Keira Lo bukan siapa-siapa.
Yatim piatu, lulusan SMA, hidup dari upah serabutan di desa kecil Jawa Tengah. Satu-satunya alasan dia masih bertahan: Kiara — kembaran-nya yang mengalami kerusakan otak setelah diserang tiga tahun lalu. Keira butuh uang. Banyak. Dan satu-satunya jalan adalah menjadi pengasuh bayi di kediaman keluarga Ciu — konglomerat terkaya di Jakarta yang terkenal kejam.
Dia datang dengan koper lusuh dan tangan penuh luka. Mereka menatapnya seperti debu yang tersasar ke istana marmer.
Tapi ketika bayi keluarga Ciu nyaris meninggal di tangan pengasuh berpengalaman — dan Keira yang menyelamatkannya dengan tangan gemetar — segalanya berubah.
Empat pewaris. Empat hati yang berbeda. Semua jatuh pada gadis yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6
Bab 6: Siapa yang Kebetulan?
Dokter keluarga berlutut di samping ranjang dorong bayi, memeriksa napas kecil itu dengan stetoskop.
Tidak ada seorang pun di aula yang bergerak.
Tangis bayi sudah melemah menjadi isak pendek. Namun bagi Keira, setiap tarikan napasnya terdengar seperti bukti bahwa dunia belum sepenuhnya kejam. Ia tetap berdiri di dekat ranjang, kedua tangannya masih gemetar, seragamnya kusut di bagian bahu karena digenggam bayi tadi.
Dokter mengangkat kain alas tempat gumpalan putih itu menempel.
"Ini bukan susu," katanya.
Mbak Ratih memejamkan mata.
Dokter mendekatkan kain ke lampu. "Serat bulu. Kemungkinan dari selimut atau kain dekoratif. Ukurannya kecil, tapi untuk bayi baru lahir bisa menutup jalan napas."
Kata-kata itu jatuh satu per satu, jelas, tanpa belas kasihan.
Vivienne menutup mulutnya. Wajahnya yang selalu terjaga akhirnya pecah. "Jadi tadi..."
"Suster Keira benar," jawab dokter. "Bayi di bawah enam bulan tidak diberi air putih. Asupannya ASI atau susu formula sesuai instruksi. Dalam kondisi tersedak seperti tadi, memberi air justru bisa memperburuk sumbatan. Tindakan Suster Keira tepat. Cepat juga."
Ia lalu meminta pinset kecil dari tas medisnya, memindahkan serat putih itu ke plastik steril, dan menyerahkannya kepada Bi Sari.
"Simpan ini. Tolong cek semua selimut bayi, sarung bantal, dan dekorasi dekat ranjang. Bayi baru lahir belum bisa melindungi jalan napasnya sendiri. Benda sekecil ini saja cukup berbahaya."
Bi Sari menerimanya dengan wajah tegang. "Baik, Dokter."
Dokter menoleh pada Mbak Ratih. Suaranya tidak keras, tetapi justru karena itu terasa lebih memukul. "Pengalaman dua puluh tahun bukan alasan untuk melewati pemeriksaan dasar. Kalau bayi tidak menangis, tidak bisa langsung disimpulkan tersedak susu."
Aula yang tadi penuh suara tuduhan berubah menjadi sunyi yang lain. Sunyi yang membuat orang-orang tak berani menatap Keira.
Mbak Ratih berdiri kaku. Dua puluh tahun pengalaman yang sejak tadi ia pakai sebagai perisai kini seperti runtuh di lantai bersama botol kecil berisi air hangatnya.
"Saya..." Bibirnya bergetar. "Saya kira hanya tersedak susu."
Keira tidak menjawab.
Ia terlalu lelah untuk menikmati kemenangan. Terlalu sadar bahwa kemenangan ini baru ada karena seorang bayi hampir kehilangan napas.
Ethan masih berdiri di dekat jendela. Ponselnya sudah tidak ada di tangan. Matanya menatap Keira, dinginnya belum hilang, tetapi ada sesuatu yang berubah di baliknya. Seperti orang yang dipaksa melihat hasil yang tidak sesuai dengan kesimpulan awal.
Vivienne mendekat.
Untuk pertama kalinya sejak Keira memasuki Kediaman Ciu, Nyonya Besar itu tidak terlihat seperti penguasa rumah. Ia terlihat seperti seorang nenek yang baru menyadari cucunya hampir pergi dari pelukannya.
"Keira," ucapnya.
Keira menunduk sedikit. "Nyonya Besar."
Vivienne mengambil napas. "Saya berutang nyawa cucu saya padamu."
Beberapa pengasuh menahan napas.
Di rumah ini, kalimat seperti itu bukan kalimat kecil.
"Saya hanya melakukan pekerjaan saya," jawab Keira.
"Tidak." Vivienne menggeleng pelan. "Banyak orang di ruangan ini juga punya pekerjaan. Tidak semuanya berani mengambil risiko saat semua orang melarang."
Wajah Mbak Ratih makin pucat.
Vivienne menoleh kepada Bi Sari. "Siapkan kompensasi untuk Suster Keira. Dua puluh juta rupiah. Sekarang."
Keira mengangkat wajah. "Nyonya Besar, tidak perlu."
"Perlu." Suara Vivienne kembali tenang, tetapi kali ini ketenangan itu bukan jarak. "Itu ucapan terima kasih. Dan permintaan maaf karena rumah ini membuatmu berdiri sendirian saat kau mencoba menyelamatkan bayi kami."
Tatapannya turun ke punggung tangan Keira.
Keira baru sadar luka tipis itu terlihat jelas. Kulitnya tergores ketika Ethan tadi menggebrak meja dengan map kulit dan ia mundur terlalu cepat, lalu tersangkut tepi ranjang dorong saat mengangkat bayi. Darahnya sudah berhenti, tetapi garis merahnya masih basah.
Vivienne melihatnya. Semua orang juga ikut melihat.
"Termasuk untuk lukamu," lanjut Vivienne. "Di rumah ini, orang boleh tegas, tapi tidak boleh membuat pekerja merasa seperti bisa diperlakukan tanpa batas."
Kalimat itu membuat beberapa staf menunduk. Bukan hanya Mbak Ratih yang terkena. Ethan pun tidak mungkin tidak mengerti.
Bi Sari segera memberi isyarat kepada staf.
Ethan akhirnya berbicara. "Mama."
Satu kata itu cukup membuat udara menegang lagi.
Vivienne menoleh. "Apa?"
"Dia masih dalam masa percobaan."
Keira merasakan semua mata kembali bergerak, kali ini antara dirinya dan Ethan.
Vivienne menatap putranya. "Masa percobaan tidak menghapus fakta bahwa dia baru saja menyelamatkan cucu keluarga ini."
"Satu tindakan benar tidak menjamin dia layak tinggal di sini."
Kalimat itu dingin. Tajam. Hampir persis seperti nada yang ia pakai saat memanggil tim hukum beberapa menit lalu.
Keira menatap Ethan.
Di punggung tangan kanannya, ada goresan tipis baru dari tepi ranjang dorong saat ia mengambil bayi tadi. Perihnya baru terasa sekarang, berdenyut bersama bekas luka bakar lama.
Ia sadar, kalau diam, ia akan selamanya berdiri di tempat yang sama: orang kecil yang harus menunggu dinilai, menunggu diizinkan, menunggu dianggap cukup.
Hari ini ia hampir kehilangan pekerjaan karena melakukan hal yang benar.
Hari ini juga ia hampir melihat bayi mati karena semua orang terlalu takut melawan pengalaman yang salah.
Keira mengangkat dagunya.
"Ko Ethan benar," katanya.
Bisik kecil bergerak di antara pengasuh.
Ethan menyipitkan mata.
"Satu tindakan benar tidak menjamin saya layak tinggal di sini," lanjut Keira. "Tapi satu tindakan salah juga cukup untuk membuktikan bahwa pengalaman tanpa ketelitian bisa membahayakan bayi."
Ia mengambil satu langkah kecil ke depan. Bukan menantang, bukan pula memohon. Hanya cukup agar suaranya tidak tenggelam di tengah aula yang terlalu luas.
"Saya tidak meminta rumah ini percaya pada saya karena saya miskin, karena saya butuh uang, atau karena saya kasihan. Saya meminta Nyonya Besar menilai saya dari pekerjaan saya."
Keira berhenti sebentar. Matanya sempat menyentuh ranjang dorong bayi yang kini dikelilingi dokter dan perawat rumah. Napas kecil itu masih ada. Lemah, tapi ada.
"Kalau saya salah, saya siap dihukum sesuai aturan. Tapi kalau saya benar, saya juga ingin diberi ruang untuk bekerja dengan benar."
Mbak Ratih tersentak seolah ditampar.
Keira menoleh kepada Vivienne, bukan kepada Mbak Ratih. "Kalau Nyonya Besar masih membutuhkan pengasuh yang bekerja berdasarkan observasi, prosedur, dan tanggung jawab, saya bersedia melanjutkan masa percobaan."
Vivienne menatapnya lama.
Keira tahu kalimat itu bukan permintaan biasa. Ia tidak memohon agar tidak diusir. Ia menawarkan syarat: kalau mereka menginginkan profesionalisme, maka mereka harus menerimanya sebagai tenaga profesional, bukan barang murah yang boleh diseret saat salah dan dilupakan saat benar.
Ethan tertawa pendek.
Tidak hangat. Tidak lucu.
"Kau pikir setelah menyelamatkan bayi sekali, kau punya posisi untuk bernegosiasi?"
Keira menoleh kepadanya.
Inilah momen ketika semua orang menunggu ia menunduk. Pengasuh baru. Anak panti. Perempuan dua puluh satu tahun dengan koper tua dan tangan penuh bekas luka.
Keira tidak menunduk.
"Kalau saya menyelamatkan bayi itu hanya kebetulan," ucapnya, jelas, "kenapa Ko Ethan yang berpengalaman justru tidak pernah punya kebetulan seperti itu?"
Aula membeku.
Bi Sari menunduk terlalu cepat, mungkin untuk menyembunyikan reaksi di wajahnya.
Dokter keluarga pura-pura memeriksa stetoskop.
Mbak Ratih membuka mulut, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Ethan tidak bergerak. Untuk pertama kalinya, pria itu tidak langsung punya kalimat yang bisa memotong seseorang. Tatapannya menajam, tetapi di balik ketajaman itu ada sesuatu yang hampir seperti terkejut.
Keira tetap berdiri.
Jantungnya berdebar keras, tetapi suaranya tadi tidak bergetar. Kalau setelah ini ia diusir, setidaknya ia tidak pergi dengan kepala tertunduk.
Vivienne tiba-tiba mengeluarkan napas pelan.
Lalu sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Bi Sari," katanya, tanpa memandang Ethan. "Mulai hari ini, Suster Keira tetap mendampingi Nyonya Stephanie dan bayi. Masa percobaan tetap berjalan, tapi keputusan akhir ada padaku."
"Baik, Nyonya Besar."
Vivienne menoleh kepada dokter. "Mulai sore ini, semua perlengkapan bayi diperiksa ulang. Yang berbulu, yang mudah rontok, keluarkan dari kamar bayi. Saya tidak mau kejadian seperti ini diulang dengan alasan apa pun."
"Saya akan buat daftar," jawab dokter.
"Bi Sari, minta semua pengasuh menandatangani catatan prosedur baru. Mulai sekarang, tidak ada tindakan darurat tanpa laporan tertulis setelahnya."
"Baik, Nyonya Besar."
Keira mendengar keputusan itu dengan dada yang perlahan mengendur. Ia bukan hanya diselamatkan dari tuduhan. Prosedur yang ia perjuangkan juga dipasang sebagai aturan rumah.
Ethan menatap ibunya. "Mama mengambil risiko."
"Kalau tadi Keira tidak mengambil risiko," jawab Vivienne lembut, "kita mungkin sedang menyiapkan ambulans jenazah, bukan perdebatan."
Kali ini Ethan diam.
Staf kembali dengan amplop cokelat tipis. Bi Sari menerimanya dengan dua tangan, lalu menyerahkan kepada Keira.
"Rp 20 juta," ucap Bi Sari. "Sesuai perintah Nyonya Besar."
Keira memandang amplop itu.
Dua puluh juta.
Angka yang bagi ruangan ini hanya kompensasi singkat, bagi Keira bisa menjadi pemeriksaan tambahan untuk Kiara, obat yang lebih baik, atau setidaknya napas sedikit panjang sebelum tagihan berikutnya datang.
Ia menerima amplop itu dengan dua tangan.
"Terima kasih, Nyonya Besar."
Vivienne mengangguk. "Istirahatlah sebentar. Setelah dokter selesai memeriksa bayi, kembali ke Nyonya Stephanie. Jangan biarkan dia mendengar kejadian ini dari orang lain."
"Saya mengerti."
Keira keluar dari aula dengan langkah yang masih terasa ringan dan berat sekaligus.
Di koridor, suara orang-orang mulai kembali. Ada yang berbisik tentang keberaniannya, ada yang menyalahkan Mbak Ratih, ada yang menyebut nama Ethan dengan hati-hati. Keira tidak menoleh.
Ia hanya ingin sampai ke kamar pengasuh.
Begitu pintu kamar kecil itu tertutup, tubuhnya seperti baru ingat cara lelah. Ia duduk di tepi ranjang, meletakkan amplop di pangkuan, lalu membuka ponsel yang ia sembunyikan di bawah lipatan baju bersih.
Panggilan video ke Kak Anisa tersambung setelah tiga kali nada.
Wajah Kak Anisa muncul, lelah tapi tersenyum. Di belakangnya, Kiara duduk di lantai, memegang krayon oranye.
"Kei!" Kiara langsung mendekat ke layar. "Lihat! Kucingnya punya mata hijau!"
Keira menelan sesuatu yang panas di tenggorokan.
"Bagus sekali, Kak."
Kiara menyipitkan mata. "Kei nangis?"
Keira cepat menghapus sudut matanya, tetapi air mata sudah jatuh lebih dulu.
"Nggak. Aku cuma capek."
"Kei jangan capek. Nanti kucingnya sedih."
Kalimat itu membuat Keira tertawa kecil di antara tangisnya.
Ia mengangkat amplop cokelat itu ke depan layar.
"Kak," bisiknya, "aku dapat banyak uang hari ini."
Kiara tidak mengerti nilai uang itu. Ia hanya tersenyum lebar, polos, seolah yang Keira bawa pulang bukan rupiah, melainkan matahari.
"Bisa beli krayon oranye?"
Keira menutup mulutnya dengan punggung tangan.
"Bisa," jawabnya pelan. "Bisa beli banyak sekali krayon oranye."
Di layar, Kiara tertawa senang.
Dan di kamar kecil paviliun belakang Kediaman Ciu, Keira akhirnya membiarkan air matanya jatuh tanpa suara.