NovelToon NovelToon
DARAH PEWARIS DEWA

DARAH PEWARIS DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Penyelamat
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Flaura Charisma

Darah Pewaris Dewa

Atlas dan Oliver menjalani hidup sebagai manusia biasa, hingga kematian ibu mereka membangkitkan kekuatan kuno yang tersembunyi dalam darah mereka.

Mereka ternyata adalah pewaris terakhir dari pendekar legendaris yang pernah melindungi Alam Dewa dari kegelapan.

Namun saat rahasia masa lalu mulai terbuka, mereka menemukan bahwa para dewa menyimpan pengkhianatan besar yang mengubah sejarah.

Dengan ancaman yang semakin dekat, Atlas dan Oliver harus mencari kebenaran tentang warisan mereka...

sebelum kekuatan dalam darah mereka menjadi penyebab kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flaura Charisma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERBURUAN ANTARA LAPISAN

Angin dingin berembus melewati tanah berbatu tempat Atlas, Oliver, dan Raka mendarat. Langit masih dipenuhi retakan-tipis yang berpendar seperti urat-urat cahaya kelabu. Tidak ada matahari. Yang menerangi dunia hanyalah sinar redup yang keluar dari celah-celah langit.

Atlas memandang ke kejauhan.

Di ufuk timur berdiri sebuah kota tua yang sebagian bangunannya melayang, sementara sebagian lainnya telah berubah menjadi puing. Menara-menara batu yang patah menjulang di antara kabut hitam.

"Tempat apa ini?" tanya Atlas.

Raka menjawab tanpa mengalihkan pandangan.

"Wilayah Perbatasan."

"Perbatasan antara dunia manusia dan Alam Dewa?"

Raka menggeleng.

"Perbatasan antara semua lapisan."

Oliver menghela napas panjang.

"Kenapa semua tempat yang kita datangi selalu lebih menyeramkan dari tempat sebelumnya?"

Tidak ada yang menjawab.

Kota Para Pengembara

Mereka berjalan menuju kota itu.

Semakin dekat, Atlas melihat banyak sosok berlalu-lalang. Sebagian tampak seperti manusia biasa, tetapi sebagian lain memiliki ciri yang tidak lazim—mata berwarna emas, tanduk kecil di pelipis, atau kulit yang memantulkan cahaya samar.

Tidak ada seorang pun yang berbicara keras.

Semua orang tampak waspada.

Di gerbang kota, dua patung pendekar kuno berdiri saling membelakangi. Di bawahnya terukir tulisan dalam aksara kuno.

Oliver mengerutkan kening.

"Aku nggak bisa baca."

Raka menatap ukiran itu.

"Artinya..."

'Yang membawa darah dewa akan membawa perang.'

Atlas terdiam.

Kalimat itu terasa seperti kutukan.

Tanda Buruan

Begitu mereka melangkah memasuki gerbang, seluruh kota mendadak sunyi.

Beberapa orang berhenti berjalan.

Mereka memandang Atlas dan Oliver.

Tatapan mereka bukan penuh rasa ingin tahu.

Melainkan ketakutan.

Seorang pedagang tua buru-buru menutup tokonya.

Seorang anak kecil ditarik masuk ke dalam rumah oleh ibunya.

Oliver berbisik pelan.

"Mas... mereka kenapa?"

Belum sempat Atlas menjawab, lonceng besar di tengah kota berdentang keras.

DONG!

DONG!

DONG!

Suara itu menggema ke seluruh penjuru kota.

Kemudian terdengar teriakan dari atas menara.

"PEWARIS!"

"ADA PEWARIS DI DALAM KOTA!"

Dalam hitungan detik, jalanan menjadi kacau.

Orang-orang berlari mencari perlindungan.

Pintu dan jendela ditutup rapat.

Atlas menatap Raka.

"Kau bilang tempat ini aman."

Raka menghela napas.

"Aku bilang tempat ini bisa memberi informasi."

"Bukan aman."

Pemburu Pertama

Langit di atas kota kembali retak.

Namun kali ini, retakan itu kecil.

Dari dalamnya turun tiga sosok berjubah putih dengan topeng perak.

Mereka mendarat tanpa suara.

Setiap orang membawa tombak panjang yang ujungnya memancarkan cahaya biru pucat.

Pemimpin mereka melangkah ke depan.

"Atas nama Dewan Pengawas Langit..."

"...Atlas dan Oliver diperintahkan menyerahkan diri."

Atlas mencabut pedangnya.

"Aku menolak."

Sosok berjubah itu mengangguk pelan.

"Jawaban itu telah diperkirakan."

Ia mengangkat tombaknya.

"Kalau begitu..."

"...hukuman pemusnahan diberlakukan."

Dalam sekejap, ketiga pemburu itu menghilang.

Atlas langsung memutar tubuhnya.

CLANG!

Pedangnya menahan tombak yang tiba-tiba muncul di belakangnya.

Benturan itu membuat tanah batu retak.

Oliver segera mengaktifkan kalung gioknya.

Lingkaran waktu berwarna biru menyebar ke sekeliling.

Gerakan dua pemburu lainnya sedikit melambat.

"Mas, sekarang!"

Atlas melesat maju.

Namun pemimpin pemburu itu tersenyum tipis.

"Kekuatan kalian sudah tercatat."

"Tidak akan berhasil untuk kedua kalinya."

Ia menghentakkan tombaknya ke tanah.

Cahaya biru menyebar membentuk lingkaran besar yang menelan seluruh jalan.

Atlas merasakan tubuhnya mendadak berat.

Pedangnya terasa seperti memiliki bobot berkali-kali lipat.

"Apa ini?"

Raka berteriak dari belakang.

"Itu Medan Penekan Dewa!"

"Jangan lawan dengan tenaga!"

Atlas langsung mengingat pelajaran di Kuil Gerbang Langit.

Ia menutup mata sesaat.

Mengikuti aliran darahnya.

Saat membuka mata kembali...

urat-urat merah keemasan kembali menyala di lengannya.

Tekanan di tubuhnya mulai berkurang.

Pemimpin pemburu itu tampak terkejut.

"Dia sudah menguasai Resonansi Darah..."

Pertarungan yang sesungguhnya pun dimulai.

Suara benturan logam bergema di seluruh jalan utama Kota Perbatasan.

CLANG!

Pedang Atlas bertemu dengan tombak pemimpin para pemburu. Gelombang energi yang tercipta menyapu batu-batu di sekitarnya hingga hancur berkeping-keping.

Penduduk yang masih berada di luar segera berlari mencari perlindungan.

Mereka tahu...

Pertarungan antara Pewaris dan Pemburu selalu berakhir dengan kehancuran.

Atlas melompat mundur, mengatur napasnya. Ia menyadari lawan di depannya jauh lebih terlatih dibanding Penjaga Gerbang yang pernah ia hadapi.

Pemimpin pemburu memutar tombaknya perlahan.

"Atlas."

"Aku sudah mempelajari seluruh data pertarunganmu."

Oliver yang sedang menahan dua pemburu lainnya berteriak,

"Mas! Jangan dengerin omongannya!"

Atlas tetap fokus.

"Kalau kau tahu kekuatanku..."

"...kau juga pasti tahu aku tidak akan menyerah."

Pemimpin itu mengangguk pelan.

"Benar."

"Itulah sebabnya kami datang untuk membunuhmu."

Pertarungan Oliver

Di sisi lain jalan, Oliver dikepung dua pemburu berjubah putih.

Salah satu dari mereka melesat dengan kecepatan luar biasa.

Oliver segera mengaktifkan kalung gioknya.

Lingkaran biru menyebar.

Waktu di sekitar pemburu melambat.

Namun...

Pemburu itu tetap bergerak.

Memang lebih lambat, tetapi tidak berhenti sepenuhnya.

Oliver membelalakkan mata.

"Mustahil..."

Pemburu itu tersenyum di balik topengnya.

"Kekuatan waktu tidak bekerja sempurna terhadap kami."

Oliver melompat menghindari tebasan tombak.

Ujung tombak hanya menyentuh tanah.

Namun tanah itu langsung membeku menjadi kristal biru.

"Kalau kena tubuh..."

Oliver tidak berani membayangkannya.

Pemburu kedua muncul dari belakang.

Oliver nyaris terlambat menyadarinya.

Tepat sebelum tombak mengenai punggungnya...

DOR!

Raka menembakkan sebuah belati pendek yang mengenai gagang tombak.

Serangan itu meleset.

"Lawanmu jangan satu-satu!" teriak Raka.

"Mereka selalu bertarung sebagai satu kesatuan!"

Oliver mengangguk.

Ia menarik napas panjang.

Lalu memejamkan mata.

"Ayo..."

"Tunjukkan jalannya..."

Kalung giok kembali memancarkan cahaya.

Namun kali ini...

Oliver tidak memperlambat waktu.

Ia justru melihat puluhan kemungkinan gerakan lawannya beberapa detik sebelum terjadi.

"Jadi begini..."

"...kekuatan sebenarnya."

Dengan tenang, Oliver menghindari setiap serangan yang datang.

Gerakannya menjadi jauh lebih efisien.

Atlas Melawan Komandan Pemburu

Sementara itu, Atlas terus bertarung melawan pemimpin pemburu.

Setiap benturan membuat udara bergetar.

Komandan pemburu tiba-tiba menghentikan serangannya.

Ia mengangkat tangan kirinya.

Cahaya putih berkumpul membentuk enam lingkaran sihir di udara.

"Dekrit Langit."

Enam tombak cahaya muncul sekaligus.

Lalu melesat ke arah Atlas.

Cepat.

Terlalu cepat.

Atlas hanya sempat menangkis tiga.

Dua berhasil dihindari.

Namun satu tombak terakhir menggores bahunya.

Darah merah menetes ke tanah.

Saat darah itu menyentuh batu...

Batu tersebut memancarkan cahaya merah keemasan.

Komandan pemburu membeku.

"Benar..."

"Darah Dewa benar-benar telah bangkit."

Tatapannya berubah.

Bukan lagi dingin.

Melainkan...

Takut.

Rahasia Darah Atlas

Raka yang melihat kejadian itu langsung berteriak.

"Atlas!"

"Jangan biarkan darahmu menyentuh tanah lagi!"

Atlas mengernyit.

"Kenapa?"

Belum sempat Raka menjawab...

Tanah yang terkena darah Atlas mulai retak.

Dari retakan itu muncul akar-akar cahaya berwarna merah keemasan.

Akar tersebut menyebar ke seluruh jalan.

Seluruh Kota Perbatasan bergetar.

Penduduk yang bersembunyi mulai panik.

"Segelnya aktif!"

"Ini benar-benar Pewaris!"

Komandan pemburu melangkah mundur.

Ia menatap Atlas dengan mata penuh kewaspadaan.

"Kalau begitu..."

"...kami tidak boleh membiarkanmu hidup."

Ia mengangkat sebuah kristal bening dari balik jubahnya.

Kristal itu dipenuhi simbol kuno.

Oliver yang melihat dari kejauhan langsung berteriak.

"Mas! Hati-hati!"

Pemanggilan Sang Algojo

Komandan pemburu menghancurkan kristal itu.

CRAAAK!

Langit Kota Perbatasan berubah menjadi hitam.

Retakan-retakan baru bermunculan.

Namun kali ini...

Bukan tiga.

Bukan sepuluh.

Puluhan retakan terbuka bersamaan.

Raka memucat.

"Dia gila..."

Oliver menoleh.

"Apa yang dia lakukan?"

Raka menjawab dengan suara pelan.

"Dia memanggil Algojo Langit."

Atlas menggenggam pedangnya lebih erat.

"Algojo?"

Komandan pemburu tersenyum.

"Kami memang mungkin tidak cukup kuat untuk mengalahkanmu."

"Tapi..."

"...dia pasti bisa."

Perlahan...

Sebuah bayangan raksasa mulai turun dari salah satu retakan terbesar.

Belum terlihat wujudnya.

Namun tekanan yang dipancarkannya saja sudah membuat sebagian bangunan di kota runtuh.

Atlas merasakan darahnya berdenyut lebih cepat.

Pedang warisannya mulai bergetar hebat.

Seolah mengenali musuh yang akan datang.

Raka menarik napas panjang.

Lalu berkata dengan suara yang hampir berbisik,

"Kalau itu benar-benar Algojo Langit..."

"...kita harus kabur sekarang."

Atlas menatap langit yang retak.

Lalu menggeleng pelan.

"Tidak."

"Aku sudah terlalu sering lari."

Oliver berdiri di samping kakaknya.

"Kali ini..."

"...kita hadapi bersama."

Di atas mereka...

bayangan raksasa itu akhirnya membuka sepasang mata merah menyala.

Seluruh Kota Perbatasan tenggelam dalam keheningan.

Keheningan menyelimuti seluruh Kota Perbatasan.

Tak seorang pun berani bergerak.

Bayangan raksasa yang menggantung di balik retakan langit perlahan turun, diselimuti kabut hitam dan kilatan cahaya keemasan. Tingginya menjulang seperti menara, sementara sepasang mata merah menyala memandang ke seluruh kota.

Tekanan yang dipancarkannya membuat tanah bergetar.

Bangunan-bangunan tua mulai runtuh satu demi satu.

Penduduk Kota Perbatasan berlutut ketakutan.

Sebagian bahkan menutup mata, tidak sanggup menatap sosok itu.

Raka mengepalkan tangannya.

"Benar..."

"Itu Algojo Langit."

Atlas mengangkat pedangnya.

"Apa dia dewa?"

Raka menggeleng.

"Bukan."

"Dia adalah senjata yang diciptakan oleh para dewa."

Sang Algojo Turun

Retakan di langit terbuka sepenuhnya.

Perlahan, sosok berjubah zirah hitam melangkah keluar.

Wajahnya tertutup topeng emas tanpa ekspresi.

Di tangan kanannya tergenggam pedang raksasa berwarna hitam pekat.

Saat ujung pedang itu menyentuh tanah...

DUAARRR!

Gelombang kejut menyapu seluruh kota.

Atlas dan Oliver terdorong beberapa langkah ke belakang.

Komandan Pemburu Langit segera berlutut.

"Salam kepada Sang Algojo."

Sosok itu tidak menjawab.

Ia hanya menoleh ke arah Atlas.

Lalu berkata dengan suara yang dingin dan berat.

"Pewaris..."

"Akhirnya ditemukan."

Pertarungan yang Mustahil

Tanpa aba-aba, Sang Algojo menghilang.

Atlas langsung bereaksi.

CLANG!

Pedangnya menahan tebasan pertama.

Namun benturannya begitu kuat hingga Atlas terpental menembus tiga bangunan batu.

Debu memenuhi udara.

Oliver membelalakkan mata.

"MAS!"

Atlas bangkit perlahan.

Lengannya gemetar hebat.

"Berat..."

"Serangannya jauh lebih berat daripada siapa pun yang pernah kulawan."

Algojo kembali melangkah.

Tidak tergesa-gesa.

Seolah ia tahu kemenangan hanyalah soal waktu.

Oliver mencoba menghentikan gerakannya dengan kekuatan waktu.

Lingkaran biru menyebar.

Namun...

tidak terjadi apa-apa.

Algojo tetap berjalan.

Tanpa melambat sedikit pun.

Oliver membeku.

"Kekuatan waktuku..."

"...tidak bekerja?"

Raka menjawab dengan wajah pucat.

"Dia berada di luar hukum waktu."

Suara Darah Kuno

Atlas kembali menggenggam pedangnya.

Darah di telapak tangannya mengalir mengenai gagang senjata itu.

Seketika, ukiran kuno di bilah pedang menyala terang.

Suara yang pernah ia dengar sebelumnya kembali bergema di dalam pikirannya.

"Pewaris..."

"Belum waktunya menang..."

"Tapi jangan menyerah."

Atlas menarik napas panjang.

Aura merah keemasan kembali menyelimuti tubuhnya.

Oliver berdiri di samping sang kakak.

"Apa rencananya?"

Atlas tersenyum tipis.

"Kita tidak bisa mengalahkannya."

Oliver mengangguk.

"Terus?"

"Kita cari celah."

Gerbang Kuno Terbangun

Saat Atlas kembali menyerang, ujung pedangnya menghantam tanah.

Tanah Kota Perbatasan tiba-tiba bergetar hebat.

Simbol-simbol kuno muncul dari bawah permukaan.

Cahaya emas memancar ke langit.

Raka terkejut.

"Itu..."

"Gerbang Kuno!"

Seluruh kota berguncang.

Di tengah alun-alun, sebuah gerbang batu raksasa perlahan bangkit dari dalam tanah.

Di permukaannya terukir ribuan simbol kuno yang sama dengan simbol di Kuil Gerbang Langit.

Algojo menghentikan langkahnya.

Untuk pertama kalinya...

ia terlihat ragu.

Komandan Pemburu Langit berseru panik.

"Mustahil!"

"Gerbang itu sudah disegel ribuan tahun!"

Misi Baru

Raka segera berlari ke arah Atlas dan Oliver.

"Dengarkan aku!"

"Gerbang itu menuju Alam Dewa bagian terdalam."

Atlas menatap gerbang raksasa itu.

"Kenapa baru muncul sekarang?"

"Karena darahmu membangunkannya."

Oliver menelan ludah.

"Kalau kita masuk?"

Raka menjawab tegas.

"Kalian mungkin menemukan jawaban tentang asal-usul keluarga kalian."

"Lalu kalau tidak?"

"Algojo akan terus memburu kalian sampai salah satu mati."

Atlas menatap Oliver.

Oliver mengangguk tanpa ragu.

"Ayo."

Gerbang batu perlahan terbuka.

Cahaya keemasan memancar dari dalamnya.

Algojo Langit mengangkat pedangnya, bersiap menghentikan mereka.

Atlas menggenggam pedangnya lebih erat.

Oliver mengaktifkan kalung gioknya.

Raka berdiri di belakang mereka, siap membuka jalan.

Tanpa menoleh lagi...

Mereka bertiga berlari menuju Gerbang Kuno.

Tepat saat mereka melompat masuk, pedang Algojo menghantam tanah.

Ledakan dahsyat mengguncang seluruh Kota Perbatasan.

Namun Atlas, Oliver, dan Raka telah menghilang di balik cahaya gerbang.

Di balik gerbang itu...

sesuatu yang telah tertidur selama ribuan tahun perlahan membuka matanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!