NovelToon NovelToon
Untuk Nadira Yang Tersisa

Untuk Nadira Yang Tersisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Obsesi / Keluarga / Persahabatan
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Kim Varesta

Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.

Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.

Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.

Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.

Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Murid Baru

🦋

Senin, 21 Agustus 2017

Pagi itu, langit terlihat cerah, tapi entah mengapa udara yang dihirup Nadira terasa… berat. Bukan panas, bukan dingin. Seperti ada lapisan tipis kecemasan yang tak bisa dijelaskan, menyelinap masuk melalui pori-porinya.

Di depan gerbang sekolah SMP Swasta Damara, ia berdiri kaku dengan seragam yang tampak masih terlalu baru untuk tubuh mungilnya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi sampai pinggul, bergerak sedikit ketika angin lewat.

Di sampingnya, Kakek Wiratama menepuk pundaknya dua kali, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan untuk menguatkan Nadira sejak kecil.

"Tenang saja, Dira…" katanya. "Sekolah baru bukan berarti bahaya baru."

Bahkan tanpa melihat wajah kakeknya, Nadira tahu itu ucapan menenangkan. Dan juga… semacam firasat.

Mereka berdua berjalan menuju ruang kepala sekolah. Sepanjang lorong, Nadira menatap ubin yang mengilap, mencoba mengusir gemuruh di dadanya. Belum pernah ia merasa sekecil ini.

Setibanya di depan ruangan kepala sekolah, Kakek mengetuk pintu dan membungkuk sedikit.

"Silahkan masuk"

Kakek Wiratama dan Nadira masuk dan di persilangan duduk oleh kepala sekolah.

"Ini cucu perempuan saya. Saya titip ke bapak," ucapnya pada kepala sekolah.

Sang kepala sekolah, pria berkacamata dengan senyum terlalu lebar untuk jam segini, menyambutnya ramah. "Baik, Kek. Cucu kakek pasti bisa beradaptasi dengan cepat di sini."

Nadira menunduk sopan, meski kepalanya terasa penuh.

Saat mereka keluar dari ruangan, Kakek Wiratama menatap wajah cucunya dan berkata pelan, "Kamu berharga, Nak. Jangan biarkan siapapun menindas atau menghakimimu."

Nadira mengangguk, menahan napas agar suaranya tidak bergetar. "Iya, Kek…"

"Kalau begitu Kakek pergi dulu." Tangan tua itu mengusap rambutnya. "Belajar dengan baik ya."

Setelah Kakek pergi, dunia terasa berubah. Seolah ruangan itu tiba-tiba menjadi terlalu besar, terlalu asing.

Tapi ia melangkah juga.

Seorang guru olahraga yang lewat menawarkan diri untuk mengantarnya ke kelas 7A.

Sambil berjalan melalui lorong panjang, guru itu berkata, "Kamu langsung masuk kelas favorit, ya. Nilaimu bagus sekali untuk anak baru."

Nadira hanya tersenyum tipis mendengar pujian dari gurunya.

Di depan pintu kelas, guru itu mengetuk.

Tok tok tok.

"Permisi, Bu, ada murid baru," ucapnya sambil sedikit masuk kepala.

Dari dalam, terdengar suara guru seni. "Suruh masuk saja, Pak."

Nadira menarik napas, memperbaiki posisi tasnya di pundak.

Pintu dibuka.

Dan seisi kelas mendadak sunyi.

Puluhan pasang mata menatapnya bersamaan, ada yang penasaran, ada yang mengukur, ada yang langsung tidak suka. Nadira merasakan jari-jarinya menegang.

"Silakan perkenalkan diri," ucap guru seni itu dengan senyum hangat.

Nadira menelan ludah. "Perkenalkan, nama saya Nadira Cha..."

Tok tok tok.

Pintu diketuk lagi, memotong perkenalannya.

"Permisi, Bu," ujar guru matematika dari luar. "Ada murid baru lagi."

Ia membawa masuk seorang anak laki-laki tinggi dengan raut wajah percaya diri.

Guru seni tersenyum. "Ayo masuk dan berdiri di samping Nadira."

Anak itu berdiri di sebelah Nadira. Ia memperbaiki kerah seragamnya, lalu memperkenalkan diri dengan suara jernih.

"Nama saya Keenan Pratama. Saya dari desa GM. Saya harap kita bisa berteman dengan baik."

Hysteria.

Bukan teriakan keras, tapi jeritan kecil dan bisik-bisik yang langsung meledak di antara para siswi.

"Ganteng banget!"

"Tinggi banget buat anak baru!"

"Kayak oppa-oppa gitu astaga—"

Nadira hanya mengerjap.

(Serius? Sesimpel itu?)

Tanpa sadar, mulutnya berbisik sangat pelan, "Apa istimewanya dia…? Memang tinggi, tapi bukan tipeku."

Tapi Keenan mendengarnya.

Ia menoleh cepat, menatap Nadira lurus. "Kau bilang sesuatu?"

Wajah Nadira memanas. "Tidak."

Keenan mengangguk kecil, tapi matanya… masih menatap. Ada sesuatu di sana, entah ketertarikan, atau hanya rasa penasaran terhadap gadis yang tidak ikut heboh seperti lainnya.

Senyumnya terangkat sedikit.

Dan itu saja cukup membuat beberapa siswi melempar pandang sinis.

"Eh dia kok senyum ke Nadira?"

"Baru masuk udah dekat cowok?"

"Siapa sih anak baru itu, sok cantik."

Nadira mencoba fokus, walau detak jantungnya berubah tidak karuan.

***

Ia mengisi bangku kosong di sebelah seorang gadis berambut pendek dengan senyum genit.

"Kenalin, aku Izarra," ujar gadis itu sambil menyikutnya pelan.

"Nadira."

"Ini Wilona, dan ini Vanya," lanjut Izarra sambil menunjuk dua gadis di depannya.

"Haii!"

"Halo, Nadira!"

Nadira tersenyum lembut, membuat dua gadis itu spontan balik tersenyum lebih ramah.

"Lucu banget sih dia," bisik Wilona.

"Cantik tapi kalem," tambah Vanya.

Di sisi lain kelas, beberapa tatapan tidak seindah itu. Tatapan membaca, menilai, dan membandingkan.

Tapi Nadira sudah terbiasa merasa kecil di ruang yang sebesar ini.

Guru seni menepuk tangan. "Baik anak-anak. Kita mulai pelajaran."

Enam puluh menit terasa seperti empat jam. Bukan karena pelajarannya sulit tapi karena Nadira merasa terus diawasi.

Keenan beberapa kali meliriknya. Beberapa siswi terus memperhatikan Keenan. Dan juga beberapa siswi memperhatikan… bagaimana Nadira diperhatikan Keenan.

Bel istirahat berbunyi.

Izarra langsung berdiri. "Ayo, Dira! Kita ke kantin!"

Nadira menggeleng sopan. "Aku masih kenyang, Zarra."

"Ditinggal gak masalah?"

"Gak apa-apa kok," jawabnya cepat.

Vanya menarik tangan Wilona. "Udah lah, aku laper. Dira emang pendiem, dia enjoy sendiri."

Izarra mendengus. "Maafin Vanya ya, suaranya emang terdengar kasar, tapi hatinya lembut kok. Jangan tersinggung ya."

Nadira terkekeh kecil. "Aku gak apa-apa."

Setelah mereka pergi, kelas menjadi tenang… dan hampa dengan cara yang menenangkan.

Nadira membuka tas, mengeluarkan buku diary bersampul biru.

Halaman pertama menyimpan tulisan kecilnya:

'Untuk diriku yang mungkin tidak selalu baik-baik saja.'

Ia mulai menulis.

'Hari pertama.

Aku tidak tahu harus menaruh harapan di mana.

Ada yang baik, ada yang sinis.

Ada yang ramah, ada yang mengukur.

Aku bingung.

Tapi aku bertahan. Karena Kakek bilang, aku berharga.'

Suara gesekan kursi mengejutkannya. Nadira dengan cepat menutup diary.

Keenan berdiri tidak jauh darinya, memiringkan kepala sedikit.

"Sendirian?" tanyanya.

Nadira menelan ludah. "Iya."

"Kamu gak makan?"

"Aku… gak lapar."

Keenan mengangguk seperti mengerti.

Ia menarik kursi dan duduk di depan Nadira.

"Kamu beda," katanya tiba-tiba.

Jantung Nadira berhenti sebentar. "Maksudnya?"

"Anak baru biasanya ribut, malu-malu tapi gengsi, atau sok akrab." Keenan menatap matanya.

"Sedangkan kamu tenang. Diam. Tapi matamu kelihatan… kayak lagi mikir yang berat."

Nadira terdiam.

Bagian yang disentuh Keenan itu benar. Tapi bagaimana bisa anak baru sepertinya melihat hal yang disembunyikan Nadira bertahun-tahun?

"Kalau kamu butuh teman," lanjut Keenan, "bilang aja."

Ia berdiri, hendak pergi ke kantin, namun sempat menoleh.

"Kelas ini rame. Kadang orang yang diem bakal diinjek-injek kalau sendirian."

Kalimat itu membuat Nadira menegang. Bukan karena ancamannya… tapi karena kenyataannya.

Keenan memberi senyum kecil sebelum keluar kelas.

Nadira masih menatap pintu yang perlahan menutup. Ia memegang buku diary itu erat-erat, seolah takut sesuatu keluar dari halaman kosongnya.

Untuk pertama kalinya hari itu…

Nadira merasa diperhatikan.

Tapi ada rasa lain yang mengikutinya, sensasi samar, dingin, seperti bayangan tipis yang merayap dari masa depan.

Sesuatu yang belum bernama. Sesuatu yang kelak berubah menjadi luka.

Hari pertama sekolah bukan sekadar awal adaptasi. Itu adalah awal retakan pertama dalam hidup Nadira, retakan yang ia belum tahu akan membesar menjadi jurang yang menelannya hidup-hidup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!