Menceritakan tentang seorang gadis bernama Rachelia Edward yang harus hidup dengan menyembunyikan identitasnya karena sebuah perselisihan yang dapat mengancam nyawanya.
Ketika ia berusia 19 tahun, terungkap fakta mengejutkan mengenai kematian orang tuanya. Dengan berbekal kemampuan IT yang ia miliki, Michel mulai menjalankan rencana balas dendamnya. Namun, di tengah rencana, Michel justru di pertemukan dengan Calvin Archer, pria yang berhasil mencuri hatinya, namun memiliki rahasia yang berhubungan dengan misi balas dendam Michel.
Lalu manakah yang akan di pilih Michel, cinta atau misi balas dendam?
Yuk baca cerita lengkapnya.
Sebelum baca jangan lupa subscribe/favorite, dan tinggalkan jejak like dan koment yah agar Authornya semangat 🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UQies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25 Mata-mata Darold
Langit kini nampak jingga, Michel dan Franz baru saja menyelesaikan tugas yang diberikan atasannya. Sebenarnya, Franz telah lebih dulu selesai dengan tugasnya dua jam yang lalu, namun karena ada hal yang ingin ia sampaikan kepada Michel, maka ia rela menuggu sampai Michel menyelesaikan tugasnya, meski ia tahu Michel akan mengerjakan tugasnya dengan lambat
Mereka kini berjalan bersama keluar dari ruangan kerja mereka.
"Kamu tahu, semua perkiraan yang kamu sebutkan kemarin malam tepat sasaran, mere.."
"Ssst, jangan bicara tentang itu lagi Franz, dan tetaplah berjalan seperti biasa," sela Michel berbisik. Ia merasakan ada pergerakan seseorang yang sejak tadi mengikutinya dan itu berhasil ditangkap oleh ekor mata Michel saat ia menoleh ke arah Franz.
"Ada apa Michel?" tanya Franz ikut berbisik.
"Dengarkan aku baik, tapi bersikaplah seperti biasa, jaga pandanganmu agar tidak menoleh kesana kemari," Franz mengangguk faham, "saat ini diarah jam 6, ada seseorang yang mengikuti kita, entah dia mengikuti kamu atau aku, tapi untuk saat ini kita tidak boleh membahas apapun terkait rencana kita, dan bersikaplah seperti biasa, tanpa melakukan apapun yang mengarah pada rencana kita," bisik Michel sambil terus berjalan bersama Franz keluar gedung.
"Baik Michel, aku paham maksudmu," ujar Franz lirih.
Kini mereka berpisah tepat di depan gerbang perusahaan menuju ke rumah mereka masing-masing.
Michel terus berjalan ke rumahnya, pergerakan orang yang mengikutinya tadi kini sudah tidak ada, "Berarti mereka memang sedang memata-matai Franz, baiklah kita lihat saja, sampai kapan mereka akan terus memata-matai Franz," monolog Michel tersenyum lenuh arti.
--
Satu minggu telah berlalu, selama satu minggu pula para mata-mata Darold mengikuti Franz. Hal ini tentu membuat Franz dan Michel tidak pernah lagi membicarakan apapun yang berkaitan dengan rencana mereka.
Berbeda dengan Franz yang sedikit terkekang karena selalu diikuti, Michel justru terlihat bebas seperti biasa. Malam ini, Michel kembali duduk di pojokan Cafe yang sudah menjadi tempat favoritnya sejak ia pindah ke kota itu. Jika dilihat sekilas, Michel nampak seperti remaja yang sedang sibuk bermain dengan beberapa media sosialnya. Namun siapa sangka, Michel justru sedang fokus menyelesaikan sebuah program yang sudah lama ia rancang agar bisa menjadi lebih sempurna.
Sementara itu, disamping meja Michel, duduk seorang pria yang sejak tadi memandangnya, awalnya ia memandang Michel dengan senyuman dan rasa kagum, namun semakin lama senyuman itu semakin hilang, bahkan kini pria itu memanyunkan bibirnya karena sudah lelah menunggu.
Pria itu adalah Calvin, sejak mengetahui bahwa Michel sering berada di Cafe Rolex pada malam hari, maka ia juga akan selalu menyempatkan diri untuk datang dengan berbagai alasan. Sehingga, bisa dikatakan bahwa hampir setiap malam, Calvin dan Michel selalu bertemu. dan bergabung dalam satu meja.
Namun berbeda dengan malam ini, Michel meminta Calvin untuk duduk di meja lain terlebih dahulu karena ia ingin fokus menyelesaikan programnya. Program yang sudah lama ia rancang, dan program yang akan ia gunakan untuk menyempurnakan misinya nanti.
"Sudah belum," tanya Calvin dengam suara malasnya. Michel yang mendengarnya hanya memutar bola mata malas, bagaimana tidak, Calvin sudah 10 kali melontarkan pertanyaan yang sama kepada Michel.
Beberapa menit berlalu.
"Calvin, kemarilah, aku sudah selesai dengan tugasku," ujar Michel hendak memutup laptopnya.
"Tunggu dulu Michel," seru Calvin sambil menahan tangan Michel yang ingin menutup laptopnya. Merasakan kulit mereka saling bersentuhan untuk pertama kalinya, secara refleks Michel langsung menarik tangannya dengan wajah yang kini bersemu merah, jantungnya berdegup kencang saat ini, apa yang terjadi dengan dirinya dan jantungnya? Michel juga tidak tahu, ini pertama kalinya dirasakan oleh Michel.
Sementara itu, Calvin juga merasakan hal yang sama dengan Michel, namun Calvin justru tersenyum menatap Michel yang terlihat lucu dengan wajah merahnya.
Untuk sesaat mereka terdiam, sesekali Michel dan Calvin terlihat salah tingkah.
"Ekhem, ada apa Calvin?" tanya Michel segera memecah kecanggungan diantara mereka berdua.
"Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya," ujar Calvin saat tersadar dari lamunannya.
"I-iya tidak papa, lain kali hati-hati," jawab Michel singkat berusaha mengontrol debaran jantungnya yang terasa semakin liar.
"Oh iya, begini Michel, sejak kemarin aku lihat kamu sering sekali menggunakan laptop, apa kamu pandai meretas untuk mencari jejak seseorang?"
Michel mengerutkan keningnya, ia nampak sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Calvin, "tidak, memangnya siapa yang ingin kamu cari?" bohong Michel, beginilah caranya untuk tetap melindungi penyamarannya dari siapapun, tak terkecuali terhadap Calvin.
Calvin tertunduk lesu, "aku ingin mencari ibuku,"
"Ibumu?"
"Iya, aku sudah lama mencarinya. Daddy mengatakan bahwa ibuku telah meninggal, tapi aku ragu karena tak pernah sekalipun Daddy mau mengajakku untuk mengunjungi makam ibu, jika aku memintanya untuk membawaku kesana, Daddy akan mengeluarkan berbagai alasan agar kami tidak jadi kesana."
"Apa sekarang kamu masih belum memiliki fotonya, ku pikir foto akan sangat membantumu dalam mencarinya?"
Calvin menggeleng pelan, "jika saja aku memiliki fotonya, mungkin dari dulu aku sudah berhasil menemukannya."
Michel tertegun mendengar perkataan Calvin,
"Aku punya teman yang jago meretas, mungkin saja ia bisa mencari tahu ibumu dari seluk beluk keluargamu dengan menggunakan foto wajahmu atau namamu," bohong Michel sekali lagi. Ia tidak ingin Calvin tahu bahwa dialah yang memiliki kemampuan itu.
"Benarkah? baiklah, kalau begitu, ambil fotoku sekarang," seru Calvin lalu memberikan ponselnya kepada Michel.
Calvin bergaya bagaikan seorang model, tanpa disadari, muncul seutas senyum tipis dari bibir Michel saat melihat tingkah Calvin.
"Oh iya, nama lengkap kamu siapa Calvin? tanya Michel kemudian setelah mengambil gambar Calvin.
"Nama lengkapku Calvin Archer,"
Degh
"Apa? Calvin Archer?" tanya Michel kembali memastikan dan Calvin mengangguk mantap lengkap dengan senyumannya.
Seketika Michel merasa jantungnya berhenti berdetak saat mengetahui nama belakang Calvin.
"Apa? Calvin Archer? Bukankah Archer adalah nama belakang dari Darold? Darold Archer," batin Michel dengan sejuta pertanyaan yang kini muncul di kepalanya.
-Bersambung-
Jarak tempuh indonesia ke washington dc itu setau saya sekitar 23jam. Apa iya, indonesia washington cuma 14jam ? hanya koreksi aja sih ..maaf ya 🙏