Novel mau bahagia denganku? sayang? Izin masuk ya, hallo kembali ke apel cantik!
Ayahnya berinvestasi hingga berhutang sampai 10 milliar, karena tak sanggup membayar pria itu malah menjual Aluna ke anak buah penagih hutang. Malam harinya pintu tanpa diketok, masuk nyelonong begitu saja, seorang pria melemparkan koper didepan meja yang berisi uang 10 milliar.
Kontrak pernikahan tak boleh dilanggar.
1. Tak ada kontak fisik
2. Dilarang jatuh cinta
3. Dilarang mengintip kehidupan pribadi masing-masing.
Durasi kontrak: 1 Tahun
Setelah masa kontrak selesai akan dibayar 1 Triliun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apelcantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Aturan tambahan, sedikit melawan.
I ALWAYS REALLY HAPPY CAUSE YOU ALL GUYS, WANT WAITING ME FOR NEXT EPISODE FOR REAL OMAGA 🥰😗
LET'GO!
HAPPY READING!
Cahaya mentari pagi menyelinap dari balik jendela kaca, karena sinar matahari amat menyilaukan—hal itu membuat Aluna mengedipkan kedua mata cepat, ia menguap masih merasa ngantuk karena terlalu nyenyak bahkan ia tak bermimpi apa-apa semalam.
Menyadari bahwa ia tidur diatas ranjang eksklusif, ia berdiri canggung—masih belum bisa menerima kenyataan yang terasa seperti alam mimpi. "Ini... Rupanya benar kemarin malam aku baru saja dibeli orang kaya, "
"Aku harus menetap disini selama satu tahun... Itu hanya sebentar, tak perlu takut Aluna, "
Entah mengapa ia yang berbicara seperti ini jadi sesak sendiri, ia tidak tau harus mengatakan dirinya beruntung atau sial—tapi jelas menikah dengan orang yang tak dikenal menjadikan dirinya sulit bernafas untuk sedetik saja.
Ia berjalan ke bed bench, jubah mandi mahal diletakkan diatasnya—tangan Aluna terulur mengangkat jubah mandi untuk melihat price tag dibelakang kerah, matanya terkejut setengah mati melihat harga yang akan mencekik leher siapapun dengan mudahnya.
"Siapa yang menaruh ini disini? Seingatku kemarin malam belum ada, apakah pembantu—dirasa harga jubah mandi ini sangat mahal... Pra—tesi... Tre Righe Robe... Astaga... Bahkan gajiku sebulan tak kan sebesar ini, ya Tuhan... Pria itu benar-benar sudah kelewatan... Dia benar-benar memanjakan siapapun yang dia rasa menarik untuknya, "
...****************...
Aluna kini nampak sudah sangat siap, walau hanya memakai pakaian miliknya yang lama—ia sedikit lesu kala gaya outfitnya dibanting oleh interior dan tampilan kamar yang ia tempati. Ia mengeluh pelan, 'Kalau ada ini saja apalagi yang akan aku pakai? Toh yang penting gak telanjang.... '
Sekarang dia sudah mantap dengan outfit kawasan slum miliknya, ia angguk kepala percaya diri. Dirinya menutup pelan pintu, menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati. Senantiasa dia mencoba mengingat jalan ke ruang makan—dengan bertanya ke beberapa pembantu, 25 meter
panjang lorong baru ia berhasil menemukan ruang makan berukuran 6 hingga 7 meter. Kali ini ia meneguk ludah, terpukul dengan interior minimalis yang dikemas dengan baik.
Saat masuk ke dalam, Aluna terkesiap dengan kolam renang diujung matanya, sudah lama ia tidak berenang sama sekali—ia terlalu sibuk bekerja hingga lupa menikmati hari dengan berliburan. Ia menunduk, melihat Arkan sudah duduk didepan meja makan menatap layar tablet tanpa mengalihkan pandangan. Disebelah tangan kirinya terdapat cangkir glasir halus, kilap elegan.
"Hanya diam disana? " lirik Arkan, pertama kali yang pria itu lihat adalah pakaian yang dikenakan perempuan itu. Ia sampai membungkam mulut tak percaya dengan apa yang ia lihat, 'Tidak mencerminkan kelayakan istri ku sama sekali... Tidak cocok, jelek! '
Daritadi ia merasa terus dipandang, Aluna hanya mengendikkan bahu merasa tak perlu mempermasalahkan. "Nanti ganti yang lain, kau mau ke sawah atau bagaimana? "
"Aku mau keluar pak, bukan mau ke sawah. "
"Siapa yang kau panggil pak? "
"Sekali lagi lihat kolam itu, mau saya jeburkan? "
Gluk— Aluna geleng kepala, kalau ia yang lompat sendiri dengan kehendaknya itu tak apa—tapi kalau harus dilempar, dia sudah menggigil sendiri.
"Maaf, aku tak tau harus memanggil kamu apa... "
"Terserah, jangan pak, paman, atau om. "
"Mas? " tanya Aluna hati-hati, tak ada tanggapan sama sekali. Artinya pria itu mau menerima panggilan seperti itu.Ia melangkah ke salah satu kursi, ia merapatkan duduk—didepan tersaji banyak sekali makanan, ia bingung sendiri mau ambil yang mana karena ini pertama kalinya ia sarapan dengan makanan yang jarang dia santap.
Makanan yang ada didepannya saat ini khas dengan gaya barat semua, dalam hati ia sudah mengoceh, 'Ini semua bagaimana makannya ya? Kalau aku makan tanpa tau aturan, aku malah dianggap memalukan tanpa penjelasan... '
"Silakan nona dimakan, " seru salah pembantu disampingnya. Aluna angguk kepala, menyendokkan saus tiram, kerang, bahkan lobster merah berukuran besar. Dari sisi ipad, Arkan memincing. "Ambil banyak memang kamu bisa makan semuanya? Kalau tidak habis, tak boleh keluar! "
"A—" Aluna melotot, dia memejamkan mata pelan. 'Aku pasti bisa... Menghabiskan semuanya... ' pikirnya sangat percaya diri.
40 menit kemudian...
"Kenapa berhenti? "
"Aku kenyang mas... " lirih Aluna, dia menepuk-nepuk perutnya sendiri—setelahnya bersendawa. Beberapa pembantu membisikinya dari belakang, "Lihat, itu yang pantas menjadi pendamping tuan Arkan... "
"Melihatnya aku sudah jijik sendiri. "
Ia terdiam, mengepal celana kotak-kotaknya erat. Dirinya memiliki telinga, tidak tuli—siapapun pasti yang disindir pasti panas dada sendiri.
Arkan melihat wanita itu diam saja, kepalanya tertunduk. 'Dari kemarin suka melamun terus, dasar wanita.'
"Kalau tak habis tinggalkan saja. "
"Tapi mas bilang—"
"Kau tau kalau saya hanya bercanda, lihat piring saya. "
Mata Aluna jatuh ke piring putih didepan kedua tangan Arkan yang masih tersisa setengah. "Selesai makan, ganti pakaianmu. Sudah saya bilang kemarin malam bukan, kini kau akan jadi istri dari seorang keluarga Seo! Jangan memalukan—"
"Ya aku paham. " potong Aluna cepat, ia akan disebut wanita yang bisa memalukan keluarga ini—ia tau, tak perlu dijelaskan. Di belakang dua pembantu nampak tertawa di belakang telapak tangan mereka, menertawainya.
Dentingan keras terdengar dari garpu dan sendok, dua pembantu di belakang sampai terkejut. "Kalian berdua pergi, ini urusan saya dengan calon istriku disini. Jangan beritahu apapun yang kalian dengar disini, atau kalian memang mau dipecat. Terserah!"
"Si—siap tuan! " keduanya segera ngibrit keluar lewat belakang dapur khusus para pelayan maupun pembantu.
Aluna meneguk ludah, entah mengapa perasaannya jadi rileks—pikirannya tenang. "Dengarkan, akan ada aturan tambahan di rumah ini. " tegas pria itu, menaruh ipad lalu kembali melempar selembar map yang terbawa angin—hingga akhirnya Aluna bisa menangkapnya dengan sempurna.
"Ada lagi mas? Bukannya kemarin sudah—"
"Baca dulu! Jangan banyak tanya, tau?! "
"I—iya mas. "
Aluna membaca poin aturan tambahan baru.
Syarat Kontrak—Revisi.
5. Seorang istri dilarang bekerja kembali di pekerjaan lamanya.
"Ini... Tidak—masuk akal... Walau aku tau kamu membiayai diriku disini mas, tapi aku juga belum ingin keluar dari pekerjaanku itu! "
"Sekali lagi, aku menolak ini! Aku tetap tidak mau memakai uangmu secara berlebihan, aku bisa membiayai diriku sendiri—dengan uangku, bukan dengan—"
Tiba-tiba Arkan berdiri, menghampirinya dan mencekik lehernya, jari-jarinya menekan sisi-sisi leher—tak peduli bila calon istrinya terluka. "Katakan sekali lagi, dirimu sudah mati. " bisik Arkan dengan nafasnya yang terlampau sangat panas.
Ia menitikkan mata seolah tak percaya, dirinya sangat lemah—hingga mencoba melawan saja tak bisa.
"Akh—uhuk! Uhuk! " setelah dilepaskan, kini Aluna bisa bernafas lega—ia memegang lehernya sendiri, matanya sudah berkaca-kaca saat ia mendongak ke atas.
Sekali lagi, pria itu selalu menguasai. Bahkan dengan mata emasnya, ekspresi yang tak bisa ditebak itu sungguh bisa membuat nyawa tak bersalah menghilang karena sikap egoisnya.
"Ma—maaf mas... Tak—kuulangi... "
"Bagus. Begitulah yang seharusnya dilakukan oleh calon istri Arkan Seo Dirgantara, istriku pasti tidak akan bekerja di tempat kumuh seperti itu. "
'Tempat kumuh? Bagiku kafe tempatku bekerja adalah tempat mahal dengan makanan yang juga tidak pas-pasan di dompet, dengan mudahnya mas Arkan berbicara seperti itu... '
Kepala Aluna tertunduk, ia mengepal tangan erat—kali ini menurutnya perkataan pria itu benar-benar sudah tidak disebut sopan sama sekali. Ia yang dulu pernah berdebat dengan temannya saat menjadi bagian dalam organisasi, tak merasa kalah—dia malah nambah keras kepala.
"Aku tau kamu kaya mas, kamu memiliki semuanya! Aku tau kalau kamu menginginkan istri yang pastinya tidak sepertiku, bekerja di tempat kumuh. Namun tolong, hargai sedikit pekerjaan orang lain... Mas tidak tau seberapa berharganya sisa uang 50 ribu di dompet mereka, mungkin bagi mas—ah hanya uang kecil di buang saja. Tapi bagiku—"
Aluna berdiri, keduanya saling berhadapan—tanpa rasa takut sama sekali wanita itu dengan lantang menunjukkan jidat lebarnya.
Melihat keberanian dari diri dalam wanita itu, Arkan sedikit menyipitkan mata—menghela nafas berat. "Baiklah, saya tau. Cepat duduk, " suruh pria itu sedikit kasar.
Wanita itu meneguk ludah, ia disuruh duduk kembali—dia baru sadar melawan orang yang tak boleh dia lawan sama sekali, Aluna menutup mata merutuki kecerobohannya. 'Apa yang kau lakukan Aluna... Kalau dia menambah aturan yang malah ngekang bagaimana... Habis diriku, '
Aluna yang duduk terkejut, karena pria itu menundukkan bahu—tangan kekarnya menimpa sandaran kursi empuk, suaranya terdengar keras dari dekat.
"Saya beri pilihan istimewa untukmu, kalau kau mau lanjut kuliah S2 atau kursus di tempat yang sudah saya berikan, saya akan mengampunimu. Namun sebagai seorang istri dari keluarga Seo—tak pantas bekerja di pekerjaan lamamu lagi... Sangat tak pantas, tawaran ini lebih menggiurkan bukan? "
Gluk—
Mendengar kata 'Kuliah' mata Aluna berkedip pelan, ia mendongak ke atas saat jarak beberapa cm hidung mereka sudah akan berdekatan. Kepala Aluna juga mundur kebelakang, memastikan pria itu tidak berbuat macam-macam.
"Ka—kalau itu... Aku, tak punya uang untuk membiayai—"
"Dasar bodoh! Kau itu paham tidak sih, tawaran ini bukan kau yang bayar! Kalau kau yang bayar jelas tak akan ada yang menawarimu! Mengerti?! "
Mendengar tegasannya, ia angguk kepala cepat seolah trauma bila terus dibentak-bentak.
Arkan kembali berdiri, kedua lengan terangkat ke atas—otot lengannya tegang karena menaruh tangan di belakang kursi.
Sambil berjalan, pria itu terus bicara. "Setiap bulan akan saya kasih 50 juta untuk membiayai pendidikanmu, kalau masih kurang bisa bicara pada saya. Lalu, black card yang kau bawa itu tidak ada limit sama sekali, jadi gunakan sepuasnya. "
Wanita itu yang sedang menyeruput kopi susu, langsung tersedak mendengar nominal yang begitu fantastis. "Uhuk! Uhuk! I—tu... Banyak sekali, aku bisanya pegang 10 juta saja maksimal, aku takut kalau dicuri. "
"Ya sudah kalau dicuri, tinggal curi saja. Kau bisa minta lagi pada saya kalau habis. "
Kini Aluna tak bisa menyeruput kopi susu dengan tenang, angka yang tak masuk akal itu benar-benar seolah membuatnya kapok. "Soal keluar dari pekerjaan lama sudah selesai, baca poin selanjutnya... "
Aluna menunduk, membuka lembaran yang terlipat. Saat akan ia baca dalam hati, pria itu malah menyuruhnya membaca dengan suara keras.
"Aturan ke 6. Setiap akhir pekan sang istri harus ikut dengan suaminya harus ikut ke acara makan malam keluarga besar SEO. "
Membacanya ia langsung menipiskan suara, seolah baru saja tertimpa batu besar—kini ada lagi yang harus ia hadapi, Keluarga Besar. Pastinya orang-orang kaya selalu mementingkan saudara yang lain, tak luput dari Keluarga SEO ini yang setiap akhir pekan mengadakan acara makan malam bersama.
Dirinya melihat wajahnya dari balik pantulan cermin, 'Seorang istri dari mas Arkan... Wajah dan rupanya tidak sejelek diriku... Bagaimana aku bisa menghadapi orang-orang kalau aku tidak bisa diandalkan... Kalau aku menolak, tidak—aku harus bertahan, hanya satu tahun. '
Diawali dengan tarikan nafas, hingga desahan pelan. "Baik mas, kalau yang ini... Akan aku usahakan. "
Arkan menaruh iPadnya didalam tas khusus, pria itu akan pergi berangkat kerja. "Kau tidak sendiri Aluna, saya sudah mengirim perancang busana. Untuk sikapmu agar sama seperti seorang bangsawan, saya juga sudah menyewa seorang guru etiket... "
Gluk—
'Sudah disiapkan rupanya... Lagi dan lagi aku tak tau semua ini, seolah aturan ini sudah ada sebelum aku dijual oleh ayah. '
"Te—ri—makasih... "
"Hm."
"Mereka akan melatihmu selama tiga hari kedepan, jaga sikapmu jangan sampai bertingkah konyol. "
"Mengerti? " tanya Arkan memastikan jawaban, wanita itu terpaksa angguk kepala.
Sebelum pergi, pria itu mendekat berbisik kecil. "Tutupi lehermu dengan perban, jangan beritahu kalau itu perbuatan saya. Itu akibatnya kalau kau berani melawan, "
Gluk!
'Sakit... '
Dari atas, kedua mata Arkan juga pastinya tak luput dari tangan yang meninggalkan jejak lebam merah dilehernya. Kali ini tangan hangat Arkan mengelus bagian lebam itu, Aluna merintih kesakitan.
"Dengar saya sekali lagi, kau hanya milikku. Dirimu sudah saya beli mahal, jadi diam saja jalang—bergerak sedikit tentu tau akibatnya kan? " lirih Arkan, berujar ringan, menjauhkan wajah—terlihat bibirnya membentuk sabit melengkung ke atas, terbentuk dari wajah rahang tegasnya.
Pria itu pergi tanpa rasa empati sama sekali, padahal disana kini tangan Aluna gemetar hebat—terpaksa menahan mulutnya agar tak merintih kesakitan.
Bersambung...