“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Singkirkan dia
"Eyang!"
Teriakan Radya menggema di koridor yang sunyi, memecah keheningan malam seperti pecahan kaca. Ia melesat maju, lututnya menghantam marmer dingin saat ia berlutut di samping tubuh kakeknya.
Wajah Eyang Putra pucat pasi di bawah cahaya temaram lampu dinding, bibirnya membiru, dan napasnya terdengar seperti desah kertas yang diremas. Tangan keriput itu masih terulur, jemarinya yang gemetar seolah mencoba menembus tirai tak kasat mata yang memisahkannya dari paviliun pusaka.
“Eyang! Eyang, bangun!” Radya menepuk-nepuk pipi Eyang dengan panik, suaranya bergetar. Logika dan ketenangan yang menjadi baju zirahnya selama ini luruh seketika, meninggalkannya telanjang di hadapan kengerian.
Sebuah bayangan muncul dari dalam paviliun yang menganga gelap. Raras. Ia melangkah keluar dengan wajah sepucat Eyang, matanya membesar melihat pemandangan di hadapannya. Di tangannya, tergenggam sebuah album foto tua berdebu.
Mata Radya yang dipenuhi kepanikan langsung mengunci sosok Raras. Kabut pelet yang selama ini membajak logikanya langsung menemukan kambing hitam. Perempuan ini. Ia berada di tempat kejadian. Ia pasti penyebabnya.
“APA YANG KAMU LAKUKAN PADA EYANG?” bentak Radya, amarah dan ketakutan bercampur menjadi racun di suaranya.
Raras tersentak, mundur selangkah.
“Saya… saya tidak melakukan apa-apa, Mas. Saya baru saja…”
“DIAM!” potong Radya. Ia merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, menekan panggilan darurat.
“Ambulans! Kirim ke Kediaman Cokrodinoto sekarang! Serangan jantung!”
Perintahnya yang tegas dan cepat adalah satu-satunya sisa dari seorang CEO yang terbiasa memegang kendali. Setelah menutup telepon, ia kembali menatap Raras dengan kebencian yang membara.
“Jangan sentuh dia! Jangan dekati Eyang! Ini semua gara-gara kamu dan ilmu klenik sialanmu!”
Raras hanya bisa membeku, memeluk album foto itu erat-erat ke dadanya. Kata-kata terasa sia-sia. Bagaimana ia bisa menjelaskan tentang visi sumpah tujuh turunan saat pria di hadapannya sedang melihat kakeknya di ambang kematian?
***
Aroma antiseptik yang tajam menusuk hidung, menggantikan wangi dupa dan cendana di rumah. Dinding putih steril dan lantai linoleum yang dingin di koridor rumah sakit terasa asing dan menekan.
Radya mondar-mandir di depan ruang gawat darurat, setiap langkahnya adalah dentuman kecemasan. Ia telah melepaskan jasnya, dasinya dilonggarkan, dan rambutnya yang biasanya tertata rapi kini acak-acakan. Ia seperti seekor singa yang terluka, terperangkap dalam kandang yang tak bisa ia hancurkan.
Raras duduk di kursi tunggu yang dingin, menjaga jarak. Ia tidak berani mendekat, tahu bahwa kehadirannya hanya akan menyulut api. Ia hanya bisa berdoa dalam hati, mengirimkan segenap energi baik yang ia miliki untuk Eyang, berharap pagar gaib sederhana yang ia rapalkan beberapa jam lalu cukup kuat untuk menahan jiwa sang patriark agar tidak pergi.
Pintu ruang gawat darurat akhirnya terbuka. Seorang dokter paruh baya dengan wajah lelah keluar, melepas maskernya.
Radya langsung menerjangnya.
“Bagaimana keadaan kakek saya, Dok?”
Dokter itu menghela napas panjang. “Kondisi Bapak Putra sangat kritis. Serangan jantungnya dipicu oleh tekanan dan stres yang ekstrem. Ditambah lagi, dari hasil pemeriksaan awal, kami menemukan ada semacam zat yang memperlemah kinerja organ dalamnya secara perlahan. Usia beliau juga menjadi faktor pemberat. Untuk saat ini, kami berhasil menstabilkannya, tapi beliau belum sadar. Dua puluh empat jam ke depan akan sangat menentukan.”
Dunia Radya seakan runtuh.
“Zat? Zat apa maksud Anda?”
“Kami belum bisa pastikan. Bisa jadi efek samping obat yang tidak cocok, atau… sesuatu yang lain. Kami perlu melakukan tes lebih lanjut,” jawab dokter itu dengan hati-hati.
“Yang terpenting sekarang, beliau harus benar-benar beristirahat dan tidak boleh mengalami guncangan apa pun lagi.”
Radya bersandar ke dinding, kakinya terasa lemas. Kepalanya berdenyut hebat. Perusahaan sedang di ujung tanduk karena sabotase yang tak terlihat, nama baik keluarga dipertaruhkan, dan kini pilar terakhir penopangnya, Eyang, terbaring tak berdaya. Beban itu terlalu berat. Ia butuh pegangan.
“Radya!”
Sebuah suara lembut memanggil namanya. Ayunda berjalan cepat menyusuri koridor, wajahnya dipenuhi kekhawatiran yang tampak tulus. Ia membawa dua gelas kopi kertas di tangannya.
“Aku langsung ke sini begitu dengar kabar dari Bayu. Ya Tuhan, kamu baik-baik saja, kan, Sayang?” Ayunda langsung memeluk Radya, menenggelamkan wajah pria itu di bahunya.
Radya membalas pelukan itu dengan erat, mencari kekuatan. Aroma parfum mahal Ayunda yang familier terasa seperti satu-satunya hal yang normal di tengah kekacauan ini.
“Eyang… kondisi Eyang kritis, Yun,” bisik Radya, suaranya parau.
“Ssst… tenang, ya. Eyang orang yang kuat, beliau pasti bisa melewatinya,” hibur Ayunda, tangannya mengelus punggung Radya dengan lembut.
Matanya kemudian melirik ke seberang koridor, menemukan Raras yang duduk diam mengamati mereka. Tatapan Ayunda menajam sesaat, kilat kemenangan yang dingin terpancar sebelum kembali melembut.
Ayunda melepaskan pelukannya, menangkup wajah Radya.
“Kamu pasti belum makan, belum tidur. Ini, minum dulu.” Ia menyodorkan segelas kopi.
Radya menerimanya dengan tangan gemetar. Kehadiran Ayunda yang logis dan menenangkan terasa seperti obat bius untuk pikirannya yang kalut.
“Aku nggak ngerti lagi, Yun. Semuanya hancur berantakan,” keluh Radya.
“Dokter bilang ada zat aneh di tubuh Eyang. Ini semua nggak masuk akal.”
Ayunda menatapnya dalam-dalam, ekspresinya berubah menjadi prihatin yang mendalam.
“Dya, aku nggak mau nambahin beban pikiranmu, tapi… apa kamu nggak merasa aneh?”
“Aneh gimana?”
“Semua ini,” kata Ayunda, suaranya pelan seolah sedang membisikkan sebuah rahasia besar.
“Semua kesialan ini, proyek yang gagal, kecelakaanmu, dan sekarang Eyang… semuanya terjadi sejak… dia datang.”
Pandangan Ayunda mengarah pada Raras. Radya mengikuti arah pandang itu. Di sana, Raras duduk sendirian di bawah cahaya lampu neon yang kejam, tampak kecil dan tidak pada tempatnya.
“Maksudmu Raras?” tanya Radya, meski ia tahu persis arah pembicaraan ini.
“Pikirkan baik-baik, Dya. Pakai logikamu,” bisik Ayunda, jemarinya mengelus rahang Radya yang menegang.
“Eyang bilang perempuan itu penyelamatmu, kan? Penyeimbang wetonmu. Tapi lihat apa yang terjadi. Bukannya membaik, keadaanmu justru semakin buruk. Perusahaan kacau, dan Eyang sekarang terbaring di antara hidup dan mati. Bagaimana kalau… Eyang salah?”
Setiap kata Ayunda adalah tetesan racun yang meresap sempurna ke dalam luka keraguan Radya.
“Bagaimana kalau weton mereka sebenarnya tidak cocok? Atau lebih buruk lagi, bagaimana kalau wetonnya justru menarik semua energi buruk itu ke keluarga kita?” lanjut Ayunda, nadanya penuh simpati palsu.
“Dia itu pembawa sial, Dya. Aku udah bilang dari awal.”
Bayangan Raras yang memegang buku klenik. Tuduhannya pada Bayu. Kehadirannya di dekat Paviliun Tua saat Eyang jatuh. Semua kepingan puzzle itu kini dipaksa menyatu oleh Ayunda, membentuk sebuah gambar yang mengerikan: Raras adalah sang penyihir, sumber dari segala bencana.
Radya menatap gelas kopi di tangannya, lalu kembali menatap Raras. Rasa bersalah, amarah, dan keputusasaan berperang di dalam dirinya. Ia ingin menyalahkan seseorang, dan Raras adalah target yang paling mudah, paling logis menurut logika yang telah dibajak.
Ayunda merasakan goyahnya pertahanan Radya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga pria itu, mengembuskan bisikan terakhirnya yang paling mematikan.
“Kamu harus memilih, Sayang. Keselamatan Eyang dan keluarga, atau mempertahankan perempuan pembawa kutukan itu di sisimu.” Ia menarik diri sedikit, menatap lurus ke mata Radya yang berkabut.
“Singkirkan dia, Dya. Itu cara satu-satunya.”