Satu demi satu penduduk di Kota Bjork menghilang secara misterius. Jose, anak lelaki keempat dari keluarga Argent memutuskan untuk menyelidiki hal tersebut setelah pelayan di keluarganya mati mendadak. Hal yang aneh adalah, mayatnya ditemukan kering tanpa darah. Sejak itu rentetan kematian dan orang hilang mulai muncul dalam jumlah besar. Kecurigaan Jose tertuju pada orang baru di kota tersebut, William. Penyelidikan Jose malah membawa dirinya ke rahasia gelap di Bjork.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara Zwei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
“Kau sangat pintar untuk ukuran berandalan kumuh,” cela Marco langsung.
“Dan kau sangat arogan untuk ukuran pria tua,” Nolan terpancing. Matanya yang biru berkilat marah.
“Cukup!” Edgar menengahi dengan suara keras. Ia memberi Nolan pelototan tajam dan berkata, “Jangan mulai kurang ajar, Nak! Terlebih dengan mulut penuh makanan dari kami!”
“Ini bukan utang! Kalian salah menangkap orang, jadi aku mendapatkan balasan untuk itu!” balas Nolan galak. “Seharusnya aku melapor ke hakim, kalian beruntung!”
“Jaga bicaramu!” tukas Gerald, yang kaget melihat anak kumuh itu berani bicara dengan nada tinggi kepada majikannya. “Kau tidak sadar sedang bicara di hadapan Keluarga Argent?!”
“Mau mereka Argent atau siapa pun, apa bedanya? Aku memandang apa yang mereka katakan, bukan siapa yang mengatakan!”
“Sudah, kita tidak akan ke mana-mana kalau sepanjang malam hanya bertengkar,” Renata menengahi dengan lelah. Ia melirik Nolan tajam dan berkata, “Kalau kami juga bersikap sama sepertimu, memandang orang hanya dari apa yang mereka katakan, kau sekarang sudah berada di jalanan. Kau masih ada di sini dan bisa makan karena kami memandang apa yang kau lakukan semalam ini dan siapa kau.”
“Siapa aku?” balas Nolan angkuh.
“Anak perempuan congkak yang sendirian,” Edgar menukas tajam. “Kau beranggapan bahwa kami ini sombong, arogan, orang-orang kaya yang menilai orang lain seenaknya dari cangkang luarnya—“
“Dan aku tidak salah,” potong Nolan bangga.
“Mungkin saja kau tidak salah,” sahut Edgar, masih tetap dengan suara tenang, “Tapi apa kau tidak berkaca? Kau sendiri juga begitu. Kau sendiri juga menghakimi orang seenaknya cuma dari cangkang luarnya. Kau melakukan generalisasi dengan secara seenaknya membenci orang-orang yang berada. Mungkin kau menganggap dirimu pejuang, revolusioner, atau seseorang yang berpikiran kritis. Di mataku, kau cuma seorang pendengki biasa. Anak-anak yang iri hati.”
“Genera ... apa? Aku tidak iri hati!” jerit Nolan.
“Masa? Kalau begitu kenapa kau tidak bisa diam dari tadi?”
“Itu ... itu tidak ada hubungannya!”
“Tentu saja berhubungan. Semua lontaran-lontaran kalimatmu adalah sebuah amarah. Menurutmu dari mana rasa marah selain dengki?” Marco setengah menggoda. Ia membiarkan pertanyaan itu mengambang, kemudian kembali berpaling kepada Gerald dan mengajak bicara pekerja itu.
Jose menggaruk belakang kepala dengan perasaan kesal. Tentu saja ia tahu apa yang diucapkan oleh ayah dan pamannya adalah omong kosong belaka. Orang boleh-boleh saja merasa marah karena berbagai sebab, tidak selalu karena iri hati atau dengki. Orang yang dikecewakan, orang yang patah hati, orang yang kesakitan, orang yang merasa tidak berdaya, mereka semua boleh saja merasakan kemarahan luar biasa dan jadi sinis karenanya. Dengki mungkin menimbulkan amarah, tetapi tidak selalu merupakan faktor utama.
Nolan tidak cukup mengerti apa yang sedang terjadi. Namun, Jose bisa melihatnya dengan jelas, Nolan tahu bahwa ada yang salah dari kata-kata pamannya, tetapi tidak mampu mengucapkan perlawanan yang tepat untuk mendebat hal tersebut.
Anak itu hanya memandangi sendok perak di tangannya dengan dahi berkerut dan sorot mata rumit. Jose yang awalnya bersimpati kini malah jadi geli.
Saat ia memalingkan wajahnya kembali ke depan, Gerald baru saja pergi dan menutup pintu. Marco kembali menatap Edgar dan Renata.
“Di telepon kau bilang mendengar suara tawa, kan?” tanyanya kepada Edgar. “Coba ceritakan apa yang terjadi dari awal sampai akhir.”
“Tunggu, apa anak ini tidak apa-apa diizinkan mendengar?” tanya Renata cemas, pertanyaannya merujuk pada Nolan yang baru saja mulai melahap makanannya lagi.
“Kau benar, dia sebaiknya dipulangkan saja, atau disuruh makan di tempat lain,” Edgar menukas.
“Tidak, tidak, tolonglah, aku sudah terlanjur mendengar. Apa kalian harap aku akan bisa tidur dengan tenang setelah ini?” Nolan berusaha membujuk, padahal caranya sangat payah.
“Itu urusanmu,” Marco menyahut tajam. “Ini adalah persoalan keluarga kami, dan kau bukan seorang Argent.”
“Tidak apa, Paman, biarkan saja dia di sini,” Jose berkata. Ia merasakan hujan pandangan dari semua orang di ruangan itu. Jose menelan ludah kemudian melanjutkan, “Soalnya, dia kan berasal dari selatan, siapa tahu ada desas-desus atau sesuatu yang ia tahu setelah mendengar cerita kita. Kabar yang bisa dihubungkannya dengan cerita kita. Makin banyak kepala akan makin baik, kan?”
“Tidak masuk akal,” sahut Marco. “Menurutmu anak itu akan bisa tahu apa yang tidak kami tahu? Apa yang tidak aku tahu?” pertanyaan terakhir diajukan dengan nada tak percaya yang kedengaran pongah.
“Siapa yang tahu?” balas Jose keras kepala. “Kita kan tidak pernah tahu betul apa saja yang beredar dalam tiap rumah di seluruh Bjork. Bahkan meski Paman punya jaringan informasi sendiri.”
“Sudahlah,” Renata lagi-lagi menyela pertengkaran yang mulai timbul itu. Bola matanya membulat tak senang. Ia menatap Jose dengan pandangan mengkritisi sebelum memberi peringatan kepada putranya agar tetap menjaga sopan santun pada anggota keluarga yang lebih tua.
Jose mengangguk patuh. Nolan malah mengulum senyum di balik sendok, membuatnya jadi semakin kesal.
Kenapa malah ketawa-ketawa? Dasar anak setan, serunya dalam hati. Padahal aku sampai berdebat dengan Paman karena kau kelihatan begitu tertarik dan ingin ikut dalam diskusi! Dasar bodoh!
Ia mulai menyesali tindakan sok pahlawannya barusan, teringat bahwa ia seharusnya bertindak manis agar bisa mengambil hati serta kepercayaan pamannya.
“Tidak apa, biarkan saja dia di sini,” Renata lagi-lagi mengambil keputusan. Suaranya adalah nada bulat yang tidak bisa dibantah.
Pemilik manor Argent di Bjork memang Marco, tetapi para tuan rumahnya seakan-akan memiliki kesepakatan tak tertulis untuk tidak pernah saling berdebat atau berkelahi. Jika satu orang bicara atau menentukan sesuatu, dua orang lainnya tidak biasa membantah karena ingin menciptakan situasi kondusif serta citra yang tenang.
Maka ketika Renata sudah membuat keputusan di hadapan orang lain, dua orang lainnya menghormati dengan tidak mendebat.
Marco menatap adiknya dengan serius. Untuk waktu yang agak lama, hanya keheningan yang ada dalam ruangan tersebut. Renata membetulkan letak duduk, menimbulkan suara gemerisik kain yang lembut.
Edgar menarik napas panjang. Ia bersidekap dengan wajah berpikir, sikapnya seperti kesulitan mencari awal mula dari cerita. Jose menunggu dengan sabar. Bahkan Nolan pun menelan makanannya pelan-pelan. Kemudian Edgar mulai menceritakan apa yang didengar dan dialaminya dalam kamar bersama Renata.
***
kak Nara gk ada niatan nerbitin karyamu kah?
pengen punya versi buku fisiknya😔
dari baca sambil nunggu kaka up sampe baca ulang karna kangen😞😞