Khayra Naffeza seorang gadis cantik yang harus rela mempertaruhkan hidupnya untuk membesarkan kedua anaknya memberikan mereka cinta dan kasih sayang orang tua.
namun suatu ketika anaknya bertanya " Apa kami punya papa ?" seketika hati Khayra sakit karena tidak tau harus menjawab apa karena dia tidak tau siapaayah kandung anaknya.
Arkana Khaleed seorang CEO muda yang tampan dan dingin Arkana tidak bisa melupakan seorang gadis yang dia temui 5 tahun lalu dan terus mencarinya hingga 5 tahun berlalu.
Apakah Khayra bisa berjumpa dengan ayah anaknya ?
Apakah Arkana bisa berjumpa gadis 5 tahun lalu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Charyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA KAMI PUNYA PAPA...
Masih dengan diselumuti emosi Mami Alin menjatuhkan tubuh nya kesofa, menghela nafasnya berat dan memijit keningnya seakan tenaganya terkuras habis.
Papi Ali dan Arka yang melihat pertikayan tadi sekarang keduanya menahan tawa mereka, sadar diketawain Mami Alin melototkan matanya menatap keduanya.
"Mmm.. apa kalian mentertawakan Mami ?." ucap Alin masih kesal.
Karena tidak tahan menahannya, kedua langsung tertawan dengan keras sampai menggema keseluruh rumah.
"HAAHHHAHAAHAHAH......" Tawa keduanya membuat Mami Alin terheran-heran melihat keduanya.
"Mami tadi hebat banget sampai-samapai wanita gila itu tidak berkutik, jadi makin sayang Arka sama mami." ucap Arka sambil memeluk Maminya itu dengan manja.
"Kamu benar Nak, Mami mu ini tidak ada yang bisa melawannya itu yang membuat Papi semakin hari semakin cinta." ucap Papi Ali sambil merangkul bahu istrinya.
" Alah dasar lelaki suka gombal, kalian berdua itu kenapa hanya menonton saja tadi ? apa kalian pikir sedang menonton telenopela."
"Bukannya kami tidak mau membantu sayang, akan lebih bagus kamu yang turun tangan akan lebih cepat dia pergi dari rumah ini." ucap Papi Ali sambil terus mengusap punggung istri.
"Iya lah itu, tapi mulai saat ini Mami tidak mau lagi melihat wanita itu datang kerumah kita dan kamu Arka jauh-jauh lah dari wanita itu Mami tidak suka dia selalu menempel kepada kamu."
" Baik lah Mami."
"Maaf kan Arka Mi, Arka belum bisa berjanji untuk menjauhinya karena Arka masih mau memanfaatkan wanita itu untuk kepentingan Arka." ucap Arka dalam hatinya.
…………………
Hari pun berganti sudah satu bulan Ghani dan Ghava bersekolah disekolahnya yang baru saat ini.
Banyak sekali ocehan-ocehan keduanya dengan sangat bersemangat menceritakan tentang kegiatan mereka disekolah.
Tapi sekarang berbeda entah kenapa Khayra melihat kedua anaknya sering termenung dan tidak seceria seperti hari sebelumnya.
Pernah suatu ketika niat ingin melihat anaknya dikamar untuk menyuruh mereka tidur karena hari sudah malam Khayra malah melihat keduanya saling berbicara tapi Khayra tidak mendengar obrolan keduanya.
Khayra melihat keduanya mengusap air mata mereka dan mereka saling perpelukan, saat Khayra bertanya mereka dengan tersenyum berkata tidak ada apa-apa dan Khayra pun tidak ambil pusing.
Semenjak saat itu Khayra melihat kedua anaknya tidak seceria seperti sebelumnya.
"Sayang... apa sudah selesai belajarnya ? ayo tidur ini sudah malam besok kalian harus sekolah bukan." ucap Khayra kepada keduanya saat melihat anaknya sudah selesai mengerjakan tugas sekolah mereka
"Baik Mama." ucap keduanya.
Ghani dan Ghava langsung naik keatas tempat tidur mereka Khayra yang melihat sikap anaknya yang berbeda menjadi khawatir.
"Sayangnya Mama ada apa hmm..."ucahap Khayra lembut sambil membelai rambut keduany.
"Tidak ada apa-apa Ma." ucap Ghani dengan wajah dinginnya.
"Oh ya, apa sekarang kalian main rahasi-rahasiaan pada Mama." ucap Khayra sedikit sedih.
Ghani dan Ghava yang melihat wajah Mama mereka bersedih keduanya bangun dan memeluk Ibu mereka itu.
"Maafkan kami Mama telah membuat mu bersedih." ucap keduanya
Khayra yang mendapat kan pelukan dan ucapan maaf dari anaknya tersenyum dan gemas melihat keduanya.
"Jadi cerita sama Mama ada apa dengan kalian. Mama melihat akhir-akhir ini wajah kalian selalu murung." ucap Khayra
Dengan sedikit menundukan kepala keduanya seperti menimbang-nimbang ingin berbicara tapi tidak bisa.
"Ghani, Ghava ." ucap Khayra yang masih menunggu jawaban dari kedua anaknya itu.
" Tapi Mama janji tidak akan bersedih," kuni Ghani yang membuka obrolan.
" Iya sayang Mama janji."
"Mmm.. Mama apa kami punya Papa." ucapan Ghani berhasil membuat tubuh Khayra lemas, jantung Khayra seakan berdebar lebih cepat dari biasanya.
Melihat mata kedua anaknya yang menantikan jawaban darinya membuat Khayra bingung harus menjawab apa.
Dia sendiri pun tidak tau siapa Ayah dari kedua anaknya itu.