NovelToon NovelToon
Putri Kesayangan Raja Iblis

Putri Kesayangan Raja Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Iblis / Fantasi Wanita / Menjadi bayi
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Enzelynn

Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagu dari Masa Depan

Retakan pada lambang Raja Iblis tidak terlihat dari kamar Aelora.

Namun seluruh istana merasakannya.

Lampu rune berkedip tanpa pola. Bayangan para pelayan terlambat mengikuti tubuh mereka, hanya sepersekian detik, tetapi cukup membuat siapa pun yang melihatnya berhenti berjalan. Tiga lonceng di menara utara berbunyi sendiri meski tali penariknya masih tergantung tanpa bergerak.

Api di perapian kamar Aelora berubah biru.

Nira duduk bersila di atas karpet, memandangi nyala itu sambil mengunyah ujung kepang rambutnya.

“Apakah api biasanya begitu?”

Ryn berdiri di dekat jendela. Tirai dibuka sedikit agar ia dapat melihat halaman dalam yang dipenuhi penjaga.

“Tidak.”

“Apakah kita harus panik?”

“Tidak.”

Nira menoleh kepadanya. “Kau yakin?”

“Tidak.”

Nira langsung bangkit. “Aku akan memanggil Eirna.”

“Jangan.”

Suara Aelora datang dari bawah selimut.

Tubuhnya terasa panas lagi setelah ujian darah. Setiap beberapa detik, cahaya tipis muncul di antara helai rambut putihnya, lalu padam seperti kunang-kunang. Eirna sudah menyuruhnya tidur. Kael juga menyuruhnya tidur.

Semua orang seolah percaya tidur dapat memperbaiki darah kuno, gerbang, dan dewan yang ingin mengambil mahkota.

“Aku baik-baik saja,” katanya.

Nira menunjuk kepalanya. “Kau berkilau.”

“Itu bukan penyakit.”

“Anak sehat biasanya tidak menyala seperti lampu lorong.”

“Aku tidak seterang lampu lorong.”

Ryn menoleh dari jendela. “Aku akan memanggil Eirna.”

“Jangan!”

Suara Aelora keluar terlalu keras.

Cahaya kecil meledak dari bantal. Jahitan kain terbuka, membuat bulu-bulu putih beterbangan memenuhi kamar.

Nira mendongak.

“Sekarang bantalmu ikut berkilau.”

Aelora menjatuhkan kepala ke kasur.

“Aku cuma ingin satu malam tanpa ditusuk, diperiksa, dikunci, atau ditanya apakah darahku akan menghancurkan dunia.”

Ryn tidak jadi berjalan ke pintu.

Nira perlahan duduk kembali. Ia menangkap sehelai bulu yang melayang, lalu berusaha memasukkannya lagi ke lubang bantal. Bulu itu keluar dari sisi lain.

Untuk beberapa saat, mereka tidak mengatakan apa-apa.

Keheningan terasa aneh karena Nira biasanya tidak mampu diam lebih lama daripada waktu yang diperlukan untuk menarik napas.

Ryn menarik sebuah kursi ke sisi ranjang.

“Dewan sedang membicarakan Kael.”

Aelora membuka selimut sampai dagunya terlihat.

“Dari mana kau tahu?”

“Ayah dipanggil ke ruang sidang.”

“Kael juga?”

“Belum saat aku pergi. Tapi kalau tujuh kepala klan berkumpul tanpa raja, biasanya mereka tidak sedang menyiapkan hadiah.”

Aelora memandang api biru.

Kael membakar tuntutan Dewan Bulan di depan mereka. Ia menghapus pemeriksaan darah untuk semua anak di Nocthara. Ia melanggar hukum yang sudah berdiri selama ratusan tahun.

Itu keputusan yang benar.

Namun keputusan yang benar tidak selalu membuat orang dewasa berhenti marah.

“Aku membuat masalah,” bisiknya.

Nira segera berhenti bermain dengan bulu bantal.

“Tidak.”

“Kalau aku tidak datang, Kael tidak akan melanggar Piagam Bulan.”

“Kalau kau tidak datang, hukum buruk itu masih dipakai.”

“Tapi mahkotanya bisa diambil.”

Ryn menyandarkan punggung pada kursi. “Kael pernah menghancurkan pasukan yang jumlahnya tiga kali tentara istana. Dewan tidak akan mudah mengambil apa pun darinya.”

“Mudah atau tidak, mereka akan mencoba.”

Ryn tidak menjawab.

Itulah masalahnya.

Aelora memejamkan mata.

Dalam masa depan yang lama, para bangsawan Nocthara pernah memberontak setelah Kael menolak menyerahkannya kepada Pengadilan Darah. Saat itu Aelora berusia dua belas tahun. Ingatannya kabur, tetapi ia masih melihat api memenuhi aula dan mendengar orang-orang menyebut Kael pengkhianat garis darah.

Kejadian itu seharusnya masih bertahun-tahun lagi.

Sekarang semuanya bergerak lebih cepat.

Daren hidup.

Ryn selamat dari kutukan.

Aelora diterima sebagai anak Kael.

Sebagai gantinya, mahkota mulai retak lebih awal.

Mungkin masa depan selalu menuntut bayaran. Setiap nyawa yang berhasil ia selamatkan membuat tragedi lain berjalan lebih dekat.

“Aelora?”

Nira menarik ujung selimut.

“Kau menangis?”

Aelora membuka mata. Pipinya memang basah.

“Tidak.”

“Itu air mata.”

“Mungkin atapnya bocor.”

“Kita ada di dalam menara.”

“Menara juga bisa bocor.”

Ryn mengembuskan napas panjang.

“Aku akan mencari Kael.”

Aelora langsung duduk. Dunia sedikit bergoyang, tetapi ia berpura-pura tidak merasakannya.

“Jangan.”

“Kenapa?”

“Kalau dia tahu aku belum tidur, dia akan memanggil Eirna.”

“Jadi kau lebih suka menangis diam-diam sampai bantalmu terbakar?”

“Aku tidak membakar bantal.”

Bantal di belakang Aelora mengeluarkan asap tipis.

Nira menunjuk tanpa berkata-kata.

Aelora buru-buru menepuknya. Cahaya padam, meninggalkan lubang sebesar ibu jari.

Ryn bangkit.

“Aku memanggil Kael.”

Ia baru mencapai pintu ketika gagangnya berputar dari luar.

Kael berdiri di ambang.

Ryn mundur satu langkah.

Nira langsung berjongkok dan pura-pura merapikan karpet yang sama sekali tidak kusut.

Aelora menjatuhkan tubuh ke kasur, menarik selimut sampai bahu, lalu menutup mata.

Kael memandangi keadaan kamar.

Api biru.

Bulu-bulu bantal melayang.

Ryn berdiri terlalu tegak.

Nira mengusap bagian karpet yang sama berulang kali.

Aelora berbaring dengan selimut terbalik dan satu kaki masih berada di luar.

“Keluar,” kata Kael kepada Nira dan Ryn.

Nira mengangkat tangan. “Yang Mulia, sebelum kami pergi, harus dijelaskan bahwa tidak ada seorang pun yang membakar—”

“Keluar.”

Nira segera menarik lengan Ryn.

Sebelum pintu tertutup, ia sempat berbisik, “Cara berpura-pura tidurmu buruk sekali.”

Aelora tetap menutup mata.

Langkah Kael mendekat. Kasur turun sedikit ketika ia duduk di tepinya.

“Aelora.”

Tidak ada jawaban.

“Aku tahu kau belum tidur.”

Aelora mengatur napasnya agar lebih teratur.

Kael menempelkan telapak tangan ke dahinya.

Tangannya dingin dan nyaman. Aelora hampir menyandarkan kepala ke sentuhan itu, tetapi segera teringat bahwa ia sedang berpura-pura tidur.

“Demammu naik,” kata Kael.

“Aku sedang tidur,” gumamnya.

“Anak yang tidur tidak menjawab.”

“Aku mengigau.”

“Dengan jawaban yang sangat tepat.”

Aelora membuka mata.

Kael masih mengenakan pakaian sidang. Mantel hitamnya belum dilepas dan kerahnya terbuka sebelah, sesuatu yang biasanya tidak akan dibiarkan Orin. Mahkota bayangan tidak terlihat di kepalanya.

Sebagai gantinya, ada garis hitam tipis di pelipis kirinya.

Retakan itu menyusup ke bawah kulit.

Aelora duduk perlahan.

“Apa yang terjadi di dewan?”

“Tidak ada yang perlu kaupikirkan malam ini.”

“Itu jawaban buruk.”

“Dewan mempertanyakan dekretku.”

“Mereka mau mengambil mahkotamu?”

“Mereka bisa mencoba.”

Kael mengucapkannya dengan tenang, tetapi jemarinya mencengkeram tepi kasur. Kukunya berubah sedikit lebih hitam.

“Aku akan bicara kepada mereka,” kata Aelora.

“Tidak.”

“Aku bisa menjelaskan bahwa aku sendiri yang setuju mengikuti ujian.”

“Tidak.”

“Aku bisa mengatakan kau hanya menghentikannya karena mereka meminta—”

“Tidak ada keadaan yang membuatmu harus berdiri di depan tujuh kepala klan dan membela hakmu agar tidak disakiti.”

Aelora menunduk.

“Kalau mereka menggulingkanmu?”

“Mereka tidak akan melakukannya malam ini.”

“Besok?”

“Aelora.”

“Lusa?”

Kael menghela napas. “Kau seharusnya memikirkan obatmu, bukan takhtaku.”

“Obatku berada di tempat musuh.”

“Dan aku sedang mencari cara mengambilnya.”

“Seraphiel sudah memperingatkan kita agar tidak pergi ke Katedral Fajar.”

“Daren mendengar peringatan dari seseorang yang mengaku Seraphiel.”

“Dia memang Seraphiel.”

“Kau belum tahu.”

“Tapi kau tahu.”

Kael memandangnya.

Aelora tidak mengalihkan mata.

“Ketika cermin menunjukkan lelaki yang dirantai, kau mengenalinya.”

“Aku mengenali lambangnya.”

“Bukan cuma itu.”

Kael diam cukup lama hingga api biru di perapian mengeluarkan bunyi kecil.

Aelora menarik lutut ke dada.

“Dia ayah kandungku, bukan?”

“Ya.”

Jawaban itu akhirnya datang.

Tanpa penjelasan panjang. Tanpa kalimat yang meminta Aelora menunggu sampai lebih dewasa.

Hanya satu kata yang membuat dadanya terasa kosong dan penuh bersamaan.

“Kenapa dia dirantai?”

“Aku tidak mengetahui seluruhnya.”

“Apakah dia meninggalkan Ibu?”

“Tidak sesederhana itu.”

“Kenapa semua masalah orang dewasa selalu tidak sederhana?”

“Karena orang dewasa sangat pandai membuat kesalahan yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk diperbaiki.”

Aelora hampir tertawa, tetapi tenggorokannya terlalu sesak.

“Apakah kau membencinya?”

Kael memandang api di perapian.

“Pernah.”

“Sekarang?”

“Aku belum memutuskan.”

“Karena dia ayahku?”

“Karena mungkin dia masih hidup.”

Aelora memikirkan jawaban itu.

“Kalau dia mati, akan lebih mudah membencinya?”

“Orang mati tidak bisa menjelaskan kesalahannya.”

“Apa kesalahannya?”

Kael menatapnya lagi.

“Membiarkan Mirael sendirian terlalu lama.”

“Lalu kesalahanmu?”

Pertanyaan itu keluar sebelum Aelora sempat mempertimbangkannya.

Wajah Kael mengeras.

Ia berdiri dan berjalan ke jendela. Tirai dibuka sedikit. Cahaya bulan merah menyentuh sisi wajahnya dan membuat retakan di pelipis tampak semakin jelas.

“Aku mempercayai rencana Mirael,” katanya. “Padahal seharusnya aku menghentikannya.”

“Rencana apa?”

“Menyembunyikanmu di Asteria.”

Aelora membeku.

“Apa?”

Kael tetap menghadap jendela.

“Mirael yakin tempat teraman adalah wilayah yang tidak akan dicari Elyrion. Dia memilih keluarga penyihir kecil di Asteria. Mereka berjanji menjagamu sampai jalan menuju Nocthara aman.”

“Tapi mereka membuangku.”

“Ya.”

“Kau tahu aku ada di sana?”

“Aku tahu tempat awalmu disembunyikan. Setelah beberapa bulan, keluarga itu menghilang. Semua jejakmu ikut hilang.”

Aelora turun dari ranjang. Kakinya menyentuh lantai yang dingin.

“Berapa lama kau mencariku?”

“Tujuh tahun.”

“Sejak aku lahir?”

“Sejak malam Mirael tidak kembali.”

Aelora menatap punggungnya.

Selama bertahun-tahun di Asteria, ia percaya tidak seorang pun mencarinya. Tidak ada yang menyadari ketika ia dikurung di ruang bawah tanah, dipaksa berlutut berjam-jam, atau tidak diberi makan karena dianggap membawa sial.

Ia mengira ibunya telah meninggalkannya.

Mengira dunia bahkan tidak akan menyadari bila dirinya hilang.

Namun Kael mencari.

Terlambat.

Gagal menemukannya selama bertahun-tahun.

Namun tetap mencari.

“Kenapa kau menemukan aku tepat pada hari mereka membuangku?”

Kael berbalik.

“Gelang Mirael aktif.”

Aelora menyentuh gelang perak di pergelangan tangannya.

“Jadi kau datang karena gelang?”

“Aku datang karena selama tujuh tahun aku menunggu benda itu memberi tanda.”

Air mata kembali memenuhi mata Aelora.

Ia kesal kepada tubuh kecilnya. Pada usia tujuh belas, ia dapat menahan tangis sampai sendirian. Sekarang perasaannya selalu keluar sebelum mendapat izin.

Kael mendekat.

“Aku seharusnya menemukanmu lebih cepat.”

“Itu bukan kesalahanmu.”

“Aku punya pasukan, mata-mata, dan sihir yang bisa menjangkau hampir seluruh Nocthara. Tapi kau tetap tumbuh di tempat yang menyakitimu.”

“Kau tidak bisa menyelamatkan semua orang.”

Kael menatapnya. “Kalimat itu terdengar aneh darimu.”

“Aku sedang belajar.”

Ia mengangkat tangan dan menyentuh retakan di pelipis Kael.

Kulit di sekitarnya terasa dingin, tetapi bagian tengah retakan sangat panas.

“Ini karena mahkota?”

“Sedikit.”

“Sedikit biasanya berarti buruk.”

“Tidak selalu.”

“Eirna harus melihatnya.”

“Eirna akan menyuruhku beristirahat.”

“Bagus.”

“Aku tidak punya waktu.”

Aelora menyipitkan mata. “Kau terdengar seperti aku.”

Kael terdiam.

“Dan kau selalu marah kalau aku bilang tidak punya waktu.”

“Keadaannya berbeda.”

“Kenapa?”

“Karena aku lebih tua.”

“Itu alasan orang dewasa saat tidak punya jawaban.”

Sudut mulut Kael hampir terangkat.

Namun retakan di pelipisnya mendadak menyala merah.

Tubuhnya goyah.

Aelora segera menangkap lengannya, meskipun tubuh kecilnya tidak akan mampu menahan Kael kalau benar-benar jatuh.

“Ayah?”

“Aku baik-baik saja.”

“Kau hampir jatuh.”

“Lantainya miring.”

Aelora menatapnya.

Kael menatap balik.

Untuk pertama kalinya, Aelora tahu dari siapa ia mendapatkan alasan buruk mengenai lantai.

Kael akhirnya duduk di lantai, menyandarkan punggung pada sisi ranjang.

“Aku hanya perlu menunggu bayanganku stabil.”

Aelora duduk di sebelahnya.

Untuk beberapa saat, mereka tidak berbicara.

Api biru mengecil. Di luar jendela, angin malam menggesek dinding menara dengan suara panjang. Di sudut kamar, Milo tidur dalam keranjang berlapis kain. Separuh ekornya masih transparan, tetapi tubuhnya sudah tidak terus-menerus berubah menjadi asap.

Kael memejamkan mata.

Wajahnya terlihat sangat lelah.

Dalam masa depan lama, ia juga sering duduk seperti itu setelah pertempuran. Punggung bersandar pada dinding, kepala tertunduk, tangan masih menggenggam pedang meski semua musuh telah pergi.

Aelora yang lebih tua biasanya duduk di sebelahnya.

Kadang-kadang Kael menyanyikan sebuah lagu.

Suaranya rendah, serak, dan sering keluar dari nada. Namun lagu itu membuat malam perang terasa lebih pendek. Aelora tidak ingat kapan pertama kali mendengarnya.

Ia hanya mengingat Kael menyanyikannya pada malam sebelum kematiannya.

Saat meminta Aelora tidur.

Saat berjanji akan kembali.

Tanpa sadar, Aelora mulai bersenandung.

Nada pertama keluar sangat pelan.

Kael membuka mata.

Aelora belum menyadarinya. Ia menyanyikan bagian yang masih tersimpan di antara pecahan ingatannya.

“Tidurlah, bintang kecilku,

malam menjaga pintumu.

Saat dunia kehilangan cahaya,

bayanganku pulang kepadamu…”

Kael menegakkan tubuh.

Aelora berhenti.

“Kenapa?”

“Dari mana kau mengetahui lagu itu?”

Wajah Kael berubah.

Bukan sekadar terkejut.

Takut.

“Aku pernah mendengarnya.”

“Di mana?”

Aelora tidak dapat mengatakan bahwa Kael menyanyikannya ketika mereka dikelilingi medan perang. Tidak setelah baru saja mengetahui bahwa lelaki itu sudah menduga ingatannya berasal dari masa depan.

“Dalam mimpi.”

Kael berdiri terlalu cepat. Retakan di pelipisnya kembali menyala, tetapi ia tidak memedulikannya.

“Nyanyikan bagian berikutnya.”

“Aku tidak ingat semuanya.”

“Bagian yang kauingat.”

Nada suaranya membuat Aelora menurut.

Ia menarik napas.

“Jika fajar tak lagi datang,

jangan takut pada gelap.

Sebab cinta yang kehilangan nama,

tetap menemukan jalan pulang…”

Kael menatapnya tanpa berkedip.

Aelora menurunkan tangan.

“Ayah?”

“Siapa yang menyanyikannya dalam mimpimu?”

“Kau.”

Jawaban itu keluar jujur.

Kael mundur satu langkah.

“Aku tidak pernah menyanyikan lagu itu kepadamu.”

“Belum.”

Kata itu membuat ruangan seolah membeku.

Kael mengerti.

Dalam kehidupan lain, pada masa depan lain, ia pernah menyanyikan lagu tersebut. Aelora melihat kesadaran itu muncul perlahan pada wajahnya.

“Kau menyanyikannya saat aku tidak bisa tidur,” kata Aelora. “Kadang setelah perang. Kadang ketika aku sakit.”

Kael memandang api.

“Tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Aku tidak pernah menyanyikan lagu itu sejak kecil.”

Aelora menegang. “Kau mengenalnya?”

Kael kembali duduk, kali ini lebih perlahan.

“Ibuku yang menyanyikannya.”

“Ratu Nocthara?”

Ia mengangguk.

“Setiap malam ketika aku masih kecil. Sampai sebelum dia meninggal.”

“Bagaimana dia meninggal?”

“Dewan mengatakan penyakit bayangan.”

“Dan kau percaya?”

“Dulu.”

Api di perapian mendadak padam.

Kamar menjadi gelap. Hanya gelang Aelora dan retakan di pelipis Kael yang memberikan sedikit cahaya.

“Lagu itu tidak pernah ditulis,” lanjut Kael. “Ibuku tidak menyanyikannya di depan orang lain. Hanya kami berdua yang tahu.”

“Lalu bagaimana aku bisa mengetahuinya?”

Kael melihat keranjang Milo.

Lambang mahkota hitam pada dahi kucing itu terlihat samar dalam gelap.

“Milo membawa pecahan ingatan masa depan. Mungkin lagu itu berasal dariku di sana.”

“Tapi dari mana dirimu di masa depan mengingatnya?”

“Aku tidak tahu.”

Aelora memeluk lutut.

Setelah beberapa saat, Kael menyanyikan bagian berikutnya.

Suaranya rendah.

Dan ternyata jauh lebih buruk daripada ingatan Aelora.

“Ketika bulan jatuh terluka,

dan mahkota pecah di tanah,

panggil namaku dalam sunyi,

aku akan menjawab dari bayang…”

Aelora menahan napas.

Ia belum pernah mendengar bait itu.

Kael berhenti.

“Apa lanjutannya?”

“Tidak ada.”

“Kau bohong.”

Kael menatap lantai. “Ibuku selalu berhenti di bagian tersebut.”

“Kenapa?”

“Aku tidak pernah bertanya.”

Bayangan Kael bergerak.

Bukan mengikuti tubuhnya.

Bentuk hitam di lantai mengangkat kepala sendiri, lalu memanjang ke dinding. Dari sana muncul siluet seorang perempuan tinggi dengan mahkota bercabang dan tanduk yang menyerupai tanduk Kael.

Suara perempuan keluar dari bayangan.

“Karena bait terakhir bukan lagu pengantar tidur.”

Kael bangkit dan menarik Aelora ke belakangnya.

Bayangannya tetap melekat pada dinding, membentuk tubuh perempuan bergaun panjang. Wajahnya kabur, tetapi Aelora dapat melihat mata merah redup di balik kegelapan.

Kael menatap sosok itu.

“Ibu?”

Perempuan bermahkota mengangkat tangan.

Pada telapak tangannya terdapat lambang matahari yang tenggelam ke dalam bulan.

Lambang Solumbra.

Lambang yang sama dengan milik Aelora.

“Bait terakhir adalah peringatan,” katanya.

Dinding kamar bergetar.

Tulisan hitam merambat di atas batu seperti akar yang muncul dari dalam. Huruf-hurufnya tersusun menjadi baris terakhir lagu.

Aelora membacanya pelan.

“Jika anak fajar menyanyikan lagu malam, darah raja akan membuka makam.”

Lantai di bawah kaki Kael retak.

Aelora mundur. Ranjang bergeser saat garis retakan memanjang dari perapian sampai ke tengah kamar. Batu-batu lantai turun, lalu terpisah ke kedua sisi.

Sebuah tangga muncul di bawahnya.

Anak tangga itu turun menuju kegelapan yang tidak pernah tercatat dalam peta Istana Bulan Merah.

Udara dingin mengembus dari kedalaman. Baunya seperti tanah basah, besi tua, dan bunga malam yang telah lama membusuk.

Sosok perempuan di dinding mulai menghilang.

Kael melangkah mendekat.

“Tunggu.”

Suara itu terdengar untuk terakhir kalinya.

“Datanglah, putraku.”

Bayangan perempuan tersebut menatap Aelora sebelum lenyap sepenuhnya.

“Sudah waktunya kau mengetahui siapa yang membunuh ibumu.”

1
Carina Yuda
Okee kak. Udah update yaaa
Septriani Margaret
lanjutannya kk
Carina Yuda: Okee kk. Sudah update yaa
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!