Melati harus menelan pil pahit ketika dirinya harus di benci oleh suaminya.
Kesalahan melati di masa lalu, membuatnya mau tak mau menerima luka demi luka akibat pernikahannya yang berawal dari fitnah yang ia lakukan terhadap Faisal.
Duka demi duka ia lalui.
Pedih demi kepedihan ia lewati.
Hingga ia tak tahan dan memilih pergi.
Sayangnya, keputusannya untuk pergi menjauh, membuatnya menyesali segalanya.
Untuk kembali pun, Melati tak lagi memiliki nyali.
Hatinya seakan mati seiring penyiksaan yang Faisal lakukan terhadapnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istia akhtar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
"Saya terima nikah dan kawinnya Melati Aruna Sari binti Abdul Zainal dengan maskawin emas seberat Dua puluh satu gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai"
Suara Fian penuh tekad dan kemantapan, menggema dengan lantang di seluruh kediaman Pramono Heri Winata. Suasana khidmat dan penuh haru menaungi keluarga Winata, karena ada kisah pilu di balik pernikahan yang Fian-Melati yang di percepat.
Di dalam kamar, Melati hanya menangis lirih dan sesegukan. Di sampingnya, mbok Ijah dan Bu Dhe Asih yang ada di sisi kiri dan kanan tubuh Melati, tak kuasa menahan tangis. Mereka adalah beberapa abdi kediaman Pramono yang menjadi saksi atas penderitaan yang Melati alami akibat ulah Faisal di masa lalu.
"Sudah, cah ayu. Semua sudah berakhir. Ndoro Fian adalah sosok yang baik. Jadi jangan khawatir. Semua pasti akan baik-baik saja."
"Saya... saya kotor, mbok. Saya kotor. Sa...saya nggak pantas untuk mas Fian..... Saya.... Hen...hentikan pernikahan ini, mbok.... hentikan. Saya... sudah berusaha untuk melawan mas....faisal....
Tapi tenaga saya.... nggak sekuat itu melawan pria sekuat mas.....Faisal".
Melati kepayahan ketika mengutarakan maksudnya dengan terseguk.
Bukan tidak paham, mbok Ijah dan bu Dhe Asih, kakak dari Pramono tentu tau bagaimana cintanya melati pada Faisal. Akan tetapi agaknya, semua itu tidak lah membuat Faisal berhenti melukai Melati.
"Ssssttttt.... tidak boleh ngomong seperti itu, non. Ndori Fian orang yang baik. Ndoro Fian sangat mencintai njenengan. Ndak boleh ngomong gitu lagi, ya? Kasihan nanti ndoro Fian akan sakit kalau di tolak".
Mbok Ijah berusaha menenangkan dan memberi pengertian.
"Mbok Ijah benar, nduk. Kamu yang tabah, Faisal pasti akan menerima hukumannya nanti. Percayalah. Pramono adalah orang uang bijak dan Ndak pandang bulu apalagi bertoleransi pada kesalahan orang, terlebih anaknya sendiri".
Bu Dhe Asih, kakak Pram membenarkan apa yamg mbok Ijah katakan.
"Tapi saya... Bu Dhe.... saya Ndak pan...tas mendampingi mas Fian....Saya... saya kotor".
"Bu Dhe ngerti, nduk. Maafkan Faisal yang Ndak bisa menghargai kamu".
Tangis asih lama-lama pecah juga. Hatinya tersayat saat melihat kaumnya sesama wanita, di lecehkan dengan sangat kejam sepuluh hari menjelang pernikahan.
Pintu di ketuk dari luar, mbok Ijah pun segera menghampiri dan membuka pintu. Ratri muncul dengan wajah sendu dan mata sembabnya.
Siapa di sini yang tak bersedih?
Bahkan, rianti yang mendengar kabar bagmhwa suaminya telah memperk**a Melati, telah pingsan beberapa kali.
"Ayo, nduk. Temui suamimu. Dia menunggumu di luar.".
Melati semakin menangis menjadi-jadi. Tangisnya tak kunjung reda. Hatinya terlanjur hancur berkeping.
"Biar saya yang menyusulnya, Bu. Saya mengerti dia sedang tidak baik-baik saja".
Fian tiba-tiba muncul dengan mata sayu. Hatinya terluka. Tapi ia menutupinya dengan senyum se menawan mungkin.
Langkah Fian tegap dan penuh kharisma. Usia tiga puluh empat tahun dan baru melepas status lajang, tidak lantas menjadikan Fian seperti tua. Justru di usianya yang matang, membuat Fian terlihat semakin gagah dan berwibawa.
"Ayo, cium tangan suamimu".
Ratri berbisik lembut di telinga Melati. Melati menggeleng dramatis. Ia masih syok atas kejadian ini.
"Sa...saya kotor, Bu. Saya... Ndak pantas un....tuk mas Fian".
Maka, tanpa menunggu lagi, Fian segera memeluk Melati dengan tangis yang berderai. Ia tak peduli wibawanya tergerus oleh sisi kerapuhannya dengan tangis. Yang Fian ingin, dirinya dan juga Melati merasa lega setelah ini.
Asih segera memberi kode adik ipar dan abdi Pram. Mereka bertiga menyingkir dari sana, memberi waktu pada sepasang pengantin baru yang tengah berduka itu. Meraka juga berharap, setelah ini tidak ada lagi bencana yang menimpa keluarga mereka.
"Kita akan pindah dari sini. Saya sudah siapkan rumah untuk kita tinggal bertiga. Saya, kamu dan Gibran. Juga calon anak-anak kita".
Bisik Fian lirih di telinga Melati.
"Jangan lagi menyebut diri kamu kotor. Kamu tidak kotor. Kamu hanya korban dari kerakusan dan ketamakan mas Faisal. Saya berjanji, saya akan melindungi kamu dan Gibran sampai titik darah penghabisan".
~~
~~
Entah ini yang ke berapa kalinya, Rianti tak sadarkan di rumahnya. Faisal di usir paksa oleh Pramono sendiri usai kejadian tadi..
Usai pengusiran dirinya oleh ayahnya sendiri, Faisal pulang dengan keadaan sangat kacau dan wajah yang hampir tidak bisa di kenali.
Setibanya di rumah, ia segera menceritakan kebodohan yang baru saja ia limpahkan pada Melati, tanpa Rianti bertanya.
Bila sudah demikian, istri mana yang sanggup bertahan dan menerima?
Mbok Ijah pun segera pergi ke kediaman Pram atas permintaan Faisal. Penyesalan Faisal tidak lagi berarti.
Kini, hanya ada Faisal, Rianti yang terbaring tak sadarkan diri, dan kedua anak Faisal yang berada dalam pangkuannya.
Saat Faisal hanyut dalam tangisnya dengan mendekap erat kedua putrinya, Rianti tiba-tiba kejang dengan bola mata memutar ke atas.
Faisal panik. Maka, ia segera membawa Rianti ke rumah sakit dan menitipkan kedua putrinya, Putri dan Risti pada tetangga depan rumahnya.
~~
~~
Langkah Faisal semakin cepat sembari mendorong brankar dengan Rianti yang terbaring di atasnya. Panik tentu saja.
Setelah Rianti masuk ke dalam ruang UGD, Faisal menunggu dengan cemas. Bahkan, kemeja dengan beberapa titik darah, masih melekat padanya. Lebamnya pun kian terlihat pada wajahnya.
Dalam hati, Faisal merutuk lirih dirinya sendiri.
"Maafkan saya, Rianti. Maafkan saya"
Ucap Faisal lirih. Hatinya berkecamuk antara memikirkan pernikahan Fian dan Melati malam ini. Juga rianti yang begitu syok atas berita yang ia sampaikan, hingga berakhir Rianti masuk rumah sakit.
Tak lama, dokter keluar dari ruang UGD dengan wajah sendu.
"Bagaimana keadaan istri saya, dokter?".
Panik Faisal.
"Mohon maaf, pak. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan lebih menyayangi ibu hingga memanggilnya lebih cepat. Ibu.... sudah tiada, pak".
Faisal merosot ke lantai. Meratapi nasibnya dan mempertanyakan, mengapa takdir tak berpihak pada nya?
....
....
....
ingat loh masih punya istri gak mikir apa udah punya dua anak sama rianti,, mau melati juga🤣🤣🤣
bawangnya banyak banget 😩😩😩😩😩