Sebuah cerita tentang makhluk mitologi yaitu werewolf dan vampire, menyamar dan berbaur dengan manusia untuk menemukan putri yang hilang. Salah satu dari mereka ternyata adalah mate sang putri.
Namun setelah putri yang hilang ditemukan terjadi peperangan besar yang membunuh banyak vampire.
kisah ini menceritakan tentang dua golongan vampire dan juga dua golongan werewolf yang saling memperebutkan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putriifrhm, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Baik-baik saja
Alex tengah berjalan dengan tatapan dinginnya. Ia berniat untuk menyusul Jane dan yang lain, ia merasakan hal yang buruk. Entah karena instingnya sebagai kakak, atau karena hatinya yang masih mencintai Jane.
"Alex! Kau mau kemana?" seru Hilda.
Namun Alex tak menggubrisnya, ia malah berlari secepat kilat.
"Menyusul?" Hilda bertanya-tanya dalam hatinya. Karena ia hanya dapat mendengar kata menyusul dari pikiran Alex. Namun, tak butuh waktu lama untuk ia pahami maksudnya. Gadis bersurai hitam sebahu itu berlari mencari rajanya dan raja werewolf Rebloor ini.
Ia menemukan Thomas tengah berbicara pada salah satu warga di depan istana.
"Yang Mulia Thomas!" serunya.
Thomas menoleh sambil tersenyum tipis, "Ada apa, Hilda?"
"Alex menyusul Jane!"
Thomas meminta anak di hadapannya untuk kembali ke rumahnya.
"Kalau begitu, aku akan kesana untuk menyusul Alex."
"Apa kau sendirian Yang Mulia?"
"Tidak. Aku akan membawa sisa petarung di sini," Thomas pergi dari tempatnya dan menuju kamp pelatihan.
"Apa aku harus memberitahu raja Arnold? Ah, tidak! Jane pernah berkata, rencananya berbahaya untuk vampire. Tapi--ah. Aku tak akan memberitahunya,"
Tiba-tiba mata Hilda membelalak, ia menoleh ke dinding di sampingnya. Dengan cepat, ia menuju balik dinding. "Pangeran James! Jangan mencoba untuk menyusul Jane."
"Aku tak bisa diam saja, aku merasa sesuatu telah terjadi pada Jane."
.
"Aku serius. Aku tak tahan lagi," Leo terus mengeluh dengan tubuh gemetar karena menahan rasa buang air kecil.
Jane hanya menggeleng-geleng melihat kelakuan teman dari kecilnya itu.
BLAARR.
Suara ledakan dahsyat mampu mengguncang tanah yang mereka injak.
"Suaranya begitu dekat," ujar Jane pada Leo.
Ya, benar. Itu sebuah ledakan dari hantaman api hitam milik Alex dengan kekuatan supranatural milik Alice serta Kevin.
"Wah. Wah. Wah. Muncul secara tiba-tiba dan menyerang dengan seluruh kekuatan. Kau terlalu ceroboh untuk hal ini, Alex," suara Kevin begitu menggelegar hingga terdengar hampir di seluruh kerajaan.
Alex hanya menatap tajam Kevin dan saudara perempuan yang berdiri di sampingnya.
"Kevin, ia sangat kuat. Kita tak bisa mengalahkannya," Alice berbisik sepelan mungkin di telinga Kevin.
Alex tertawa nyaring, ia mampu mendengar suara bisikan Alice. Jangan lupa, selain api hitam, ia juga mampu mendengar suara sekecil apapun.
Namun Kevin tak menciut, ia malah menyeringai tajam tanpa rasa takut. "Alice, kau pasti melihat bagaimana akar-akarku bertebaran hingga mengurung adiknya di sana?"
Alex spontan menatap akar yang berbetuk setengah lingkaran di samping kanannya, namun ia segera kembali menatap Kevin.
"Alice, keluarkan seluruh kekuatanmu. Aku tahu, ia tak akan mampu menahannya."
Kevin dan Alice meluncurkan serangan dengan waktu bersamaan. Akar-akar yang mengurung Jane, Leo, dan pasukan mereka telah terbuka karena digunakan untuk menyerang Alex.
Alice sudah meluncurkan es berujung tajam yang siap menembus tubuh siapa saja yang mengenainya.
Alex mengeluarkan api hitamnya, namun ia berhenti sejenak setelah mengingat ledakan besar yang terjadi. Dan di dekatnya, terdapat seorang manusia lemah yang tak berdaya, tentu saja ia akan mati karena ledakan yang ditimbulkan.
Ia pun menarik nafas dalam-dalam, mata tajamnya menatap lurus. Akhirnya ia tau apa yang harus ia lakukan. Alex meluncurkan api hitamnya yang membuat aura di sekitarnya suram, namun bukan menuju Kevin dan Alice, tapi menuju perisai yang melindungi kerajaan vampire itu.
Dengan sekejap, perisai hancur dan berjatuhan kebawah.
Leo dengan sigap memeluk Jane, ia tak sempat berubah menjadi serigala. Namun tubuh kuatnya tetap mampu menahan puing-puing yang berjatuhan.
Dan serangan Kevin serta Alice?
Kedua kekuatan dahsyat itu telah mengenai Alex. Pria bermata tajam itu telah terkapar di tanah dengan lubang di dadanya.
Cahaya matahari siang yang menyengat itu membuat Alice dan Kevin mati terbakar.
Jane segera melepas pelukan Leo dan berhambur menghampiri Alex.
"Aleeexx!" serunya dengan air mata yang berlinangan. Ia segera melepas jaket yang ia kenakan untuk menutupi tubuh Alex yang tak terbalut kain agar tidak hangus. "Dasar bodoh! Kau begitu ceroboh, kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi pada dirimu," omel Jane dengan air mata berlinangan.
Sementara Leo berlari mencari semak-semak.
Alex hanya tersenyum lemah, "Aku hanya ingin kau hidup."
Jane terus menangis, "Aku ingin hidup bersamamu! Aku tak ingin hidup sendiri!"
"Jane, setidaknya aku bisa menyelamatkanmu. Coba kau pikir, bagaimana perasaan Leo dan yang lain saat kau tiada--"
"Lalu apa kau tak memikirkan bagaimana perasaanku saat aku kehilangan orang yang paling aku cintai di dunia? Jujur saja, aku masih mencintaimu, sangat mencintaimu! Kau egois Alex! Egois!"
"Kenakan Jaketmu Jane, di sini sangat dingin. Lagi pula aku akan mati."
"TIDAK!" Jane panik dengan keadaan Alex, ia bingung harus melakukan apa. Ia memang tau ilmu kedokteran, tapi ini berbeda. Alex itu vampire, bukanlah manusia.
Jane berusaha membopong tubuh kekar Alex. Tentu saja tubuh perempuannya tak cukup kuat untuk melakukannya. Namun ia tak menyerah, ia mengeluarkan seluruh kekuatannya. Ia membawa Alex menuju hutan agar cahaya matahari tak melukainya.
Leo menatap semua anak buahnya dengan geram, "Kalian ini--apa yang kalian lakukan?!!! Bantu Jane sekarang!" ia segera berlari menghampiri Jane yang sudah sampai di hutan. Ia menggendong Alex di pundaknya dan berlari menuju istana.
Jane duduk lemas dengan air mata berlinangan, "Alex, aku mencintaimu," ia menangis terseda-sedu. Suaranya pun begitu nyaring, ia tak akan sanggup jika harus kehilangan Alex.
"Nona Jane, mari kembali ke kerajaan," salah seorang anak buah Leo jongkok di samping Jane, ia langsung menggendong Jane ala bridal style. "Maaf nona Jane, jika saya lancang."
Jane tak bergerak, hanya air mata yang menjelaskan keadaannya sekarang. Namun, ia segera tak sadarkan diri.
James yang baru datang langsung mengambil alih Jane.
.
.
.
.
.
.
.
Di kamarnya, Jane mengerjap-enjapkan matanya. Tiba-tiba ia tersenyum, di sampingnya, Leo keheranan menatap Jane yang baru sadar dan langsung tersenyum.
"Jane? Apa kau baik-baik saja?" tanya Leo.
Jane masih tersenyum, "Aku sangat baik-baik saja. Aku bersyukur Alex sekarat hanya di dalam mimpiku," jawabnya.
Leo yang mendengar jawaban dari Jane tak tahu harus berkata apa lagi. Ia menganggap kematian Alex hanya bunga tidurnya. Leo hendak mengingatkan tentang hal yang sebenarnya terjadi, namun ia mengurungkan niatnya.
"Dimana Alex?"
Glek.
Leo meneguk salivanya dengan berat, "A--dia sedang ada urusan, entah dimana."
"Leo. Kau berbohong," Jane mulai sadar dengan apa yang terjadi, karena ia seharunya berada di kerajaannya, bukan di kerajaan Abloor. "Apa yang terjadi pada Alex? Apa dia masih hidup?"
Leo membuang wajahnya dari Jane, ia tak sanggup harus menceritakan hal yang sebenarnya telah terjadi.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Jane lagi.
"Alex sekarang sangat baik-baik saja, " jawab Leo.
Jane menghembuskan nafas lega, "Syukurlah, sekarang dia ada di mana?"
"Aku tak bisa memberitahunya karena suatu hal."