NovelToon NovelToon
Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Doa Yang Sama Di Altar Yang Berbeda

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:145
Nilai: 5
Nama Author: canny***

Menumpahkan es kopi ke baju Kenzo—si cowok genius anak pemilik yayasan—di hari pertama sekolah adalah awal dari bencana bagi Callista. Apalagi setelah mereka dipaksa jadi ketua dan sekretaris kelas. Perang dingin pun pecah, namun percikan benci perlahan berubah jadi cinta.
Sayangnya, realitas menghantam keras. Kenzo adalah seorang Kristen taat, sementara Callista beragama Buddha. Mereka sadar, sekuat apa pun perasaan itu, ada tembok keyakinan yang mustahil diseberangi.
Di saat hubungan itu mulai retak, ada Sean. Sahabat masa kecil Callista yang diam-diam memendam rasa, yang selalu menemaninya ke Vihara, dan memegang kunci dari doa yang sama di altar yang sama.
Ketika melangkah maju hanya menabrak dinding, akankah Callista tetap bertahan pada Kenzo, atau berbalik arah pada sahabat yang selama ini selalu berjalan seiringan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon canny***, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Antara Paspor dan Pilihan yang Tersisa

Pagi itu, suasana koridor lantai dua SMA Wijaya riuh oleh langkah kaki murid-murid yang berlarian menghindari gerimis tipis. Namun di pojok bangku taman dekat ruang perpustakaan, Callista duduk termenung sendirian. Di tangannya, selembar formulir berlogo Young Asian Leaders Exchange Program terlipat rapi.

Mata Callista tertuju pada satu kolom yang harus diisi oleh orang tuanya: Persetujuan Keberangkatan dan Program Pembekalan Lanjutan Selama 3 Bulan di Singapura.

" melamun aja dari tadi, Bu Perwakilan."

Sebuah suara renyah mengagetkannya. Sean muncul dari balik pilar, menyodorkan satu bungkus roti cokelat hangat yang masih mengepul tipis. Tanpa diminta, cowok itu mendaratkan dirinya di samping Callista, menyandarkan punggungnya ke dinding bata.

Callista buru-buru melipat formulir itu dan memasukkannya ke dalam tas. "Enggak kok, Sean. Cuma lagi liat-liat jadwal pembekalan."

Sean melirik gerak-gerik Callista yang agak gugup. Ia tidak langsung bertanya, melainkan membuka bungkus rotinya sendiri, membaginya jadi dua, lalu menyerahkan bagian yang lebih besar pada Callista.

"Orang tua lo belum tanda tangan, kan?" tanya Sean santai, tapi matanya menatap lurus ke arah lapangan yang mulai diguyur hujan.

Callista terdiam. Ia mengunyah roti cokelat itu pelan-pelan, merasakan rasa manis yang mendadak hampa di lidahnya.

"Mama kemarin nanya..." suara Callista memelan, hampir tenggelam oleh suara rintik hujan. "...siapa yang bakal nemenin gue di sana kalau pas hari Sabtu mau ibadah. Terus Mama juga nanya, apa tiga bulan itu gak bakal bikin fokus gue terpecah dari ujian kelulusan nanti."

Sean manggut-manggut. "Wajar, Cal. Tante pasti cemas. Lo kan gak pernah pergi jauh sendirian lama-lama."

"Tapi ini kesempatan sekali seumur hidup, Sean," desah Callista pasrah. Ia memeluk tasnya erat-erat. "Gue pengen banget ambil. Tapi tiap kali liat muka Mama yang khawatir, atau pas inget kalau gue bakal melewatkan banyak momen di sini... hati gue kayak ganjel."

Sean memalingkan wajahnya, menatap Callista dari samping. Ada jeda diam yang cukup panjang di antara mereka. Hanya ada deru angin basah dan bau tanah basah yang menyeruak dari arah taman.

"Cal," panggil Sean pelan. Tangannya yang hangat terulur, menepuk bahu Callista dengan dorongan pelan yang mantap. "Kalau lo ragu cuma gara-gara mikirin orang-orang yang bakal lo tinggalin di sini... lo gak usah cemas. Gue, Mama lo, Pak Bambang, bahkan Vihara di ujung jalan itu... gak bakal pindah ke mana-mana."

Callista menoleh, menatap mata cokelat Sean yang jernih.

"Gue bakal selalu ada di sini, Cal," lanjut Sean sambil menyunggingkan senyum khasnya—senyuman yang selalu berhasil meruntuhkan rasa takut Callista sejak mereka masih berseragam SD. "Tugas lo sekarang cuma satu: terbang yang tinggi, raih apa yang mau lo raih. Nanti kalau lo capek atau kangen rumah, lo tahu harus pulang ke mana."

Airmata hangat menyelinap di sudut mata Callista. Tanpa kata-kata, ia mengangguk pelan, meremas ujung seragamnya.

Sementara itu, di kelas Sepuluh-Tiga, Kenzo sedang merapikan berkas-berkas OSIS di mejanya. Pintu kelas terdorong, dan Pak Bambang melangkah masuk sambil memanggil namanya.

"Kenzo, bisa ke ruangan Bapak sebentar?"

Kenzo berdiri tegap. "Baik, Pak."

Di dalam ruang guru yang hening, Pak Bambang menyodorkan sebuah amplop resmi dari pihak yayasan sekolah. Wajah guru senior itu tampak agak berat.

"Kenzo, ada sedikit perubahan dari pihak sponsor utama pertukaran pelajar ini," terang Pak Bambang pelan. "Ayah kamu, Pak David, tadi pagi menghubungi pihak sekolah. Beliau meminta agar jadwal pembekalan kamu disesuaikan dengan agenda persiapan seleksi universitas di Australia yang sudah dirancang keluarga kamu."

Kenzo menerima amplop itu. Matanya membaca sederet kalimat formal di lembar kertas tersebut. Ayahnya ingin Kenzo mengambil jalur percepatan dan menyerap seluruh program bimbingan secara mandiri tanpa harus terlalu banyak bergantung pada kegiatan kelompok di sekolah.

"Bapak tahu kamu anak yang sangat disiplin, Kenzo," tambah Pak Bambang. "Tapi ini artinya, porsi kerja sama kamu dan Callista dalam persiapan keberangkatan bakal berkurang di sekolah. Kalian harus lebih banyak berkoordinasi secara mandiri."

Kenzo mengepalkan tangannya pelan di balik lembaran kertas itu. Ia bisa merasakan cengkeraman ekspektasi ayahnya yang selalu begitu kuat dan tak tergoyahkan. Dunia yang dibangun untuknya adalah dunia yang penuh dengan garis lurus yang kaku—dunia yang menuntutnya untuk selalu berdiri di paling depan, sendirian.

"Saya mengerti, Pak," jawab Kenzo dengan suara berat dan tenang. "Saya akan pastikan koordinasi dengan Callista tetap berjalan lancar tanpa mengganggu program sekolah."

Sore harinya, saat bel pulang sekolah membahana, hujan sudah sepenuhnya reda. Cahaya senja berwarna oranye keemasan membiaskan bayangan panjang di sepanjang koridor sekolah.

Callista dan Kenzo berjalan berdampingan menuju gerbang depan. Di antara mereka, ada ketenangan baru yang terbentuk—bukan lagi ketegangan rasa yang saling menuntut, melainkan rasa saling menghormati antara dua anak manusia yang sama-sama sedang berjuang mengejar masa depan.

"Gue udah minta Mama tanda tangan formulirnya tadi siang," cerita Callista pelan sambil tersenyum tipis. "Sean yang bantu jelasin ke Mama kemarin malam."

Kenzo menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipisnya yang langka. "Bagus kalau gitu, Callista. Sean memang selalu punya cara buat bikin suasana jadi lebih tenang."

Callista mengangguk setuju. "Iya. Lo sendiri gimana, Nzo? Persiapan dokumen dari keluarga lo lancar?"

Langkah Kenzo melambat sejenak sebelum kembali menyelaraskan tempo dengan Callista. "Lancar. Cuma... mungkin mulai minggu depan gue bakal lebih banyak bimbingan khusus di luar sekolah. Tapi tenang aja, untuk materi presentasi dan riset Singapura, gue bakal tetap kirim update tiap malam."

Callista menatap Kenzo, menangkap sedikit bayangan lelah di balik wajah tampan dan tegas itu. Callista paham betul betapa besarnya tekanan yang dipikul Kenzo sebagai putra tunggal keluarga terpandang.

"Kenzo," panggil Callista pelan saat mereka sampai di gerbang.

Kenzo menghentikan langkahnya. "Ya?"

"Jangan lupa napas ya," bisik Callista tulus, menyunggingkan senyum hangatnya. "Lo gak harus selalu kelihatan sempurna di depan semua orang."

Kenzo terpaku sejenak mendengarkan ucapan sederhana itu. Dinding pertahanan dingin yang selalu ia pasang serasa melunak tipis. Ia menatap Callista, lalu mengangguk pelan dengan rasa terima kasih yang tak terucapkan.

"Makasih, Callista. Lo juga... jaga kesehatan."

Dari kejauhan, bunyi klakson motor yang familier terdengar. Sean sudah berada di tepi jalan, melambaikan tangannya sambil menyodorkan sebuah helm untuk Callista.

Callista menoleh pada Kenzo sekali lagi. "Gue duluan ya, Kenzo."

"Iya, hati-hati."

Kenzo berdiri di bawah pilar gerbang, memperhatikan Callista yang berlari kecil menghampiri Sean. Ia melihat bagaimana Sean tertawa saat memakaikan helm ke kepala Callista, dan bagaimana Callista menepuk pelan bahu Sean sebelum naik ke boncengan motor.

Sinar matahari senja menyiram mereka bertiga dengan warna hangat yang sama. Di balik perbedaan garis batas, iman, dan jalan hidup yang mereka tempuh, Kenzo sadar... mereka semua sedang melangkah menuju pendewasaan dengan caranya masing-masing.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!