Raka harus menikah mendadak dengan Laras setelah calon istrinya, Rara, kabur. Demi menjaga masa depan putrinya, ayah Laras mewajibkan surat perjanjian pranikah yang membuat Raka merasa tertekan dan membenci pernikahan ini. Meski Laras sangat mencintainya dan berharap membina rumah tangga, Raka tetap dingin, kasar, dan tak bisa melupakan Rara. Namun, Laras bertekad meluluhkan hati suaminya dan mengubah pernikahan yang bermula dari keterpaksaan ini menjadi penuh kasih sayang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atik's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21
Raka dan Laras masuk ke restoran yang sudah disepakati sebelumnya. Di dekat jendela sudah ada David dan Fitri yang menunggu. David langsung berdiri, menyambut sambil menepuk bahu sahabatnya.
“Hai, apa kabar? Lama sekali kita tak bertemu. Maaf ya aku tidak bisa datang ke resepsimu dulu, urusan di luar kota benar‑benar tidak bisa ditinggal,” ujar David sambil tersenyum.
“Tak perlu minta maaf, aku paham betul kamu sibuk. Yang penting sekarang masih sempat berkumpul,” jawab Raka santai.
“Sudah lama menunggu?”
“Baru sebentar, sekitar sepuluh menit yang lalu. Ayo duduk,” jawab David.
“Ini istriku, Laras,” kata Raka sambil menoleh ke sebelah.
David mengulurkan tangan. “Senang akhirnya bisa kenalan langsung. Sering mendengar ceritamu dari Raka.”
“Aku juga senang bertemu,” jawab Laras sambil tersenyum.
Di sebelah David ada istrinya, Fitri. Wanita itu menyapa dengan lembut dan ramah. Tak lama kemudian suasana jadi semakin akrab.
Selama makan, Raka dan David mengobrol panjang lebar. Karena jarak jauh, jarang sekali bisa bertemu. Kalau sudah bicara, topik terus mengalir seperti ingin menebus waktu yang terlewat. Melihat mereka asyik sendiri, Fitri lalu mendekat ke arah Laras.
“Kalau sudah bicara soal kerjaan atau kenangan lama, mereka memang lupa waktu,” ujarnya sambil tersenyum kecil.
Laras ikut tersenyum. “Benar. Tapi senang melihat mereka begitu akrab.”
Obrolan kedua wanita itu berjalan sangat nyaman. Meski baru pertama kali bertemu, rasanya seperti sudah saling kenal lama.
Sifat Fitri terbuka dan tenang, membuat Laras merasa sangat nyaman. Mereka bercerita mengenai kegiatan sehari‑hari, lalu saling bertukar nomor telepon supaya tetap bisa berhubungan. Suara tawa mereka sempat membuat Raka dan David berhenti sejenak, lalu saling pandang sambil tersenyum puas. Raka lega karena istrinya mudah bergaul. David juga senang melihat sahabatnya tampak jauh lebih tenang dan bahagia dibanding dulu saat masih bersama Rara.
Namun di dalam hati David tetap gelisah. Ada satu hal yang disembunyikan rapat‑rapat. Kalau sampai terbuka, bisa saja persahabatan itu hancur seketika. Ia berniat menunda selagi masih bisa, beralasan ingin melindungi Raka dari kekecewaan yang mungkin terlalu berat.
Setelah selesai makan, David dan Fitri berpamitan karena masih ada urusan lain. Mereka berpisah dengan perasaan senang meski agak berat untuk berpisah lagi. Raka mengantar Laras pulang, baru kemudian lanjut ke kantor menyelesaikan sisa pekerjaan.
Di dalam mobil, suasana berubah dingin. Fitri tampak kesal. Sejak tadi ponsel di sisi David terus berbunyi berkali‑kali, tapi sama sekali tak diangkat.
“Telepon berbunyi terus, kenapa tak diangkat saja? Berisik sekali,” ujar Fitri dengan nada mulai tajam. Kepalanya terasa berat dan berdenyut, semakin sering terjadi belakangan ini. Ia juga cepat lelah dan mudah tersinggung dalam beberapa hari terakhir.
“Tidak penting, malas menjawab,” jawab David singkat, berusaha tenang sambil tetap memandang jalan.
Fitri menarik napas panjang dan kasar. Sebenarnya ia tahu siapa yang terus menelepon.
“Sudah berapa lama, Mas?” tanyanya tiba‑tiba, suara rendah tapi penuh tekanan.
David melirik sekilas, tampak bingung. “Apa maksudmu? Berapa lama apanya?”
“Untuk menyembunyikan hubunganmu dengan Rara Mantan kekasih yang dulu kau tinggalkan demi menikah denganku. Sudah berapa lama kau menyembunyikan dia di apartemen itu?” ujar Fitri sambil menatap lurus tanpa berkedip.
Fitri bertanya dengan sangat tenang. Tak ada nada tinggi atau gejolak yang tampak diluar. Padahal hal itu cukup untuk membuat wanita mana pun marah besar saat tahu suaminya berbohong dan menyembunyikan rahasia besar.
David hampir tidak bisa bergerak karena kaget. Ia tak menyangka Fitri sudah tahu tentang Rara, bahkan juga tahu tempat wanita itu disembunyikan.
“Sa… sayang… apa yang kamu katakan?” ujarnya terbata‑bata, berusaha berpura‑pura tidak paham.
“Lebih baik bicara jujur saja. Aku tahu kamu sering kesana menemuinya. Sudah berapa kali kamu tidur dengan dia?” tanya Fitri tegas namun tenang.
Wajah David memerah. Rasa takut dan gelisah membuatnya tak bisa fokus menyetir. Ia pun menepikan mobil di pinggir jalan.
Segera ia meminta maaf dan mengakui semuanya. Ia tak mau kehilangan Fitri yang begitu baik dan sabar selama ini.
“Maafkan aku, sayang. Aku bisa jelaskan semuanya,” ujarnya cepat. “Aku melakukan ini hanya supaya kita bisa punya anak. Rencananya biar dia hamil dulu. Setelah melahirkan baru kita ambil bayinya.”