Cinta pada pandangan pertama Willems Dedrick Visser terhadap gadis belia Stela Moreno Lim yang memiliki riwayat penyakit Transient Global Amnesia di usia belia.
Pernikahan tetap dilaksanakan walau secara diam-diam, dengan beberapa perjanjian. Dedrick melanggar perjanjian yang telah disepakati bersama karena tidak bisa menahan rasa cintanya terhadap Stela.
Stela baru mengetahui Miller adalah seorang mafia kelas kakap di Netherland, memiliki banyak musuh dalam selimut hingga mengorbankan orang tercintanya.
Stela yang manja berubah, karena kemelud rumah tangga, pertikaian keluarga dan bisnis mereka.
Dedrick putra kesayangan Miller Van Visser dan Veni Van Visser, kedua besan kejutan mereka pernah memiliki kenangan masa lalu bersama Keluarga Lim.
Adrian membaca di media semua kejujuran Miller dan Samuel Hu masa lalu, membuat kebahagian berubah. Sehingga Fene mengajukan perceraian pada Adrian.
Adrian menyekap Fene karena rasa cemburu yang berlebihan hingga Fene mengalami depresi. Cinta Adrian terlalu besar kepada Fene dan Stela membuat Adrian melakukan hal gila yang tak pernah dilakukannya selama pernikahan mereka.
Adrian tertangkap basah tengah berselingkuh dengan wanita cantik Camille Clark, mantan kekasih Bram Lincoln. Membawa Kevin Stuard hingga berujung perceraian. Bagaimana nasib Butik dan Kasino milik Camille.
Bagaimana Fene menghadapi perselingkuhan Adrian.
Mampukah mereka bertahan dengan pembalasan yang menyakitkan.
Kejadian semakin kalud setelah berita kematian Hanz Parker tertembak di tengah-tengah kebahagiaan Keluarga berkumpul di Jakarta.
Keluarga menyangka pelakunya adalah Carlos Febian Arlan, ternyata mereka salah.
Stela Moreno Lim tak tinggal diam, dia mencari dalang atas kematian Grandpa dan membalas semua perbuatan mereka.
Dedrick dan keluarga Lim membawa Stela hidup bersama, baru menyadari tantang penyakit istrinya setelah usia pernikahan mereka memasuki 1 tahun.
Begitu berat perjuangan Dedrick, penyakit Stela mengancam akan melupakan dia selamanya. Kehamilan dan kenangan masa lalu yang hadir membuat Stela tak mampu berfikir. Terlalu berat baginya.
Dedrick melakukan sesuatu agar Stela tetap mengingatnya. Memperjuangkan kehamilan yang merubah kehidupan istrinya menjadi tak biasa, hikz.
Adrian dan Fene mendengar semua penjelasan dari Dokter yang menanganinya sejak kecil sengaja ditutup oleh Hanz agar tidak mengganggu kosentrasi putrinya, sangat terpukul.
Mampukah mereka bahagia kembali. Mengembalikan ingatan putri tercinta dan keutuhan keluarga seperti dulu...
Simak yuukz..❤️💞
Happy reading....❤️🥰
Salam hangat author
❤️tya calysta❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tya Calysta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu.
Adrian berkali-kali menghujamkan miliknya ke milik Fene dengan kasar. Entah setan apa yang ada dikepala Adrian hingga tega melakukan kegiatan ranjang dengan sangat kasar.
Fene menangis sejadi-jadinya, saat Adrian mencapai pelepasannya. Sangat kecewa atas perlakuan Adrian padanya, "kenapa lo tega sama gue? Apa salah gue sama lo? Lo berubah Adrian!" Isaknya dengan bahu bergetar, merasakan sakit luar biasa ditiap persendiannya, menerima perlakuan kasar Adrian.
Adrian mengusap kesal wajahnya. "Lo mau tau alasannya?" Adrian memasang boxernya berada dilantai kamar.
Adrian mengambil berkas yang dia print saat di Jakarta didalam tas, kembali mendekati Fene, melemparkan semua berkas ke wajahnya.
Fene kaget melihat berita media, saat Miller mengatakan mencintai putri Parker pada media. Mata Fene membulat, "Oogh! terus apa salah gue? Apa salah Stela?" teriak Fene.
"Mereka ingin menghancurkan kita, Fen!" Sarkas Adrian dihadapan Fene.
Fene semakin geram dengan kecemburuan Adrian merasuki otaknya. "Lo nggak sehat Adrian!" Fene meninggalkan Adrian, menuju kamar mandi, tapi dicekal oleh Adrian.
"Lo mau bermain sama gue! Lo terima Dedrick putra Miller untuk mendapatkan keuntungan besar dari mereka? Haaah?" Mata Adrian memerah menatap Fene.
"Ya Allah, Adrian! Apa gue pernah mengkhianati lo? Apa gue pernah deket sama Miller, atau salah gue juga Stela dan Dedrick saling jatuh cinta! Saling membutuhkan! Ngucap Adrian! Lo suami gue! Gue nggak pernah mau mendapatkan keuntungan dari mereka, karena keuntungan gue sudah sangat cukup untuk kita semua. Miller memperlakukan kita baik, karena dia tau kita siapa Adrian! Aku adalah Fene Lim istrimu." Fene melunak karena capek harus bertengkar.
Adrian terdiam menatap malu wajah Fene tak sesadis tadi.
"Aku menyayangimu dengan semua kekuranganmu! Aku fokus mengurusmu! Jika mereka mencintai ku, apa mereka pernah mengganggu kita? Tidak! Lo tetap suami gue! Suami yang akan gue jaga hingga maut memisahkan! Berapa banyak wanita diluar sana yang mencintai lo! Ingin jadi yang kedua! Apa pernah gue permasalahkan? Jika kesalahan Dedrick meniduri Stela, itu sudah kewajiban mereka karena sudah menikah. Jangan campuri semua permasalahan kita Dri!" Tambah Fene lembut berlalu masuk ke kamar mandi.
Adrian tertegun, kembali duduk disofa. Terpancar penyesalan pada wajahnya, hanya karena cemburu setelah membaca semua artikel tentang Miller dan Samuel, Adrian dihantui perasaan cemburu berlebihan. Padahal dia pengusaha sukses luar biasa, bisa menguasai 4 bahasa, Mandarin, Indonesia, Inggris dan Deutch.
Adrian diam saat matanya beradu tatap dengan manik milik Fene, Fene sangat sabar menutupi kekurangannya selama ini. Adrian tipe pria sangat cemburuan luar biasa, dia bisa melakukan apa saja demi melindungi Fene, tapi tidak untuk ketiga putrinya. Adrian terlalu fokus pada Fene, Fene dan Fene.
Fene menemani Adrian saat menikmati hidangan yang diantar pelayan mereka. Perasaan Fene berkecamuk mengingat perlakuan Adrian terhadap Stela dan dirinya. Adrian tidak pernah kasar selama pernikahan mereka, 'apa salahku padanya?' batin Fene.
Adrian menatap Fene dihadapannya, "maafkan aku! Aku sangat mencintaimu dan Stela." bisiknya. "Aku tak ingin kalian dimiliki orang lain! Aku pria gagal membahagiakan mu! Aku takut kehilanganmu, Fen!" Tambah Adrian.
"Kehilangan Stela juga? Apakah kita akan terus bersama mereka? Buka pikiranmu Adrian. Stela sudah menikah! Itulah takdir hidupnya! Salah jika Dedrick sangat menyayanginya? Kau pria menyebalkan!" Sarkas Fene.
"Tapi aku bisa memberikan semua pada Stela dan lo, Fen!" Teriak Adrian.
"Heii! Dedrick memberikan semua pada Stela karena dia bingung mau memberikan apa padanya! Kita sangat bisa memberikan segalanya pada Stela, tapi lo lupa ngasih perhatian pada Stela hingga dia mendapatkan perhatian lebih dari Dedrick! Apa itu salah Adrian?" Jelas Fene dengan tatapan sinis.
"Stela masih terlalu dini untuk mendapatkan semua Fen!" Bantah Adrian.
"Aku tanya pada mu! Usia berapa lo mengenal ***? Apakah Sharen, Veni, itu bukan pelampiasan *** lo saat muda?" Tanya Fene sinis.
"Itu dulu Fen!" Adrian menelan salivanya, menatap geram pada Fene, yang tak bisa mengerti pikirannya saat ini.
"Ooogh! Lo meniduri Sharen saat usia lo 17 Adrian! Apa lo lupa? Lo datang ke gue, lo cerita ke gue! Tanpa lo tau hati gue sangat terluka. Gue tutup mata hati gue untuk lo agar tidak berharap lebih sama lo! Berapa tahun lo menjalin hubungan dengan Veni, tidur bersama diapartemen lo, tanpa lo peduli gue, Adrian! Lo terlalu egois dan tidak peka!" Kesal Fene menatap Adrian. "Gue memilih Bram, karena gue tau dia sangat mencintai gue! Gue nggak pernah mencintai dia! Tau lo, karena gue mencintai lo sampai sekarang! Sekarang masa lalu lo, lo limpahkan pada Stela! Kenapa lo nggak bisa ikhlas Adrian! Kenapa?" Fene meninggalkan Adrian dengan perasaan kecewa.
"Fen! Gue belum selesai bicara! Jangan buat gue seperti ini!" Saat Fene menutup tubuhnya dengan selimut.
"Gue udah malas buat mengerti! Jangan lo ganggu anak gue dan menantu gue! Kalau lo masih ingin hidup!" Ancam Fene.
"Kenapa lo nggak bisa ngerti gue, Fen! Aaagh!" Kesalnya meremas rambutnya sangat frustasi.
"Apa gue kurang megerti lo? Apa yang lakuin tadi sangat menyakitkan buat gue Tuan Adrian!" Sarkas Fene mendengus kesal.
"Gue minta maaf Fen!" Ucapnya sangat gampang.
"Minta maaf sama anak lo dan menantu lo! Jangan sama gue! Gue ikhlas atas perlakuan lo, karena gue cinta sama lo!" jawaban Fene sangat menampar Adrian.
PRAAANG...
"Aaaagh!" Adrian melempar gelas berada dihadapannya kesembarang arah.
"Adrian!" Teriak Fene terlonjak kaget. "Lo mau gue bunuh sekarang atau perlahan? Jawab gue!" Fene tersulut emosi melihat tingkah Adrian terlalu kekanak-kanakan. "Lo sakit jiwa karena masa lalu! Gue benci sama lo!" Fene tak memperdulikan Adrian, dia hanya ingin tidur melepaskan semua perasaan kecewanya terhadap pria yang sangat dia cintai.
"Aaaagh!" Teriak Adrian menangis.
Fene tidak peduli, karena hatinya juga masih sangat sakit. Fene menangis diranjangnya hingga terlelap, tanpa peduli pada Adrian. Dia hanya berfikir untuk memulihkan emosi dan jiwanya.
"Lo egois Fen! Lo buat gue seperti ini! Lo nggak tau perasaan gue saat baca artikel itu." Isaknya dengan bahu bergetar.
Saat ini mereka sama-sama egois, tak ingin memperdulikan perasaan masing-masing. Cinta Adrian yang terlalu pada Fene, membuat setan merasuki kepalanya.
Tok tok tok,
Pelayan mengetuk pintu kamar Adrian. Perasaan masih berkecamuk membuat Adrian enggan untuk membuka pintu.
"Tuan! Tuan Hanz dan Irene mau bicara Tuan!" Bisik pelayan didekat pintu.
"Hmm!" Adrian tak ingin bertemu siapapun saat ini sebelum Fene memaafkannya.
Adrian semakin kesal pada Fene, saat Fene menamparnya dihadapan Stela. Adrian merasa malu dihadapan putri kesayangannya, hingga melampiaskan kekesalannya dengan mengasari Fene diranjang.
"Ya Allah! Ampuni aku! Aku sangat mencintai Fene dan Stela!" Isaknya disofa.***