Ajo dan Elsa dipertemukan dalam proyek film yang sama. Ajo sebagai produser dan Elsa sebagai pemeran utama. Sejak awal pertemuan, ketertarikan satu sama lain sudah terasa. Namun, status mereka yang berbeda – Ajo sebagai duda dan Elsa sebagai aktris yang sedang di puncak popularitas – menjadi penghalang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Ketegangan semakin meningkat ketika skandal masa lalu Ajo terungkap. Hal ini mengancam reputasi dan karir mereka berdua. Mereka harus berjuang melawan tekanan publik, gosip media, dan juga konflik batin mereka sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Reuni Bertumit Tinggi dan Rebutan Mainan
Keheningan di koridor lantai lima puluh belum sepenuhnya pulih dari insiden lift VIP, tatkala bunyi hentakan sepatu tumit tinggi yang nyaring dan ritmis memecah udara.
Suara klek-klek-klek itu berirama tegas, memancarkan aura dominasi yang tak bisa dibantah. Dari balik belokan koridor, muncul seorang wanita berbalut setelan blazer merah menyala dengan potongan asimetris yang tajam. Rambut bob hitamnya terpotong presisi, kacamata hitam berbingkai emas hinggap di pangkal hidungnya yang mancung.
Maya.
Sepuluh tahun lalu, ia adalah mahasiswa seni lukis yang menjadi pusat pusaran konflik antara Ajo dan Adam. Namun Maya yang sekarang bukan lagi gadis lugu yang kebingungan di antara dua pria. Ia adalah pioneer di dunia mode internasional—seorang perancang busana bertangan dingin yang karyanya dikenakan oleh supermodel dunia, tajam dalam berbicara, dan sangat tidak punya toleransi untuk pria-pria yang bertingkah kekanak-kanakan.
Maya melepas kacamata hitamnya dengan satu gerakan anggun, memamerkan sepasang mata tajam yang sanggup membuat direktur keuangan gedung ini ciut seketika. Pandangannya menyapu lorong, lalu tertuju pada pemandangan menggelikan di depan pintu lift: Adam yang masih terduduk di lantai sambil mengelap keringat dengan tisu, dan Ajo yang berdiri kaku mencoba merapikan jasnya yang kusut.
"Ternyata rumor itu benar," suara Maya mengalun renyah, sarat akan nada ejekan yang begitu elegan. "Kalian berdua makin tua bukan makin dewasa, tapi makin mirip dua bocah SD yang ketahuan mencuri mangga tetangga."
Adam mendongak kaget, hampir tersedak tisunya sendiri. "M-Maya?!"
Ajo, yang baru saja berhasil memulihkan wibawanya di depan Elsa, mendadak kaku bagai patung. Rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan karena rasa malu yang luar biasa hebat. Mantan istrinya—wanita yang pernah menjadi bagian dari masa lalu kelamnya—kini berdiri di sana menyaksikan kehancurannya secara terstruktur dan masif.
"Maya? Kenapa kau bisa ada di sini?!" Adam buru-buru bangkit berkat bantuan dua sekretarisnya, berusaha merapikan kemejanya yang lepek dan menepuk-nepuk celananya yang kusut. "Harusnya jadwal rapat fashion show kita jam dua siang!"
"Aku memajukan jadwalnya karena aku benci menunggu," jawab Maya santai sambil melangkah mendekat. Ia melirik Elsa yang berdiri tertegun di samping Ajo. Maya mengangguk sopan pada Elsa dengan senyum tipis yang hangat. "Nona Elsa. Senang bertemu langsung denganmu. Gaun hijau zamrudmu di karpet merah minggu lalu... styling-nya berantakan, tapi wajahmu menyelamatkan segalanya."
Elsa berkedip dua kali, bingung harus tersenyum atau tersinggung. Namun suasana canggung itu tidak bertahan lama karena fokus Maya kembali terarah pada dua pria di depannya.
"Jadi," Maya melipat kedua tangannya di dada, menatap Ajo dan Adam bergantian seperti seorang wali kelas yang sedang menginterogasi murid bandel. "Bisa ada yang menjelaskan kenapa dua jajaran eksekutif ini baunya seperti kopi basi dan kemejanya terlihat seperti habis diperas?"
Ajo berdeham keras, berusaha memosisikan dirinya seanggun mungkin. "Kami terjebak di lift, Maya. Masalah teknis."
"Masalah teknis?" Adam memotong cepat, tidak mau kalah. "Ajo yang membuat situasi makin parah! Dia memprovokasiku di dalam sana!"
"Kau yang panik duluan karena lampu merah muda itu!" balas Ajo kaku, matanya melotot tipis ke arah Adam.
"Aku tidak panik! Aku cuma kepanasan! Dan kau... kau menertawakanku!" Adam menunjuk wajah Ajo dengan telunjuknya, melupakan sama sekali bahwa di sekeliling mereka ada belasan staf, sekretaris, Elsa, dan Maya yang menatap mereka tanpa berkedip.
"Kalian berdua diam," potong Maya tenang, namun efeknya seketika membuat Ajo dan Adam menutup mulut rapat-rapat.
Maya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berjalan melangkah mendekati Ajo, merapikan kerah jas Ajo yang terlipat aneh dengan gerakan sangat alami—gerakan mantan istri yang sudah terlalu hapal kebiasaan buruk suaminya dulu.
"Ajo, jas mahalmu ini memohon untuk disetrika," gumam Maya, lalu beralih menatap Adam, meraih ujung dasi Adam yang miring dan menariknya sedikit terlalu kencang hingga Adam terbatuk pelan. "Dan kau, Adam, kalau mau bertingkah seperti bos besar, setidaknya semprotkan parfum sebelum keluar dari lift."
Para staf dan jajaran direksi yang menyaksikan momen itu menahan napas. Tak ada satu pun orang di gedung ini yang berani menyentuh atau mengatur Adam seperti itu, tetapi Maya melakukannya seolah-olah sedang mengurusi dua anak balita.
Elsa, yang sejak tadi berdiri menyaksikan keajaiban ini, tidak bisa lagi menahan dadanya yang terguncang. Tawa kecil yang sangat jujur meletup dari bibirnya. Suara tawa Elsa yang renyah memecah ketegangan kaku di koridor tersebut.
Ajo menoleh ke arah Elsa, menatap wanita itu dengan ekspresi campur aduk—antara terpesona melihat Elsa tertawa lepas untuk pertama kalinya, dan malu setengah mati.
"Nona Elsa," Maya berbalik menatap Elsa dengan senyum penuh arti. "Jangan biarkan dua pria ini membuatmu pusing. Dulu saat kuliah, mereka pernah bertengkar hebat selama tiga hari hanya karena merebutkan tempat duduk paling belakang di kelas melukis. Ujung-ujungnya? Dua-duanya dihukum membersihkan kuas oleh dosen."
"Maya! Itu rahasia!" seru Adam dengan suara melengking yang sama sekali tidak mencerminkan citra pengusaha suksesnya.
Ajo memalingkan wajahnya ke arah dinding, pura-pura meneliti serat kayu di tembok gedung untuk menghindari tatapan Elsa.
"Aku ke sini sebenarnya ingin memastikan desain kostum untuk film Cinta Dua Batas," lanjut Maya santai, mengabaikan protes dari dua mantannya. Ia menatap Elsa lekat-lekat, lalu tersenyum manis. "Tapi melihat dinamika yang luar biasa ini... sepertinya aku harus menagih biaya ekstra untuk hiburan gratis pagi ini."
Maya melangkah maju, melepaskan kacamata hitamnya lagi dan menyangkutkannya di kerah blazer-nya. Ia memegang bahu Elsa pelan, merapat untuk berbisik, namun suaranya cukup terdengar oleh Ajo dan Adam.
"Kalau Ajo mulai berlagak sok kaku lagi, sentil saja telinganya. Itu selalu berhasil sepuluh tahun lalu," bisik Maya penuh kemenangan.
Maya kemudian memutar tubuhnya anggun, melangkah menuju ruang rapat utama tanpa menunggu siapa pun. Langkah kakinya kembali bergema klek-klek-klek, meninggalkan koridor lantai cincin lima puluh dalam kondisi riuh rendah oleh bisikan para staf.
Adam merapikan dasinya yang acak-acakan, berdeham kaku pada para sekretarisnya. "Bubar! Semuanya kembali bekerja!" teriaknya mencoba menyelamatkan sisa-sisa harga diri yang sudah tercecer di lantai.
Ajo menatap Elsa yang masih menyisakan senyum di bibirnya. Untuk pertama kalinya sejak proyek film ini dimulai, tidak ada lagi sekat ketakutan, tidak ada lagi topeng 'Sang Dewi', dan tidak ada lagi bayangan kelam persaingan masa lalu. Yang tersisa di lorong itu hanyalah tawa tipis dan kenyataan bahwa di balik setelan jas jutaan rupiah, pria-pria dewasa ini tak lebih dari sekadar manusia biasa yang bisa bertingkah konyol saat rahasianya terbongkar.