Aulia merasa sangat kaget karena Andika tiba-tiba saja meminta dirinya untuk mengandung benihnya, awalnya dia tidak mau karena tidak mungkin dia mengandung benih dari pria yang sudah beristri.
Walaupun pada kenyataannya dia mencintai Andika dalam diam, tapi dia tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang lain.
"Gue mohon, elu mau ya, hamil anak gue?"
"Ngga mungkin gue hamil anak elu, bini elu gimana entar?"
"Jangan sampai dia tahu, nyokap minta cucu. Mereka ngancem kalau bini gue ngga cepet hamil, gue disuruh cerai. Padahal, bini gue mandul."
Kuy pantengin kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beralasan
"Istri?" tanya Andini dengan raut wajah penuh tanya.
Mendengar apa yang ditanyakan oleh Andini, Andika terdiam. Dia seolah sedang memikirkan apa yang baru saja dia katakan.
"Loh, Mas kok malah diam? Aku bertanya, istri kamu yang mana? Maksudnya buah Delima ini untuk istri kamu yang lain?" tanya Andini dengan raut wajah menyelidik.
"Istri aku?" tanya Andika dengan raut bingung seraya menunjuk wajahnya sendiri.
"Iya, tadi kamu bilang buat istri aku. Memangnya kamu punya istri lagi selain aku? Kamu sudah menikah lagi, Mas?" tanya Andini.
Raut wajah Andini benar-benar terlihat sedih dan juga kecewa, ada rasa takut juga yang tergurat di sana. Dia seolah takut jika Andika benar-benar sudah menikah kembali.
"Aku? Menikah lagi? Maksudnya bagaimana?" tanya Andika.
Andika seolah-olah sedang mencari alasan agar istrinya itu tidak mencurigai dirinya, dia malah membolak-balikkan pertanyaan dari istrinya sendiri.
Andini terlihat menghampiri Andika, dia menggenggam tangan Andika dengan sangat lembut lalu berkata.
"Tadi kamu bilang kamu akan menemui istri kamu, kamu akan memberikan buah Delima ini kepada istri kamu, Mas. Makanya aku bertanya kepada kamu, Mas. Apakah kamu menikah lagi di belakangku?" tanya Andini.
Andini terlihat kecewa sekali, dia menatap wajah suaminya dengan penuh harapan. Dia berharap jika apa yang dikatakan oleh suaminya itu adalah bukan kenyataan.
Andini berharap, walaupun dirinya tidak bisa memberikan keturunan kepada Andika, tapi setidaknya Andika tidak berbuat curang di belakangnya.
"Maaf, maaf karena tadi aku terlalu senang mendengar istri dari sahabatku hamil. Bahkan, dia yang ngidam pun aku yang repot karena aku terlalu senang mendengar dia hamil. Maaf, jika aku salah dalam berucap," kata Andika.
Andini masih terdiam, dia seolah sedang mencari kebenaran dari sorot mata suaminya itu. Andika menjadi kikuk dibuatnya, dengan cepat dia memeluk istrinya tersebut lalu berkata.
"Jika kamu merasa tersinggung aku pergi untuk memberikan buah Delima ini untuk istri sahabatku, aku tidak akan pergi. Ayo kita ke kamar saja," ajak Andika.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Andika, Andini menjadi tidak enak hati. Dia segera melerai pelukannya, lalu menatap suaminya dengan lekat.
"Pergilah, aku tidak keberatan jika memang benar itu untuk istri dari sahabatmu. Aku ikut senang jika dia hamil," jawab Andini.
Saat Andini mengatakan hal itu, Andika bisa melihat kesedihan yang begitu mendalam di mata Andini. Dia tahu jika Andini tidak akan bisa hamil, dia tahu jika Andini tidak bisa memiliki keturunan.
Maka dari itu Andini pasti merasakan sakit yang luar biasa ketika mendengar ada wanita yang hamil dan mengalami ngidam, dia ingin mengalami hal yang sama.
"Kalau kamu tidak ingin aku pergi, aku tidak akan pergi. Bagaimana kalau buah Delimanya kita makan bersama saja?" tawar Andika.
Andini langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, tentu saja dia merasa tidak enak hati jika benar buah Delima itu adalah buah yang diinginkan oleh seorang wanita hamil.
"Tidak perlu, bukankah istri sahabatmu menginginkannya? Pergilah, berikanlah kepadanya," kata Andini seraya mengembangkan senyumnya walaupun hatinya terluka.
"Baiklah, aku akan pergi. Kamu ngga marah, kan?" tanya Andika.
"Tidak, aku tidak marah." Andini berusaha untuk tersenyum. 'Aku hanya sedih,' sambung Andini dalam hati.
Andini berusaha untuk tersenyum semanis mungkin di hadapan Andika, Andika terlihat membalas senyuman istrinya lalu menunduk dan menautkan bibirnya ke bibir istrinya.
Mendapatkan hal yang manis seperti itu dari Andika membuat Andini lupa akan apa yang baru saja Andika ucapkan, dia terbuai.
Andini seakan lupa jika hatinya baru saja terluka oleh ucapan dari Andika sendiri, kelakuan Andika memang terlalu manis. Apalagi perlakuannya terhadap dirinya.
Andika selalu memberikan apa pun yang dia minta, Andika selalu memberikan cinta yang banyak untuknya. Andika selalu memberikan perhatian untuknya.
Maka dari itu, Andini dengan mudahnya bisa mencintai Andika. Walaupun pada saat mereka menikah, Andini meninggalkan kekasihnya.
"Kalau begitu aku pergi dulu, hari ini aku tidak pulang. Besok baru aku akan pulang menemanimu setengah hari dan siangnya aku ada meeting di luar," kata Andika seraya mengusap bibir Andini yang basah karena ulahnya.
"Iya, pergilah. Aku tahu suamiku ini sangat sibuk, kamu itu terlalu banyak pekerjaan jadinya aku terabaikan," kata Andini.
"Eh? Aku tidak mengabaikan kamu, Sayang. Serius, pokoknya besok setengah hari kita pergi jalan-jalan. Oke? Jangan sedih," rayu Andika.
"Iya, iya. Sudah sana pergi, jangan ngomong mulu. Nanti teman kamu keburu marah-marah lagi karena belum dapetin buah Delima yang dia mau," kata Andini seraya memaksakan senyumnya.
"Iya iya, aku pergi dulu," kata Andika.
Setelah berpamitan kepada istrinya, Andhika terlihat mengecup kening Andini lalu pergi meninggalkan kediamannya.
Selepas kepergian Andika, Andini terlihat menutup pintunya dengan rapat. Lalu, dia meluruhkan tubuhnya ke atas lantai.
Lalu dia memeluk kedua lututnya dan menyandarkan punggungnya pada pintu tersebut. Andini menangis sejadi-jadinya.
Entah kenapa, dia merasakan hatinya begitu sakit dengan sikap Andika akhir-akhir ini. Dia merasa ada sesuatu yang berbeda dari diri Andhika.
Walaupun, pada kenyataannya perhatian Andika tidak pernah berubah. Uang yang Andika berikan kepada dirinya pun tidak pernah berkurang.
Namun, tetap saja dia merasa jika akhir-akhir ini perubahan dari diri Andika sangatlah terlihat dengan jelas.
"Ya Tuhan, sebenarnya apa yang terjadi dengan suamiku? Sebenarnya ada apa dengannya? Kenapa dia terlihat berbeda?" tanya Andini di sela Isak tangisnya.
Seorang wanita paruh baya yang sudah menjadi asisten rumah tangga di rumah Andini sejak lama, terlihat menghampiri majikannya tersebut.
"Bangun, Nyonya. Nyonya kenapa? Nyonya tidak boleh menangis seperti ini, ayo Bibi antar ke kamar untuk istirahat," kata Bi Surti.
Andini tidak banyak berucap, dia hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bi Surti seolah paham jika majikannya itu sedang merasakan sakit yang luar biasa, tapi bukan fisiknya.
"Aku ingin istirahat, tolong tutup pintunya ya Bi," kata Andini setelah dia tiba di dalam kamarnya.
"Baik, Nyonya," jawab Bi Surti.
Bi Surti terlihat keluar dari kamar Andini, kemudian dia menutup pintunya dengan rapat. Selepas kepergian bis Surti, Andini langsung meringkuk di atas tempat tidur seraya terisak. Dia kembali menangis dalam diam dengan tubuh yang bergetar.
Entah apa alasannya, tapi hatinya merasa sakit dan dia ingin menangis sampai perasaannya menjadi lega.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan kamu, Mas? Sebenarnya apa yang sudah membuat kamu berubah seperti ini? Apakah karena aku yang tidak sempurna ini?" tanya Andini.
Andini benar-benar merasa bingung, karena memang Andika tidak pernah mempermasalahkan dirinya yang tidak bisa memiliki keturunan.
Namun, sikap Andika yang seperti ini seolah-olah menegaskan jika Andika benar-benar menginginkan keturunan.
Tentunya keturunan kandung, bukan hanya sekedar anak adopsi. Itulah yang bisa Andini simpulkan saat ini.