nya, nggak lihat ada bocah di sini?” kata Aeris tiba-tiba.

Sontak keduanya melepaskan pelukan sambil tertawa kecil.

“Sorry, Aeris. Om kangen banget sama Mama kamu,”

“Kamu nggak pergi lagi kan?” tanya Leon pada Alina.

“Aku kerja di sini, mana mungkin aku bolak-balik dari kota Lavia ke Angsana, mending sekalian menyewa rumah,"

“Kenapa nggak kamu ajak Mama sekalian ke sini?”

“Tsk, nanti Mama mau kerja apa di sini? Di sana udah enak.”

“Hehe, iya juga. Toko kue lancar, kan?”

“Alhamdulillah, lancar banget.” Senyum Alina merekah.

“Makasih ya… kamu udah bantuin aku selama ini. Kalau nggak ada kamu, entah aku sama Mama jadi apa,” lanjutnya.

Leon tersenyum, lalu menggenggam tangan Alina.

“Jangan ngomong makasih terus. Kamu sama Mama orang baik. Mungkin Tuhan kirim aku buat bantu kalian.”

“Om!” Aeris tiba-tiba menyahut.

“Hm?” Leon langsung menoleh ke arah bocah itu.

“Minta uang dong, buat beliin Mama lipstik.”

“Aeris!” tegur Alina cepat.

“Lipstik mahal Mama habis gara-gara aku pakai buat mewarna,” jawab Aeris tanpa menghiraukan teguran Alina.

Leon tertawa kecil. “Nggak apa-apa. Nanti Om beliin. Habis ini kita ke mall.”

“Nggak usah,” sela Alina

“Nggak apa-apa.”

“Ish, mentang-mentang kaya ya,”

“Kalau buat kamu… apa sih yang nggak?” jawabnya sambil merangkul bahu Alina.

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!