NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Bos Dingin

Istri Rahasia Bos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Mafia / Perjodohan
Popularitas:771
Nilai: 5
Nama Author: Ristika Rachma

Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.

Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8: Jejak Bayangan dan Bukti yang Tak Terhapus

Suasana di dalam mobil terasa hening sejenak setelah aku selesai membaca pesan ancaman dari nomor tak dikenal tadi. Erlan menyetir dengan tenang, tapi tangannya yang mencengkeram setir sedikit lebih kencang dari biasanya, rahangnya terkatup rapat menahan kekhawatiran yang tak ingin ia tunjukkan. Aku menatap jendela yang memantulkan bayanganku, rambut panjangku jatuh berantakan di bahu, dan pesan singkat itu seolah masih tertulis jelas di layar ponselku yang sudah kumatikan.

"Orang ini tahu terlalu banyak," ucapku memecah keheningan pelan. "Dia tidak hanya tahu kita berdua kembali dari masa lalu. Dia juga tahu rahasia yang belum pernah kita ceritakan pada siapa pun bahkan pada orang tua kita sendiri."

Erlan mengangguk pelan, matanya tak lepas dari jalan raya yang mulai sepi menjelang malam. "Itu artinya dia bukan sekadar sekutu biasa Paman Dika. Dia punya hubungan dekat dengan masa lalu kita, bahkan mungkin orang yang pernah ada di lingkaran terdekatmu atau keluargaku. Dan yang lebih penting dia juga punya kemampuan yang sama dengan kita untuk melintasi waktu."

Sesampainya di rumah, Erlan langsung mengajakku masuk ke ruang kerjanya yang terletak di lantai dasar, ruangan yang dilengkapi sistem keamanan paling canggih di seluruh kediaman. Di atas meja kerja yang luas sudah tersusun berkas-berkas dokumen yang kemarin baru dikumpulkan tim penyelidik pribadinya tentang Paman Dika.

"Mulai hari ini, kita tidak bisa lagi bergerak setengah-setengah," ucap Erlan sambil menyalakan layar komputer besar di dinding. "Kita harus memperkuat setiap bukti yang kita miliki, sekaligus mencari jejak siapa orang misterius ini sebelum dia sempat melancarkan serangan yang lebih berbahaya."

Aku duduk di kursi di sampingnya, mulai menyusun berkas satu per satu. Di kehidupan dulu, aku tidak pernah peduli dengan urusan bisnis atau perselisihan keluarga, sehingga banyak hal yang terlewatkan begitu saja. Namun kali ini, setiap nama, setiap tanggal, dan setiap tanda tangan terasa begitu berarti.

"Lihat ini," tunjukku pada satu berkas lama. "Tiga bulan sebelum perusahaan ayahku bangkrut, Paman Dika beberapa kali berkunjung ke rumah. Dia selalu membawa oleh-oleh untukku dan Ibu, lalu mengajak Ayah berbicara berjam-jam di ruang kerja. Dulu aku mengira dia hanya ingin membantu, tapi sekarang aku sadar: dia sedang mencari celah untuk mengakses data perusahaan dan memanipulasi keputusan Ayah."

Erlan mengangguk setuju, lalu menampilkan rekaman percakapan rahasia yang berhasil didapatkan timnya. "Bukan hanya itu. Dia juga menjalin kerja sama dengan pihak luar yang berniat menguasai lahan dan aset di sekitar daerahmu. Mereka membuat transaksi palsu yang seolah-olah disetujui oleh ayahmu, padahal tanda tangannya dipalsukan."

Malam makin larut, tapi kami belum berhenti menyelidiki. Tiba-tiba ponsel Erlan berdering. Itu dari kepala tim penyelidiknya. Wajah Erlan berubah serius saat mendengar laporan di seberang telepon.

"Ada apa?" tanyaku cemas saat dia menutup sambungan telepon.

"Timku baru saja menemukan jejak transaksi mencurigakan yang menghubungkan Paman Dika dengan seseorang yang menggunakan nama samaran 'Bayangan'," jawabnya pelan. "Dan yang lebih mengejutkan alamat pengiriman dana terakhir tertuju pada sebuah rumah tua di pinggiran kota, rumah yang sudah lama kosong, tempat di mana sahabat masa kecilmu, Dimas, pernah tinggal bersama orang tuanya sebelum mereka meninggal dalam kecelakaan misterius sepuluh tahun lalu."

Jantungku berdegup kencang. Dimas... nama itu belum pernah kusebutkan pada siapa pun belakangan ini. Dia adalah teman pertamaku, orang yang selalu ada saat aku kesepian di masa kecil, sebelum tiba-tiba dia menghilang tanpa kabar berita setelah kematian orang tuanya.

"Mustahil," bisikku tak percaya. "Dimas sudah lama hilang. Semua orang mengira dia meninggal atau pergi jauh dan tidak pernah kembali."

"Belum tentu," potong Erlan lembut. "Dan pesan ancaman yang kamu terima tadi... nadanya terasa sangat mengenalimu. Seolah-olah orang itu tahu kebiasaanmu, ketakutanmu, bahkan hal-hal yang hanya diketahui oleh teman masa kecilmu."

Keesokan paginya, kami memutuskan untuk pergi ke rumah tua itu diam-diam. Rumah itu terletak di jalan sempit di pinggiran kota, tertutup semak belukar yang sudah tinggi, dindingnya berlumut dan catnya sudah mengelupas. Saat kami melangkah masuk, udara di dalamnya terasa pengap dan berdebu. Namun ada satu hal yang membuatku tertegun, di ruang tengah, masih tersimpan mainan kayu yang pernah kuberikan pada Dimas saat kami berumur tujuh tahun. Mainan itu masih utuh, seolah baru saja dirawat dengan baik.

"Dia memang sering ke sini," gumamku pelan, air mata hampir menetes. "Dia tidak melupakan masa kecil kita."

Erlan berjalan menuju lemari besi tua di sudut ruangan yang pintunya sedikit terbuka. Di dalamnya ada berkas-berkas penting dan sebuah buku harian. Saat dia membuka halaman pertama, tulisan tangan yang rapi namun penuh kemarahan terlihat jelas.

"Mereka bilang kecelakaan orang tuaku murni takdir. Tapi aku tahu itu bohong. Kakek Erlan dan ayah Dian berkolusi untuk mengambil tanah tempat tinggal kami. Aku akan membalas dendam, bahkan jika harus melintasi waktu berkali-kali pun."

Aku menutup mulutku tak percaya. Jadi benar... orang misterius itu adalah Dimas. Dan dia juga kembali dari masa lalu karena dendam yang salah paham.

Saat kami hendak pulang, aku melihat selembar kertas terselip di balik bingkai foto kami berdua saat kecil. Tertulis pesan pendek: "Kalian pikir hanya kalian yang berhak mengubah takdir? Aku akan pastikan kalian merasakan rasa sakit yang sama seperti yang kurasakan. Tunggu saja langkahku selanjutnya."

Sepanjang perjalanan pulang, pikiranku berkecamuk. Dulu Dimas adalah orang yang paling tulus melindungiku. Namun kesalahpahaman yang menumpuk selama bertahun-tahun mengubahnya menjadi musuh yang paling berbahaya.

"Kita tidak bisa menangkapnya dengan kekerasan," ucapku pada Erlan saat kami tiba di rumah. "Dia bukan penjahat murni. Dia hanya terluka dan buta oleh kebencian. Kita harus membuktikan padanya bahwa kematian orang tuanya bukan kesalahan kakekmu atau ayahku, itu adalah perbuatan Paman Dika yang memanipulasi semuanya sejak awal."

Erlan menggenggam tanganku erat, matanya penuh keyakinan. "Kamu benar. Tapi sebelum itu, kita harus mengumpulkan bukti yang tak terbantahkan. Paman Dika adalah kunci untuk menyatukan semua teka-teki ini. Jika kita bisa membongkar kejahatannya secara utuh, Dimas akan melihat kebenaran dengan sendirinya."

Sore itu, tim penyelidik Erlan membawa kabar gembira. Mereka berhasil mendapatkan rekaman CCTV dan saksi mata yang melihat Paman Dika mengunjungi lokasi kecelakaan orang tua Dimas sehari sebelum kejadian, serta bukti bahwa dia yang menyabotase rem mobil mereka demi menghilangkan jejak perselisihan tanah yang sebenarnya milik keluarga Dimas.

"Ini bukti yang sangat kuat," ucap Erlan sambil menatap berkas di tangannya. "Tapi kita harus berhati-hati. Dimas mungkin akan melindungi Paman Dika karena mengira mereka berada di pihak yang sama."

Aku menatap ke luar jendela, melihat langit yang mulai mendung. "Aku tidak akan menyerah pada Dimas. Dia adalah satu-satunya teman masa kecilku yang tersisa. Aku akan berusaha menyadarkannya, sekalipun harus menghadapi bahaya yang tak terduga."

Malam itu, saat aku sedang duduk di balkon merenung, aku melihat bayangan sosok tinggi berdiri di kejauhan di balik pohon besar di ujung taman. Kali ini dia tidak lari saat aku menatapnya. Dia berdiri diam cukup lama, lalu perlahan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arahku—bukan dengan ancaman, tapi seolah menyuruhku bersiap menghadapi pertemuan yang tak terelakkan.

Aku tahu, pertempuran sesungguhnya belum dimulai. Pertempuran ini bukan hanya soal balas dendam atau harta, tapi soal membebaskan seseorang dari kesalahpahaman yang menghancurkan hidupnya. Dan kali ini, aku berjanji tidak akan membiarkan siapa pun tersesat lagi dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!