Hati Zara Aurora dibuat tak berdaya akan pesona Affan Zayendra. Semua tak akan menjadi masalah andai pria itu bukan putra dari wanita yang diperistri ayahnya.
Wajah yang rupawan serta kebaikan hati yang pria itu miliki membuat hati Zara sulit berpaling, namun siapa yang menyangka diam-diam Affan menyimpan luka yang dalam. Sebuah peristiwa membuat semuanya berubah. Pria penuh kasih itu berubah menjadi sosok tak berperasaan yang bahkan tega menjadikan Zara sebagai budak hasratnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noah Arrayan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Lima
"Kapan kamu mulai masuk kuliah" Tanya Affan akhirnya ketika mereka telah selesai menyantap makan siang. Sejak tadi Zara dibuat serba salah karena Affan hanya diam tak memulai pembicaraan apapun. Pria itu hanya membuka mulutnya untuk memesan makanan pada pelayan.
"Minggu depan bang" Ucap Zara tak lupa menyematkan senyum tipis. Ia merasa lega karena Affan tak bertanya lebih lanjut seputar Yuda.
"Gunakan uang di rekening yang atm nya uda aku kasih waktu itu untuk beli semua yang kamu butuhkan untuk kuliah dan biaya hidup lainnya. Aku akan mentransfer kebutuhan kamu setiap bulan, kalau uang nya kurang kamu tinggal bilang" ucap Affan. Meski kata-kata itu diucapkan dengan nada bicara begitu datar dan terkesan dingin namun di telinga Zara terdengar begitu lembut dan menggetarkan hatinya.
"I-iya makasih bang" ucap Zara dengan mata berbinar, bukan karena Affan akan memenuhi kebutuhan hidupnya namun sikap Affan tersebut lagi-lagi membuktikan bahwa pria itu benar-benar masih peduli dan menerima keberadaan dirinya.
"Aku melakukan ini demi bunda karena aku tau bunda sangat menyayangi kamu dan nggak mau kamu mengalami kesulitan, bukan karena aku peduli padamu" Ucap Affan seolah mampu menebak isi hati dan fikiran Zara. Gadis itu hanya mengangguk, ia tak peduli apapun yang pria itu ucapkan. Ia tetap percaya pada apa yang hatinya katakan. Meski Affan terus menyangkal namun Zara tetap pada keyakinan bahwa pria itu masih peduli dan selalu menyayanginya. Zara tak akan lelah menantikan sikap Affan kembali seperti semula. Ia akan terus berusaha membawa kembali Affan dengan segala kebaikannya yang saat ini tengah bersembunyi entah di sudut hatinya yang mana.
"Oh ya aku uda pernah bilang kan kalo aku nggak suka dibohongi" Ucap Affan, perasaan Zara yang sempat tenang berubah gusar melihat raut kekesalan yang tiba-tiba tampak di wajah Affan. Zara sudah bisa menebak ke mana arah pembicaraan abang tirinya itu.
"Zara bohong apa emang nya bang?" Tanya gadis itu lirih, meski sebenarnya ia tau kebohongan apa yang pria itu maksud.
"Waktu itu kamu bilang nggak kenal sama cowok yang tadi. Tapi hari ini kamu malah janjian lagi sama dia." ujar pria itu lagi. Hati Zara yang sebelumnya merasa lega karena Affan tak membahas Yuda dibuat panik atas tuduhan pria itu.
"T-tapi Zara nggak janjian sama dia bang, Zara berani sumpah. Zara juga nggak tau kalo dia ada di sini" Zara berharap Affan mempercayai ucapannya.
"Bisa pas banget gitu ya, agak susah dipercaya kalo itu cuma kebetulan aja" Affan tertawa masam. Pria itu mencebik dan melemparkan tatapan meremehkan.
"Sebenarnya itu urusan kamu, kalaupun dia pacarmu aku sama sekali nggak peduli. Aku cuma nggak suka kamu bohongi, dan ingat jangan sampai karena terlena pacaran sama dia akhirnya kuliah kamu berantakan" balas pria itu. Raut wajah nya terlihat cuek dan tak peduli, Zara menunduk lesu. Ia tak berminat membela diri karena Affan tetap dengan pemikirannya tersebut meski ia telah berusaha menjelaskan.
"Aku masih ada pekerjaan, mobil online yang aku pesan untuk kamu sudah ada di depan kafe" Ucap Affan setelah melihat ponselnya.
"Iya bang" Ucap Zara lemah. Keduanya berjalan bersama keluar dari kafe setelah Affan membayar bon makan siang mereka.
Zara naik ke mobil yang dipesan Affan, pria itu belum beranjak dari tempatnya berdiri sebelum mobil yang ditumpangi Zara berjalan. Kesempatan itu Zara gunakan untuk memandangi wajah Affan cukup lama dari kaca jendela, ia bisa memandangi wajah Affan sebanyak-banyaknya tanpa diketahui oleh pria itu karena terhalang kaca jendela yang gelap. Ketampanan wajah Affan begitu mendamaikan hati Zara, gadis itu tak bisa menghalangi senyum di bibirnya. Sejatinya kebaikan hati dan paras wajah pria itu begitu seirama.
🍁🍁🍁
"Zara berangkat dulu bang" Pamit Zara yang sudah dijemput oleh Chelsea untuk berangkat bersama. Ini hari pertama Zara memasuki dunia perkuliahan, ia sudah berstatus mahasiswa kini. Sebagai mahasiswa baru, Selama satu minggu ke depan Zara dan Chelsea juga mahasiswa baru lainnya akan menjalani masa pengenalan lingkungan kampus.
Affan yang sudah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor itu tak merespon ucapan Zara. Pria itu langsung berjalan menuju mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah. Zara tak mengambil hati sikap Affan, gadis itu tersenyum dan menghembuskan nafas berulang sebelum berjalan menuju mobil Chelsea.
"Abang kamu sekarang kenapa kayak jutek banget ya? perasaan dulu mukanya ramah" Ucap Chelsea setelah Zara masuk ke dalam mobil.
"Perasaan kamu aja" balas Zara yang tak ingin sahabatnya itu berfikir buruk tentang abang tirinya.
"Ini bukan pertama kalinya aku ketemu abang kamu walaupun kamu nggak pernah mau ngenalin aku sama dia, dulu kan kamu selalu diantar sama abang kamu. Aku bisa lihat kok sikap hangat nya ke kamu. Kalo sekarang tu beda banget" Lanjut Chelsea.
"Abang tu uda dewasa sekarang, ditambah lagi semua tanggung jawab ada di pundaknya semenjak ayah dan bunda meninggal. Wajarlah kalo kamu ngerasa dia uda beda, tapi sebenarnya nggak ada yang berubah sih sama bang Affan. Dia tetap abang yang baik yang selalu care sama aku" bantah Zara, gadis itu tak ingin siapapun mengetahui bagaimana hubungan mereka saat ini. Chelsea hanya diam, tak berminat untuk melanjutkan perdebatan nya dengan Zara.
Setelah hampir 30 menit berkendara mereka tiba di kampus. Chelsea dan Zara terlihat bersemangat.
"Banyak cowok cakep tuh Za" bisik Chelsea saat keduanya sedang berjalan menuju aula tempat mereka berkumpul untuk mendengarkan arahan dosen dan kakak senior mereka.
"Kita ke sini buat kuliah, menuntut ilmu. Bukan ngeliatin cowok ganteng" ucap Zara gemas.
"Ya sekalian, kalo fokus kuliah doang nggak asik. Kita butuh selingan juga lah" timpal Chelsea tak ingin kalah.
"Eh Za, itu kak Yuda. Kamu masih ingat dia kan?" bisik Chelsea lagi saat melihat Yuda yang berjalan ke arah mereka.
"Kayaknya dia beneran naksir kamu, liat dia kelihatan happy banget" Goda Chelsea namun Zara tak menimpali. Melihat Yuda membuat Zara terbayang wajah kesal Affan. Gadis itu yakin Affan tak suka ia dekat dengan Yuda, karena nya sebisa mungkin ia harus menjaga jarak dari kakak seniornya itu.
"Hai akhirnya kalian datang juga, dari tadi aku uda nungguin kalian loh" ucap Yuda, matanya tentu saja menatap ke arah Zara.
"Kita nggak telat kan kak?" tanya Chelsea sedikit panik.
"Enggak kok, acara pembukaan nya masih 30 menit lagi. Aku kira kalian bohong kuliah di sini. Ternyata benar" Ucap pria itu masih tak melepaskan tatapan dari Zara.
🍁🍁🍁