Disarankan untuk membaca novel sebelumnya "Jodoh Sang Dokter Duda" karena disana ada silsilah seluruh keluarga ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Sore harinya
Mereka berempat sudah rapih
Ada Hanan, Alana, Imran, dan mbak Rasti
"Bik Surti, ini mbaknya ikut, bibik mau ikut nggak?" Ucap Hanan sambil menggendong Imran dilengan sebelah kiri
Bi Surti yang sedang sibuk dengan tanamannya, iapun menjawab "Terima kasih tuan, saya jaga rumah saja, biar semut nggak berani angkat rumah ini tuan, hehe" Candanya
"Bener nih, nggak mau cuci mata" Ucap Hanan lagi
"Benerlah tuan. Mata saya biasa dicuci pakai daun sirih, jadi cling"
"Daun sirih maling ditetangga?" Ejek Hanan
"Tuan.. Pesan sama mbak sayur saja besok pasti dibawain. Kenapa tuan suudzon" Bibik mulai kesal dengan tuannya
"Ya... Berarti bibik beneran nggak mau cuci mata bareng kita. Beneran nih, nggak nyesel?"
"Beneran tuan nggak... Cuci mata saya tidak perlu naik mobil, tidak perlu bensin, tidak perlu dompet tebel"
"Eh, dibilangin nggak percaya" Ucap Hanan sambil menata Imran dijok mobil bagian depan, yang sudah ada Alana disana
"Orang tuan ngeledek, mana ada yang percaya" Kesal bibi sambil mengikuti Hanan
Hanan sudah duduk dijok kemudi "Tapi ini beda bik, lihatnya laki laki keren. Siapa tau bibik naksir" Goda Hanan
"Kalau itu bukannya mata saya tambah cling tuan, tapi malah tambah buras"
"Lah kok bisa, kan asyik bik, ntar bibik awet muda"
"Waduh.. Dunia ntar penuh tuan, kalau orangnya pada awet muda semua"
"Ah susah ngomong sama bibik, kalau debat aku kalah. Ya sudah bik, ntar kalau ada kolor ijo, jangan jerit jerit ya.. Hadapi sendiri"
"Kalau kolor ijo datang beneran, saya mau minta boxernya Mike Tyson tuan. Perkasa mana tuan ??" Senyum pasta bibi melebar, sampai gigi berjumlah 32 kelihatan semua
"Ah sudah bik, jaga rumah ya.. Dipos ada pak Idris, pak Ilyas sama pak sholeh. Kalau kurang orang, dikontrakan masih banyak bapak bapak yang lagi main catur"
"Tuan..." Bibi sudah gemas dengan gunting rumput yang ia pegang "Saya nggak bisa main catur" Bibik sudah kesal dengan tuannya
"Bisanya bik??"
"Qiu qiu, remi, domino" Kesal bibi
"Busyet.. Jangan ajarin pak Sholeh, pak Idris, sama pak Ilyas. Mereka tidak ngerti soal kartu"
Bik Surti sudah joget kesal. menggoyang goyang pajangan yang sedang ia rapihkan
Tuannya memang keterlaluan. Dirinya dijadikan candaan terus, jika mereka bertemu
-
Dimall
Mereka berdua jalan didepan, yaitu Hanan Dan Alana. Sedang mbak Rasti, dia berjalan sendirian dibelakang
"Mbak Rasti, sini dong. Jangan dibelakang sendirian" Ucap Alana menyuruh Rasti jalan disampingnya
Imran digendong didepan seperti kanguru oleh Hanan. Sedangkan Alana, digandeng Hanan dengan tangan kirinya
Hanan menarik Alana ketoko emas milik Xander "Mampir ketoko emasnya papi yuk" Ajak Hanan
"Memang papi ada toko disini?" Tanya Alana yang masih awam soal keluarga suaminya
"Ada, dulu mami yang jagain"
"Oh.. Memang toko apa kak?"
"Emas Hanaaaan" Hanan tersenyum menggoda
"Ih, aku nggak mau panggil kakak mas. Emasnya mahal"
"Ntar dikira daddy kakakmu dong"
"Ya biarin. Kan tadinya memang iya. Sekarang aja ganti"
"Nggak bibi nggak kamu. Susah dikalahin. Pinter argumen semua"
-
Ditoko Wahidah Jewerly
"Oh toko emas" Alana baru tau, ternyata asetnya papi Anand banyak disegala bidang "Ini milik papi kak?"
"Iya. Yuk masuk" Hanan merangkul Alana untuk menemui manager toko tersebut
"Mau ngapain ?" Alana menarik lengan Hanan
"Membelikan kalung untukmu, kemarin patah kan"
"Kalung??" Alana teringat kalung pemberian Hanan waktu itu "Kakak, aku kan udah dibeliin, kenapa mau dibeliin lagi"
"Kamu nggak suka kan, kalau nggak suka, jangan dipakai. Sekarang mumpung kesini, kau boleh pilih sendiri"
"Terus, kalung yang ada dirumah mau dikemanain"
"Simpan kan bisa"
"Tapi aku suka kak, cuma nggak ada yang memakaikan saja"
"Sudah nggak papa yuk mampir"
Mereka akhirnya mampir dan Alana yang memilih kalung pilihannya sendiri
"Yang ini kak" Alana menunjuk kalung berliontin
"Coba mbak, kalung yang ini mbak" Hanan meminta pelayan toko untuk mengambilkan kalung pilihan Alana
"Yang liontinya bulat ini ya mbak?" Tanya pelayan toko pada Alana
"Iya mbak" Jawab Alana
Setelah sang pelayan sudah mengambilkan kalung emas berliontin diatas etalase
Hanan bertanya "Bener kalung yang ini" Tanya pada Alana
"Iya kak aku suka, boleh nggak?" Alana menatap Hanan berbinar
"Dih istriku..."
"Ya boleh, mau dipakai sekarang?" Tawar Hanan
"Kakak bisa memakaikan?" Tanya Alana dengan bodohnya
"Bisalah, masa barang kelihatan aja nggak bisa pakai" Ucap Hanan asal
Alana menghentikan Hanan yang akan memakaikan kalung keleher Alana. Alana sedikit tercubit hatinya. Padahal Alana memang tidak pernah memakai kalung sendiri. Selalu ada yang membantu memakaikan
"Kakak, aku juga bisa pakai sendiri, tapi takut pengaitnya kurang nutup"
"Iya, makanya sini daddy pakaikan"
"Baiklah"
Alana berbelok membelakangi Hanan, serta menyingkirkan rambut kesamping kiri semua, sehingga Hanan melihat tengkuk mulus yang sedikit berbulu halus milik Alana
Hanan mulai memakaikan kalung keleher Alana
"Susah nggak tuan, biar baby Imran bersama saya" Rasti dengan cepat menawarkan diri untuk mengajak Imran
"Eh, nggak mbak. Ntar aja" Kembali Hanan fokus mengaitkan kalung tersebut "Nah sudah selesai"
"Bercermin tuan" Pelayan toko menunjuk cermin yang mengelilingi tembok toko
"Coba bund, bercermin dulu, suka nggak ?"
Alana berbelok kebelakang, yang sudah ada cermin besar disana "Suka" jawaban Alana menyejukkan hati
"Ya sudah, ini aja?"
"Iya"
Hanan mengambil kartu saktinya "Ini mbak" Hanan menyerahkan kartu tersebut sebagai alat bayar
Sambil pelayan toko menggesekkan kartu tersebut kemesin EDC, Hanan bertanya "Oiya mbak, apa setiap hari papi selalu datang kemari?"
"Iya tuan dokter, tapi siang siangan. Terkadang juga tuan Xander.."
"Kakak selalu kemari?"
"Bukan. Nggak. Maksudnya sedikit mengecek lewat vidcall"
"Kirain, Dubai Jakarta bolak balik"
"Enggaklah tuan. Sekedar mengecek dan tanya tanya gitulah"
Setelah membayar, merekapun meninggalkan toko keluarga papi
Hanan selalu menggandeng Alana, apalagi tempatnya ramai, takut salah gandeng berabe
"Kakak kita ketoko baju itu kak" Tunjuk Alana pada toko Couples
"Baiklah"
Tiba tiba dari arah berlawanan seseorang menyapa sambil berlari mendekat "Alana??"
Olivia menunjuk tangan Alana yang digandeng oleh dokter tampan
"Alana, pak dokter... Kalian ??" Olivia memutari pasangan ini, lalu menunjuk Imran dalam gendongan Hanan "I-ini bayi siapa Alana? pak dokter?" Kembali lagi Olivia terkejut "Jangan bilang ini anakmu dengan dokter Hanan Alana? Aku bahkan tidak pernah melihat kamu hamil"
"Atau jangan jangan, kamu hamil pas kita lagi magang dirumah sakit ya?" Sambung Olivia
"Kamu tidak ingin dijawab kan? ya sudah, ayo kak keburu Imran capek, ntar nangis" Alana menarik tangan Hanan
"Eh eh eh, tunggu !!" Olivia bisa mati penasaran kalau tidak dijelaskan sekarang "Alana!! aku temanmu bukan ? Kenapa kamu tidak jujur padaku. Ada hubungan apa kamu sama pak dokter !! terus, ini itu anak siapa ?! Aku butuh jawaban sekarang TITIK"
BERSAMBUNG
saya suka saya suka saya suka