Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18
Hari-hari berlalu begitu cepat, dan entah sejak kapan, rasanya pertemuan aku sama Arjun jadi sesuatu yang paling aku tunggu-tunggu setiap harinya. Nggak ada jadwal khusus, nggak ada janji yang dituliskan, tapi seolah ada benang tak kasat mata yang selalu narik kami berdua buat saling ketemu.
Kadang Arjun datang ke kafe pas jam aku kerja, duduk di meja sama kayak biasa, cuma buat nemenin aku dari jauh sambil baca buku atau catatan dagangannya. Kadang pas aku libur, aku sengaja mampir ke tokonya, cuma buat nyium aroma rempah yang khas itu, ngobrol sama Bibi Meera, atau sekadar duduk diam di sudut toko sambil lihat Arjun melayani pembeli dengan ramah dan berwibawa.
Kedekatan kami makin kelihatan banget. Orang-orang di sekitar, mulai dari pelanggan kafe sampai tetangga sekitar toko Arjun, udah biasa banget lihat kami jalan berdua. Mereka sering ngelihat pemandangan itu Arjun yang tinggi , gagah, ganteng khas India dengan gayanya yang selalu rapi dan modern, jalan berdampingan sama aku yang tingginya , kulit sawo matang bersih, selalu tampil modis dengan sepatu hak yang bikin aku berdiri sejajar dan enak banget diajak ngobrol. Kami selalu kelihatan serasi, kelihatan akur, dan kelihatan banget kalau hubungan kami itu beda dari sekadar teman biasa.
Siang itu, suasana di toko lagi agak sepi. Arjun lagi duduk di meja panjang di bagian belakang, menyusun beberapa bungkus rempah yang baru aja datang dari pemasok. Aku duduk di seberangnya, bantu-bantu ngelipat kertas pembungkus sambil ngobrol santai kayak biasa.
Di ruangan itu, selain suara kami berdua ngomong, cuma ada suara lembut angin yang masuk dari jendela terbawa wangi bunga melati yang ada di pot dekat pintu.
"Kamu tau nggak, Aira..." Arjun buka suara sambil tangannya cekatan ngiket tali bungkusan.
"Dulu sebelum kenal kamu, hari-hari aku itu berjalan sama aja terus. Bangun, buka toko, urus barang, pulang, istirahat. Semuanya berjalan teratur tapi... gimana ya... datar aja. Nggak ada yang bikin penasaran, nggak ada yang bikin pengen cepet-cepet ngelewatin hari besok."
Dia angkat kepalanya, natap aku lekat-lekat dengan mata tajamnya yang teduh itu.
"Tapi semenjak ada kamu... semuanya berubah. Rasanya ada aja hal baru yang mau diceritain. Ada aja hal baru yang mau ditunjukin. Rasanya toko ini jadi lebih hidup, rasanya jalanan jadi lebih cerah, rasanya setiap hal kecil aja jadi punya makna kalau aku bisa bagi sama kamu. Kedekatan kita ini... rasanya kayak nemu potongan teka-teki yang hilang, yang selama ini aku cari tapi nggak tau apa bentuknya."
Aku berhenti melipat kertas sebentar, natap dia balik dengan rasa kagum yang sama besarnya. Rasanya aku juga ngerasain hal yang persis sama. Dulu hidupku abu-abu, penuh rasa takut dan kecewa, tapi sekarang... rasanya semuanya penuh warna, penuh rasa ingin tau, dan penuh rasa aman.
"Aku juga ngerasain itu, Jun," jawabku pelan dan jujur banget.
"Dulu aku mikir, setelah kejadian sama mantanku itu, aku bakal nutup diri selamanya. Aku mikir aku nggak bakal percaya sama siapa-siapa lagi, aku mikir aku bakal jalan sendiri aja dari sekarang. Tapi kamu datang... nggak tiba-tiba, nggak memaksa, kamu datang pelan-pelan aja, bawa kebaikan, bawa ketenangan. Dan sekarang... rasanya aku nggak bisa bayangin kalau sehari aja nggak ketemu atau nggak ngobrol sama kamu. Rasanya ada yang kurang aja gitu."
Arjun tersenyum lebar banget, senyum yang paling tulus dan bahagia yang pernah aku lihat dari dia. Dia nyender ke kursi, melipat tangan di dada, natap aku dengan tatapan bangga.
"Nah kan... aku pikir cuma aku aja yang ngerasa gini. Ternyata rasanya sama ya. Itu namanya nyambung, Aira. Itu namanya saling melengkapi. Kakekku sering bilang, 'Di dunia ini, kita nggak cuma cari teman buat senang-senang doang. Kita cari teman yang bisa jadi cermin, yang bisa jadi tempat pulang, yang bisa bikin kita jadi versi terbaik dari diri kita sendiri'. Dan aku rasa... aku udah nemu teman itu di kamu."
Hati aku rasanya hangat banget denger itu. Rasanya dihargai luar biasa banget.
Kedekatan kami makin nyata dalam banyak hal. Arjun makin sering ajak aku masuk ke dunianya. Dia mulai cerita lebih dalem soal budaya mereka, soal kepercayaan mereka, soal kebiasaan-kebiasaan kecil yang dia lakukan setiap hari.
Kadang dia ngajarin aku nama-nama rempah yang jarang orang tau, kadang dia bacain kutipan-kutipan bijak dari kitab-kitab kuno negaranya, kadang dia cuma diam dengerin aku cerita soal kafe, soal pelanggan, atau sekadar keluhan kecil sehari-hari.
Dia selalu ada. Dia selalu dengerin. Dia selalu ngertiin.
Dan aku pun sama, aku makin terbuka sama dia. Hal-hal yang dulu aku simpan rapat-rapat, hal-hal soal masa lalu yang sakit, soal rasa takut, soal kekhawatiran aku buat masa depan... pelan-pelan aku ceritain juga sama dia.
Arjun nggak pernah menghakimi, nggak pernah bilang aku berlebihan, dia cuma dengerin, ngelus punggung tanganku pelan, dan bilang kalimat yang selalu bikin hati aku tenang.
"Kamu hebat banget udah ngelewatin itu semua. Kamu berhak banget dapet kebahagiaan yang utuh sekarang."
Sore itu, setelah selesai bantu-bantu di toko, kami jalan pulang bareng kayak biasa. Matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga kemerahan yang indah banget. Bayangan kami berdua jatuh memanjang di aspal, berjalan beriringan, langkah kami sama santai, sama berirama.
Di tengah jalan, Arjun tiba-tiba berhenti, natap aku dengan serius tapi lembut.
"Aira... tau nggak? Dulu aku sempat khawatir banget pas kita makin dekat gini. Aku takut kamu nggak nyaman, aku takut kamu ngerasa terbebani, aku takut kamu ngerasa aku terlalu ikut campur urusan kamu. Tapi makin lama, makin aku yakin... kedekatan ini bukan buat ngekang, bukan buat ngatur. Kedekatan ini buat saling menguatkan."
Dia menunjuk dada kirinya sendiri, terus menunjuk dadaku.
"Kita sama-sama punya luka masa lalu, kita sama-sama pernah kecewa sama manusia, kita sama-sama pernah ngerasa dunia itu nggak adil. Tapi lihat sekarang... berkat kita saling ada, lukanya jadi makin sembuh, kekecewaannya jadi hilang, dan dunia rasanya jadi jauh lebih adil dan indah. Aku makin yakin, pertemuan kita ini bukan kebetulan, Aira. Ini memang takdir yang indah banget."
Aku mengangguk mantap, senyumku melebar sampai ke mata. Sepatu hak tinggiku bikin aku bisa natap dia tepat di manik matanya, nggak perlu mendongak berlebihan, rasanya posisi yang pas banget buat ngomongin hal sedalem ini.
"Aku juga yakin banget itu, Jun. Dulu aku mikir, kenapa harus aku yang ngerasain sakit hati kayak gitu? Tapi sekarang aku tau... mungkin Tuhan kasih aku ujian itu, biar nanti pas aku ketemu sama kebaikan sebesar ini, aku bisa lebih menghargainya, aku bisa lebih ngerti harganya. Dan kebaikan itu... sebagian besar datangnya dari kamu, dari semua hal yang kamu kasih ke aku."
Arjun tertawa kecil, lalu melangkah maju selangkah, berdiri makin dekat. Aura gagah dan wibawanya terasa nyaman banget, nggak bikin takut, malah bikin rasanya aman banget.
"Udah ah, jangan saling terima kasih terus nanti malah mewek. Intinya... aku seneng banget kita makin dekat gini. Aku seneng banget kamu jadi bagian besar dari hari-hari aku. Dan satu hal lagi... kedekatan kita ini, persahabatan kita ini, jangan berubah ya ke arah mana pun. Tetap begini aja, saling ada, saling jaga, saling hargai. Karena buat aku, apa yang kita punya ini... jauh lebih berharga daripada apa pun, termasuk rasa cinta yang orang-orang biasa kejar."
Aku paham banget maksud dia. Arjun tau masa laluku, Arjun tau aku belum siap, Arjun tau aku masih butuh waktu buat sembuh total. Dan dia pun, dia menghargai aku sebagai teman, sebagai manusia, bukan sebagai objek yang harus dimiliki. Dia nyaman, aku pun nyaman. Kami berdua tau, apa yang kami punya ini spesial banget, dan kami sama-sama mau jaga keindahan ini pelan-pelan aja.
"Iya, Jun... aku janji. Tetap begini aja. Saling ada, saling jaga. Ini udah lebih dari cukup buat aku, udah lebih dari indah," jawabku mantap.
Matahari pun akhirnya tenggelam sepenuhnya, berganti langit malam yang bertabur bintang. Kami jalan lagi melanjutkan perjalanan pulang, berdua, berdampingan. Kedekatan kami makin erat, ikatan persahabatan kami makin kuat, menyatu jadi satu rasa damai yang luar biasa indah.