Intan adalah gadis yang lugu dan baik hati, dia selalu membantu ibunya yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di sebuah rumah mewah. Intan bersama ibunya hanya orang biasa yang tidak memiliki keluarga dan beruntung mereka bertemu dengan bu Ratna yang membawa mereka kerumah nya dan bekerja di sana.
Ratna yang berusia 18 tahun itu nampak cekatan membantu ibunya. Sikap sopan dan paruhnya membantu Ratna dan suami Agung begitu menyukai Intan, 5 tahun sudah berlalu kini intan sudah beranjak menjadi gadis dewasa.
Di mana kisah yang tidak pernah dia bayangkan akan terjadi, kisah pencinta dan tanpa restu akan terlibat dalam kehidupan nya.
Saat pertemuan nya dengan anak tunggal keluarga Wicana yang sudah menampung nya dan ibunya selamat bertahun-tahun lama nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lembayung Senjaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahendra Cendana
Bandara Sukarno hatta
" Mahendra... " Pekik Agung saat melihat putra nya dengan tas ransel di punggung nya melambaikan tangan.
Pemuda 26 tahun itu membuka kaca mata hitamnya dan berlari menghampiri pria 47 tahun itu dan langsung memeluk nya erat, tubuh kekar Mahen membuat Agung tak percaya jika putra nya benar-benar bisa seberubah itu.
" Kok papa sendiri, di mana bunda?. " Mahendra mencari keberadaan Ratna yang memang sengaja tidak ikut menjemput kepulangan nya itu.
" Bunda mu ada di rumah, dia sengaja tidak ikut biar tambah tambah penasaran dengan putra nya ini. Papa seperti melihat orang lain dalam dirimu nak, papa rindu sekali.. "
" Mahendra sudah dewasa pa, tentu saja banyak yang berubah bukan lagi Mahendra yang dulu yang selalu membuat onar hingga bunda pusing dan membuang ku ke rumah paman dan bibik Seno. " Gumam nya sembari berjalan beriringan.
" Ah sudah lah, bunda mu hanya ingin membuat mu berubah dan menjadi lebih baik dan terbukti jika paman dan bibik mu itu berhasil bukan?. " Mereka berbincang dan sesekali tertawa jika mengingat kenangan hidup mereka dulu.
Mahendra sudah belajar beberapa cara mengurus perusahaan nya di Indonesia karena di luar negeri dia sudah di latih untuk memegang beberapa perusahaan milik pamannya dan mengelolanya dengan sangat baik tentunya.
Mahendra dan Agung masuk kedalam mobil untuk segera kembali ke rumah lama nya, rumah yang sangat dia rindukan sejak 8 tahun lamanya. Jalanan nampak sangat berbeda beberapa tempat dulu nya sering dia kunjungi bersama teman-teman untuk nongkrong dan kadang membuat onar dan hal itu membuat senyum tipis di bibir nya terlihat.
" Bagaimana kehidupan di sana, apa kamu sudah memiliki seseorang dalam hidupmu?. " Ucap Agung yang masih fokus menyetir.
" Ada, nama nya Lili dia seorang model yang terkenal dan sekarang lagi di Korea pa. Dia juga dari Indonesia karena aku kurang suka gadis luar negeri. " Gumam Mahendra pelan.
" Hemz.. "
" Lagian membawa seorang gadis kehidupan kita ini sulit, papa tahu sendiri bagaimana selera Bunda yang begitu ribet dan aneh menurut ku. " Agung terkekeh mendengar ucapan putra nya itu.
" Bunda hanya ingin yang terbaik untuk mu dan garis keturunan kita nak, papa harap berhenti bertengkar dan membantah ucapan bunda mu lahi. Itu hanya akan semakin membuang banyak waktu dan tenaga.. " Mahendra diam dia malas jika membahas tentang hal hal seperti itu.
***
Jam sudah menujukan pukul 14.50 tapi Agung dan Mahendra belum juga sampai di rumah membuat Ratna nampak cemas, bagaimana bisa mereka begitu lama kembali.
" Apa perlu aku telfon saja, tapi tidak aku akan melihat nya secara langsung untuk mengobati luka rindu ku pada putra kesayangan ku itu. "
Clek
Suara pintu terbuka dan langsung membuat Ratna terdiam membeku saat senyum asing yang begitu dia rindukan sekarang ada tepat di depan nya di hadapan nya langsung, Mahendra melepas tas ransel besar nya dan berjalan cepat menabrak tubuh Ratna dan memeluk nya dengan sangat erat.
Mereka melepaskan kerinduan yang bertahun-tahun lamanya tidak bertemu. Selamat 8 tahun Ratna tidak pernah mengunjungi putra nya hanya lewat panggilan itu saja, karena dia benar-benar ingin Mahendra belajar menjadi orang yang lebih baik.
" Bunda... " Ucap Mahendra pelan membuat tangis Ratna semakin deras dan isakan tangis nya semakin keras.
Mahendra menangkap sepasang mata yang memperhatikan dari kejauhan bersama seorang wanita tua, mata mereka beradu pandang saling menatap cukup lama dan gadis itu langsung pergi begitu saja membuat Mahendra penasaran.
" Bunda kangen banget sama kamu sayang, bunda dan papa banyak banget denger perubahan kamu dan proses kamu yang luar biasa itu. " Mahendra tersenyum mengajak Ratna yang bersemangat itu untuk duduk di sofa.
" Bunda kamu ini Mahen, gak ada detik terlewat untuk membicarakan mu. Mungkin kamu kira bunda dan papa tidak peduli sama kamu, namun kenyataan paman Bima lah yang sampai bosan mengangkat telpon bunda mu hanya untuk tahu tentang dirimu. "
" Hemz, aku percaya sih walapun aku sempat berfikir jika bunda dan papa membuangku karena aku terlalu berandalan saat itu." Ratna menggeleng.
" Tidak sayang, bukan seperti itu. Kami melakukan ini untuk masa depan kamu agar kamu menjadi orang yang sangat baik dan mampu untuk menghadapi dunia yang keras ini. Tugas kamu berat memimpin perusahaan papa dan bunda.. "
" Kenapa bunda tidak memiliki anak lagi saja, jadikan aku tidak terlalu terbebani. "
" Kamu kan tahu Mahen, bunda sudah tidak bisa memiliki anak lagi saat dapat kamu saja kami harus berubah sangat ekstra. "
" Bunda mau ngenalin kamu sama bik Ami dan anak gadis nya. " Ratna berbalik menghadap Ami yang berdiri tak jauh dari mereka menatap dengan senyuman tipis.
" Sini bik.. " Ami yang terpanggil kemudian mendekati Ratna dan putra nya yang tersenyum ramah.
" Saya Ami den, pembantu di sini sudah sekitar 5 tahunan saya dan anak saya mengabdi di sini. Ibu anda yang baik membantu kami yang sangat susah beberapa tahun lalu den. " Ratna nampak tersenyum canggung mendengar ucapan Ami.
" Bibik kok ngomong nya gitu sih, bibik sama Intan itu sudah seperti keluarga dan teman curhat saya tauu.. "
" Saya Mahendra bik, salam kenal maaaf saya baru kelihatan setelah beberapa tahun bibik di sini. Syukurlah jika bunda punya teman seperti bibik jadi bunda tidak perlu berkumpul dengan orang orang tidak penting. "
" Mahen.. " Ratna nampak cemberut mendengar ucapan Mahendra yang menyinggung tentang gang sosialita ibunya itu.
Mata Mahendra tertuju pada seseorang gadis dengan pakaian sederhana yang membawa nampan berisi minuman mendekati mereka.
" Nah ini dia yang bunda cari, kamu kemana saja Intan. " Ratna menatap Intan yang datang.
" Maaf nyonya tadi Intan dari dapur membuat minuman.. " Intan dengan sopan berjongkok di depan meja dan meletakkan minuman di sana.
Mahendra diam diam terus memperhatikan gadis itu.
Cantik
Itu lah kata yang pas untuk menunjukkan kekaguman nya terhadap gadis di depan nya, mesti terlihat sederhana tapi gadis itu benar-benar menujukan kecantikan yang alami yang langsung bisa menarik perhatian Mahendra.
" Silakan den.. " Ucap Intan berdiri di samping ibu nya.
" Mahendra, panggil saja dengan nama ku tidak perlu terlalu formal. " Gumam Mahendra tersenyum ramah pada gadis itu.
Intan menatap Ratna yang tersenyum.
" Iya lagian usia kalian tidak terpaut jauh loh, cukup panggil nama saja atau atau mas atau kak gitu agar kalian terlihat lebih akrab.. " Seru Ratna.
" I.. iya, kak Mahen. " Gumam Intan pelan.
Gadis itu nampak malu saat mahendra terlihat terus memperhatikan nya dengan senyuman manis dan ramah nya. Wajah tampan pemuda itu tentu saja membuat nya terpesona, siapa yang bisa menolak pesona pemuda tampan dan kaya itu.
" Memang berapa usia nya?. " Gumam Mahendra menatap Ratna.
" 23 tahun sayang, hanya berjarak 3 tahun lebih tua kamu kan. " Gumam Ratna.
" Kamu tidak melanjutkan sekolah mu dan bunda tidak mengizinkan dia melanjutkan nya?. " Ucap Mahendra penuh tanda tanya saat ibu nya mempekerjakan gadis muda itu.
" Bukan seperti itu sayang.. "
" Saya yang tidak ingin merepotkan nyonya Ratna kak, makanya saya lebih memilih untuk bekerja di sini dan balas budi pada keluarga ini. " Ucap Intan melihat Ratna yang nampak bingung menjawab pertanyaan putra nya itu.
" Nah seperti itu maksudnya nak, bukan bunda yang menginginkan nya hanya saja Intan memang tidak mau. Padahal dia pinter loh.. "
Intan dan Ami izin untuk kembali ke belakang agar mereka bisa melepaskan rindu antara orang tua dan anak mereka, Intan menyadari ada sesuatu yang sedang terjadi padanya saat berdekatan dengan Mahendra. Padahal itu adalah pertama kali mereka bertemu.