gadis yatim piatu yang harus berjuang hidup sendiri tanpa memiliki sanak saudara. ia melanjutkan kuliahnya dari bea siswa dan bekerja di sebuah tempat karaoke keluarga milik sahabnya.
namun semuanya berubah saat seorang pria yang mabuk memperkosanya. sehingga ia hamil.
bagaimana kelanjutan kisahnya.
nafisa. gadis cantik berusia 20 tahun. seorang mahasiswi di fakultas ekonomi. yg bekerja sebagai waiter di salah satu tempat karoke.
aldiansah Pratama
seorang mahasiswi dan pengusaha. berusia 21 tahun.
Julian Saputra.
pria mapan berusia 28 tahun.
seorang pengusaha muda yg sukses.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilik Bunda Abib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 25
Setelah keluar rumah sakit ini hari pertamanya untuk memulai aktivitas seperti biasa. Satu minggu di rumah sakit, membuat ia merasa bosan dan ia benar-benar rindu dengan seluruh kegiatan yang biasa dilakukannya.
Nafisa sudah bersiap ke kampus. Hari ini jadwal kuliahnya jam 8. Nafisa sudah keluar dari rumah jam 7. Ia duduk di halte bus seperti biasa. Menunggu bus yang datang. Julian melihat Nafisa yang duduk di halte membuat perasaannya senang. Sudah satu minggu, ia tidak melihat gadis tersebut duduk di halte untuk menunggu bus.
Dilihatnya wajah gadis itu semakin cantik, sudah tampak gemuk. Terlihat pipinya yang sudah mulai cubby dan wajahnya sudah tidak pucat.
Ia meminta Randi untuk berhenti, agar bisa melihat wajah gadis tersebut. Begitu bus datang Nafisa masuk ke dalam bus. Saat dilihatnya gadis tersebut sudah menghilang ia menyuruh Randi untuk melanjutkan mobilnya.
********
Julian duduk di meja kerjanya dengan begitu banyak map yang ada di atas mejanya. Ia harus menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum waktu pernikahannya nanti. Undangan sudah selesai, ia memegang undangan berwarna biru dongker. Tertulis yth Nafisa.
Julian sedang menimbang untuk memberikan undangan tersebut atau tidak. Ia merasa serba salah. Seperti apa perasaan gadis tersebut mendapatkan undangan Julian. Apa bila dia tidak memberikan undangan kepada Nafisa, bukankah gadis itu lebih sedih. Saat berita pernikahannya muncul di infotainment. Julian mengacak rambutnya.
Hati kecilnya tidak tega melihat gadis tersebut. Seandainya gadis itu mau maki-makinya ia pasti akan lebih senang. Namun gadis itu tidak pernah berbicara kasar sedikit pun. Julian masih terbayang wajah Nafisa yang tidak pucat seperti biasanya. Ia mulai menghitung tanggal di kalender yang ada di mejanya. Ia membulatkan tangal di mana ia memperkosa Nafisa. Dihitungnya 7 minggu. Itu artinya, kandungannya sudah masuk 2 bulan. Apa dia sudah tidak mual lagi pikirnya. Ia terbayang, Nafisa yang sangat lama di kamar mandi untuk mengosongkan isi perutnya. Gadis tersebut memakan nasi yang di beri garam.
“Maafkan aku Nafisa. Maaf kan papa nak. Papa sangat ingin dekat dengan kalian. Mengelus perut ibu mu. Agar kau merasakan, bahwa papa sayang pada mu. Namun demi keselamatan kalian.” Julian tahu persis seperti apa kekejaman Santi Kumala Sari. Wanita itu bisa melakukan hal gila yang tidak pernah di pikirkan orang lain.
*******
Nafisa duduk di sebelah Aldi. Di perhatikannya gadis yang ada di sebelahnya. Gadis tersebut sangat sibuk dengan buku-buku yang dipegangnya. Ia membuka buku satu persatu materi kuliah yang sudah 1 minggu tertinggal. Ia mulai menulis di dalam binder kampus milik.
Aldy selalu memperhatikannya.
“Cinta sama istri orang termasuk dosa gak ya.” Kata Aldi pelan seolah berkata pada dirinya sendiri.
Nafisa mengangkat kepalanya dan menghentikan menulisnya. “Kamu suka sama istri orang Al?”
Aldi terdiam. Apa dia mengeluarkan suara saat pemikiran gila di kepalanya menyembur. “Emang kamu dengar aku ngomong apa?”
“Kamu nanya kalau suka sama istri orang boleh gak ya?”
Bukannya malu dengan ucapannya, Aldi malah ketawa. “Iya Sa. Soalnya yang cantik udah punya orang. Gimana Sa? Dosa gak?”
Nafisa diam, “ya dosalah Al.”
“Ya kalau dosa, kalau gitu, aku tunggu saja jandanya.” Jawab Aldi santai.
Nafisa jadi ketawa. “Itu lebih dosa Al. Masak ia kamu do’anya jelek.”
“Mana tahu Sa. Siapa tahu istri orang itu, istri yang terlantar.”
Nafisa jadi terkekeh mendengar kata Aldi. Aldi senyum melihat gadis tersebut tertawa lepas tanpa beban. Obrolan mereka terhenti saat melihat dosen yang sudah memasuki kelasnya.
Setelah dosen selesai menjelaskan materi kuliah. Mereka keluar dari ruangan tersebut.
“Sa, kamu mau makan apa? Ayo kita cari. Soalnya kita udah gak ada jadwal kuliah.” Kata Aldi.
Nafisa diam dia sudah lama sekali ingin makan rujak. Air liurnya serasa akan menetas setiap kali ia memikirkan makan tersebut. Tapi demi ngirit ia harus menahan seleranya.
“Sa, mau apa?”
“Rujak boleh Al?”
Mendengar Nafisa yang menginginkan rujak,. Aldi melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Baru jam 11. “Oke kita makan rujak. Tapi sebelum itu kita makan dulu ya. Soalnya aku lapar.” Ia takut gadis tersebut sakit perut karena makan rujak tampa makan nasi terlebih dahulu. Udah kebiasaan Nafisa tidak sarapan pagi.
Nafisa menganggukkan kepala.
Mobil Aldi berhenti di parkiran restoran ayam goreng. Ayam goreng yang terkenal sangat enak, gurih lembut dan renyah. Di tambah sambal terasi dan juga sayur cah kangkungnya. Melihat apa yang terhidang di atas meja. Aroma ayam goreng yang begitu enak, membuat Nafisa merasa sangat lapar membuat mata Nafisa tampak berbinar. Air liurnya serasa menetes.
“Al, aku boleh langsung makan gak?” Kata Nafisa.
Aldi senyum dan mengusap kepala Nafisa dengan lembut. “Boleh kamu boleh habiskan semuanya.”
Nafisa menganggukkan kepalanya dan langsung menyantap makanan tersebut dengan sangat lahap. Aldi yang makan di depannya, tampak tersenyum melihatnya. Setelah semuanya habis Nafisa tampak kekenyangan.
Di usap Aldi kepala Nafisa. “Ini yang kuat makan, ibunya atau anaknya?”
Nafisa senyum. Setelah duduk dan mengobrol. Aldi membayar tagihan ke kasir dan kemudian mereka melanjutkan ke warung rujak.
Nafisa tampak sangat senang, saat mobil mereka berhenti di tempat jual rujak.
“Sa, rujanya jangan pakai nenas.”
“Kenapa Al.”
“Kamu lagi hamil Sa. Jadi gak boleh makan nenas. Nenas itu panas Sa.”
“Ya udah aku gak usah pakai nenas.” Jawab Nafisa.
********
Julian datang ke rumah Nafisa. Ia akhirnya memutuskan untuk mengantarkan undangan tersebut. Nafisa yang baru mulai kerja jam 6 sore memilih istirahat di rumahnya. Suara ketukan pintu. Nafisa membukan pintu tersebut. Berapa syok ia saat melihat...
dan dia pura2 tidak mengenali
dan dia pura2 tidak mengenali