NovelToon NovelToon
Dikhianati Sang Suami

Dikhianati Sang Suami

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Patahhati / Tamat
Popularitas:602.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: munasih

Arumi gadis yang mandiri , tinggal bersama neneknya. Arumi menikah dengan Hendri kekasihnya atas desakan neneknya yang tak mau melihat mereka berdua hanya berpacaran saja. Menikah lebih baik kata neneknya.

Saat masih berpacaran Hendri sangat setia dengan Arumi kekasih hatinya yang sangat di cintainya, meski menjalani pacaran dengan banyak batasan. Bahkan untuk bisa menikah dengan Arumi, Hendri rela di usir oleh ibunya.

Hendri diam-diam menikah siri dengan Arumi tanpa restu Ibunya. Pernikahan Arumi dan Hendri baru seumur jagung, kehadiran orang ketiga yang lebih menjanjikan membuat Hendri mengkhianati istri tercintanya.

Arumi tiada menyangka suami yang begitu mencintainya ternyata berkhianat. Hendri ingkar dengan janjinya yang akan meresmikan pernikahannya. Hendri malah menceraikan Arumi tepat saat melahirkan anak pertamanya buah cintanya bersama Hendri.

Setegar apa Arumi menghadapi kisah pilunya? Akankah masih ada kebahagiaan untuk Arumi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon munasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tak bisa menjelaskan

Melinda merasa senang hatinya saat ini. Nampak Melinda tengah tiduran di ranjangnya yang belum bisa memejamkan matanya karena teringat dengan Hendri. Dengan mudah dia bisa menaklukkan Hendri untuk menjadi rekan kerjanya yang bisa membantunya menjalankan perusahaan.

 

Tak hanya rasa itu ada rasa lain yang membuat hatinya sangat senang. Rasa yang masih belum bisa Melinda pahami.

 

Setengah malam sudah berlalu berganti pagi yang cerah. Arumi sudah bangun sedari subuh. Seperti biasa Arumi mengerjakan perintah Tuhannya tapi tidak di kerjakan bersama suaminya. Hendri sudah di  bangunin sama Arumi sedari waktu subuh tiba tidak mau bangun.

 

Alasannya Hendri masih merasa lelah dan masih ngantuk. Arumi tidak mau memaksa suaminya bangun yang memang benar-benar sangat lelah sedari tadi malam.

 

Arumi memilih membiarkannya masih tertidur. Usai melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, Arumi kembali bergulat dengan pekerjaan rumahnya. Arumi harus menyelesaikannya sebelum berangkat kerja.

 

Arumi kerja serabutan tanpa di bantu siapa pun. Arumi wanita yang kuat walau pun sedang hamil, Arumi tetap giat bekerja. Mia tiada berbelas kasihan pada Arumi yang kehamilannya sudah mencapai tiga bulan, Mia tak mau membantunya sedikit pun walau dia sedang nganggur.

 

Hendri di dalam kamarnya masih nampak tertidur lelap. Suara dering hand phonenya yang berbunyi berulang-ulang tak membuatnya bangun di hari yang mataharinya mulai bersinar.

 

Sementara Arumi sudah membereskan semua pekerjaannya. Dia akan membersihkan diri dan berdandan rapi setelah itu berangkat kerja. Saat masuk kamarnya Arumi masih melihat suaminya tertidur. Dia mendekatinya hendak membangunkannya lagi karena hari ini masih hari kerja bukan hari libur.

 

Dengan lembut Arumi berbisik di telinga Hendri. Masih tak di respon sama Hendri. Berlanjut Arumi mengecup kening suaminya yang seharian kemarin tak ia dapatkan. Sudah di kecup berulang-berulang Hendri masih tak merespon belaian istrinya dan masih saja dengan tidurnya yang lelap.

 

"Mas Hendri bangun, ini sudah siang lo," ucap Arumi dengan suara keras.

 

Di respon sama Hendri, namun Hendri hanya  bergumam saja dan hanya mengubah posisi tidurnya. Tiba-tiba suara dering hand phone Hendri berdering lagi.

 

"Tu ada telfon Mas, ayo cepat bangun kamu masuk kerja nggak?"

 

"Ada telfon, masuk kerja," batin Hendri dan mengingatnya.

 

Hendri pun teringat kalau saat ini dia harus bekerja, Hendri harus menjemput Melinda di rumahnya. Dan telfon itu pasti dari Melinda. Hendri pun sontak membangunkan badannya membuang selimut yang semalam sudah menghangatkan tubuhnya.

 

"Mana hand phone ku?" Tanya Hendri pada Arumi yang menyaksikan tingkahnya tengah gusar.

 

"Nggak tau," jawab Arumi santai, sembari melihat tingkah Hendri yang sedikit lucu.

 

Hendri tengah bingung mencari hand phonenya. Dia mencari di tempat biasa menaruhnya tapi nggak ada. Arumi pun ikut membantu mencarinya tapi tak menemukannya juga.

 

Saat keduanya serius mencari di semua tempat di kamarnya, terdengar lagi suara dering hand phone Hendri. Dan itu terdengar dari saku celana Hendri.

 

"Ini dia hand phonenya," ucap Hendri merasa sedikit kesal ternyata hand phone yang di carinya ada di saku celananya yang sedari tadi malam belum ganti.

 

"Mas, Mas," Arumi geleng-geleng kepala . Arumi pun langsung masuk ke kamar mandi.

 

Hendri langsung mengangkat telfon dari Melinda. 

 

Melinda mengingatkan Hendri untuk menjemputnya.

 

"Iya Bu, saya akan berangkat setengah jam lagi," ucap Hendri mengakhiri percakapannya dengan Melinda di telfon.

 

Mia dan Salsa sudah ada di garasi mobil. Dengan pakaian joggingnya yang biasa di pakainya setiap pagi, Mia memperlihatkan pada Salsa kalau kakaknya sudah membeli mobil baru. 

 

"Wah..., mobilnya bagus banget. Ini mobil mewah Bu seperti milik orang-orang kaya. Wah..., kakak hebat. Di suruh beli mobil sama Ibu langsung beli. Aku salut sama kak Hendri," ucap Salsa merasa bangga sama Kakaknya sembari berjalan memutari mobil yang di kira milik kakaknya itu.

 

"Hendri memang anak lelaki Ibu yang bisa di andalkan. Ibu bangga padanya. Hendri tau selera Ibu dia membeli mobil yang bagus," ucap Mia munjunjung tinggi anaknya yang di kira sudah bisa membeli mobil, padahal itu mobil milik bos Hendri.

 

Di dalam kamar Hendri sudah selesai mandi dan cepat-cepat memakai baju kantornya yang sudah di siapkan Arumi di atas ranjangnya.

 

"Sayang aku mau berangkat duluan ya," ucap Hendri sembari masih memakai jam di tangannya.

 

"Nggak sarapan dulu Mas, sudah aku siapkan loh," ucap Arumi yang masih memakai hijabnya di depan kaca rias.

 

"Aku buru-buru, aku harus sudah sampai tepat jam tujuh. Tu lihat sekarang sudah hampir jam tujuh. Aku berangkat dulu ya."

 

Hendri mengambil kunci di balkonnya dan melangkah dengan cepat keluar dari kamarnya. 

 

"Iya, iya Mas, buru-buru amat sih."

 

Hendri tak sempat menceritakan tentang mobil yang sudah di bawa pulang Hendri ke rumahnya pada Arumi. Arumi juga tak begitu menganggapnya penting itu mobil siapa.

 

"Itu Kakakmu sudah datang," ucap Mia saat melihat Hendri keluar dari rumah, dan berjalan menuju garasi mobil.

 

Mia memperlihatkan senyum rasa bangga pada Hendri. Begitu juga dengan Salsa.

 

"Ibu kok ada di sini ngapain? Kamu juga Salsa ngapain di sini pagi-pagi," tanya Hendri Heran.

 

"Kakak hebat, baru di suruh beli mobil, kakak langsung membelinya. Kakak memang hebat, kedua jempol Salsa di acungkan.

 

Hendri tak merespon hanya menatap Salsa sembari mengerutkan kedua alisnya.

 

Mia mendekati Hendri yang masih bergeming melihat sikap Salsa yang tak di mengertinya.

 

"Ibu mau coba naik mobil baru, boleh dong!!" 

 

"Apaan sih Ibu, ini tu bukan mobil baru?" Tegas Hendri.

 

"His..., nggak usah merendah gitu sama Ibu. Kamu emang suka bikin kejutan sama Ibu. Mobil ini bagus dan mewah. Ibu suka banget, boleh dong Ibu ikut numpang ke tempat jogging," Mia menyenggol-nyenggol badan Hendri yang berdiri di sampingnya.

 

"Aku ini lagi buru-buru Bu, aku sudah di tunggu sama seseorang, aku harus cepat sampai."

 

"Halah, pokoknya Ibu mau ikut naik mobil. Kamu nggak tau ya semalam Ibu sampek mimpi naik mobil barumu ini."

 

"Sudah Hendri bilang, ini bukan mobilku Bu," jelas Hendri.

 

"Kamu selalu bilang seperti itu, cepat buka pintunya Ibu mau naik."

 

Mau tak mau Hendri terpaksa menuruti kemauan Ibunya yang tak bisa di nego lagi. Dengan muka kesalnya Hendri mulai melajukan mobilnya. Di lihatnya jam di tangannya sembari menyetir, dan terlihat sudah jam tujuh.

 

"Aku sudah terlambat, pasti aku bakalan di marahin bosku," gerutu Hendri.

 

Mia tak menghiraukan ucapan Hendri, dia sibuk menikmati suasana naik mobil baru milik anaknya yang membuatnya merasa senang dan bahagia karena itu impiannya.

 

Hendri makin susah menjelaskan pada Ibunya kalau itu bukanlah mobilnya. Saking susahnya Hendri memilih tak mau memberitahunya lagi biarkan saja menganggapnya seperti itu, lagian ini sudah hampir jam tujuh waktu Hendri tak cukup untuk menjelaskan panjang lebar pada Ibunya yang sudah meyakini kalau itu mobil yang di belinya.

 

 

 

 

 

 

 

 

1
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️🌹🌹🌹
terus lah berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa
sebuah karya yang mantap
Yunerty Blessa
kasian nya... bukan itu keinginan mu dulu Hendri....nah terjawab sudah..
Yunerty Blessa
itulah balasan buat kalian yang jahat kecuali Salsa
Yunerty Blessa
tahniah buat pernikahan Gilang dan Arumi... semoga bahagia selalu...
Yunerty Blessa
seorang ibu yang mata duitan
Yunerty Blessa
bukan nya sedar malah tambah teruk marah nya.... ingat Melinda au lagi hamil..
Yunerty Blessa
sedarlah Mia...kenapa selalu menyalahkan Arumi....itu semua salah Hendri dan Melinda
Yunerty Blessa
syabas Arumi....
Yunerty Blessa
kenapa Hendri.... malu kan
Yunerty Blessa
padan muka kalian berdua 😏
Yunerty Blessa
sebentar lagi akan terkuak semuanya 😏
Yunerty Blessa
akhirnya semua rahsia kalian berdua akan terbongkar jua
Yunerty Blessa
cam mana Hendri dan Melinda melihat kejutan dari Gilang....
Yunerty Blessa
seandainya dari awal kau tak tergiur dengan harta ada kemungkinan kalian sekarang akan hidup bahagia...
Yunerty Blessa
buat mereka surprise
Yunerty Blessa
yakinlah Arumi bahawa kedua orang tua Gilang pasti menerima mu....beza jauh dengan dengan ibu nya Hendri
Yunerty Blessa
mantap Gilang
Yunerty Blessa
pasti Hendri dan Melinda akan terkejut.....
Yunerty Blessa
jahat nya hati Hendri....janin yang dikandung oleh Melinda adalah anak mu....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!