Chesa yang terpaksa menikah kerena keadaan yang memaksa nya untuk menikah dengan seorang tuan muda dimana mamanya bekerja sebagai asisten dari Tuan besar Mahesswara.
hidup Abraham penuh misteri di mata Chesa, begitu pun orang-orang disekitar Abraham yang seakan menyembunyikan siapa Abra! Mampukah Chesa menerima keadaan tuan muda Abraham tersebut?
dan bagaimana kisah cinta dan kehidupan Chesa setelah hidup bersama dengan nya?
Apa misteri di balik tuan muda Abraham?
@novel callback 😁😁🤭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Secuil masa lalu Abra
Pagi ini Andi di minta Rian membawa Abra ke apartemen! dia akan menjelaskan dan melaporkan tentang kepulangan perempuan tersebut ke tanah air dan sialnya sampai sekarang belum juga di di temukan oleh si kembar. menurut dokter Dinar Abra harus tau tentang datang nya perempuan itu untuk mengantisipasi bila mereka bertemu kembali.
dan saat ini dokter Dinar sudah ada di apartemen tersebut untuk membantu berbicara dengan Abra, hanya dokter Andreas yang tak bisa datang karena dia ada jadwal operasi hari ini.
"Apa ada masalah penting Andi? kenapa kita harus ke apartemen?" tanya Abra.
"Iya tuan muda! kita akan bertemu dengan tuan Rian dan dokter Dinar?" jawab Andi
"Apa ada masalah serius? kenapa harus ada dokter Dinar?"
"Benar tuan! ini masalah yang sedikit serius!" jawab andi lagi.
Sampai tibalah mereka di parkiran apartemen milik Rian, setelah memarkirkan mobilnya mereka berdua naik ke apartemen Rian dan Sekarang mereka berempat sudah duduk di apartemen tersebut.
"Pagi tuan muda Abraham!" sapa dokter Dinar.
"Pagi dok! apa ada masalah serius?" tanya Abra sedikit antusias.
"Benar tuan muda , ini agak serius!" jawab dokter Dinar.
Rian datang dengan membawa minuman, serta air putih dan sebuah botol obat! Abra tau obat apa itu karena dulu tepatnya sebelum menikah dengan Chesa dia rutin meminum obat tersebut jika malam tidak bisa tidur atau di landa mimpi buruk. Abraham hanya melirik saja dan Rian tau betul dengan gerak-gerik sahabat sekaligus majikannya itu.
"Ada apa ini?" tampak jelas kecemasan di wajah Abraham, dia tau sesuatu yang berhubungan dengan masa lalu nya adalah pembahasan mereka pagi ini, kenapa Rian meminta nya datang ke apartemen, dia sekarang bisa menebaknya.
"Tuan muda! ada yang akan tuan Rian sampaikan pada Anda!"
"Jangan bertele-tele dokter! Rian apa ini?"
"Abra!! wanita itu lepas dari pengawasan kita!" jelas Rian sekilas.
"Apa maksud kamu? wanita mana? siapa? aku aku tidak paham!!" ucap Abra, otaknya menolak untuk menerima informasi tersebut, dan otaknya bahkan telah membuang nama-nama orang yang terlibat dalam masa lalu nya.
"Tante Inggrid! dia kembali Abra!" ucap Rian hati-hati.
"Tante Inggrid?...." ucap Abra.
"Abraham sayang......apa mama ada di rumah?" kilasan ingatan itu terlintas.
"Tante Inggrid?..." ucap Abra lagi.
"Abraham pergilah bermain dengan Rian ya....tante ada perlu dengan mama sayang!"
"Aaagghh......!" teriak Abra sambil memegangi kepalanya.
Rian ingin sekali membantu Abra namun dokter Dinar melarangnya.
"Jangan! biarkan dia mengingatkan nya dulu!"
"Tidak dok itu akan menyakiti dia dok!" ucap Rian terlihat cemas.
"Aaagghh...bukan!! aku bukan pembunuh!!...tidak....itu tidak benar!! mamaaaaaaa!" teriak Abra.
Abraham terus saja memegangi kepalanya, dia mengingatkan sesuatu walaupun tak semuanya, Rian sudah benar-benar cemas dengan semua ini.
ingatan beberapa tahun yang lalu seakan berlarian di kepalanya.
"Abraham.....!" panggil seseorang yang baru saj keluar dari kamar mandi, dan betapa kagetnya dia, melihat Abraham membawa pisau di tangannya penuh dengan darah, disamping tergeletak mamanya yang sudah tersengal-sengal menahan sakit di Perutnya.
"Jangan salahkan dirimu!.. ja-ja-ja ngan!!" ucap sang mama memandang sendu pada sang anak yang diam terpaku
"Kau anak yang tau diri Abraham!!! mamamu sangat menyayangi mu tapi....tapi kau membunuhnya!!! dasar anak kurang ajar!!! pembunuh..... pembunuh!!!" teriak wanita itu yang tak lain adalah Inggrid, Inggrid berlari membawa kepala mama Abraham ke dalam pangkuannya!!.
"Pergi kamu pembunuh!!! pergi!!!!!" Teriak Inggrid mendekap erat tubuh lemas tersebut.
"Sayaaaang!!! jangan begini... aaagghhh...bangun!!!.... banguunn!!!"
Abraham kecil berdiri dan hanya memandang sang mama di pelukan wanita tersebut.
"Jangan sentuh mamaku!!! jangan sentuh dia!!! pergi....pergi tante...tante jahaaat!!!" teriak Abraham.
Ingatan-ingatan saat dia berumur 10 tahun itu terlintas begitu saja di kepalanya, Abraham terus saja memegangi kepalanya.
"Abraham Sayang mama?" tanya sang mama.
"Tentu saja mama!" saut Abra sambil memeluk mamanya.
"Tapi jadi apapun, papa adalah prioritas Abra yang utama! okey? itu harus Abra!!" ucap sang mama yang tak di mengerti Abra, dan di saat malam naas itulah Abra tau apa yang di maksud mamanya!.
"Bukan!! aku bukan pembunuh!!! Abra sayang mama! aaargghh..... hentikan!!! hentikan!!" amuk Abra sambil memukul i kepalanya sendiri, Rian panik dan berdua dengan Andi dia memegang i Abra yang sudah tak terkendali.
Setelah berhasil di tindih oleh Andi, Rian memasukkan paksa obat yang tadi dia siapkan!!
Berangsur-angsur Abra melemah, dia mulai memejamkan matanya,sambil terus bergumam bahwa dia bukan pembunuh nya.Rian meneteskan airmatanya melihat bagaimana sahabat yang sangat dia sayangi ternyata masih terpuruk namun di tutupi dengan sikap tegarnya walaupun kadang kala alter egonya yang mengambil alih dirinya sendiri. Rian segera menghapus airmatanya dengan cepat, dia berjanji akan berada di samping Abra apapun yang akan terjadi.
bersambung.....
genderang drumm..bertalu..
jantung berpacu..
sensasi manisnya..yg memabukan..
kayayakkkkkssss...permen lolipop..
😉😆🤣😂😆😅😄😄
nek dicaplok wong.. mampus lu..
🤣😂😁😀
ya thor..ya..
🤣😂😆😅😄😃
tp kau nasehatin sahabatmu..
kau tak bs move on jg..
dasar..😐🤨😐🤨