Kin Rui, seorang putri petinggi mafia legendaris dari Doragonshadou di Jepang harus merubah identitasnya untuk sebuah balas dendam.
Dia meninggalkan Jepang untuk dan menjalani beberapa pelatihan yang begitu keras untuk menjadikannya wanita yang tangguh dan tak terkalahkan.
Hingga 18 tahun kemudian, Kin Rui kembali ke Jepang dengan identitas baru dan akan mulai melakukan aksi balas dendamnya.
Sebuah balas dendam yang akan berakhir begitu menyakitkan, karena dia harus melenyapkan ayah biologisnya sendiri.
Apakah Kin Rui bisa menyelesaikan misi balas dendamnya?
Ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anezaki Igarashi Ricky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Takdir Pertemuan
Seorang pria paruh baya yang kira-kira berusia 51 tahun tengah duduk di sebuah kursi di ruang tengah keluarga besarnya. Pria paruh baya itu memiliki perawakan yang besar dan tegap, tergolong cukup kekar dan sehat untuk pria seumurannya.
Tiba-tiba seorang wanita paruh baya yang kira-kita berusia 43 tahun mulai melenggang dan mendatanginya dengan membawakan secangkir minuman yang selama ini menjadi salah satu minuman faforitnya, Americano coffe.
Wanita itu masih terlihat begitu cantik, meskipun wajahnya sudah mulai sedikit ada beberapa kerutan halus. Namun semua itu tak sedikitpun mengurangi kecantikan ibu dari 3 putra ini.
"Sayang, minumlah. Aku sudah membuatkannya sesuai dengan permintaanmu." ucap wanita paruh baya itu dengan hangat dan lembut lalu mulai duduk di samping pria yang sudah selalu menemaninya selama 21 tahun ini. Yeap mereka berdua adalah pasangan suami istri yang cukup fenomenal pada masanya.
Mereka berdua adalah Kagami Jiro dan Inukai Yuna, pasangan suami istri yang sudah memiliki 3 orang putra. Si kembar Kagami Kenzi dan Kagami Kenzou yang sudah berusia 20 tahun. Dan putra bungsu mereka Kagami Kazuma yang masih berusia 15 tahun.
Kehidupan keluarga mereka selama ini sangat harmonis dan hangat, karena Kagami Jiro adalah tipikal seorang pria yang sangat menyayangi keluarganya.
"Terima kasih, Sayang." pria itu tersenyum hangat lalu mulai meneguk Americano coffe buatan sang istri tercinta.
"Sama-sama, Sayang." jawab sang istri dengan hangat.
"Oh iya, apakah Kazuma sudah bersiap? Bukankah hari ini akan pergi ke taman bermain bersama Kenzi dan Kenzou?" ucap pria paruh baya itu sambil meletakkan secangkir Americano coffe yang masih tersisa setengahnya di atas meja di hadapannya.
"Li Jingyi, Zen dan Christal juga akan ikut bersama mereka kok. Selagi mereka berlibur ke Jepang biarkan saja mereka berlibur bersama sepuasnya. Kita para generasi tua sebaiknya tetap berada di rumah saja." Yuna tertawa kecil dan diikuti dengan tawa hangat Kagami Jiro.
"Andai saja Rui juga ada bersama dengan kita. Pasti semua kebahagiaan ini akan sangat lengkap." ucap Kagami Jiro tiba-tiba. "Jujur saja, aku tak pernah merasa tenang selama ini, Yuna. Apakah Rui-ku baik-baik saja di suatu tempat sana? Apakah dia makan dengan baik dan benar? Apakah putriku Rui bisa sekolah dan belajar dengan baik? Apakah Kin Izumi memperlakukannya dengan baik dan penuh kasih sayang seperti dia memperlakukan Light?" ucap Kagami Jiro yang mulai teringat dengan putri pertamanya yang selama 18 tahun ini tak pernah dia ketahui keberadaannya.
"Putriku mungkin sudah tumbuh besar sekarang. Dan pastinya dia akan sangat cantik ..." tak terasa sepasang mata kecoklatan itu sudah sedikit berkaca-kaca karena mengingat Rui dan mulai menerawang jauh.
Yuna segera meraih dan melingkarkan tangannya pada bahu lebar sang suami lalu menyandarkan kepalanya pada pundak sang suami yang masih cukup kuat dan berusaha untuk menenangkan suaminya kembali.
Karena setiap mengingat Rui, pasti Kagami Jiro akan merasa sangat bersedih dan juga merasa sangat bersalah karena sebuah keterlambatannya di masa lalu untuk menjemput Kin Rui.
Selama 18 tahun, Kagami Jiro tak pernah lelah untuk berusaha mencari putrinya yang pernah dibawa kabur oleh Kin Izumi, ayah sambung dari Kin Rui.
Semua anak buahnya sudah dia kerahkan semua untuk mencari Kin Rui, namun pada kenyataannya mereka tak mendapatkan hasil dan tak bisa menemukan Kin Rui. Bahkan Kin Light juga ikut menghilang bersama mereka saat itu.
Semua penerbangan dan akses laut sudah diperiksa semuanya, namun Kagami Jiro tak pernah menemukan laporan yang menyatakan jika mereka bertiga sudah meninggalkan Jepang. Dan kemungkinan besar mereka memang menggunakan pesawat pribadi pada malam itu.
...⚜⚜⚜...
Seorang pria paruh baya yang kira-kira beŕusia 50 tahun terlihat sedang mengamati wajahnya di depan sebuah cermin besar di dalam kamarnya. Wajah baru, semenjak sebuah petaka yang menimpa dirinya 2 tahun yang lalu karena sebuah ledakan dari ranjau darat itu rupanya cukup berguna.
Yeap, karena kecelakaan saat itu, pria yang tak lain adalah Buck Karimova mulai melakukan sebuah oprasi plastik yang hampir merubah seluruh bentuk dan struktur dari wajah Buck Karimova. Dan tentu saja semua itu sangat berguna saat dia kembali ke Jepang. Karena sepenuhnya Jepang adalah masih dalam kekuasaan Kagami Jiro sepenuhnya.
"Papa!" seorang pemuda mulai memasuki ruangan itu dan menghampirinya.
"Ada apa, Cloud?" ujar Buck Karimova datar dan hanya menatap putranya melalui pantulan cermin di hadapannya.
"Aku akan melihat-lihat Tokyo hari ini bersama kak Vio!"
"Hhm. Pergilah! Selalu berhati-hatilah terhadap orang asing, dan jangan gunakan senjata sembarangan. Atau mereka akan mencurigaimu, di Jepang tidak seperti saat kita di desa Wang Nam Khiao."
"Aku mengerti, Papa. Aku pergi ..." jawab Cloud lalu segera berlalu dan bergegas utuk menyusul Viollete yang masih berada di dalam kamarnya.
"Kak Vio!! Ayo berangkat!! Sopir kita sudah menunggu!" teriak Cloud yang mulai memasuki kamar Viollete.
Dan tepat disaat itu juga Viollete mulai bergegeas untuk meninggalkan kamarnya.
"Hhm, ayo berangkat." ucap Viollete yang sudah berpakaian cukup rapi.
Meskipun penampilannya selalu kasual, seperti hanya mengenakan sebuah T-shirt putih lalu memadankan dengan celana jeans berwarna cerah, dan membalutnya dengan sebuah coat hitam, namun Viollete selalu terlihat manis. Rambutnya diikatnya ke belakang, seperti biasanya.
Mereka berdua mulai meninggalkan rumah baru mereka dan mulai naik di sebuah mobil mewah berwarna hitam. Hari ini mereka berdua akan pergi ke taman bermain, seperti Tokyo Disney Land. Karena dari kecil, mereka berdua tak pernah diajak pergi ke tempat semacam itu oleh Buck Karimova.
...⚜⚜⚜...
Tokyo Disney Land ...
Viollete dan Cloud berjalan-jalan melihat-lihat Tokyo Disney Land yang begitu fantastis dan sangat menakjubkan. Berbagai wahana yang sangat menarik cukup banyak memenuhi lokasi ini.
Mereka berdua mulai membeli dua buah es krim dan mulai duduk di sebuah bangku panjang. Namun tiba-tiba terlihat seorang anak laki-laki yang terjatuh di hadapan mereka karena tersandung.
Viollete segera bangkit dan menolong anak laki-laki yang kira-kira berusia 15 tahun itu.
"Kamu baik-baik saja, Dek?" ucap Viollete begitu ramah.
Belum sempat menjawab ucapan dari Viollete, kini seorang pemuda mulai menghampiri mereka berdua. Seorang pemuda tampan dan memiliki tinggi dan tubuh yang cukup proporsional. Rambutnya berwarna hitam pekat dan sangat lurus dan lembut. Matanya berwarna coklat dan cukup tajam dan dingin.
Viollete dan pemuda itu sempat bertatapan selama beberapa saat karena merasa ada sesuatu, ataukah mungkin hanya sebatas rasa kagum.
pelukan hangat dan tutur kata yuna yg penuh kasih makin membuat rui terharu dan meraaa bersalah ya walau hanya dalam hati saja , selamat y rui kini kamu telah berkumpul kembalk dengan keluarga asli mu maka belajarlah untuk menjadi lebih baik lagi dan mengikis dendam yg telah tertanam dengan cinta dan kasih sayang untuk keluargamu 🤗🤗