seorang pemuda bernama Yuda Gusti yang miskin dan sebatang kara di dunia mendapatkan keberuntungan yang sangat di inginkan oleh orang lain, yaitu di mana saat mulung rongsokan tidak sengaja menemukan jam tua, yang tidak di sangka jam itu mengubah Nasib nya!! di tambah sistem tiba-tiba aktif yang memberitahukan jam yang di temukan adlah jam Sakti yang bisa melintasi zaman, dari zaman modren ke zaman Dulu, zaman sebelum ada dunia modren... bagaimana keseruan Yuda yang terlempar ke masa lalu karena menemukan jam Sakti... Terus ikuti keseruan dan kisah yang mengasikan.. cusss..!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIZQI ZEBRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. “Kak Yuda, Serius!”
Setelah selesai bersih-bersih di rumah, Yuda dan kedua istri nya mengunjungi sesuai dengan rencana mereka sebelum nya! Yuda akan menyumbang makanan untuk orang-orang desa, dan jelas hal itu agar semua nya menjadi teratur harus memberi laporan kepada kepala desa agar mendapat bantuan.
Rumah kepala desa berada di paling ujung jadi agak jauh. “Kamu rencana mau nyumbang apa mas?”
“Beras aja sayang! supaya di bikin bubur saja di satu lapak, dan warga yang lapar belum makan bisa datang ke sana untuk meminta makanan..!” ujar Yuda menyampaikan rencana nya.
“Ouh,, ide bagus itu mas, tapi harus ada pengawas supaya di stan nya nanti gak ada kerusuhan..!” ucap Leni.
“Itu bisa di atur nanti sayang! Pak kades juga pasti akan membantu proses dan niat baik kita..”
Kirana gadis itu hanya diam sambil mendengarkan karena ia tidak mengerti yang sedang di bahas oleh suami nya. “Kalau di bagiin emang nya beras suami gak habis ya?”
“Nggak abis semua kok sayang! Cukup buat makan kamu sampe kenyang..! Heheh,” jawab Yuda sambil merangkul kedua istri nya menyusuri desa.
Dalam diam dalam balik jendela sosok wanita janda menatap dengan sedih di sertai iri. “Kenapa aku menjadi seperti ini, bahkan suami sudah tidak ada.”
Wanita itu adalah Yeti istri alm Bagas yang kini hanya hidup berdua dengan putri nya, mereka sudah sehari tidak makan dan hanya berani mengurung diri, sebenarnya Yeti tidak tega melihat putri nya, tapi mereka sudah tidak punya siapa-siapa di dunia ini.
setibanya Yuda dan kedua istri nya di rumah pak kades, terlihat pak kades sedang duduk santai di halaman rumah nya, di sana walau tidak banyak pohon tumbuh tapi tampak teduh dan sejuk oleh semilir angin yang bertiup.
“Pak kades, apa kabar..!” Yuda bersalaman dengan pak kades lalu duduk di hadapan kepala desa.
“Astaga! Aku kira siapa yang datang, Yuda ada apa pagi-pagi sekali kamu sudah datang ke rumah ku..!” ucap pak Priyo mengelus kumis hitam nya.
“Hehehe, saya memiliki keperluan pak! Apa bapak punya waktu sebentar, karena yang saya omongkan ini menyangkut kebaikan seluruh desa kita..!”
mendengar itu pak Priyo tidak pikir panjang mengajak Yuda untuk masuk ke rumah nya, walau rumah itu terlihat sederhana tapi di desa tidak ada yang lebih bagus dari rumah kades.
“Silahkan duduk dulu Yuda...! Leni, kirana.”
“Iya, terimakasih banyak pak kades..!” pak Kades hanya mengangguk sopan. “Zara..!” panggil pak Priyo kepada putri nya.
“Iya, ayah!!” tak lama seorang gadis manis dan wajah cantik melebihi siluman rubah, dengan wajah yang bahkan sampai berwarna pink.
“Ada apa ayah! Apa ada keperluan dengan Zara?” tanya Zara kepada ayah nya, dirinya sedang bersantai di kamar dan langsung menuju panggilan ayah nya.
“Tolong buatkan air untuk tamu,” suruh pak Priyo, Zara mengangguk lalu pergi dari sana, tanpa sadar dari tadi sosok pemuda terus menatap ke arah Zara dengan mata hampir tak berkedip karena terpesona dengan kecantikan Zara.
“Putri pak Kades cantik sekali, aku tak menyangka kalau di desa ini masih ada gadis secantik itu..!” tentu saja Yuda hanya berani mengatakan itu dalam hati nya.
tapi tentu saja Leni bisa melihat ada ketertarikan di mata suami nya, saat menatap Zara, dan ia hanya mendengus kecil tanpa mempermasalahkan nya! Suami nya adlah sumber kehidupan nya, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa jika suami nya memang ingin menambah istri, toh, suami nya mampu untuk memberi mereka makan.
“Jadi ada keperluan apa Yuda, sampai kamu yang biasa nya benci datang je rumah saya, bisa membuat mu datang ke sini..!” tanya pak Priyo di sertai candaan agar suasana nya tetap santai.
“Ahaha, pak kades itu dulu pak! Mungkin setelah ini saya akan sering berkunjung,,” pak kades mengkerut kan alis nya, karena heran maksud pemuda di hadapannya ini.
“Sebenarnya, saya ingin menyampaikan sesuatu, bapak sudah tahu kan tentang kabar dari desa sebelah kalau di sana ada yang mati akibat kelaparan,” Yuda menjeda perkataan nya, agar pak kades berpikir lebih dulu dan lebih mudah membaca maksud nya.
“..eumm..! Iya, terus..”
“Saya tidak ingin hal itu sampai di desa kita, walaupun desa kita sama sulit sumber daya, di sini saya ingin menyumbang sedikit untuk makan warga..!”
“Kak Yuda, Serius!!” suara itu datang Zara yang baru saja datang setelah mengambil air untuk tamu yang di maksud ayah nya.
“Zara! Duduk di sini, kalau kamu mau dengar juga, jangan menyala seperti itu..!” tutur pak Priyo tak suka melihat putri nya menyela seperti itu.
“Eh, maaf yah, maaf kak Yuda, silahkan di lanjut..!” Zara menunduk mu, kemudian duduk di samping ayah nya, ia sebenarnya tadi terbawa emosi saking bahagianya mendengar kalau ada yang mau menyumbang makanan untuk desa mereka.
Dan orang itu masih penghuni desa..! “Karena jumlah nya tidak banyak ,jadi maksud saya, kita hanya menyediakan sebuah stan bubur nasi putih, bagi warga yang lapar boleh ke sana untuk makan tapi hanya makan di tempat tidak untuk di bawa pulang..!”
“APA..! Bubur nasi putih...!”
“Hihihi...! Pak kades sama kak Zara kok sampai kaget begitu,,” padahal ia juga pertama kali melihat nasi putih kaget di zaman yang sedang kacau, tapi karena i i Kirana gadis itu malah terkekeh.
“Tap-tapi in-ini serius Yuda..!” tanya pak kades dan Zara tampak menantikan kepastian dari Yuda.
Yuda pun mengangguk pasrah karena mulut lemas istri nya. “Hem, seperti kata istri saya pak kades, memang bubur nasi putih,” jawab Yuda.
“Nasi putih di zaman sekarang hampir hilang dan sulit di temukan, di mana kamu bisa mendapatkan nya, bahkan saya, yang kepala desa hanya makan belalang kaleng dari pemerintah..!” ujar pak kades, yang ternyata ia juga merakyat hidup tidak mewah tapi sama rata dengan rakyatnya, yang menderita.
Yuda menjadi terharu dan juga kagum. “Mungkin di zaman ia berasal kalau rakyat menderita, ya para pejabat sulit untuk merasakan nya, karena mereka mendapatkan fasilitas yang mewah dan kebutuhan yang sudah terpenuhi oleh negara, tanpa peduli dengan keadaan rakyat nya seperti apa..!”
“Saya memiliki cara saya sendiri pak, dan tentu saja beras itu saya dapatkan dengan hal yang benar, tidak ada hal buruk yang seperti bapak pikirkan..!” Yuda paham di zaman ini memang sulit mendapatkan beras jadi ia harus bisa meyakinkan pak kades.
“Oke, bagus! Kapan kita akan merealisasikan nya Yuda! saya percaya kalau kamu bukan lah yang dulu, dan sekarang memiliki rasa kemanusiaan!!”
Yuda pun tersenyum kemudian mengangguk. “Secepatnya pak!”
“Cring! Satu wanita terdeteksi memiliki rasa kepada tuan, dapatkan slot wanita, untuk mengikat nya..!”
Degh!,,
~
Absen dulu pembaca setia novel JPZ