Di dalam kamar kosnya yang sunyi, ia membuka kitab kuno peninggalan buyutnya, Ki Sarowang Prawangsa, seorang dukun legendaris yang konon menguasai ilmu-ilmu pengasihan paling berbahaya. Demi membuat Irawan kembali kepadanya sekaligus merasakan penderitaan yang sama, Lusi menjalani ritual Semar Mesem, dilanjutkan dengan puasa mutih dan Pati Geni—ritual yang dipercaya mampu mengikat hati seseorang, tetapi juga menjadikannya budak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1
PROLOG
Semilir angin menembus gorden jendela usang di kamar kostnya.
Lusi melirik jam dindin bututnya di pojok bilik, menunjukkan jarum panjang dan pendeknya hampir bertemu di angka duabelas.
Malam itu, waktu yang pas malam selasa kliwon di bulan suro.
Kata buku itu ritual Semar Mesem paling ampuh dilakukan di malam hari, saat dunia berada diambang hari. Bukan hari ini, bukan pula hari esok. Saat dimana batas antara yang nyata dan yang ghoib hanya setipis kulit bawang.
Kamar kost sederhana nomor 17 itu kini menjadi altar.
Ukurannya cuma tiga kali empat meter dengan single bed menempel di sudut, lemari pakaian plastik dua pintu di seberangnya, dan sebuah meja belajar kecil yang penuh sesak oleh benda-benda yang tak seharusnya dimiliki oleh seorang mahasiswi.
Tujuh lilin merah dalam gelas kaca bekas selai, sebuah bokor tembaga berisi air bunga tujuh rupa, kemenyan yang sudah dibakar dan mengeluarkan asap tebal beraroma manis menusuk.
Serta…
Segenggam bunga kuburan yang masih basah oleh embun malam.
Tangan kiri Lusi mengepal erat di atas bunga-bunga itu. Kelopak melati dan kenanga bercampur jadi satu, warnanya sudah kecokelatan karena baru saja dipetik dari pusara Nyai Ratminah leluhur desa yang ketiga, yang konon semasa hidupnya adalah istri seorang dukun sakti.
“Maafkan aku, Nyai.” bisik Lusi disela-sela mantra, suaranya parau penuh dengan kemarahan yang tertahan di tenggorokannya,
“Aku cuma pinjam bunganya sedikit…”
Tiba-tiba…
CEKLEK.
WUUUSSSHHHHH…
Suara datang dari arah jendela.
Lusi menoleh cepat, jantungnya langsung berlari sprint ke tenggorokan. Tapi tidak ada apa-apa diluar, hanya tirainya yang menari-nari tertiup angin. Dan suara cicak yang berlarian dibalik lemarinya yang butut dan hampir memudar warnanya.
“Sial…” umpatnya pelan.
Tersadar, ia langsung buru-buru menutup mulutnya, jelas di buku itu tertulis tidak boleh marah, tidak boleh ngomong kasar, itu pantangan.
Ia kembali ke posisinya. Bersila. Punggung tegak. Kedua tangan diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan membuka ke atas mudra yang diajarkan buku itu. Foto Irawan tergeletak di depannya, tepat di tengah lingkaran lilin. Foto ukuran 4R yang dulu ia simpan di dompet dengan penuh cinta. Foto yang sama yang dulu sering ia tatap sebelum tidur sambil tersenyum-senyum sendiri.
Sekarang foto itu cuma secarik kertas yang memicu mual.
“Sun amatek adjiku Semar Mesem…”
Mulutnya kembali melafalkan mantra. Kali ini lebih mantap. Lebih keras. Tapi tetap saja ada getar di ujung suaranya. Getar antara keyakinan dan ketakutan yang bercampur aduk jadi satu.
Dupa menyala lebih terang. Asapnya mengepul seperti ular yang merayap di udara. Bau cendana semakin pekat. Kepala Lusi mulai terasa ringan, seperti melayang. Matanya setengah terpejam, tapi bibirnya terus bergerak.
“Tumancep kumanthil ono ing sanubariku…”
“... Yoiku si jabang bayine Irawan.”
Kalimat itu ia ucapkan dalam hati, seperti yang diperintahkan buku. Nama target tidak boleh diucapkan keras-keras. Harus ditanam di batin. Harus jadi rahasia antara dirinya dan semesta.
Lusi membayangkan wajah Irawan.
Dagu tegasnya. Alis tebalnya yang selalu jadi bahan godaan teman-temannya. Lesung pipi di pipi kiri yang muncul setiap kali ia tersenyum. Dulu, membayangkan wajah itu selalu membuat perut Lusi berdesir hangat. Sekarang, yang muncul justru rasa dingin yang menjalar dari ujung kaki ke ubun-ubun.
Karena begitu ia memejamkan mata, yang muncul bukan cuma wajah Irawan.
Tapi juga wajah tiga laki-laki lain.
Dan suara kamera ponsel yang berbunyi klik... klik... klik...
"GRRRHHH!"
Lusi membanting kepalan tangannya ke lantai. Suaranya seperti geraman binatang yang terluka. Matanya terbuka lebar. Napasnya memburu. Dadanya naik turun seperti habis lari maraton.
Jangan emosi. Jangan emosi. Tarik napas. Hembuskan.
Ia memejamkan mata lagi. Kali ini lebih lama. Mencoba mengosongkan pikirannya dari semua bayangan itu. Tapi semakin ia mencoba menghapusnya, semakin jelas bayangan itu muncul.
Hotel murah di kawasan Pasuruan. Kamar nomor 305. Bau rokok dan alkohol murahan yang masih terngiang di hidungnya sampai sekarang. Tangan-tangan yang menjamah ke mana-mana. Dan suara Irawan yang berbisik di telinganya sebelum semuanya gelap.
"Tenang, Lus... cuma sekali doang. Temen-temenku udah bayar mahal, lho..."
Beberapa jam yang lalu…
Lusi masih berdiri di depan gerbang makam umum Sendang Wening, menggigil kedinginan.
Habis magrib, hujan deras mengguyur kota. Dan sekarang, pukul sepuluh malam, sisa-sisa air masih menetes dari daun-daun pohon kamboja yang berbaris rapi di sepanjang jalan setapak pemakaman. Angin berembus pelan membawa bau tanah basah dan bunga layu. Di kejauhan, suara anjing melolong pertanda buruk, kata orang-orang tua.
“Tenang Lus, gaada hantu disini. Hantu itu lemah, yang kuat cuma ada di film.”
Ia mencoba menguatkan dirinya sendiri meski seluruh tubuhnya merinding.
Ia menghibur diri sendiri sambil mendorong gerbang besi yang sudah karatan. Suara engselnya melengking panjang, memecah keheningan malam.
“Taliwangke samparwangke jembaro kubure lepaso parane…”
Ia mengingat wejangan mbah buyutnya. (“Baca mantra ini Nduk jika kamu takut, lebih baik jika diiringi ayat kursi.”)
Halaman makam itu gelap. Cuma diterangi satu dua lampu bohlam kuning yang menggantung di tiang listrik. Cahayanya redup, lebih banyak menciptakan bayangan daripada menerangi. Nisan-nisan batu berdiri seperti gigi-gigi raksasa yang mencuat dari tanah. Beberapa sudah miring dimakan usia. Yang lain tertutup lumut tebal.
Lusi melangkah dengan hati-hati, menghindari menginjak gundukan tanah yang mungkin adalah kuburan. Di tangan kanannya, ia memegang senter kecil. Di tangan kirinya, kantong plastik hitam berisi gunting, kembang telon yang dibeli di pasar sore tadi, dan selembar kertas berisi nama leluhur di desanya: NYAI RATMINAH BINTI KROMODIWIRYO.
"Kalau kata Mbah, makamnya ada di pojok timur... dekat pohon beringin..."
Ia menyapu area sekitar dengan senternya. Nisan... nisan... nisan... dan... astaga.
Jantung Lusi nyaris copot.
Sesosok tubuh duduk di atas salah satu nisan.
Senter di tangannya bergetar hebat. Sorot cahayanya menari-nari ke mana-mana, tak mampu diarahkan dengan stabil. Sosok itu tidak bergerak. Hanya duduk diam. Membelakanginya. Tubuhnya besar. Terlalu besar untuk ukuran manusia. Berwarna hitam pekat, seperti gumpalan asap yang memadat.
Lusi ingin lari. Otot-otot kakinya sudah menegang, siap berbalik dan kabur. Tapi sesuatu menahannya. Bukan kekuatan gaib. Bukan mantra. Hanya satu hal: harga diri.
'Aku keturunan Ki Sarowang. Aku nggak boleh takut.'
"Permisi..." suaranya bergetar, tapi ia paksakan untuk tetap bersuara. "Saya... saya cucunya Ki Sarowang Prawangsa. Saya ke sini... mau minta izin ambil bunga di makam Nyai Ratminah..."
Hening.
Lalu, tanpa aba-aba, sosok itu bergerak. Bukan berjalan. Bukan bangkit. Tapi... bergeser. Melayang perlahan ke samping, lalu lenyap begitu saja di balik nisan besar, seperti asap yang tertiup angin.
Lusi berdiri mematung selama tiga puluh detik penuh sebelum akhirnya berani menggerakkan kakinya lagi. Keringat dingin sudah membasahi seluruh punggungnya. Tapi bibirnya justru tersenyum tipis.
"Tuh, kan. Aku nggak takut.”
Bohong. Jantungnya berdetak sangat cepat seperti genderang perang.
\[BERSAMBUNG…\]
Maaf ya, akhir-akhir ini author sedang kurang fit dan lagi drop, jadi belum bisa mengunggah bab selanjutnya. Mohon maaf sebesar-besarnya karena sudah membuat kalian menunggu. 🙏
Terima kasih banyak untuk teman-teman yang masih setia membaca, memberikan dukungan, dan sabar menunggu kelanjutannya. Semoga author bisa segera pulih dan kembali update secepatnya.
Terima kasih atas pengertian dan doa kalian. Semoga selalu sehat dan bahagia. ❤️
📖 Hubungan semula adem, saiki malah kecut bagaikan asem. 🍋🗿
🐎 Semar Mesem? Jaran Goyang? Wah judule wis nggawe aku kelingan lagu. 🤣
🧙🏻♂️ Mbah... iki kudu jurus sing endi ben ending-e bahagia? 🚬😂
💘 Mugo-mugo tokoh utama ora nganti sambat "kok tresnaku dibuwang-buwang" maneh. 🥹
🍿 Gas lanjut moco... aku siap nyekseni gejrot plot twist-e. 🗿🔥