NovelToon NovelToon
Maaf.. Kukira Ini Taksi

Maaf.. Kukira Ini Taksi

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Di tengah guyuran hujan deras yang membasahi jalanan Jakarta, Rima masuk ke mobil mewah yang baru saja ia buka dengan tergesa-gesa. Wajahnya memancarkan kaget luar biasa. Mata terbelalak lebar, mulut terbuka melongo. Saat baru menyadari bahwa ia salah masuk kendaraan, bukan taksi yang sudah dipesannya. Pantulan di kaca spion memperlihatkan Andre yang duduk di kursi pengemudi dengan wajah dingin kaku, tatapan tajam tanpa senyum, seolah tak percaya ada kejadian seaneh ini. Butiran air menetes di kaca jendela dan bodi mobil hitam mengkilap, memperkuat suasana yang canggung sekaligus kocak di pertemuan pertama mereka. Kontras jelas antara ekspresi Rima yang panik lucu dan sikap Andre yang tenang kaku langsung menyiratkan kisah pertemuan tak terduga yang penuh kekacauan manis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Obrolan di Ruang Dokumen

Siang itu udara di dalam ruang arsip pusat terasa sedikit lebih hangat dari biasanya. Ruangan ini terletak di lantai dasar, dindingnya dilapisi rak besi tinggi yang penuh dengan berkas-berkas bersampul tebal, jendela kecil di bagian atas hanya membiarkan sedikit cahaya matahari masuk.

Rima sedang berdiri di atas tangga lipat kayu, berusaha meraih kotak arsip yang terselip di rak paling atas. Ia berjinjit sebentar, tangan terulur setinggi mungkin, tapi kotak itu masih agak jauh.

"Aduh... kenapa harus ditaruh setinggi ini ya," gerutunya pelan sambil mengusap keringat di pelipis. Ia mencoba sekali lagi, tapi tangannya hanya menyentuh ujung kotak saja.

Belum sempat ia memanggil petugas gudang untuk membantu, terdengar suara langkah kaki berat mendekat. Pintu ruangan terbuka lebar, dan Andre berdiri di ambang pintu bersama Dino. Ia berniat mencari dokumen lama soal pendirian cabang perusahaan, dan Bu Tia menyarankan langsung ke ruang arsip pusat.

Andre tertegun melihat sosok kecil di atas tangga yang tampak goyah.

"Rima. Hati-hati!"

Rima kaget seketika. Kakinya hampir terlepas dari anak tangga bawah. Ia segera berpegangan erat pada tiang rak, lalu menoleh dengan wajah memerah.

"Eh.. Pak Andre.. Pak Dino.." sapanya gugup. "Maaf saya tidak tahu Bapak mau ke sini."

Andre berjalan mendekat perlahan, matanya menatap tangga kayu yang sudah terlihat agak tua. "Turun dulu. Itu tidak aman."

"Tapi Pak... kotak itu harus saya ambil sekarang, Bu Tia butuh isinya sore ini," tolak Rima pelan.

Andre tidak menjawab. Ia hanya melangkah maju, mengulurkan tangan panjangnya, dan dengan mudah mengambil kotak itu dalam satu gerakan. Tangannya yang besar dan kuat memegang kotak tebal itu seolah tak berat sama sekali. Ia meletakkannya di meja kerja di sudut ruangan.

"Sekarang turun," perintahnya lembut tapi tegas.

Rima menurut perlahan. Sesampainya di lantai, ia merapikan seragamnya yang sedikit berantakan. "Terima kasih banyak ya Pak.."

Andre menatap wajahnya yang berkeringat, lalu menunjuk kursi kayu. "Duduk dulu. Istirahat sebentar. Saya mau melihat isi dokumen ini dulu."

Dino mengerti maksud atasannya, ia segera pamit menunggu di luar pintu agar keduanya bisa bicara lebih leluasa. Ruangan itu pun sepi, hanya terdengar suara kipas angin tua yang berputar pelan dan gesekan kertas saat Andre membuka kotak arsip.

Rima duduk diam di pinggir kursi, tangannya saling genggam di pangkuan. Ia takut melakukan kesalahan atau berbicara yang tidak-tidak.

"Kamu sering naik tangga setinggi itu sendirian?" tanya Andre tiba-tiba tanpa menoleh dan masih tetap menunduk membolak balikan arsip di atas meja.

"Sering juga Pak," jawab Rima jujur. "Biasanya sih ada Pak Joko petugas gudang, tapi hari ini beliau sakit izin tidak masuk. Daripada menunggu nanti, saya coba ambil sendiri saja."

Andre menutup berkas yang sedang dibacanya, lalu berbalik menatap gadis itu lekat-lekat. "Rima, kamu tidak perlu memaksakan diri. Bukan tugasmu mengambil barang berat atau di tempat tinggi. Kalau tidak sanggup, katakan saja. Tidak ada yang akan menyalahkanmu."

Rima tersenyum tipis, matanya menerawang ke arah jendela kecil. "Saya tahu Pak. Tapi saya berpikir, saya kan anak magang. Kalau saya cuma diam menunggu perintah yang ringan saja, saya tidak akan pernah belajar hal baru. Lagian saya tidak mau menyusahkan orang lain kalau sebenarnya saya masih bisa berusaha dulu."

Ia menatap Andre dengan mata bulat yang tulus. "Abah selalu berpesan, 'Nak, kalau kita masih kuat, jangan minta tolong duluan. Tapi kalau sudah tidak sanggup, jangan malu bicara.'

Saya berusaha sekuat tenaga dulu Pak, baru nanti kalau benar-benar tidak bisa, saya akan bilang dan cari pertolongan."

Kata-kata itu membuat hati Andre tersentuh. Selama ini ia melihat banyak orang yang berusaha terlihat sibuk padahal tidak bekerja sungguh-sungguh, atau sebaliknya menanggung beban berat sendirian karena gengsi. Tapi Rima... ia punya prinsip yang sederhana namun kokoh, dididik oleh orang tua yang hebat di desa jauh sana.

"Prinsip yang bagus," puji Andre pelan. "Tapi ingat juga, kesehatanmu itu milikmu sendiri. Kalau kamu terluka, Abah dan Ibumu di desa pasti khawatir sekali."

Mendengar nama orang tuanya disebut, wajah Rima berubah lembut. "Iya Pak. Setiap malam sebelum tidur saya selalu berdoa supaya saya selalu dalam perlindungan-Nya. Saya janji nanti kalau tangganya terlalu tinggi atau barangnya terlalu berat, saya akan cari bantuan. Saya tidak mau bikin Abah dan Ibu sedih."

Andre berdiri dan berjalan mendekat ke arah Rima. Jarak mereka menjadi cukup dekat, cukup untuk ia melihat bulu mata Rima yang panjang dan pipinya yang masih kemerahan karena kepanasan. Hatinya berdebar kencang, rasa ingin tahu yang dulu perlahan berubah menjadi rasa kagum yang dalam, kini semakin kuat menyesakkan dada.

"Pernahkah kamu mengeluh?" tanyanya pelan. "Tentang pekerjaan yang kotor, tempat yang panas, atau tugas yang sepertinya tidak ada habisnya?"

Rima menggeleng mantap. "Tidak pernah Pak. Di sini saya belajar banyak hal. Saya belajar cara menyusun berkas yang rapi, belajar bicara sopan pada orang lain, belajar sabar. Di desa dulu saya cuma bantu Abah di sawah dan Ibu di dapur. Rasanya luar biasa sekali bisa berada di sini."

Ia tertawa kecil menutup mulutnya. "Meskipun kadang saya salah masuk ruangan, salah ambil payung, atau tertinggal dompet... tapi itu semua pengalaman berharga Pak. Saya tidak menyesal satu pun."

Andre tersenyum tipis. Senyum yang kini sering muncul setiap kali bersama gadis ini. Ia menyadari semakin ia mengenal Rima, semakin ia merasa bahwa dunia di luar sana terlalu rumit dan penuh kepura-puraan, sementara gadis di hadapannya ini begitu murni dan menyegarkan. Ia tidak ingin melepaskan kehadiran seperti itu.

"Kamu gadis yang hebat Rima," ucapnya tulus. "Lebih hebat dari yang kamu kira."

Wajah Rima memerah padam. Ia menunduk dalam. "Ah Bapak jangan terlalu memuji. Saya cuma berusaha jadi diri sendiri saja."

Andre ingin mengatakan lebih banyak,

bahwa dirinya sendiri yang mulai berubah karena melihat ketulusan Rima, bahwa ia selalu mencari keberadaan gadis itu setiap hari,

bahwa ia takut nanti masa magang Rima selesai dan gadis itu tidak terlihat lagi di kantor.

Tapi ia menahan diri. Ia tahu waktunya belum tepat. Ia tidak ingin mengejutkan Rima yang polos itu.

"Sudah sore," katanya akhirnya sambil berjalan kembali ke meja. "Saya sudah dapat dokumennya. Kamu bereskan sisanya besok saja. Pulanglah tepat waktu."

"Baik Pak Andre! Terima kasih banyak sudah membantu dan menasihati saya," jawab Rima ceria.

Mereka berjalan keluar ruangan bersama-sama. Dino yang menunggu di luar melihat wajah Andre yang jauh lebih tenang dan ceria dari saat masuk tadi.

Sesampainya di lorong yang sepi, Andre berbisik pelan pada Dino, "Dino, semakin saya dekat, semakin saya tidak mau jauh darinya."

Dino tersenyum bahagia. "Syukurlah Pak. Akhirnya Bapak berani mengakui perasaan itu sendiri."

Sementara itu Rima berjalan di depan tanpa mendengar percakapan itu. Ia hanya merasa hari ini sangat menyenangkan. Bukan karena dibantu oleh pimpinan, tapi karena Pak Andre ternyata begitu mengerti dan menghargai cara berpikirnya.

"Semoga aku bisa terus membuat beliau tidak kecewa," bisiknya pelan sambil melangkah ringan menuju ruang ganti.

1
partini
jaraknya kaya Cilacap Jogyakarta naik bus efisiensi atau purwokerto Jogya
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁
betul ka. mau hujan deres kek.. bomat😄
🌺⃟ SasMaya
Oohh... ternyata emng Rima-nya yang mau anter hujan-hujanan... 🙄
🌺⃟ SasMaya
jangan sebel-sebel sama Rima pak Andre nanti ketulah jadi bucin 😆
🌺⃟ SasMaya
Andre ini tipe-tipe yang ga mau ribet dan bomat sama urusan orang lain 🫠
Mingyu gf😘
aduhh si bapak galak banget
❥␠⃝ ͭ🍁Hes'💋𝗔𝗿𝗿𝗮𝘀𝘆🍁: galak dan kesel dikira supir taksi😄
total 1 replies
Mingyu gf😘
sibuk banget ngurusin perut orang lain di saat kamu aja sedang terjebak masalah
Tulisan__mawar
Heh nota utang🥲
ini namanya waktu kecil lihat orang tua kita suka bon di warung sekarang kita sudah dewasa bisa bon warung sendiri🤣🙏
Alia Chans
Dan ke salah pahaman di mulai dari sini😌
kenzi moretti
bisa-bisanya rim salah masuk mobil/Facepalm/
kenzi moretti
wuihh/Blush//Sly/
THE GIRL COOL😑
😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Rima Rima, kamu itu menggemaskan bingittt zih dg segala gedebag gedebug hidup mu
arsyila putri
lucu banget ceritanya, bikin penasaran part selanjutnya. 😍😍
mama Al
aduh salah alamat
arsyila putri
makin malu🤣🤣
arsyila putri
wih malu pasti, mana aku pernah lagi🤣🤣
Nyai Aksara 👩‍🦯
Dasar ceroboh, udah lihat Andre juga masih aja ngomong santai
RahmaYesi
Syukurlah
Mutia Kim🍑
Kok tiba-tiba mau di ganti mobilnya🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!