NovelToon NovelToon
Takhta Berdarah Sang Don

Takhta Berdarah Sang Don

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam
Popularitas:328
Nilai: 5
Nama Author: Daneen_Nis

Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.

Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.

Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 - Ruang Arsip Bawah Tanah

Malam turun ketika Raven memandang kartu yang ditemukan di Panti Asuhan Saint Maria.

Rumah Sakit Harapan. Ruang Arsip Bawah Tanah. Datang sendiri.

Aurora berdiri di sampingnya dengan wajah penuh kekhawatiran.

"Jangan pergi sendirian."

Raven memasukkan kartu itu ke dalam saku jasnya.

"Kalau aku membawa banyak orang, mereka tidak akan muncul."

"Kalau ini jebakan?"

Raven tersenyum tipis.

"Sudah terlalu banyak jebakan yang kulewati."

Aurora menggenggam tangan Raven.

"Tapi kali ini berbeda."

Raven menatap mata Aurora yang mulai berkaca-kaca.

"Aku berjanji akan kembali."

Aurora mengangguk pelan, meski hatinya masih dipenuhi rasa cemas.

Tepat pukul sebelas malam, Raven tiba di Rumah Sakit Harapan.

Bangunan tua itu sudah lama tidak beroperasi.

Koridor dipenuhi debu, lampu berkedip redup, dan suara angin membuat suasana semakin mencekam.

Raven menuruni tangga menuju ruang arsip bawah tanah.

Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besi tua yang sedikit terbuka.

Ia mendorong pintu itu perlahan.

Ruangan dipenuhi rak-rak arsip yang sudah lapuk.

Di tengah ruangan berdiri seorang pria tua mengenakan mantel cokelat.

"Akhirnya kau datang," ucap pria itu.

"Siapa kau?"

"Aku mantan petugas administrasi rumah sakit ini."

"Namaku Samuel."

Raven tetap memasang sikap waspada.

"Kau yang mengirim kartu itu?"

Samuel mengangguk.

"Aku pernah membantu seseorang menyembunyikan seorang bayi dua puluh sembilan tahun yang lalu."

Jantung Raven berdetak lebih cepat.

"Saudaraku?"

Samuel mengangguk pelan.

"Aku tidak tahu di mana dia sekarang."

"Tapi aku tahu siapa yang mengadopsinya."

Raven melangkah mendekat.

"Siapa?"

Samuel membuka sebuah laci besi dan mengeluarkan map tua yang sudah kusam.

"Semua jawabannya ada di sini."

Saat Raven hendak mengambil map itu...

Dor!

Sebuah peluru menembus dada Samuel.

Pria tua itu langsung terjatuh.

Raven segera menangkap tubuhnya.

"Samuel!"

Samuel batuk mengeluarkan darah.

"Terlambat..."

Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan map itu kepada Raven.

"Lindungi..."

"...adikmu..."

Kepala Samuel terkulai.

Ia mengembuskan napas terakhir.

Raven mengepalkan rahangnya.

"Lagi-lagi..."

"...terlambat."

Tiba-tiba terdengar tepuk tangan dari arah pintu.

Seorang pria bertopeng muncul bersama beberapa anak buah bersenjata.

"Kau memang selalu datang tepat waktu."

Raven mengenali suaranya.

"Damian."

Pria itu melepas topengnya sambil tersenyum sinis.

"Senang akhirnya kita bertemu lagi."

Raven mengangkat pistolnya.

"Kali ini kau tidak akan kabur."

Damian hanya tertawa.

"Apa kau yakin?"

Puluhan pria bersenjata keluar dari balik rak arsip.

Mereka mengepung Raven dari segala arah.

Namun Raven tetap berdiri tenang.

"Aku datang sendirian."

"Bukan berarti aku bodoh."

Tiba-tiba lampu di seluruh ruangan padam.

Gelap.

Suara tembakan langsung memenuhi ruangan.

Dor! Dor! Dor!

Jeritan terdengar dari berbagai arah.

Ketika lampu darurat menyala beberapa detik kemudian, beberapa anak buah Damian telah tergeletak di lantai.

Leo bersama pasukan Alvaro muncul dari lorong belakang.

"Tuan, maaf kami melanggar perintah."

Raven tersenyum tipis.

"Bagus."

Damian menyadari dirinya mulai terdesak.

Ia melempar bom asap ke lantai.

Bumm!

Saat asap menghilang, Damian telah melarikan diri.

Raven membuka map yang diberikan Samuel.

Di dalamnya terdapat surat adopsi lama.

Nama anak yang diadopsi sengaja disamarkan.

Namun nama keluarga pengadopsinya masih terbaca jelas.

Keluarga Romano.

Di bagian bawah map terdapat sebuah foto seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun.

Wajahnya sangat mirip dengan Raven.

Aurora yang baru tiba bersama tim medis menatap foto itu dengan takjub.

"Dia..."

Raven mengangguk perlahan.

"Kalau dokumen ini benar..."

"...aku akhirnya menemukan jejak saudaraku."

Namun di balik foto itu terdapat tulisan tangan yang membuat wajah Raven berubah pucat.

"Pewaris kedua keluarga Valerio kini dikenal dengan nama... Luca Romano."

1
Sunflower_6520
Nurut ae Ra, dr pada nyawa lo melayang...
Sunflower_6520
Itu tandanya Aurora punya hati Raven... emang kayak elo? jangan kan hati, simpati aja kayaknya lo gak punya🗿
Sunflower_6520
Urusan Aurora lah, orang dia kan dokter? dimana" dokter itu tugasnya menyelamatkan, gak mungkin ada orang kritis dia biarin gitu aja
Sunflower_6520
Lama kelamaan sih Aurora bisa trauma...
Sunflower_6520
Tamu modelan apa? ini namanya penculikan 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!