Hiatus
Balas dendam memang dapat memuaskan hatimu, tapi itu tidak mengubah keadaan menjadi lebih baik.
Kesalahan orangtua dimasa lalu berimbas pada kisah percintaan yang sudah terjalin.
Seguel dari kisah "TERPAKSA MENIKAH"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vanzhuella annoy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 25
🍀🍀🍀
Melihat Vita pingsan Bik Sumi menyuruh salah satu karyawan memanggil Bidan yang tidak jauh dari rumah itu. Tidak tunggu lama sang Bidan pun datang dan segera memeriksa keadaan Vita.
"Uhmmm" lengguhan Vita mengerak-gerikan mata yang masih terpejam, bau aroma minyak kayu putih tercium dari ronga hidungnya.
"Non..... " panggil Bik Sumi sembari mengusap wajah Vita yang terlihat begitu pucat.
"Bik, apa yang terjadi? " Vita heran kenapa ia berbaring dan melihat ada seorang Bidan.
"Tadi Non tidak sadarkan diri" ucap Bik Sumi.
Vita membungkam mulutnya karena ingin muntah, rasa mual mengampirinya lagi. Ia pun langsung bangkit berlari menuju kamar mandi.
Uwek.... uwek....
Vita memuntahkan semua isi perutnya, padahal dari tadi pagi ia belum makan nasi.
"Non minum dulu" Bibi Sumi membantu membawa Vita kembali duduk di ranjang dan memberikan teh hangat.
"Apa Mbak Vita sudah bersuami? " tanya sang Bidan karena ia belum terlalu mengenali tetangga barunya ini.
"Sudah Buk Bidan, tapi lagi keluar kota" sahut Bik Sumi mendahului Vita. Vita melirik Bik Sumi dengan ujung matanya, karena apa yang dikatakan wanita berumur itu tidak benar adanya, ia sudah resmi bercerai 1 bulan yang lalu, dihari acara resepsinya.
"Hmmm kapan Mbak Vita terakhir kali menstruasi?" ucap sang Bidan karena yakin wanita cantik ini berbadan dua.
Deg
Pertanyaan sang Bidan membuat jantung Vita berdetak kencang, ia baru sadar bulan kemarin belum menstruasi.
"Bulan kemarin belum dapat Mbak" jawabnya dengan bibir bergetar, ucapannya membuat Bik Sumi terkejut juga.
"Jika begitu kita tes saja, kemungkinan Mbak Vita berbadan dua.
Vita mengikuti anjuran Bidan. Ia masuk ke kamar mandi dan mencelupkan benda itu kedalam air seni yang sudah ditampung. Vita menyerahkan benda itu pada Bidan karena ia tidak ingin melihatnya terlebih dahulu.
" Positif Mbak" ucapan sang Bidan serasa bumi ini runtuh bagi Vita, dimana ia dinyatakan positif hamil. Vita membungkam mulutnya dengan mata berkaca-kaca, bagaimana mungkin ia mengandung, sedangkan sudah bercerai dengan sang suami. Bagaimana nasib anak yang dikandungnya nanti, ketika ia sudah lahir.
"Selamat ya Mbak.... saya sarankan jangan terlalu kecapean, perbanyak makan buah-buahan dan makanan yang banyak mengandung vitamin, minum juga susu khusus ibu hamil. Ini vitamin dan obat anti mual" terang sang Bidan, ia kira wanita ini sangat senang dengan kehamilannya.
"Bibi.... hiks hiks.... " tangis Vita dalam pelukan Bibi Sumi.
"Bagaimana ini Bi.... ada janin dalam perut Vita, sedangkan Vita sudah tidak punya suami? Bagaimana nasib anak yang tidak bersalah ini nanti ketika lahir ke dunia Bi? " ucapnya dengan isakan.
"Sabar Non.... semua sudah disiapkan Yang Maha Kuasa. Ada Bibi yang mendampingi Non Vita, kita bersama-sama membesarkannya, jangan merasa sendiri" ucap wanita berumur ini ikut merasakan apa yang dirasakan Vita, tapi ia tidak ingin memperlihatkan kesedihan, agar majikannya ini tetap kuat dan semangat menjalani hari-harinya.
"Terima kasih Bik! maafkan Vita sudah merepotkan Bibi" Vita melepaskan pelukannya dan menatap wajah Bik Sumi dengan dekapan air mata.
"Non.... harus semangat kasian baby dalam sini" Bik Sumi mengelus perut rata Vita.
Vita terdiam, seharusnya yang mengelus perut ini untuk pertama kalinya adalah Papa dari bayi yang ia kandung. Seharusnya mereka bahagia dan akan merayakan hari bahagia ini, karena di anugerahkan buah cinta mereka.
Seandainya keluarganya masih utuh, Vita yakin kedua orang tuanya bahagia mendengar kabar kehamilannya. Terlebih lagi sang suami pasti sudah begitu girang.
Vita mengenang momen dimana dulu ia dan mantan suaminya membicarakan banyak hal, masalah rumah tangga, bahkan ke masalah anak. Yang dimana Vino mengodanya menginginkan satu lusin anak, mendengar itu membuat Vita refleks mencubit perut sixpack itu.
"Non istirahat saja, Bibi akan membuatkan sup hangat biar tenaga Non Vita kembali lagi. Jangan mikir macam-macam dan setres, kasian bayi Non" ucap Bibi dan bangkit keluar kamar menuju dapur untuk membuatkan sup.
"Sayang....Mama akan menjaga dan menyayangimu. Mama tidak akan membuatmu kekurangan kasih sayang, walaupun sosok Papamu tidak disampingmu. Jangan bandel dan cerewet ya kasian Mama" ucapnya dengan lembut sembari mengelus-elus perut yang masih rata.
"Beb.... aku tidak menyesal telah mengandung anak kita, tanda buah cinta kita. Aku akan menjaganya semampuku, akan aku buat ia kelak tidak merasa kekurangan kasih sayang." ucapnya dengan mata berkaca-kaca menatap foto Vino dilayar ponselnya.
🍀🍀🍀
Di perusahaan seorang pria duduk di kursi kebesarannya sembari mengusap wajahnya. Sudah 1 bulan ini ia sudah tidak berhubungan dengan keluarga Januar. Ia juga sudah tidak tinggal di rumah sang Nenek, itu semua karena kejadian miris itu.
"Mom.... Vino sangat merindukan Mommy. " gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana tidak, dulu sebelum kejadian itu sang Mommy selalu mengirimkan pesan padanya. Menanyai sudah bangun atau belum, sudah makan, sudah pergi bekerja dan sebagainya. Kadang jika ada waktu melakukan videocall. Tapi sekarang jangankan videocall, SMS angkat teleponnya saja mereka enggan. Vino tau jika sang Daddy dan Mommy sangat kecewa padanya.
"Dad, Mom maafkan Vino. Bukan maksud Vino mempermalukan kalian, membuat kalian kecewa, tapi semua ini Vino lakukan karena ingin balas dendam. Gara-gara mereka masa kecil Vino sangat miris dan menderita, bertahun-tahun hidup dijalanan dengan usia yang semestinya di ketiak orang tua. Di hina, dicaci maki, disumpahi dan disakiti oleh orang-orang. Tidur beralaskan kardus, dingin malam sampai menusuk ke tulang-tulang, bahkan sering bermandikan air hujan, ketika diusir boleh pemilik rumah, sinar matahari tak henti-hentinya menerpa tubuh ini, untuk mencari sesuap nasi. Kadang seharian tidak bisa makan karena tidak ada tidak ada hasil mengamen, semua itu Vino tahan dalam tangisan" ucap Vino mengenang masa kelam itu, ia masih begitu mengingatnya.
"Apakah Vino salah mengambil hak semestinya milik Vino? Vino tidak ingin kehilangan Daddy dan Mommy, kalian telah berjasa dalam hidup Vino. Vino belum bisa membalas budi pada kalian" lirihnya terbayang wajah sang Mommy pada waktu kejadian itu, dimana wajah itu begitu sendu dan berlinang air mata.
Vino meraih ponselnya diatas meja
Deg
Pertama matanya menangkap foto di wallpaper, dimana itu foto Vita yang sedang tertawa manis memperlihatkan gigi ratanya.
"Beb, maafkan aku! aku tau kamu sangat terluka dengan semua ini. Aku harap kamu baik-baik saja, suatu saat aku akan menjemputmu. Bagaimanapun kejinya orang tuamu! sebesar apapun rasa dendam dan benci ini, tapi rasa cintaku padamu tidak akan sirna. Hati ini telah terukir namamu" ucapnya sembari memandangi foto Vita.
Tok tok tok
"Masuk"
"Selamat siang Tuan, saya ingin memberitahukan sebentar lagi rapat dimulai, semua petinggi sudah berkumpul di ruang rapat" sang sekretaris menyampaikan.
"Hmmm" Vino pun keluar dari ruangannya dan melangkah menuju ruang rapat.
Bersambung....
Jangan lupa vote like dan comennya.