Dijebak oleh kakak tiri dengan seorang pemuda pada malam ulang tahun teman. Siapa sangka, orang yang satu kamar dengan dia ternyata seorang tuan muda yang paling berpengaruh di kota itu.
Bagaimana kelanjutan kisahnya? Ikuti terus kelanjutan kisah mereka di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Mau tidak mau, Hero terpaksa mengikuti apa yang Merlin katakan. Karena dia memang tidak punya pilihan lain selain mengikuti. Soalnya, Merlin terus mendorong tubuhnya untuk pergi.
Sementara Dicky, dia hanya diam sambil melihat tingkah Merlin yang terus mendorong Hero untuk beranjak. Perlahan, dia mengukir senyum kecil di bibirnya.
"Dasar perempuan aneh. Gadis pertama yang begitu berani padaku. Cek-cek. Berani sekali mengatai hatiku tidak berfungsi. Dia gak tahu aja seperti apa hati ini. Tapi ... sikap pedulinya terhadap orang lain memang luar biasa." Dicky bicara sendiri sambil terus melihat Merlin.
Mereka telah sampai di depan kasir. Kasih itu membelalak kaget saat melihat pakaian yang Hero serahkan.
"Ini ... semuanya, Mas?" tanya kasir perempuan itu dengan nada tak percaya.
"Ya, Mbak. Semuanya."
"Apakah ini ...."
"Maaf, mbak. Bisa langsung dihitung sekarang aja gak ya? Soalnya, kita sedang buru-buru," ucap Merlin dengan cepat memotong perkataan kasir itu.
"Baik, Dek. Tunggu sebentar."
Kasir itu lalu melakukan tugasnya secepat mungkin. Karena terlalu banyak, dua karyawan harus membantu kasir tersebut buat memasukkan pakaian itu ke dalam tempatnya.
Akhirnya, setelah menunggu hampir lima belas menit, kasir itu langsung mengatakan nominal dari semua barang yang mereka beli. Hero langsung menyerahkan kartu hitam pada kasir itu untuk membayar semua belanjaan.
"Ini mbak." Hero berucap sambil menyerahkan kartu hitam yang sedari tadi dia pegang.
"Tunggu!" Suara tinggi dari Merlin langsung menghentikan niat kasir tersebut untuk menerima kartu yang Hero ulurkan.
Sontak, kata itu langsung menjadikan Merlin sebagai pusat perhatian. Semua mata yang mendengar, langsung melihat ke arah Merlin.
"Ada apa, nona muda?"
"Kenapa kamu yang bayar? Kenapa bukan Dicky?"
"Memang aku yang bayar," ucap Dicky dari belakang.
"Iya, nona muda. Memang tuan muda yang membayar semua belanjaan ini. Saya hanya melakukan perintah tuan muda saja."
"Oh."
Saat itu, Merlin tidak mampu berucap lagi. Karena sekarang, hatinya sedang dipenuhi perasaan malu. Dia malu akibat terlalu berpikiran yang berlebihan. Terutama untuk Dicky.
'Ya ampun ... apa yang aku pikirkan sih sebenarnya? Jelas saja dia yang bayar semua ini. Mana mungkin Hero. Hero itu cuma asisten yang mengikuti apa yang dia perintahkan. Ya kali dia mau bayar belanjaan sebanyak ini. Merlin-Merlin. Lo kok jadi bego gini sih?' Merlin berucap dalam hati menyesali apa yang telah dia lakukan barusan.
Puluhan paper bag diserahkan pada Hero. Merlin bersikeras ingin membantu membawakan paper bag tersebut karena merasa tidak enak hati dengan Hero. Hero tidak punya pilihan selain membiarkan apa yang Merlin ingin lakukan.
Namun, Hero hanya memberikan sebagain kecil paper bag pada Merlin. Melihat hal itu, Dicky hanya bisa menggelengkan kepala saja. Mereka lalu meninggalkan kasir tersebut setelah semuanya dianggap selesai.
"Sini, biar aku yang bawa," ucap Dicky sambil mengambil paper bag tersebut dari tangan Merlin.
"Eh, kamu apa-apaan sih? Jika ingin bawa, ambil yang ada di tangan Hero tuh. Dia masih bawa banyak."
"Cewe gak cocok bawa belanjaan kek gini. Aku sebagai cowok dipermalukan kalo kamu bawa belanjaan jika jalan sama aku. Lagian, kalian itu aneh deh. Kenapa mau bawa sendiri belanjaannya. Minta mereka yang antar kan semuanya sampai ke mobil kan bisa."
"Maaf, tuan muda. Saya lupa," ucap Hero dengan nada penuh sesal. Sementara Merlin, dia hanya diam dengan hati membenarkan apa yang Dicky katakan barusan.
"Ah, sudahlah. Sudah terlanjur juga. Sekarang, kamu mau belanja apa lagi? Kita langsung beli semua kebutuhan kamu sekarang."
"Sepertinya, tidak ada yang perlu aku beli lagi. Semuanya sudah lengkap."
"Lho, emang sudah benar-benar lengkap? Kapan kamu beli? Gimana dengan perlengkapan kosmetik kamu?"
"Sudah ada yang Hero beli tadi pagi. Itu sudah cukup. Aku tidak perlu yang lain lagi karena semua yang Hero beli sudah lengkap."
"Benarkah?" tanya Dicky dengan wajah benar-benar tak percaya.
"Tentu saja."
"Jangan sungkan padaku, Lin. Karena kamu tanggung jawab aku sekarang."
"Ih, siapa yang sungkan? Aku ngomong apa adanya kok."
"Ya sudah, mau ke mana lagi sekarang?"
"Langsung pulang aja. Aku capek banget deh."
"Ya sudah. Kita langsung pulang."
Mereka langsung beranjak untuk meninggalkan mall tersebut. Dicky tersenyum sambil melihat paper bag yang ada di tangannya.
'Seumur-umur, ini yang pertama kalinya aku bawa barang kek gini. Rasanya, aneh juga. Tapi, hati ini kok senang sih? Ya Tuhan ... jangan bilang hatiku memang sedang tidak berfungsi dengan baik,' ucap Dicky dalam hati sambil menggelengkan kepalanya sambil memegang dada.
Melihat tingkah aneh Dicky yang ada di sampingnya, Merlin memicingkan mata.
"Kamu kenapa?"
"Ah ... gak. Gak ada apa-apa."
"Mm .... " Merlin menggelengkan kepalanya.
Mereka akhirnya meninggalkan mall tersebut. Mobil melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalan raya. Suasana diam sejak mobil dijalankan. Namun, situasi diam itu berakhir saat Dicky ingat akan sesuatu.
"Oh ya, Lin. Ada yang ingin aku katakan sebenarnya. Hampir saja lupa."
"Soal apa?"
"Papa meminta kamu pindah rumah."
"Apa!" Merlin terlihat kaget dengan kata-kata itu. Matanya saja sampai melebar.
"Santai aja kali, Lin. Gak perlu sekaget itu saat menanggapinya."
"Gimana bisa santai? Kamu lupa dengan perjanjian kita?"
"Aku gak lupa. Kamu aja yang berlebihan. Aku belum selesai ngomong, kamu udah sewot duluan."
"Gimana gak sewot? Ucapan kamu itu bikin kaget sekaligus bikin aku kesal."
"Ya makanya, dengar dulu aku mau ngomong apa."
"Ih, kamu yang ngomongnya setengah-setengah. Ngapain nyalahin aku?"
"Ih, dasar perempuan. Maunya menang sendiri aja melulu."
"Eh, nyari gara-gara kamu kayaknya."
"Siapa bilang? Makanya dengerin dulu apa yang mau aku katakan."
"Kamu gak ngomong-ngomong, gimana aku mau mendengarkan coba?"
"Gimana aku mau ngomong kalo kamu nyolot terus, Merlin Puteri?"
"Kamu .... "
"Sekarang aku mau ngomong. Kamu dengerin yah. Jangan nyolot lagi," ucap Dicky sambil mengangkat satu tangannya di depan Merlin.
"Huh .... "
nikah muda ny
dpt jodoh putri cengeng lagi 😁😁😁
siapa dia...
wlu pun kau serang nyonya,
tapi kau terlalu Egois, ingin ter lalu mengatur hidup nak mu
picik sekali pemikiran mu
toh yg buat kepurltusan dan bunuh diri kan adek mu sendiri.
tich dicky blom nogmong ke adk mu.
kenapa hrs dicky yg di salah kan atas kematian ny .
uang 20 M, gak ada apa2 ny buat mereka...
ah..awaq wong misqin iki 100 rebu sdh sangat berarti 😁😁😁
klu hdp Meelyn bakal sengsara
dasar emak sana anak sama aja.
sama2 gak tau diri
ini lg papa Merlyn kok bisa nuta y mata hati ny, pada anak kandung Sendiri
target ny salah sasaran ..😀😀😀
malah bunuh diri 😱