Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 - Pertemuan Dua Raja Mafia
Iring-iringan mobil hitam melaju membelah jalan raya menuju kawasan bisnis yang dikuasai keluarga De Luca.
Di dalam mobil utama, Raven duduk dengan tenang sambil menatap keluar jendela. Wajahnya tetap datar, tetapi Leo yang duduk di sampingnya tahu bahwa atasannya sedang menahan amarah.
"Tuan," ujar Leo pelan. "Kita masih bisa membatalkan pertemuan ini."
Raven menggeleng.
"Kalau aku mundur sekarang, Vittorio akan menganggap keluarga Alvaro mulai lemah."
"Itu jebakan."
"Aku tahu."
"Kalau begitu kenapa tetap datang?"
Raven menatap Leo.
"Kadang seekor singa harus masuk ke wilayah pemburu agar tahu siapa yang benar-benar memegang senapan."
Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gedung megah berlapis kaca hitam.
Puluhan pria bersenjata telah berjaga di pintu masuk.
Begitu Raven turun dari mobil, semua mata langsung tertuju kepadanya.
Tak ada rasa takut sedikit pun di wajah sang Don.
Ia melangkah masuk dengan kepala tegak.
Di lantai paling atas, Vittorio De Luca telah menunggu di ruang pertemuan.
Pria berusia lima puluh lima tahun itu duduk santai sambil menikmati segelas anggur merah.
"Selamat datang, Raven."
"Aku datang bukan untuk minum."
Vittorio tersenyum tipis.
"Aku tahu."
"Kau menyerang gudangku."
"Itu hanya hadiah kecil."
Raven menarik kursi dan duduk tepat di hadapan musuhnya.
Suasana menjadi sangat sunyi.
Dua bos mafia paling berkuasa di kota itu kini saling menatap tanpa berkedip.
"Katakan tujuanmu," ujar Raven.
Vittorio menyandarkan tubuhnya.
"Serahkan seluruh wilayah pelabuhan kepadaku."
"Tidak."
"Kalau begitu perang akan terus berlanjut."
Raven tertawa pelan.
"Tidak perlu menunggu. Perang sudah dimulai saat kau menyentuh keluargaku."
Mendengar kata keluarga, senyum Vittorio menghilang.
"Ayah angkatmu terlalu lemah."
Kalimat itu membuat Leo langsung menggenggam pistol.
Namun Raven mengangkat tangan, memberi isyarat agar Leo tetap tenang.
"Jaga ucapanmu."
"Kalau tidak?"
Raven berdiri.
"Aku akan membuatmu menyesali setiap napas yang masih kau miliki."
Tatapan keduanya dipenuhi kebencian yang telah terkumpul selama puluhan tahun.
Tiba-tiba Vittorio tertawa keras.
"Masih sama seperti dulu."
"Apa maksudmu?"
"Kau benar-benar tidak tahu siapa pembunuh keluargamu."
Raven membeku sesaat.
Ucapan itu menghantam pikirannya.
"Kau tahu sesuatu?"
Vittorio tidak menjawab.
Ia hanya melempar sebuah amplop ke atas meja.
"Buka."
Raven mengambil amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat sebuah foto lama yang mulai pudar.
Mata Raven langsung membelalak.
Di foto itu terlihat Matteo Alvaro berdiri bersama seorang pria yang mengenakan cincin bergambar ular.
Pria yang sama seperti simbol milik keluarga De Luca.
"Mustahil..."
Vittorio tersenyum puas melihat reaksi Raven.
"Dunia tidak sesederhana yang kau pikirkan."
"Sebelum menjadi musuh..."
"...kami pernah menjadi saudara."
Raven mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.
"Berbohong."
"Apa menurutmu aku repot-repot memalsukan foto itu?"
Raven tidak menjawab.
Pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan.
Jika Vittorio berkata jujur, berarti ada bagian dari masa lalu yang selama ini disembunyikan Matteo.
Pertemuan itu berakhir tanpa kesepakatan.
Saat Raven dan Leo meninggalkan gedung, hujan mulai turun dengan deras.
Leo menatap atasannya.
"Apakah Anda percaya ucapannya?"
Raven menggenggam foto itu erat.
"Aku tidak tahu."
"Tapi aku akan mencari jawabannya."
Di mansion Alvaro...
Aurora berjalan mondar-mandir sejak sore.
Entah mengapa, ia terus merasa gelisah.
Bianca yang baru datang memperhatikan tingkahnya.
"Kau mengkhawatirkannya?"
Aurora langsung menggeleng.
"Tidak."
Bianca tersenyum tipis.
"Kau tidak pandai berbohong."
"Aku hanya..."
"Kau takut dia tidak kembali."
Aurora terdiam.
Sebelum sempat menjawab, suara mesin mobil terdengar dari luar.
Aurora spontan berlari menuju pintu utama.
Mobil Raven akhirnya memasuki halaman mansion.
Namun saat pintu mobil terbuka, Aurora langsung terkejut.
Jas hitam Raven dipenuhi darah.
Leo segera membantu Raven turun.
"Dokter!" teriak salah seorang penjaga.
Aurora berlari menghampiri.
"Apa yang terjadi?"
Leo menggeleng pelan.
"Dalam perjalanan pulang kami disergap."
Aurora segera memeriksa tubuh Raven.
Ada luka tembak di sisi perutnya.
Peluru masih bersarang di dalam.
"Kita harus mengoperasi sekarang!"
Raven menahan lengan Aurora.
"Aku baik-baik saja."
Aurora menatapnya dengan kesal.
"Kalau kau terus keras kepala, kau benar-benar akan mati!"
Untuk pertama kalinya, Raven tidak membantah.
Ia hanya menatap wajah Aurora yang dipenuhi kepanikan.
Di balik wajah tegas dokter muda itu, Raven melihat ketakutan yang tulus.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar takut kehilangan dirinya.