Saat Planet Diamond runtuh menjadi abu akibat amukan monster legendaris Typhon, sebuah pengorbanan darah terakhir mengirim dua benih harapan ke Planet Bumi. Namun, badai dimensi memisahkan takdir mereka secara kejam.
Alan, bocah Pegasus berusia tujuh tahun yang cerdas, terdampar di danau sebuah kastil kuno. Ia ditemukan oleh Jacob, sang Raja Vampir penguasa malam yang mematikan. Di dunia yang dipenuhi predator berdarah dingin, Alan harus bertahan hidup, menyembunyikan sayapnya, dan tumbuh bersama seorang Pangeran Vampir misterius.
Sementara itu, di belahan kota seberang, seorang bayi perempuan berambut seputih salju terlahir dari kristal pualam ajaib di tengah hutan. Dirawat oleh sepasang petani miskin yang menamainya White Crystal, bayi itu menyembunyikan rahasia besar: setiap kali kulitnya menyentuh air, udara musim panas mendadak membeku menjadi es.
Dua penyintas terakhir. Dua klan bumi yang saling bertolak belakang—Vampir yang dingin dan Petani yang naif.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33. Bocah Pegasus
"Planet... Diamond? Sebuah wilayah di galaksi lain?"
Nerissa Marine mengulang penyebutan kata-kata asing tersebut dengan nada suara yang bergetar halus, seolah-olah dia sedang dipaksa mengeja tulisan tangan kuno di atas perkamen rapuh yang teramat sulit untuk dipahami oleh akal sehatnya.
Pandangan matanya perlahan-lahan bergerak turun, kembali menatap Alan yang masih bersimpuh kaku di atas lantai papan kayu.
Justin melangkah maju satu langkah lagi, mengambil posisi berdiri tegak tepat di antara poros tubuh Alan dan Nerissa Marine untuk menunjukkan jaminan dukungan loyalitas persahabatannya yang absolut.
"Aku tahu seluruh rentetan fakta sejarah ini teramat sulit untuk bisa diterima oleh nalar sehat Anda, Bibi Nerissa. Tetapi seluruh kuantitas manifestasi kekuatan multi-elemen yang baru saja dia ledakkan di tengah lautan Azure tadi fajar... itu bukan merupakan sejenis sihir biasa yang biasa kita saksikan di belahan peradaban Bumi ini. Dia bersumpah tidak memendam seujung kuku pun niat jahat untuk mengusik ketenangan klan kalian. Dia hanya... dia hanyalah seorang bocah penyintas yang tersesat dan telah kehilangan seluruh rumah kediamannya di semesta."
Helios Marine ikut melangkah maju, berdiri di samping Justin dan membusungkan dadanya. "Bibiku Nerissa yang bijaksana, apa yang dikatakan si anak pucat ini benar! Sihir petir dalam air yang dia lepaskan tadi bukan sihir ras kita. Dan dia tidak menyerangku, dia justru mengarahkan serangannya murni untuk menghancurkan kawanan Siren jelek itu."
Nerissa Marine terdiam membisu dalam durasi waktu yang cukup lama, memandangi lurus sosok Alan yang secara fisik tampak begitu rapuh, kecil, dan berantakan, namun di dalam sel tubuhnya ternyata menyimpan kuantitas energi suci Diamond yang sanggup membantai habis seluruh koloni predator Siren laut dalam waktu singkat.
Suasana di dalam ruangan tengah toko suvenir tersebut seketika itu juga berubah menjadi teramat pekat oleh keheningan, hanya diiringi oleh suara ritme detak jam dinding kuno dan deru napas pendek Moana yang masih berusaha menahan rasa ngilu benturan di punggung belakangnya.
"Pegasus..." bisik Nerissa Marine akhirnya dengan volume suara yang teramat lirih, sembari otaknya mencoba merekonstruksi kembali sisa-sisa memori legenda lama daratan mengenai eksistensi mahluk kuda agung bersayap, namun anak laki-laki yang sedang bersumpah bersimpuh di depannya ini memendam anatomi seorang manusia normal—setidaknya secara visual luar terlihat menyerupai manusia fana biasa.
"Jika seluruh rangkaian untaian kalimat yang kalian bertiga utarakan hari ini adalah sebuah kebenaran murni semesta... maka kehadiran eksistensi anak ini di belahan kota pesisir ini, kelak akan memendam potensi besar untuk memicu lahirnya badai malapetaka dimensi yang jauh lebih besar dan destruktif daripada sekadar amukan gelombang air laut biasa."
Nerissa Marine perlahan-lahan meletakkan kain kompres herbal yang sejak tadi digenggamnya untuk mengobati Moana ke atas meja kayu. Dia melayangkan tatapan mata ungunya yang kini telah bertransformasi berubah menjadi jauh lebih serius, dingin, namun memendam sebaris rasa simpati keibuan yang hangat pada Alan.
"Planet Diamond? Sebuah lintasan dimensi lain?" bisiknya pelan pada dirinya sendiri, seolah-olah dia sedang memaksa sistem organ otaknya untuk mencerna seluruh pasokan informasi tak masuk akal tersebut.
"Jika benar apa yang kalian pertanggungjawabkan dalam kesaksian tadi... jika kau benar-benar merupakan sesosok pangeran penyintas dari ras klan Pegasus yang agung," Nerissa Marine sengaja menjeda untaian kalimatnya di tenggorokan, sepasang matanya menyipit tajam penuh dengan intonasi selidik yang mendalam menembus batin Alan.
"Maka seluruh rantai kehadiran dirimu di tempat terisolasi ini bukanlah sekadar sebuah kecelakaan navigasi dimensi biasa. Jajaran para Siren liar pantai barat tidak akan pernah memiliki keberanian untuk melompat menyerang massal tanpa alasan fundamental, kecuali... kecuali jika seluruh sel insting berburu mereka mendeteksi adanya kebocoran pancaran energi suci asing yang memendam suhu dingin murni yang teramat kuat di dalam wilayah territorial mereka."
Alan menundukkan kepala berambut putihnya jauh lebih rendah lagi hingga menyentuh papan kayu lantai. "Aku bersumpah sama sekali tidak memendam maksud atau niat jahat untuk membawa badai bahaya ke dalam lingkungan rumah kediaman kalian, Bibi. Aku semalaman... aku hanya sedang mencari sebuah titik koordinat tempat berlindung yang aman bagi kelangsungan hidupku."
Moana mengulurkan tangan kecilnya, meraih dan menggenggam erat jemari tangan ibunya dengan tatapan mata memohon yang teramat dalam.
"Ibu yang baik... anak berambut putih ini telah dengan sukarela bertaruh nyawa menyelamatkan keselamatan jiwaku, Justin, dan Helios di tengah laut tadi. Tolong... mohon jangan biarkan dia pergi menggelandang keluar dari rumah kita dalam kondisi fisik dan pakaian yang memprihatinkan seperti itu."
Nerissa Marine mengembuskan napas panjang yang teramat berat ke udara, meredakan seluruh sisa kepanikan maternal di dadanya. Dia melayangkan fokus tatapan matanya menatap robekan celana kain Alan yang telah hancur total dan sepasang kaki kecilnya yang dipenuhi oleh kotoran noda pasir kering.
"Tegakkan kembali struktur tubuhmu dan bangunlah dari lantai, Nak," tutur Nerissa Marine dengan nada suara yang telah melunak sepenuhnya, memancarkan kehangatan seorang ibu klan Marine. "Aku tidak akan pernah bisa memberikan izin moral bagi seorang tamu agung dari galaksi dimensi lain berkeliaran bebas di dalam lingkungan toko suvenirku tanpa mengenakan sepotong celana panjang yang layak. Justin, Helios... cepat kalian berdua melangkah naik meniti anak tangga menuju ke kamar lantai atas toko. Tolong carikan dan ambilkan beberapa stel pakaian kain cadangan milik Paman Roland Nixie semasa remaja dulu yang sekiranya ukurannya masih pas untuk dikenakan oleh tubuh kecil teman baru kalian ini."
****
Beberapa saat kemudian...
"Lalu... jika dia bukan merupakan sesosok makhluk campuran ras, kenapa dia bisa memendam kuantitas kekuatan elemen yang sedahsyat itu di usia pertumbuhan yang masih sangat kecil?"
Nerissa Marine bergumam pelan dengan nada suara yang sarat akan rasa ingin tahu yang mendalam. Otak wanitanya masih didera kesulitan besar untuk mempercayai fakta kesaksian anak-anak bahwa kapasitas kekuatan tempur bocah berambut putih di hadapannya ini diklaim telah berada di tingkat yang melampaui kedahsyatan sihir suaminya sendiri, sang penguasa tertinggi Kerajaan Bawah Laut Abyssal Trench.
"Aku secara personal sama sekali tidak mengetahui formula rahasianya, Bibi Nerissa. Alan... kau saja yang langsung membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Bibimu!"
Justin menggelengkan kepala pucatnya pasrah, lalu menolehkan fokus wajahnya ke arah posisi Alan yang berdiri kaku di samping sofa.
Alan, yang saat ini tubuh kecilnya sudah mengenakan sepotong celana pendek longgar kain katun milik Roland Nixie semasa remaja dulu, berdiri menatap lurus ke arah Nerissa Marine. Seulas senyuman lebar yang terkesan teramat kaku dan dipaksakan terukir di sela bibir tipisnya.
"Aku memendam bakat bawaan lahir untuk menguasai dan memanipulasi seluruh spektrum elemen dasar semesta, Bibi Nerissa. Dan di luar kapasitas itu, aku juga memendam kemampuan supranatural untuk membaca dan melihat kilasan rekaman masa lalu dari riwayat hidup seseorang, hanya dengan modal menurunkan telapak tanganku untuk menyentuh benda mati apa pun yang pernah disentuh atau diinjak oleh target subjekku,"