NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti

Pengantin Pengganti

Status: tamat
Genre:Contest / Perjodohan / Nikahkontrak / Cintamanis / Patahhati / Vampire / Romantis / Tamat
Popularitas:561.5k
Nilai: 5
Nama Author: Arik Tri Buana

Kinara pergi ke Korea untuk menemui ayahnya tapi tiba-tiba dia dipaksa untuk menjadi pengantin pengganti oleh saudara tirinya, Winter. Karena Winter sedang sakit.

Dan penderitaan Kinara benar-benar dimulai saat menikahi Sian. Pria itu mengira bahwa Kinara adalah Winter...

Bagaimana nasib Kinara selanjutnya?
Update seminggu sekali

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

24. Tidak Bisa Menantang, hanya Bisa Menurut

“Dia begitu penurut dan ingin menjauhiku. Apakah itu yang aku inginkan?”

Sian menjadi kesal karena Kinara tidak berada di sampingnya. Pria itu memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun saat berada di koridor rumah. Ia mendengar suara langkah kaki. Sian menjadi panik dan saking paniknya tanpa sengaja bahunya menabrak tembok.

Kinara mendengar suara orang yang mengerang tapi ia tidak mendapatkan siapa pun di sana. Perempuan itu lalu pergi ke dapur. Saat pergi ke dapur, ia melintasi kamar tamu.

“Mungkin pria itu saat ini sedang tidur.”

Baru saja Kinara berbalik ia dikejutkan dengan kehadiran seseorang.

“Astaga!”

Kinara memegangi dadanya saking terkejutnya. Sementara pria yang berada di depannya memasang wajah santai namun dingin.

Sian menyipitkan matanya menatap Kinara dan Kinara kembali merasakan keinginan untuk mundur teratur dan langsung berlari menuju dapur. Melihat Kinara yang langsung kabur dari hadapannya membuat Sian memberengut.

Sian pergi ke balkon untuk menyesap rokoknya. Satu-satunya penghiburnya adalah rokok namun sepertinya rokok kalinya sama sekali tak berefek padanya.

Bahunya masih sakit apalagi ditambah kejadian tadi yang memperparah bahunya. Membuat Sian terbatasi aktivitasnya.

Lapar...

Itulah yang dirasakan Sian. Pria itu, berjalan ke dapur, dan memandang berkeliling. Matanya terkunci pada sosok perempuan yang berdiri di sana.

“Jadi kenapa kau belum makan? Bukankah kamu pergi makan malam bersama Lee Hyuk?”

Suara Sian membuat Kinara terkejut. Kinara berhenti melakukan aktivitasnya dan mendongak menatap laki-laki itu.

Kinara mengerjap. Apakah ia salah dengar? Apakah ia benar-benar mendengar seberkas kecemburuan dalam suaranya atau kah sindiran.

Detik berikutnya, Kinara kembali dalam keterkejutannya. Ia menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan. Ia mengira Sian akan membiarkannya bekerja sendirian di dapur. Ternyata dugaannya salah. Sian tetap berdiri bersandar di lemari dapur sambil mengamati setiap gerak-geriknya, membuat Kinara semakin gelisah.

“Apakah begitu caramu mengupas wortel?”

Kinara menoleh dan menatap Sian dengan perasaan dongkol. Laki-laki itu balas menatapnya.

“Ada apa dengannya?” gumam Kinara lalu berbalik memunggungi Sian dan mengisi panci dengan air.

Tiba-tiba Kinara merasa Sian menghampirinya. Kinara berbalik dan jantungnya melonjak lagi ketika menyadari Sian berdiri menjulang di dekatnya. Terlalu dekat. Kinara menatap Sian. Mata mereka saling mengunci.

Detik berikutnya perut Sian berbunyi, Kinara mengerjap kaget dan perlahan-lahan seulas senyum mulai tersungging di bibirnya.

“Apa yang kamu tertawakan?”

“Tidak ada.”

”Ini benar-benar memalukan,” gerutu Sian.

Pria itu bersiap-siap meninggalkan dapur. Ketika ia hendak berjalan melewati Kinara, tangan perempuan itu terulur menahan lengannya.

“Kamu tunggu di sini. Aku akan masak untukmu.”

Kinara menatap ekspresi Sian. Seperti ada yang disembunyikan oleh pria itu. Seperti rasa kesakitan.

“Kamu kenapa?”

.........

Mereka makan di ruang makan. Kinara menyiapkan sup iga. Kinara menyiapkan mangkuk berisi nasi dan juga sup. Ia juga menyiapkan sepasang sumpit.

Mereka makan dengan tenang. Namun Kinara menyipitkan matanya saat Sian menggerakkan tangan kirinya.

“Ada apa dengan tangan kanannya?”

Sian seperti kesal karena ia dengan tak leluasa bisa memakan makanannya. Sian merasa kesal dan membanting sumpitnya.

Melihat Sian yang begitu kesal, Kinara buru-buru menuju dapur kembali dan mengambilkan sendok. Kembali meja, Kinara mengambil mangkok nasi Sian dan mencampurnya dengan sup. Setelah itu, ia mengembalikannya pada Sian bersama sendoknya.

Sian jelas saja terkejut namun tak ingin berkomentar. Pria itu langsung melahapnya. Saat itu adalah saat Sian merasa paling nyaman bersama Kinara.

Selesai makan, Kinara mendorong mangkuknya menjauh. Ia menatap wajah Sian dengan ragu. Bibirnya membuka menutup.

”Sian,” panggil Kinara tiba-tiba.

Sesuatu dalam dada Sian terasa aneh ketika ia mendengar perempuan itu memanggil namanya. Aneh, tapi sama sekali bukan dalam arti buruk. Sian menoleh. ”Apa?”

“Ada apa dengan bahumu?”

“Hanya cedera.”

“Apa itu karena aku?”

Kinara menatap tangan Sian dan wajahnya berubah muram.

”Maaf,” gumamnya dengan nada menyesal.

Sian menoleh. ”Apa?”

“Maaf dan terima kasih. Aku mendengar dari Lee Hyuk bahwa kamu menyelesaikan masalahku. Aku benar-benar berterima kasih,” ucap Kinara dengan tersenyum.

Sungguh, pengacau kecil ini tidak mungkin tersenyum manis. Sian tertegun. Tunggu... Manis? Manis? Sejak kapan ia menggunakan kata-kata seperti itu? Astaga, ia mulai tidak waras.

“Setelah ini jangan membuat masalah lagi untukku.”

“Aku bukan pembuat masalah.”

Kinara baru-baru ini lebih berani menanggapi Sian. Karena pria itu jarang sekali menunjukkan emosinya.

“Lalu apa? Pengacau kecil?”

Sebenarnya pada awalnya Sian hanya merespons kata-katanya untuk mengolok-olok Kinara. Namun tidak tahu apa yang terjadi. Perbincangan itu semakin panjang.

Sian hanya tidak bisa berhenti menggodanya setelah melihat reaksi cantiknya.

“Apakah dia tidak takut padaku lagi?”

Malam semakin larut dan Kinara sudah terpejam di ranjangnya. Ia bisa dengan jelas merasakan tubuh Sian yang terus mengubah posisi tidurnya. Kinara yang awalnya membelakangi Sian. Kini berbalik dan mata mereka bertemu.

“Ada apa?”

Sian menelan kata-katanya dan menutup bibirnya. Ia terpesona karena menatap matanya. Matanya begitu menarik dengan gelombang yang indah.

Jantungnya berdegup kencang sehingga ia merasakan nafsunya terbakar. Sian tidak bisa mengendalikan reaksi fisiologis sebagai laki-laki.

Kinara tidak menyadari bahwa ia berbaring sangat dekat dengan Sian sampai ia merasakan sesuatu yang keras tengah menyentuh perutnya.

Merasakan tidak nyaman, Kinara mengerutkan keningnya. Ketika ia menggerakkan badannya, ia semakin merasakan sesuatu yang semakin keras. Tanpa sadar tangannya terulur untuk menyentuh benda itu.

Suara erangan pelan pun terdengar membuat Kinara mendongak. Setelah bertemu mata dengan Sian yang terbakar. Kinara baru menyadari apa yang ia pegang.

.........

Bunyi berisik membangunkan Sian dari mimpi indahnya. Ia mengerang dan membuka mata dengan susah payah. Ia menyipitkan mata menatap jam kecil di meja di samping tempat tidurnya. Jam 07.30. Ia melihat ranjang di sampingnya kosong.

Matanya juga melihat keadaan sekitar. Aneh, kamarnya sangat rapi dan bersih. Padahal ia sangat ingat, bahwa kamarnya tadi malam seperti kapal pecah. Piyama berserakan acak di lantai.

Sian bergegas turun dari tempat tidur. mengerjap terkejut. Kantuknya hilang seketika saat melihat Kinara menyeret kopernya.

“Kamu.”

Kinara berbalik dan menatap Sian yang memasang wajah sangar.

“Ada apa?”

Sian tak menjawab namun matanya tertuju pada koper yang Kinara pegang. Kinara mengerti saat matanya juga mengarah pada kopernya sendiri.

“Hari ini adalah pembacaan naskahku. Tim juga mengajakku untuk melihat lokasi syutingnya. Letaknya agak jauh jadi aku membawa beberapa pakaian.”

“Kamu tidak boleh pergi.”

“Kenapa?” tanya Kinara heran.

“Bersihkan dulu kamarmu!”

“Aku sudah membersihkannya.”

Sian terlihat kebingungan karena memang kenyataannya kamarnya sudah dibersihkan. Sian kembali memandang ke sekeliling ruangan dengan tajam. Ia mendapati beberapa majalah berserakan di meja.

“Rapikan majalah yang ada di meja.” Sian menunjuk meja.

Kinara yang melihatnya langsung merapikannya dengan cepat.

“Selesai. Sudah kan? Aku akan pergi.”

“Tunggu!”

Sian baru membuka mulut hendak mengatakan sesuatu ketika bel interkom berbunyi.

“Itu pasti Minji.”

“Kamu tidak boleh pergi! Aku tidak bisa tidur jika selimutnya kotor. Cuci seprei dan selimut dulu, baru boleh pergi.”

Tanpa menunggu jawaban Kinara, Sian sudah berbalik dan naik ke lantai atas, meninggalkan Kinara di sana.

1
Bunda Safira
pingin jdi kinara aja dheee
Ni Made Ratmini
tdk mengerti ceritanya berbelit.
Rubiatun
Leon anak siapa ya.
Aerik_chan: hayo ditebak😁
total 1 replies
Amilia Indriyanti
mamulo goblog si kinara
Amilia Indriyanti
mamulo goblog si kinara
tp lakon Yo tetep lakon
Yanti Novianti
berbelit"
Amilia Indriyanti
kinara iku goblognya Ra k3tulungan
Yundari Gayosa
uda sama hyok aja kinara
tabina ruby
Luar biasa
Elisabeth Ratna Susanti
terharu aku baca di part ini
Elisabeth Ratna Susanti
like plus favorit di karya keren ini......awal yang top banget. visualnya juga top 👍
Dewi Bekti
Luar biasa
Lela
masak meninggal sih thor
Anis Swari
semangattttttttt
Anis Swari
Sian perhatian....
Anis Swari
Bang sian lagi pms ya
Anis Swari
ini tuh cerita the best
Anis Swari
Sian sudah jatuh cinta sama Kinara
Anis Swari
asyik Sian tipe2...you die if you touch her
Anis Swari
real life dan di novel sama2 cakep
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!