Gwen adalah seorang dokter spesialis jantung di salah satu rumah sakit di tengah kota New York. Di suatu siang yang sibuk, dia mendapatkan seorang pasien. Seorang pria tua yang mendapatkan serangan jantung. Gwen berhasil menyelamatkan nyawanya, sehingga pria itu sangat berterima kasih. Ia menghadiahi Gwen tiket pesawat dan sebuah vila di Bali.
Saat sampai di vila, betapa terkejutnya Gwen ketika menyadari bahwa dia tidak akan tinggal sendiri. Karena pria tua itu ternyata belum memberitahu cucunya kalau vila itu akan diberikan kepada Gwen.
Zachary, nama si cucu. Pria yang tampan, dan arogan. Sedang asyik mencumbu seorang wanita di dekat kolam renang.
KARYA:
1. Hutang Kepada Mr. Devil (end)
2. Aku Bukan Malaikat (end)
3. My Arrogant Prince (ongoing)
4. Kesempatan Kedua (otewe)
Salam kenal dari author penggemar Happy ending story 😊✌️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penjelasan
24
Mereka masing-masing telah mendapatkan kamar. Samantha menyampaikan kepada Bu Sari kalau dia butuh satu atau dua kamar lagi untuk model-modelnya. Bu Sari ternyata sudah mendapatkan instruksi dari Ahmad. Dia telah menyiapkan dua kamar dengan double bed. Jadi masih bisa untuk empat tamu lagi. Lagipula Gwen rasa kasur besar di kamarnya bisa untuk berdua. Dia tak masalah kalau harus tidur dengan Farah.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, Bu Sari memberitahukan kalau makan siang sudah siap, mereka bisa turun ke ruang tengah atau minta dikirimkan makanan ke kamar. Gwen tidak keberatan untuk turun lagi, Farah dan Samantha juga.
Gwen melihat Jolly sudah tidak ada di sana, si Devil juga. Dia ingin menanyakan soal mereka berdua kepada Bu Sari, tapi ia ingin mengisi perutnya dulu.
Setelah menghabiskan sepiring nasi dan lauk yang nikmat, ponsel Gwen menerima sebuah pesan percakapan dari Ahmad. [Maaf, tadi itu ternyata cucuku. Namanya Zachary.] Gwen sudah memperkirakannya.
Jadi benar Zach ini yang rencananya akan dijodohkan dengan Nafeera. Mengingat kembali track record si Zach atau Devil itu, Gwen tidak akan sudi untuk menjadi istrinya.
[Dia tidak tahu kalau vila itu sudah aku berikan ke kamu. HP-nya tidak bisa dihubungi dari kemarin, mungkin sengaja dimatikan karena aku selalu mengusik kesenangannya.]
Gwen berterimakasih karena Ahmad menjelaskannya. Meskipun dia sekarang bingung, dia pikir yang menginap nanti hanya teman sesama perempuan, ternyata ada laki-laki juga di antara mereka. Lagipula laki-laki itu cucunya Ahmad pemilik vila ini, tidak mungkin dia memintanya untuk pergi dari vila.
[Kalau mau, usir saja cucuku. Kamu berhak karena vila itu sudah milik kamu.] Gwen berpikir sepertinya Ahmad mempunyai indera keenam.
Jolly, gadis itu keluar dari kamar dan memakai pakaian yang lebih beradab. Gwen sudah selesai dengan makan siangnya begitu juga dengan Farah. Sedangkan Samantha sedang menikmati sate lilit sebagai dessert alias cemilan sesudah makan. Beberapa detik kemudian Zach juga keluar dari kamar di sebelah gadis itu. Entah kenapa Gwen merasa agak sedikit lega. “Ha? Lega? Ada apa denganku?”
Seorang pria datang bersama Bu Sari. “Maaf baru bisa menyapa. Saya Bashori.”
Gwen tersenyum dan menunduk. “Bagaimana makan siangnya?” tanya Pak Bashori kemudian.
“Enak, Pak, saya jadi lupa kalau sedang diet,” jawab Samantha sambil tertawa.
Zach sepertinya memgang sebuah kunci, dan Jolly mengekor di belakangnya.
“Eh, tuan Zach, tadi disuruh menelpon Tuan Ahmad,” ujar Pak Bashori menahan Zach agar tak langsung pergi.
“Nanti aja, Pak, saya telpon,” jawab Zach.
Namun, ponsel Pak Bashori berbunyi dan ia langsung memberikannya kepada Zach. Saat Zach mendekatkan telinganya ke ponsel tersebut, dia spontan menjauhkannya dari daun telinga. “Kek, ingat penyakit jantungmu,” katanya. “Iya iya. Ini juga mau keluar.” Zach terdiam lalu melihat ke arah Gwen. “Kakek bercanda? Terus aku nginep di mana?” Dahi Zach mulai berkerut lalu tak berapa lama dia mengembalikan ponsel ke Pak Bashori.
Samantha mencuci tangannya ke wastafel lalu segera menghampiri Jolly, sepertinya ada sesi kedua acara mengomelinya. Zach mendekat ke meja Gwen lalu duduk di hadapannya. Zach melihat beberapa piring yang ada di meja. Lumayan sakit kalau kena kepalanya, tapi dia masih berharap Gwen tidak sebar-bar tadi.
“Jadi, vila ini sudah Kakek berikan ke kamu?” Gwen mengangguk. “Kakek minta aku cari hotel lain, tapi hotel udah banyak yang di-book soalnya musim liburan. Agak susah nyarinya,” lanjut Zach.
Farah yang duduk di sebelah Gwen memutar manik matanya, sambil menyeruput es teh manis. Lalu dia mengedarkan pandangan ke sekitar. Rupanya Samantha masih terus mengomeli si Jolly. Lama-lama Farah merasa kasihan kepadanya. Kok bukan Kampret yang duduk di depannya ini yang diomeli. Bukannya yang berbuat dua orang?
Gwen menunggu penjelasan Zach berikutnya, karena sepertinya Zach belum selesai bicara. “Besok, deh aku keluar dari vila. Terus ... kamarku yang tadi, jangan diubah atau dikosongin dulu. Barang-barang lamaku masih ada di sana.”
Gwen mengangguk. “Oke.”
Zach mengambil sebatang sate lilit lalu menggigitnya. “Ini enak.” Sebenarnya jika bukan karena kasihan kepada Jolly, Zach lebih suka makan masakan Bu Sari daripada di luar.
Samantha datang kembali ke meja Gwen. “Zach plis, kamu cariin Jolly hotel. Gue bisa mati muda kalau begini. Lo tau sendiri gue ga pernah suntik botox soalnya ga takut penuaan dini. Yang gue takutin itu mati muda gara-gara kelakuan lo. Kakek Ahmad beruntung banget masih panjang umur sampai sekarang.”
“Iya iya,” jawab Zach santai lalu mengambil lagi dua batang sate sebelum beranjak pergi. Namun, dia berbalik untuk menyampaikan sesuatu. “Jolly tidak ada hubungan apa-apa sama aku. Aku ga ngapa-ngapain dia.” Mata Zach tertuju kepada Gwen, seakan-akan dia ingin menegaskan hal itu hanya kepada Gwen.
“Ngomong sana sama tembok, kodok aja ga percaya sama bualan buaya macam kamu,” sahut Samantha ketus.
--------------------------------------------------------------------------
Bonus
Kamar tidur
Credit: St. Regis Resort
bang Diesel lope lope bang