Shofiyya Mardhia, 30 tahun menikah dengan seorang pria yang ternyata telah menikah dan Memiliki 2 orang putra.
Syafiq Azwar Maliki, 28 tahun terpaksa menikah yang kedua atas keinginan istri pertamanya.
Nuha Syafura, 26 tahun terpaksa meminta dimadu karena sakit yang dideritanya.
Semua menjadi dilema saat Shofii mengetahui kebenaran setelah janji suci terucap.
Sanggupkah mereka terus harmonis?
Bagaimana ketiganya membawa hati yang ingin memiliki namun tak ingin menyakiti ...
Mampukah Syafiq adil, tak berpihak dan tak condong pada salah satunya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bubu.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Tiga
Langkah Shofi seketika berhenti. Jantungnya berdetak cepat. Bukan masalah Raihan yang mungkin akan menjadi masalah dalam hubungannya dengan Syafiq. Melainkan ia seketika terfikir Shofi kecil, ia merasa teriris membayangkan bocah sekecil itu sudah tak memiliki seorang i-bu.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Shofi terlihat biasa menjalani aktivitasnya tapi sesungguhnya batinnya terus bergemuruh. Otaknya tak henti memikirkan Shofi kecil.
Sudah 6 orang ia tangani, dilihatnya jam mendekati waktu makan siang. Seperti biasa melihat suasana yang agak senggang Karin menyelonong masuk ke ruangan Shofi. Dita yang sudah terbiasa melihat aktifitas tersebut menggelengkan kepalanya.
"Mbak ... ada gosip terbaru lagi!"
"Aku sedang bekerja, Rin!" lontar Shofi merapihkan alat yang sebelumnya ia gunakan.
"Panggil pasien selanjutnya, Dit!" Dita mengangguk dan segera keluar memanggil pasien sesuai dengan nama di map yang ia pegang.
"Mbak, dengar dulu!"
Shofi menatap Karin. "Oke ... katakan apa yang mau kamu sampaikan, dan keluarlah!"
Karin mendekat dan berbisik. "Pak Direktur ternyata ca-cat, Mbak!"
Shofi kembali terhenyak, "Jangan sembarangan bicara, Karin!"
"Informasinya akurat, Mbak. Aku dengar sendiri dokter Fandi di Poli Umum bicara. Pak Direktur kecelakaan dengan istrinya di Amerika, istrinya meninggal dan ia sendiri-----
"Kenapa di-a?" tanya Shofi dengan kondisi jantung tak terkendali terus memompa cepat hingga membuatnya sesak.
"Dia kehilangan sebelah tangannya hingga siku, terlindas Bus bertingkat! Kini ia memakai tangan palsu!"
Tubuh Shofi melemas, semarah apapun Shofi atas penghianatan Raihan. Nyatanya lelaki itu pernah mendiami hati dan tinggal bersamanya tak sebentar, 2 tahun. Shofi tak menyangka mengapa kemalangan bertubi menimpa Raihan. Ia ingin bertemu Raihan, sangat ingin memberi support pada lelaki itu!
"Dit, kamu gantikan aku dulu! Aku ada urusan!" Dengan langkah cepat Shofi melangkah meninggalkan ruang prakteknya. Otaknya dipenuhi Raihan, hatinya ingin membenarkan yang terjadi.
Beberapa saat sampailah Shofi di depan ruangan Raihan. Tanpa permisi dibukanya ruangan tertutup itu.
BRAK ....
"Hahh ... bodoh ...!" batin Shofi saat dilihatnya Raihan ternyata sedang berbincang dengan beberapa dokter bedah di dalam. Tak hanya Shofi, Raihan beserta para dokter di sana kaget. Seluruh mata memandang ke arah Shofi, Shofi tersenyum getir.
"Ada hal pentingkah, Bu Dokter?" ucap Raihan profesional.
"Ma-af ... sa-ya terburu-buru hingga sa-lah ruang-an, Pak!" dalih Shofi. Shofi keluar dengan rasa malu yang tak bisa dibendung. Ia duduk kini di kursi tunggu tak jauh dari ruangan Raihan.
Sepuluh menit berlalu, setelah menunggu dengan was-was akhirnya para dokter bedah meninggalkan ruangan Raihan. Melihat suasana sepi, Shofi menuju ruangan Raihan. Tak seperti sebelumnya, kini Shofi mengetuk pintu terlebih dahulu.
Tanpa jawaban, Raihan berdiri dan membuka pintu ruangannya, ia yakin Shofilah yang datang. Pintu terbuka .... Berbinar wajah Raihan sebab dugaannya tepat.
"Masuklah, Shof!" Shofi masuk mengikuti Raihan yang duduk di sofa.
"Hal apa yang membuatmu tergesa seperti tadi?" tanya Raihan setelah melihat Shofi duduk mengikutinya.
Shofi bergeming, matanya terus tertuju pada lengan kiri Raihan, setelah memastikan apa yang ingin ia ketahui, Shofi mengamati wajah Raihan sekilas dan membuang pandangnya ke arah lain dengan kegetiran.
"Kamu sudah mendengar gosip yang beredar rupanya!" ujar Raihan membaca wajah Shofi. Shofi bergeming.
"Jika kamu tak memiliki rasa apapun lagi padaku, mengapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Raihan.
"Bagaimana kejadiannya?" lontar Shofi tanpa menatap wajah Raihan.
Raihan menatap jam di lengan kanannya. "Saatnya makan siang, ayo makan bersamaku! Aku akan menjelaskan semua padamu!" Raihan berdiri mengambil kunci mobil di meja dan berdiri tepat di depan Shofi duduk. "Ayo!"
Walau hatinya ragu, Shofi berdiri. "Berjalanlah lebih dulu! Aku tidak mau ada gosip tentang kita!"
Raihan keluar ruangan, beberapa meter dari raga Raihan, Shofi mengikuti hingga keduanya menaiki sebuah Jeep. Pandangan Shofi tak terlepas pada lengan Raihan yang mengemudi dengan sebelah tangan, sedang 1 tangan lainnya menahan di tepi setir.
"Jangan menatapku seperti itu! Kamu tau aku bukan pria lemah!"
"Apa aku akan aman?" lontar Shofi meragukan Raihan. Raihan tersenyum.
"Aku tidak akan pernah menyakitimu, Shof! Setidaknya saatku sadar!"
"Pembohong!"
"Kesalahan dulu terjadi di luar kesadaranku! Sungguh!"
"Aku berada di sini bukan untuk membahas masa lalu! Aku hanya ingin tau apa yang menimpamu!" Shofi membuang wajahnya ke luar jendela.
Suasana hening, hingga Raihan memberhentikan jeepnya di depan sebuah restoran bergaya itali tempat mereka sering menghabiskan waktu dulu.
"Kenapa harus ke restoran ini?" lirih Shofi.
"Karena kita berdua suka tempat ini! Turunlah!" Mereka masuk setelahnya, Raihan terus berjalan naik ke lantai 2, hingga berhenti pada sepasang kursi di sudut.
"Aku tidak suka posisi ini, aku mau di sana!" Raihan mengikuti kemana Shofi melangkah. Ya, tempat yang sebelumnya Raihan pilih adalah tempat yang penu kenangan untuk mereka.
"Bagaimana semuanya terjadi?" tanya Shofi seketika saat raganya mendarat di kursi.
"Kita makan dulu!"
"Dua prime tenderloin steak dan dua orange jus!" lontar Raihan pada seorang pramusaji yang mendekat tanpa bertanya pada Shofi.
"Kamu terlalu percaya diri, Mas! Aku tidak suka steak lagi sekarang!"
"Menu yang tadi satu saja, Mbak! Ganti de-ngan ... rice with caramelized butter prawns dan strawberry smoothy!" ucap Shofi setelahnya menghadap sang pramusaji. Pramusaji mengangguk.
"Jangan menatapku seperti itu, Mas! Ingat, kita tidak memiliki hubungan lagi!" lugas Shofi.
"Netraku spontan melakukannya, ia mengenali sepasang netra yang menyamankannya dulu! Netraku rindu keteduhan matamu, Shof!"
"Aku akan pergi jika kamu terus berbicara hal semacam itu!"
"Oke! Oke ...! Duduklah, Shof! Ma-af ...!"
Tak berselang lama, hidangan tersaji, 2 insan mulai menyantap hidangan di hadapannya. Raihan tampak kesulitan memotong steak di piringnya. Shofi menarik hidangan Raihan ke depannya, memotong-motong steak milik Raihan dan mengembalikan ke hadapan Raihan kembali setelahnya. Raihan tersenyum.
Shofi tak ingin berlama, ia dengan lahap menyantap hidangannya. Ia tak sabar ingin mendengar cerita Raihan dan segera kembali ke Rumah Sakit.
Beberapa saat kemudian, hidangan Shofi habis, sebaliknya Raihan dengan santai masih menggigit potongan steaknya. "Mass ... bergegaslah! Aku belum menjalankan ibadah dan harus kembali melayani pasienku!"
"Tanyakan apa yang ingin kamu ketahui, Shof!" Raihan melontar kata sembari menyuap steak ke mulutnya.
"Kapan kejadian itu terjadi? Maksud-ku ... kecelakaan i-tu?"
"Satu tahun lalu, saat kami hendak menghadiri sebuah seminar kesehatan. Entah mengapa remku tak berfungsi hingga terjadilah kecelakaan mengenaskan i-tu," lirih Raihan menunduk setelahnya.
"Benarkah istri-mu mening-gal sa-at i-tu?" Raihan mengangguk.
"Ibu Shofi putriku meninggal ditempat, sedang aku seperti sekarang. Lenganku remuk dan harus diamputasi."
Jiwa kemanusiaan Shofi terketuk. Sesak menyelimuti membayangkan kejadian itu terjadi. "A-ku ber-duka atas kepergian istrimu, juga prihatin akan musibahmu!" Raihan tersenyum getir.
"Terima kasih, mungkin semua karma atas kesalahanku padamu di masa lalu." Raihan menatap Shofi.
"Jangan berasumsi akan kehendak Allah. Yakinlah semua pasti terbaik." Shofi menyesap minumannya mengalihkan tatapan Raihan.
"Ya, tentu."
Mereka berbincang serius tak menyadari sepasang mata memperhatikan keduanya. Seorang pria dengan jas cordorai coklat casual sedang meeting bersama bosnya. Ia tersenyum dan tampak terus menanggapi usulan-usulan sang atasan atas proyek barunya namun netranya sesekali melirik sang istri yang sedang makan siang bersama pria lain tanpa seizinnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
🐢Happy reading❤❤