Aira, siswi pindahan dari Surabaya yang mampu mengaduk-aduk hati Rafka. Cowok berandal itu sudah jatuh cinta pada pandangan pertama.
Sial memang saat cewek incarannya ternyata saudara kembar musuh bebuyutannya. Semakin rumit karena Aira menaruh hati pada kakak laki-laki Rafka.
Mampukah Rafka memperjuangkan cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itta Haruka07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Ayra dan Rafka sudah sampai di Jakarta. Saat ini mereka telah sampai di rumah Aira.
"Papa harap, meskipun kalian sudah menikah, kalian tetap tinggal di sini. Aira baru beberapa bulan tinggal bersama kami, dan kalian kan masih belum punya rumah sendiri, nggak mungkin kalau kalian tinggal di rumah Rafka," kata Papa Tomy.
Saat ini mereka berada di ruang tamu, Aira baru saja menyuguhkan minuman. Gadis itu lalu duduk di samping suaminya.
"Menurut kamu gimana, Raf?" tanya Aira. Bagaimana pun juga, Rafka adalah suaminya, laki-laki yang memimpinnya, semua keputusan akhir tetap ada di tangannya.
Rafka sendiri paham, dia tidak ingin egois. Istrinya masih sangat belia, setelah sekian lama tidak merasakan kasih sayang orang tua, tiba-tiba saja dia menikahinya saat Aira baru berkumpul dengan orang tua kandungnya.
"Kamu bahagianya gimana? Kalau kamu di sini lebih bahagia, aku ikut aja. Kalau kamu mau kita mandiri, ngontrak rumah sendiri aku akan usahain Ay. Yang penting kamu, kamu bahagianya gimana?" Rafka menatap Aira yang juga menatapnya.
"Kalau boleh jujur, aku bahagia di sini, Raf."
"Oke, kita akan di sini, biar kamu punya banyak waktu sama orang tua kandung kamu," kata Rafka sambil menggenggam tangan Aira.
"Papa seneng kamu bisa bersikap bijaksana, dan nggak mementingkan ego kamu, Raf. Lebih baik kalau punya uang, kamu bisa tabung buat beli rumah."
"Anak Mami bisa nggak beliin rumah?" ejek Abi.
Rafka tidak menanggapi Abi yang mengejeknya, ia malah fokus pada nasehat yang Papa Tomy sampaikan.
"Iya, Pa. Setelah ini aku akan kerja buat masa depan Aira."
*
*
*
Rafka memasuki kamar Aira untuk pertama kalinya. Kamar khas perempuan yang berisi pernak-pernik serba putih dan merah muda.
"Sini tas kamu, biar aku cuciin yang kotor." Aira menyentuh tas yang masih berada dalam gendongan Rafka.
"Cie, lagi belajar jadi istri yang baik ya, Ay."
"Ih, apaan sih, Raf. Sekalian aku juga mau nyuci baju kotor aku," elak Aira sambil menunduk menyembunyikan wajah malu-malunya.
"Ya udah ini. Semangat ngumpulin pahalanya, Ay," bisik Rafka. Cowok itu menyerahkan tasnya pada Aira. Rafka lalu mengeluarkan ponselnya, dan menghubungi temannya.
*
*
*
Rafka duduk tenang di balkon kamar, sementara Aira baru saja selesai mencuci pakaian mereka. Gadis itu berjalan mendekati suaminya yang terdiam sambil mengetuk-ngetukkan ponselnya di lutut.
Belum sempat Aira menegur suaminya, suara dua motor yang berhenti tepat di depan pagar membuat Rafka berdiri, lalu mengangkat tangannya sambil memanggil nama temannya.
"Tunggu! Gue turun," teriak Rafka. Ia berbalik badan dan terkejut melihat Aira yang bersandar pada pintu yang menghubungkan kamar dan balkon.
"Ay, aku ke bawah bentar, ketemu Rendi sama Deni yang nganterin motor aku, kamu mau ikut nggak?" tawar Rafka.
"Kamu duluan aja, nanti aku nyusul," jawab Aira.
"Oke, langsung ke bawah ya, kalau kangen." Rafka mencium pipi Aira, membuat gadis itu terkejut dan bersemu-semu.
Rafka langsung melangkah keluar setelah mencium Aira. Sedangkan Aira, langsung berbaring di kasur sambil memegangi pipinya.
"Ya ampun, kalau dicium terus bisa-bisa pipiku meleleh, anget," gumam Aira sambil memegangi pipinya yang terasa hangat.
Rafka menemui dua temannya yang mengantarkan motor miliknya.
"Masuk dulu nggak?" tanya Rafka basa basi.
"Rumah baru, Raf? Bokap lo tajirnya nggak ngotak, sumbangin kek satu buat gue," seloroh Deni yang sudah menyimpulkan sebelum dijelaskan.
"Kepala lo yang nggak ngotak, rumah bini gue," jawab Rafka.
"Bini halu lo! Sekolah aja belum lulus, otak lo konslet parah deh!" cibir Rendi.
"Habis minggat otaknya kejedot pintu bis kayaknya," sahut Deni.
"Beneran, ini rumah Aira."
"Eh buset!" Deni terkejut saat melihat sosok yang berdiri di balkon, dia adalah Abi, musuh mereka.
"Paan sih, kayak lihat hantu aja lo, siang bolong begini?" Rendi menoyor kepala Deni, lalu ikut mendongak ke arah balkon. "Eh Ba*bi."
Rendi dan Deni sama-sama melihat ke arah Rafka.
"Lo, ngapain di sini Raf?" tanya Rendi.
"Udah gue bilang, ini rumah bini gue, rumah Aira. Gue udah nikah kemaren."
"Becanda lo nggak ngotak!" Rendi dan Deni sama-sama memasang wajah aneh.
🦋🦋🦋🦋
Selamat siang, selamat hari minggu gaess 🥳🥳 Ada yang nungguin Papi Rizal nggak??? Eh, nungguin Rafka maksudnya 🙈🙈🙈