NovelToon NovelToon
ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

ONE PIECE : RETAKAN TAKDIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Sistem / Fantasi
Popularitas:13.8k
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Ryden Vale, seorang remaja biasa yang tewas tertabrak truk, terbangun kembali di dunia yang selama ini hanya ia kenal lewat cerita — dunia One Piece. Ia mendapati dirinya menghuni tubuh baru: rambut putih, mata merah darah, dan jubah putih berlambang bulan sabit terbalik yang kelak menjadi ciri khasnya. Di sebuah pulau terpencil di East Blue, ia menemukan Rift Rift no Mi, Buah Iblis misterius yang memberinya kekuatan untuk merobek, melipat, dan berpindah lewat ruang itu sendiri — sekaligus sebuah Sistem Login Harian yang diam-diam menempanya menjadi lebih kuat, hari demi hari.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Perbatasan antara gurun panas dan salju abadi ternyata hanya berjarak beberapa ratus meter, sebuah transisi drastis yang membuat Ryden dan Elira harus buru-buru mengganti pakaian tipis mereka dengan mantel tebal yang untungnya sempat mereka beli di Tarma sebagai antisipasi perjalanan Grand Line. Salju berderak di bawah langkah kaki mereka saat mendekati mulut gua es yang besar, tempat asap tipis mengepul dari api unggun para bajak laut yang terlihat dari kejauhan.

"Aku bisa merasakan beberapa kehadiran di dalam gua," bisik Ryden, mengaktifkan Haki Observasinya sepenuhnya. "Sekitar delapan orang bajak laut, dan... ya, aku juga bisa merasakan kehadiran yang lebih lemah—para sandera, mungkin terikat di suatu tempat."

"Bagaimana rencananya?" tanya Elira berbisik, mengikuti Ryden yang bergerak hati-hati mendekati mulut gua sambil bersembunyi di balik bebatuan es besar.

"Kau tetap di sini," instruksi Ryden tegas. "Aku akan masuk dan mencari cara untuk membebaskan para sandera tanpa memicu pertarungan besar terlebih dahulu. Jika situasi memburuk, kau lari kembali ke desa dan minta bantuan."

Elira mengangguk, meski keraguan jelas terlihat di matanya melihat Ryden melangkah sendirian menuju sarang bajak laut. Ryden menyelinap masuk melalui celah sempit di sisi gua, memanfaatkan bayangan dan kegelapan alami gua es untuk bergerak tanpa terdeteksi.

Di dalam, pemandangan yang tersaji membuat rahang Ryden mengeras menahan amarah—lima belas penduduk desa, termasuk beberapa anak kecil, terikat rantai di sudut gua yang dingin, dipaksa menggali dinding es dengan alat seadanya di bawah pengawasan bajak laut bersenjata kasar. Seorang pria bertubuh kekar dengan bekas luka melintang di wajahnya—yang tampaknya adalah Kapten Rennard sendiri—duduk santai di dekat api unggun, mengamati kerja paksa itu sambil menenggak minuman keras.

"Cepat gali lebih dalam!" bentak salah satu anak buah Rennard, mencambukkan tali kasar ke arah seorang pria tua yang bekerja terlalu lambat. "Kapten bilang harta karun leluhur ada di kedalaman gua ini, dan kita tidak akan pergi sebelum menemukannya!"

Ryden mengepalkan tangan, menahan diri sejenak untuk menyusun strategi terbaik. Delapan bajak laut bersenjata, sebagian besar tersebar mengawasi para sandera, sementara Kapten Rennard sendiri duduk agak terpisah dari kelompok utamanya—sebuah celah yang bisa dimanfaatkan.

Jika aku bisa melumpuhkan penjaga terdekat sandera terlebih dahulu, mereka punya kesempatan untuk kabur sementara aku menangani sisanya, pikir Ryden, merencanakan pergerakannya dengan hati-hati.

Ia menciptakan retakan kecil yang nyaris tak terlihat di dekat rantai yang mengikat para sandera, perlahan melemahkan ikatan logam itu tanpa menimbulkan suara mencolok. Salah seorang anak kecil yang diikat memperhatikan gerakan aneh itu, matanya membelalak kaget namun cukup cerdas untuk tidak berteriak kaget.

Ketika akhirnya rantai-rantai itu cukup lemah, Ryden memberi isyarat kecil dengan jarinya kepada pria tua yang tadi dicambuk, yang ternyata cukup tanggap menangkap maksudnya. Pada saat yang bersamaan, Ryden melesat keluar dari bayangan, menciptakan rentetan Retakan Ruang yang menargetkan tiga penjaga terdekat sandera secara bersamaan—serangan cepat dan presisi yang membuat ketiganya ambruk seketika sebelum sempat bereaksi.

"Serangan dari mana itu?!" Kapten Rennard melompat berdiri, matanya membelalak marah menyaksikan tiga anak buahnya tumbang dalam sekejap.

"Sekarang! Lari!" teriak Ryden kepada para sandera yang rantainya sudah cukup lemah untuk diputuskan, memberikan waktu berharga bagi mereka untuk melarikan diri menuju mulut gua sementara sisa lima bajak laut yang tersisa mulai panik menyadari serangan mendadak ini.

Kapten Rennard mengangkat pedang besarnya, wajahnya memerah menahan amarah. "Siapa pun kau, kau baru saja membuat kesalahan besar mengganggu urusanku!"

Ryden berdiri tegak di tengah gua es yang kini mulai bergema oleh teriakan panik dan langkah kaki para sandera yang berlarian menuju kebebasan, matanya yang merah menyala menatap tajam Kapten Rennard yang kini menjadi satu-satunya penghalang tersisa antara dirinya dan penyelesaian misi penyelamatan ini.

"Kesalahanku," ucap Ryden dingin, retakan-retakan kecil mulai bermunculan di sekelilingnya, "adalah membiarkan kalian menyakiti orang-orang tak berdosa terlalu lama sebelum aku turun tangan."

1
MALES NGETIK 3
mantap
Kasma Wati
lanjut👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!