Menikahi seorang duda beranak remaja di usia 19 tahun bukanlah impian Kinanti Larasati. Namun, jerat kemiskinan dan ijazah SMA yang tak bernilai memaksanya menerima perjodohan itu. Pria yang dinikahinya terpaut usia lebih tua darinya sebuah pernikahan yang awalnya ia kira didasari oleh ketulusan demi mengangkat derajat hidupnya.
Selama tiga tahun, Kinanti menelan semua kerumitan itu sendirian. Ia mengalah demi menjinakkan hati anak sambungnya, dan tetap bertahan meski mantan istri suaminya tiada henti mengusik ketenangan rumah tangga mereka.
Kehadiran putri kecilnya, Aira Shakila, sempat menjadi lentera yang menerangi hari-harinya. Namun, tepat saat Aira merayakan ulang tahunnya yang pertama, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai. Sebuah rahasia besar yang selama ini disimpan rapat-rapat oleh suaminya mendadak terbongkar ke permukaan.
Ketika topeng sang suami terbuka dan dunia tempatnya bersandar mendadak runtuh, akankah Kinanti tetap bertahan demi masa depan putrinya? Ataukah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E.N Viana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8. Pria Pemaksa dan Panggilan 'Om'
Proses fitting baju pengantin yang menguras emosi itu akhirnya selesai juga. Namun, entah angin apa yang berembus hari ini, sikap pria sedingin es di samping Kinanti itu mendadak berubah secara drastis. Setelah mereka berganti pakaian kembali ke setelan semula, Baskara dengan otoritas mutlaknya langsung mengajak atau lebih tepatnya memerintahkan Kinanti dan Natasha untuk pergi ke sebuah restoran mewah di pusat kota.
Sebenarnya, Kinanti sudah melayangkan penolakan secara tegas. Dia mengatakan ingin langsung pulang ke rumah karena badannya terasa lelah. Namun, seperti yang sudah-sudah, penolakan itu ditolak mentah-mentah oleh Baskara. Pria itu hanya memberikan satu tatapan tajam yang seolah mengatakan bahwa argumen Kinanti sama sekali tidak berlaku di depannya. Mau tidak mau, Kinanti berakhir di sini, duduk di salah satu bilik VIP sebuah restoran bintang lima.
Di meja restoran yang diterangi lampu gantung kristal yang temaram dan elegan, ketegangan terasa begitu pekat. Baskara duduk berdampingan dengan putri tunggalnya, Natasha, sementara Kinanti duduk sendirian di depan mereka berdua, dipisahkan oleh meja marmer yang luas. Tidak butuh waktu lama bagi pelayan untuk menyuguhkan berbagai hidangan yang sangat lezat, mulai dari pembuka hingga hidangan utama yang aromanya menggugah selera.
Namun, kemewahan makanan di atas meja sama sekali tidak bisa mencairkan suasana. Natasha, yang sejak di butik sudah menyimpan dendam kesumat karena kalah berargumen, menatap Kinanti dengan pandangan yang sarat akan kebencian. Dia memperhatikan bagaimana Kinanti memegang garpu dengan tenang.
"Aku yakin, kamu pasti baru pertama kali kan, menginjakkan kaki ke restoran semewah ini?" ucap Natasha memecah keheningan dengan nada suara yang sengaja dikeraskan, penuh dengan nada meremehkan.
Kinanti tidak menyahuti. Gadis itu seolah menganggap suara Natasha tak lebih dari dengungan lalat yang lewat. Dia tetap fokus memotong daging di piringnya dengan gerakan yang teratur, menikmati makanan gratis yang ada di depannya. Sikap acuh tak acuh Kinanti justru membuat darah Natasha mendidih.
"Kau tuli ya?!" bentak Natasha mulai kehilangan kesabarannya.
Kinanti perlahan meletakkan garpunya. Dia menatap datar ke arah remaja manja di hadapannya. "Memangnya kenapa kalau aku memang baru pertama kali datang ke tempat ini? Apa ada aturan tertulis kalau orang sepertiku dilarang makan di sini?" tanyanya dengan nada suara yang sangat tenang dan datar.
Natasha mendengus jijik, memutar matanya malas. "Cih, dasar kampung!" makinya ketus.
Kinanti tidak tinggal diam. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terkesan mengejek. "Bukannya kamu yang kampungan karena dari tadi tidak berhenti berteriak-teriak tanpa kejelasan di tempat umum seperti ini?" balas Kinanti dengan telak.
Natasha yang kembali dibalas dengan kalimat menohok seperti itu seketika melotot. Napasnya memburu, namun lidahnya mendadak kelu untuk membalas. Brengsek! Berani sekali nyali gadis miskin ini! Aku tidak bisa diam saja melihatnya berlagak tinggi. Aku harus segera memberi tahu Mami Chynthia tentang hal ini, umpat Natasha dalam hati sembari mengepalkan tangannya di bawah meja.
Di sisi lain, Baskara yang sejak tadi hanya diam menyimak pertengkaran kedua perempuan itu diam-diam merasa takjub. Melihat bagaimana tangguhnya gadis di depannya ini dalam menghadapi gertakan Natasha, ada sebersit rasa bangga yang menyelinap di dadanya. Pria itu membatin, ternyata pilihan ayahnya memang bukan gadis lemah yang mudah ditindas atau menangis saat disudutkan.
Kinanti yang merasa risih karena terus-menerus diperhatikan oleh sepasang mata elang di depannya akhirnya menoleh. Dia menatap Baskara dengan kening berkerut. "Kenapa Om menatapku seperti itu?" ucapnya ketus.
Mendengar kata "Om" keluar lagi dari bibir calon istrinya, ekspresi tenang Baskara langsung berubah. Pria itu merasa sangat jengkel dengan panggilan tersebut. Wajah tampannya mengeras tipis.
"Bisakah kau mengubah nama panggilan itu?" ucap Baskara dengan nada suara yang sedikit jengkel namun terdengar dalam. "Setiap kali kau memanggilku seperti itu, aku merasa seperti pria mesum yang akan menikahi gadis di bawah umur."
Sebelum Kinanti sempat membalas keluhan Baskara, Natasha kembali mengambil kesempatan untuk menyela. Dia berniat mengompori papanya agar membenci Kinanti.
"Papa! Kenapa sih Kakek bisa-bisanya menjodohkan Papa sama gadis yang tidak tahu malu seperti dia ini?!" seru Natasha dengan nada mendramatisir. Dia kemudian menunjuk wajah Kinanti dengan telunjuknya. "Eh, gadis miskin! Kamu itu benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu cara berterima kasih ya! Untung saja keluarga besar papaku mau memungutmu menjadi istrinya, kalau tidak—"
"Siapa yang mau dipungut oleh keluargamu?!" potong Kinanti dengan suara yang meninggi, memotong kalimat Natasha sebelum remaja itu sempat menyelesaikannya.
Kinanti menatap Natasha dengan kilat kemarahan yang akhirnya tersulut, lalu pandangannya beralih menatap tajam ke arah Baskara. "Apa kau tuli saat di butik tadi? Aku sudah bicara dengan sangat jelas. Bukan aku yang menginginkan pernikahan bodoh ini! Tapi pria dingin dan pemaksa itulah yang menginginkan pernikahan ini!" tegas Kinanti sembari mengacungkan telunjuknya tepat ke arah wajah Baskara tanpa rasa takut sedikit pun.
Kinanti benar-benar tidak ingin mengalah lagi dari Natasha. Di dalam benaknya, dia sudah menanamkan prinsip baru, gadis manja seperti Natasha ini memang harus dilawan dengan keras. Kalau perlu, dia akan memberikan pelajaran yang setimpal agar anak tiri angkuhnya itu jera dan tidak lagi bertindak semena-mena kepadanya kelak.
Baskara yang mendadak ditunjuk-tunjuk dan disebut sebagai "pria dingin dan pemaksa" hanya bisa terdiam dengan alis yang terangkat sebelah. Namun, anehnya, tidak ada amarah yang tersulut di dalam dadanya. Pria itu justru kembali menahan senyumnya melihat keberanian membara yang terpancar dari mata bening Kinanti.
Suasana di bilik VIP restoran itu mendadak hening setelah ledakan kemarahan Kinanti. Natasha tampak syok, tidak menyangka bahwa Kinanti akan seberani itu menunjuk papanya sendiri di depan umum. Remaja itu menoleh ke arah Baskara, berharap sang papa akan mengamuk dan membatalkan pernikahan saat itu juga.
Namun, ekspektasi Natasha patah total. Baskara justru meraih cangkir kopinya, menyesapnya dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
"Natasha, jaga sopan santunmu. Mulai bulan depan, dia akan menjadi ibumu di rumah," ucap Baskara dengan nada dingin yang sarat akan peringatan tak terbantahkan. Kata-kata itu sukses membuat wajah Natasha pucat pasi seketika.
"Papa membela dia?!" jerit Natasha tidak terima. Tanpa memedulikan makanannya yang belum habis, Natasha bangkit berdiri, menyambar tas mewahnya, lalu melangkah keluar dari restoran dengan menghentakkan kaki, meninggalkan kedua orang dewasa itu berdua.
Setelah kepergian Natasha, keheningan yang berbeda merayap di meja makan. Kinanti yang masih diliputi sisa-sisa kekesalan menarik napas dalam-dalam, lalu kembali meraih garpunya dengan kasar.
"Kau memiliki keberanian yang besar untuk ukuran seorang gadis desa," ucap Baskara memecah kesunyian, matanya menatap lekat ke arah wajah Kinanti yang masih merona akibat emosi.
"Aku hanya membela diri, Om. Eh... maksudku, Tuan Baskara," ralat Kinanti cepat saat melihat tatapan memperingatkan dari Baskara soal panggilan "Om".
"Baskara. Panggil aku Baskara saat kita berdua atau di depan orang lain nanti," potong pria itu dengan suara rendah yang mutlak. Dia memajukan tubuhnya sedikit ke arah meja. "Dan soal sebutan 'pria pemaksa'... kau harus mulai terbiasa, Kinanti. Karena setelah satu bulan ini, seluruh hidupmu akan berada di bawah kendaliku."
Kinanti mendongak, menatap lurus ke dalam netra gelap Baskara yang tampak mengintimidasi namun juga menyimpan misteri yang tak tertebak. Alih-alih ketakutan, Kinanti justru mengepalkan tangannya di bawah meja. Pernikahan ini mungkin sebuah paksaan, tetapi dia bersumpah tidak akan membiarkan dirinya menjadi boneka pajangan di dalam rumah mewah keluarga Dirgantara.
Setelah makan siang yang penuh ketegangan itu usai, Baskara mengantar Kinanti pulang menggunakan mobil sedan mewahnya. Di dalam mobil, hanya ada keheningan yang ditemani oleh deru halus mesin. Baskara sesekali melirik Kinanti dari kaca spion tengah. Gadis itu menatap ke luar jendela, memperhatikan deretan pohon yang bergerak cepat.
"Kau tidak takut menghadapi Natasha?" tanya Baskara tiba-tiba, memecah kesunyian.
Kinanti tidak menoleh, dia tetap menatap kaca jendela. "Untuk apa aku takut? Dia hanya anak manja yang kurang dididik dengan benar. Kalau aku terus mengalah, dia akan melonjak."
Baskara terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar seksi namun penuh wibawa. "Kau benar. Dia memang kurang didikan. Dan kurasa, kehadiranmu di rumah nanti akan membawa perubahan besar."
"Jangan berharap terlalu banyak, Tuan Baskara. Aku menikah denganmu hanya untuk menyelamatkan keluargaku, bukan untuk menjadi guru privat anakmu," sahut Kinanti ketus, akhirnya menoleh dan menatap mata pria itu.
Baskara menghentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Kinanti. Dia berbalik, menatap Kinanti dengan intensitas yang membuat napas gadis itu sedikit tercekat. "Apapun tujuanmu, begitu kau menandatangani berkas pernikahan kita, kau adalah tanggung jawabku. Bersiaplah untuk hari pernikahan kita, Kinanti. Tidak ada jalan untuk mundur."
Kinanti tidak menjawab. Dia langsung membuka pintu mobil dan melangkah turun tanpa mengucap salam perpisahan, meninggalkan Baskara yang menatap punggungnya dengan senyuman misterius yang tertahan.
Sementara itu, di tempat lain, Natasha tiba di rumahnya dengan wajah yang merah padam karena menahan tangis dan amarah. Dia langsung berlari ke kamarnya di lantai atas, membanting pintu dengan keras, dan menguncinya dari dalam.
Dengan tangan gemetar, dia menekan nomor telepon maminya, Chynthia. Begitu panggilan tersambung, Natasha langsung menangis histeris.
"Mami! Papa benar-benar keterlaluan! Dia membela gadis kampung itu di depan umum, Mi!" adu Natasha di sela tangisnya.
Di seberang telepon, terdengar suara helaan napas tajam dari Chynthia. "Tenang, Natasha. Ceritakan pada Mami, apa yang sebenarnya terjadi di butik dan restoran?"
Natasha menceritakan semua kejadian hari itu, termasuk bagaimana indahnya penampilan Kinanti setelah mendapatkan perawatan penuh dari Baskara, dan bagaimana beraninya Kinanti menyemprotnya di depan sang papa.
Mendengar penuturan putrinya, rahang Chynthia mengeras di apartemen mewahnya. Matanya memancarkan kilat kebencian yang mendalam. Dia tidak menyangka bahwa gadis desa yang diremehkannya memiliki taring yang cukup tajam untuk melawan putrinya dan memikat perhatian Baskara.
"Jalang kecil itu ternyata punya nyali juga," desis Chynthia dengan nada suara yang sangat dingin dan penuh kebencian. "Dia pikir dia bisa dengan mudah merebut posisi Nyonya Dirgantara dan menguasai harta papamu? Dia salah besar."
"Lalu kita harus bagaimana, Mi? Pernikahan mereka tinggal menghitung hari! Aku tidak sudi punya ibu tiri sepertinya!" rengek Natasha.
Chynthia tersenyum licik, sebuah seringai penuh racun terukir di wajah cantiknya yang mulai menua. "Jangan khawatir, sayang. Biarkan mereka mempersiapkan pernikahan bodoh itu sampai matang. Mami sudah menyusun rencana. Tepat di hari pernikahan mereka nanti, Mami sendiri yang akan datang dan memberikan 'hadiah' istimewa yang akan menghancurkan martabat gadis kampung itu di depan semua orang.
Natasha menghentikan tangisnya, matanya berbinar mendengar rencana licik maminya. "Mami serius? Mami akan mengacaukan pernikahannya?"
"Tentu saja, sayang. Tidak ada yang boleh memiliki Baskara dan hartanya selain Mami. Bersiaplah untuk menonton pertunjukan yang menyenangkan, Natasha," ucap Chynthia sebelum memutus panggilan dengan tawa sinis yang menggema.
Di kamarnya, Natasha tersenyum puas. Rasa malunya di restoran tadi seketika sirna, digantikan oleh rasa tidak sabar menanti hari pernikahan yang akan menjadi awal kehancuran bagi Kinanti Larasati.