"Aku bukan orang baik buat kamu."
Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.
Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.
Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.
Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.
Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insidious
"Dunia ini keras, perlu licik untuk bertahan hidup."
🔥🔥🔥
"Ciye, dengar-dengar target udah masuk perangkap, nih." Suara Rossa dari seberang terdengar menggoda Andara. "Jangan lama-lama dikekep, langsung eksekusi ntar keburu busuk," tambah Rossa.
Andara sebenarnya sudah menduga kalau kabar mengenai Buana menginap di rumah akan sampai juga ke telinga Rossa. Natha adalah tipe orang yang kadang keceplosan dan berbicara tanpa pikir panjang. Apalagi Buana mewanti-wanti supaya Kin dan Putra jangan sampai tahu, tetapi cowok itu tidak menyebutkan nama Rossa. "Lo pikir barang pakai dikekep?"
Tawa Rossa lepas lagi. "Ya, memang benar, Chu! Jangan lama-lama target dibiarin dalam perangkap ntar dia bisa sadar atau bisa jadi lo malah yang dibuatnya jatuh cinta lagi."
Ucapan Rossa itu membuat Andara terdiam. Memang ada yang masih berdenyut dalam jantung saat menerima semua perlakuan manis dari Buana. Dasar lemah, dibaikin sedikit langsung limbung. Punya hati kok sama lembek kayak puding puyo! Andara memaki diri sendiri.
"Benar, nggak? Atau jangan-jangan lo udah jatuh cintrong lagi sama Buan?"
"Nggak, ya!" Andara membuang pandangan ke taman di bawah. Tanaman yang ada terlihat berbayang karena lampu taman yang redup. Kolam kecil yang selalu dialiri air terdengar menenangkan. Dia sedang berada di balkon Best FM sambil merokok untuk menunggu jadwal siaran Reload. Setelah perayaan anniversary mereka minggu lalu, Buana memang kembali seperti Buana yang dulu. Cowok itu sering mengirimi ucapan selamat pagi atau menanyakan apakah dia sudah makan atau belum.
"Ya terserah lo, sih. Intinya kalau lo butuh bantuan buat meringkus, kasih tahu aja. Si Natha gemes banget sama lo, Chu. Dia takut lo kemakan rayuan Buana, katanya di depan dia aja Buana berani panggil lo pakai Sayang-Sayang." Seperti dapat meraba hati dia, Rossa kembali mengingatkan tujuan awal. "Ingat yang gue bilang kemarin. Cowok-cowok itu egois. Mereka bisa tinggalin kapan mereka mau dan datang lagi kapan mereka mau tanpa alasan, nggak peduli apa yang pernah kita kasih buat mereka. Head up, stay strong, kick them out and move on!"
"Beuh, Rossa Indira Teguh!" balasnya mengejek Rossa. Cewek itu wanti-wanti mengingatkan agar memberitahunya jika sedang bersama Buana, dan balik mencerca dirinya sebelum menutup telepon.
Bibir Andara masih menyisakan ringisan miris. Heran dengan diri sendiri lebih tepatnya. Dia matikan rokok sembari mengembus asap terakhir tinggi-tinggi. Sebelah tangan menimang-nimang ponsel. Matanya menatap langit gelap tanpa bintang sembari berpikir. Benar juga kata Rossa, dia perlu ingat akan niat awal.
Lagi pula berkutat dengan dunia Buana enggak akan membebaskan mereka dari masalah lama. Nina akan tetap ada, menjadi bagian dari hidup Buana bagaimanapun itu, dan Andara tidak mau tinggal di tempat yang penuh labirin. Memilih tetap bersama Buana adalah merelakan diri untuk patah lagi setelah diperbaiki berkali-kali. Sampai kapan pun dia tidak akan pernah jadi pemeran utama dalam dunia Buana.
Pukul sepuluh kurang lima menit, Andara beranjak masuk ke studio. Daftar putar dari Bang Anco sudah dibuka dan dia meneliti lagu yang pantas dijadikan lagu pembuka. Setelah mencoba beberapa lagu, pilihannya jatuh kepada suara Kikan yang terasa begitu magis dan Andara memilih lagu Karma sebagai opening.
"101 Best FM, The Best Hits Radio Station. Karma, diambil dari album kedua Cokelat berjudul Rasa Baru yang keluar tahun 2001. Lagu Karma ini kental banget menceritakan rasanya sakit hati karena dikhianati. Kamu pasti nggak nyangka kalau album ini sudah berumur delapan belas tahun, Besties, tapi nggak tahu kenapa kalau dengar lagu-lagu di dalamnya tetap terdengar khas Cokelat banget. Selain Karma, ada Luka Lama, dan Jauh yang juga nggak kalah keren. Anyway, apakah ada yang mau mau dengar atau request lagu-lagu lain? Silakan mention aja di Twitter @BestFM atau sms di 0811-116-BEST. Andara Ratrie dan Reload hadir malam ini sampai jam 12 nanti."
Mungkin dia harus berterima kasih kepada lagu Karma yang menguatkannya. Benar kata lagu ini, Buana harus mendapat bukti dari sebuah pembalasan, merasakan pahitnya dibuang sia-sia. Perlakuan manis cowok itu selama ini tidak akan menghapus kesalahan yang pernah dibuat untuk dia. Andara tidak boleh kalah atas pesona yang ditebarkan Buana. Sebagai serigala, dia harusnya bisa mengendus tajam apa makna di balik kebaikan yang dibuat cowok itu. Mungkin Buana mengira dia hanyalah keledai bodoh. Sayang, dia adalah serigala. Ya, The Wolves.
Andara memeriksa Twitter, beberapa mention sudah masuk. Seseorang meminta diputarkan lagu OneRepublic yang berjudul Apologize. Andara mengabulkan permintaannya dan memutar lagu tersebut.
That it's too late to apologize. It's too late.Said it's too late to apologize. It's too late.
Sejenak dia ikut bernyanyi kemudian teringat Buana lagi. Dia sebenarnya melihat bagaimana Buana mengangkat telepon saat di toko kemarin. Meski berpura-pura sibuk, Andara melihat dari pantulan kaca. Buana sampai keluar toko hanya untuk mengangkat telepon Nina. Cowok itu seolah takut sekali jika Nina sampai mendengar suara Andara. Pasti Buana mengarang cerita dan sudah pasti cowok itu tidak akan mengaku sedang berjalan dengan Andara. Orang selingkuh mana yang akan mengaku, sih?
Nina tetap segala-galanya untuk Buana hingga Buana takut cewek itu terluka. Berbeda ketika bersama dia, cowok itu hanya mendekatinya untuk having fun atau lebih kasarnya lagi untuk having sex. Iya, kan?
Untuk jantungnya; daging yang hanya berukuran sekepalan tangan, sekarang, Andara tidak mau memakai perasaan lagi dalam menindaklanjuti semua tingkah laku Buana. Nggak ada maaf untuk cowok itu, semua sudah terlambat. Tekat itu bulat. Permainan yang dimulai harus diakhiri.
Hasrat membalas sangat menggebu membuat dua jam siaran Andara terasa begitu singkat. Selama siaran pun dia memilih lagu-lagu yang membakar semangat dan menyuarakan dendam. Lagu mellow yang ada di daftar putar disingkirkan, jika Bang Anco sampai bertanya akan dia bilang saja kalau lagu yang diputar itu hasil request dari Besties.
Saat keluar dari studio, Andara mendapati pesan dari Kin. Pesannya sudah masuk tiga puluh menit yang lalu.
Kin Dhananjaya: Katanya lo siaran, ya?
Andara berdecak. Kenapa sih Kin selalu bertanya ke Natha? Kenapa tidak bertanya ke dirinya langsung? Dia mengetikkan jawaban dengan cepat.
Andara Ratrie: Kenapa tanya ke orang kalau bisa tanya ke gue langsung, Beb?
Ponselnya langsung berbunyi setelah balasan itu. Andara perlu beberapa kali menarik napas dalam sebelum menjawab telepon Kin. "Iya, Beb?"
Kin tertawa. Cowok itu bahkan belum sempat mengucapkan salam. "Gue belum halo, lo udah jawab."
"Ya, gue kan aktingnya bagus sebagai pacar lo." Andara duduk di kursi ruang tengah sambil menggigiti kuku. Tolong ini kenapa terdengar seperti ada yang mengetuk-ngetuk di dadanya?
"Iya, Beb. Iya."
Andara menggaruk kepala yang tidak gatal. Kin hanya menjawab seperti itu saja dia sudah baper. Noraknya abadi memang. "Jangan kayak akun gosip yang dengar dari orang, tanya langsung dari gue aja. Apa yang mau didengar, nih?"
"Ini udah kedengaran kok suara cempreng lo."
"Kurang ajar!" Andara tersenyum. Ada yang mengembang di dadanya. "Cempreng-cempreng juga ngangenin ya. Iya, kan?"
Kin terdengar mengaduh. "Mesti jujur apa enggak, ya?" ujarnya sambil tertawa lagi. Cowok itu pasti nggak tahu kalau Andara sudah hampir mati kehabisan napas. "Eh, Beb. Lo udah tahu kabar belum? ZoukOut 2019 hiatus."
Andara terperangah. Dia tidak memantau kabar terbaru tentang acara itu di website resmi. "Serius, lo?! Yah, sayang banget," keluhnya kecewa. Acara itu benar-benar ditunggunya.
"Kalau lo mau, tanggal 26 ini ada Aly & Fila di Palawan Beach. Gimana?" Kin sudah melihat-lihat acara yang mirip dengan ZoukOut dan yang tersisa hanya acara di Pantai Palawan saja, itu pun di bulan ini.
"Harusnya kita kemarin ke Ultra aja, ya?" Bulan Juni kemarin, Ultra Music Festival diadakan di Singapura. Salah satu gelaran EDM (Electronic Dance Music) terbesar di dunia itu sempat mampir di negara tetangga, tetapi Andara melewatkan karena dia memilih ZoukOut yang bertepatan dengan bulan Desember, bulan libur anak kuliah.
"Jangan disesali, Beb. Tahun depan kita ke Tomorrowland sekalian!" sahut Kin santai. Tomorrowland adalah EDM impian clubbers dan jadi langganan DJ kelas dunia. Menariknya, tata panggung acara itu selalu megah dengan desain dan konsep yang unik setiap tahun.
Dasar anak Sultan, pekik hati Andara. Dia butuh menabung ekstra keras untukbisa berangkat ke Belgia demi menghadiri Tomorrowland.
"Ini yang di Palawan oke, ya? Biar gue beli tiketnya sekarang." Kin menunggu jawabannya.
"Iya, deh. Butek gue, pengin refreshing," ujar Andara. Masalah berangkat ke Belgia akan dia pikirkan nanti. Dia harus melihat-lihat tiket pesawat murah ke Singapura dulu. "Kalau mau sekalian beliin tiket pesawat juga nggak papa, gue ikhlaslah buat lo, Beb."
Andara dapat mendengar Kin tergelak dan mengejeknya. "Kenapa gue terdengar macam Sugar Dady gini?!"
"Lo mah ... Sugar, yes please... Won't you come and put it down on me?" candanya sambil bernyanyi yang dibalas ejekan lagi dari Kin.
Ketukan pelan di pintu kaca lantai dua menyadarkan Andara kalau ada orang di balkon luar. Biasanya penghuni Best tidak akan mengetuk jika ingin masuk. Pintu itu juga tidak pernah dikunci, penyiar hanya perlu membuka sepatu jika ingin masuk. Andara menoleh dengan sisa-sisa tawa di muka. Tampak olehnya Buana melipat tangan dan bersandar di besi sambil melihat taman di bawah. Cowok itu menunggunya.
"Ya udah. Gue lihat-lihat tiket dulu ya, Beb. Ntar kabar-kabaran lagi. Dadah."
Buat apa Buana di luar sana? Dia menghampiri pintu, membuka dan menatap Buana dengan penuh tanda tanya.
"Udah selesai siarannya? Aku pikir kamu ketiduran, makanya aku naik." Buana menjelaskan tanpa Andara pinta, mengabaikan alisnya yang berkerut heran. "Aku udah dari tadi nunggu di depan sama si Bob."
Bob adalah satpam Best FM. Tentu saja Bob mengenali Buana. Selain karena Buana memang salah satu band Indiebest, Bob juga mengenal cowok itu sebagai pacarnya Andara.
"Kok jemput?" Andara tidak ada meminta Buana untuk menjemput.
"Kamu mau nginap di sini?" Buana bertanya balik sambil menatap matanya. "Ayo, pulang."
Andara menoleh ke langit yang mulai berkilat dan terdengar bergemuruh. "Mau hujan, Buan."
"Memangnya ada kepastian kapan hujan turun dan kapan hujan reda?" sahut cowok itu lagi dengan datar.
Iya, sih, jika nanti turun hujan juga tidak bisa dipastikan akan selesai kapan. Andara kembali ke meja, meraih tas dan memakai sepatunya. Mengikuti langkah Buana juga melambai ke Bob.
Dan seperti perkiraan, gerimis akhirnya turun saat mereka belum setengah jalan. Rintik yang turun di tengah malam itu membuat Buana berhenti sesaat dan melepas jaket, memberikan jaketnya kepada Andara. "Pakai."
"Lo gimana?" Meski ragu, Andara mengenakan jaket itu. Buana tidak menjawab dan kembali mengendarai motor, membelah jalan ibu kota.
Dasar cowok bodoh! Buana pikir dia akan tergugah? Tidak, dia tidak akan tersentuh. Andara menggerutu, tetapi tangannya bergerak maju memeluk Buana dari belakang untuk memberi sedikit kehangatan dari hujan yang mulai deras dan mengguyur mereka dalam dingin. Jarak ke rumahnya tinggal tiga kilometer lagi, badan Buana terasa menggigil. "Kita nggak neduh dulu?" tanya Andara.
"Sudah malam, Ra. Aku ngantuk." Suara Buana berusaha mengalahkan rapatnya hujan. "Ke rumah aku aja ya, mau?" tawar cowok itu sembari mengusap pelan lutut Andara.
Rumah Buana berada di sekitar jalan ini. Cowok itu memiliki rumah persinggahan saat tidak bisa pulang ke rumah utama. Andara yang sudah menaruh kepala di bahu cowok itu, hanya mengangguk. Buana kedinginan, dan dia ada asma.
Saat Buana melebarkan pintu samping rumahnya, Andara bergegas masuk. Cowok itu meraih handuk untuk menyeka rambut dan kepala, lantas memberikannya handuk dan baju ganti. "Mandi, nanti kamu sakit," ujar Buana meninggalkan dia.
Buana masuk ke kamar depan untuk mandi dan Andara memilih mandi di kamar mandi belakang dekat dapur. Badannya juga sudah kedinginan dan butuh diguyur air hangat.
Tidak butuh waktu lama untuk membilas diri, Andara sudah berkutat di dapur untuk membuat teh dengan melilitkan handuk di kepala. Dia mendengar langkah Buana ke arahnya. "Minum dulu. Udah tahu nggak bisa kena dingin, malah kasih jaket ke gue."
Buana menerima gelas dari Andara dan mulai meneguk pelan. Hangat menjalari tenggorokannya. Tangannya juga melingkar di badan cangkir agar hangat. Dia hanya tersenyum singkat, merasakan sedikit kepedulian dari Andara. " Udah lumayan hangat, kok."
Matanya memandang cewek yang duduk bersila di samping. Andara hanya memakai kaus milik dia yang jelas kebesaran, bokser yang tenggelam di balik kaus dan handuk melilit yang mengekspos tengkuknya. Dari semua imajinasi liar Buana, keadaan sederhana seperti ini yang menurutnya sangat menarik dari seorang cewek. Dia ingin tahu apakah di balik baju itu ada dalaman atau tidak. Berbeda dengan cewek berbaju minim, cewek berbaju longgar terlihat lebih menggoda.
"Mau tambah lagi tehnya?" tanya Andara. Dia hendak bangkit dan mengambil cangkir kosong Buana, tapi cowok itu menariknya hingga terduduk di pangkuan. Andara mengerti apa yang akan menjadi kelanjutannya.
"Mau yang lain," bisik Buana sembari mengusap paha terbuka Andara. Dengan segera, bibirnya bertamu ke bibir ranum cewek itu. Mengecup sudut pojok sekilas lalu merambat hingga tengah, memperdalam ciuman. Dia menarik tengkuk Andara dan cewek itu tidak menolak. Tangan Andara menumpu di bahunya.
Tangan yang di paha tadi naik menahan punggung Andara dan mengusap-usapnya. Dia tidak menemukan apa-apa di sana. Sesuai dugaan, cewek itu tidak memakai bra.
"Buan..." Bibir itu memanggil namanya saat dia meremas pelan bagian depan Andara. Mereka bertukar pandangan diselimuti keinginan akan sesuatu. Buana selalu menyukai tatapan itu. Tatapan sayu tapi mengundang yang membuatnya selalu kalah dengan keadaan.
"Ya?" jawabnya sembari memiringkan kepala dan menyelipkan lidah di bibir Andara yang terbuka.
Buana tahu ini tidak semestinya. Buana tahu hati cewek di pangkuan dia sudah tidak bersamanya lagi, tetapi Buana tidak dapat menampik jika cinta yang besar sering kali diikuti gairah tak kalah besar untuk Andara.
Cewek itu hanya menggigit bibir saat Buana membaringkannya di meja makan. Handuk yang tadi di kepala sudah luruh ke lantai dengan rambut yang masih lembap. Buana tahu itu wangi samponya tetapi saat tercium dari kepala Andara kenapa terasa berbeda? Apalagi Andara hanya menurut tanpa protes, seolah membiarkan diri menjadi hidangannya kali ini.
Malam ini, Andara lebih pasif dari biasa, tetapi Buana tidak peduli. Dia selalu ingin jadi hal yang dibutuhkan cewek itu, apa pun alasannya. Jika tidak hatinya, mungkin bisa tubuhnya. Memang ini adalah kesenangan semu tetapi setidaknya di sinilah dia bisa merasa senang dan saling membutuhkan. Buana ingin menjadi sesuatu yang selalu dikenang Andara. Jika cewek itu tidak ingat bagaimana cintanya, mungkin Andara bisa mengingat apa yang pernah mereka lakukan bersama.
Dia menyingkap dan melepas kaus Andara . Tangannya berjalan ke tempat-tempat yang selalu dirindukan dan tersenyum pelan melihat Andara mulai menggeliat kegelian. Tubuh kurus dan hangat ini selalu membuatnya gila. Dia memompa seperti kesetanan hingga badan di bawahnya bergetar.
Di benak Buana terlintas ide-ide licik bagaimana agar Andara kembali kepadanya. Masa bodoh saat ini Andara adalah pacar Kin, masa bodoh. Cinta memang egois.
Buana memang selalu ingin melihat Andara bahagia. Namun, ternyata dia tidak bisa terima jika bukan dirinya yang menjadi sebab cewek itu berbahagia. Buana tidak suka melihat Andara tersenyum-senyum ketika berteleponan tadi. Ya, Andara mungkin tidak mendengar dia mengetuk-ngetuk pintu karena sibuk dengan kekasihnya di ponsel. Dia juga tidak terima mengingat bagaimana Andara dan Kin berciuman di depan matanya. Jika saja saat itu Andara tidak memperingati agar jangan mengganggu Kin, sudah dipastikan cowok itu akan dia hajar habis-habisan.
Buana tidak ingin tahu lagi bagaimana Andara dengan Kin. Yang jelas Andara harus kembali untuknya. Andara hanya miliknya. Jika usahanya selama ini belum juga meluluhkan hati Andara, masih ada satu cara terakhir yaitu membuat Andara hamil.
Buana menggumam nikmat saat pelepasan dan menumpahkan semua di dalam Andara tanpa penghalang. Dia sampai menenggelamkan kepalanya di ceruk leher yang harum itu.
Hujan semakin deras di luar, menutup segala keributan yang terjadi di ruang makan.
Tanpa Buana sadari saat dia menggendong Andara menuju kamar, cewek itu meraih ponsel di belakang punggungnya. Andara menyimpan video yang direkam tadi ke tempat yang aman. Mengirimkan pesan lokasi kepada Rossa kalau malam ini dia menginap di rumah Buana.
🔥🔥🔥
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)