Shen Yunan mengalami kematian tragis. Dikhianati keluarga, dikhianati pria yang dia cintai, menghabisii orang yang mencintainya dengan tulus.
Mendengar tawa sang putra mahkota yang baru naik tahta, dengan pedang di tangan yang telah menusuknya, bersama Shen Yuxiao, putri palsu yang mencuri tempatnya di kediaman Marquis selama 17 tahun. Shen Yunan bersumpah, dia akan membalas mereka semua. Dia akan membuat semua orang yang menertawakan kematiannya menangis.
'Jika ada kehidupan kedua, aku akan habisi kalian semua!'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noerazzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Sementara itu, ketika matahari bersinar cerah di atas kompleks Istana Kekaisaran Tangling, menyinari bangunan-bangunan megah yang berjajar rapi di balik tembok batu setinggi belasan meter. Atap-atap paviliun berlapis genting hijau giok dan emas berkilauan diterpa cahaya siang, sementara pilar-pilar kayu merah dengan ukiran naga serta burung hong berdiri kokoh menopang setiap bangunan.
Di kejauhan, menara-menara pengawas menjulang di setiap sudut kompleks, memperlihatkan betapa ketatnya pertahanan istana kekaisaran.
Istana Yipping, kediaman Putri Agung Chengyi, berada di sisi barat kompleks istana. Dari sana menuju Istana Timur dibutuhkan sekitar sepuluh menit berjalan kaki melewati jalan utama yang disusun dari batu putih halus.
Di sepanjang jalan, taman-taman kekaisaran ditata begitu indah. Hamparan bunga peoni merah dan merah muda bermekaran di antara semak-semak yang dipangkas rapi.
Kolam-kolam dipenuhi bunga teratai putih dan merah muda yang mengapung tenang di atas permukaan air jernih. Pohon osmanthus menyebarkan harum yang lembut, sementara rumpun bambu, pohon cemara, dan pohon plum menambah kesejukan di tengah megahnya lingkungan istana.
Meski suasana tampak damai, penjagaan sama sekali tidak longgar. Di setiap gerbang berdiri prajurit bersenjata tombak dan pedang. Regu patroli berjalan bergantian menyusuri jalan-jalan utama dengan langkah teratur, sementara beberapa pengawal berjaga di atas menara pengawas untuk mengawasi seluruh kompleks dari ketinggian.
Para kasim dan pelayan lalu-lalang membawa nampan, gulungan dokumen, serta berbagai kebutuhan istana, membuat kawasan itu selalu dipenuhi aktivitas.
Shen Yunan menunggu hingga perhatian para penjaga teralihkan oleh rombongan pelayan yang melintas. Begitu kesempatan itu datang, ia mengerahkan ilmu meringankan tubuh. Sosoknya bergerak begitu ringan hingga nyaris tidak meninggalkan jejak. Ia tidak melompat mencolok di udara, melainkan memanfaatkan bayangan pepohonan, dinding paviliun, dan atap-atap rendah sebagai pijakan.
Dalam beberapa kali lompatan ringan, jarak yang seharusnya ditempuh selama sepuluh menit berhasil ia lalui hanya dalam waktu singkat.
Tak lama kemudian, gerbang Istana Timur telah berada di depan matanya.
Berbeda dengan Istana Yipping, kawasan Istana Timur tampak lebih sibuk.
Paviliun-paviliun berdiri lebih rapat dengan halaman yang luas, dipenuhi para pejabat, pelayan, serta pengawal yang keluar masuk tanpa henti. Penjagaan di tempat itu juga lebih berlapis. Selain prajurit yang berjaga di gerbang dan koridor, beberapa pengawal tampak berpatroli mengelilingi bangunan utama dengan tatapan waspada.
Shen Yunan melompat ringan ke atas salah satu atap paviliun tanpa menimbulkan suara. Ia berjongkok rendah di balik bubungan atap yang melengkung, membiarkan hiasan genting menutupi sebagian tubuhnya. Dari tempat yang tinggi itu, seluruh kawasan Istana Timur terbentang jelas di hadapannya.
Sepasang matanya yang tajam mengamati setiap sudut. Ia memperhatikan arah patroli para penjaga, menghitung jumlah mereka, mencermati para pelayan yang keluar masuk membawa barang, serta mengingat letak setiap paviliun penting. Tidak ada gerakan yang luput dari pengamatannya. Dengan kesabaran seorang pemburu yang menunggu mangsanya lengah, Shen Yunan terus mengawasi situasi, mencari celah sekecil apa pun untuk menjalankan rencananya.
Hingga dia merasa pengamatannya sudah cukup. Dia pun beranjak ke tempat dimana tadi dia melihat Xie Rongyuan, adik kesayangan Xie Yuzin berada.
Di sebuah taman dekat kolam, adik kesayangan Xie Yuzin itu tampak bercengkrama dengan teman-temannya sesama putri bangsawan.
Shen Yunan turun dari atap. Dia berjalan pelan di koridor. Dia pun tampak seperti orang kebingungan, tapi itu hanya akting.
Seorang pelayan menghampirinya,
"Nona, nona salah satu nona bangsawan?" tanya pelayan itu.
"Ah aku? iya, aku putri Marquis Shen..."
"Agkkhh! tolong!"
"Tolong, ada yang tenggelam...!"
Shen Yunan yang memang menunggu kesempatan itu segera bergegas ke arah kolam. Tanpa berpikir panjang seperti nona-nona bangsawan yang lainnya. Yang hanya terlihat panik, saling berpegangan tangan dan berteriak. Shen Yunan tanpa ragu, menceburkan dirinya ke kolam.
Byurrr
Para penjaga yang ada disana juga ragu, masalahnya yang tenggelam itu adalah putri kaisar. Menyelamatkannya dari air, berarti merusak reputasinya. Bukannya akan diberi imbalan jasa atau pujian, yang ada mereka akan dihukum mati karena mencemari putri kerajaan.
Sementara para pelayan wanita, mereka mana ada yang bisa berenang. Alhasil, mereka hanya bisa terus berteriak meminta bantuan.
Shen Yunan berenang mendekati Xie Rongyuan. Tapi tidak langsung mendekatinya, setidaknya wanita yang dulunya sangat sombong padanya itu harus sedikit menderita. Minimal ada 200 mililiter air lah yang masuk ke dalam paru-parunya kan lumayan menyiksanya.
Namun Shen Yunan terus menggerakkan tangan dan kakinya. Dari sudut pandang sekuat orang. Tentu saja, akan terlihat seperti Shen Yunan berusaha berenang mendekati Xie Rongyuan.
Keributan masih terjadi, semua pelayan masih terus berteriak. Shen Yunan melihat Xie Rongyuan sudah nyaris tenggelam. Baru dia menendangkan kakinya ke air. Membuatnya lebih cepat sampai pada Xie Rongyuan. Dengan kedua tangannya dia menarik kepala dan tangan Xie Rongyuan. Membawanya ke tepi kolam.
"Hah... hah..."
Shen Yunan berakting kelelahan. Dan para pelayan langsung membantu Xie Rongyuan yang hampir pingsan.
"Tuan putri... Tuan putri!"
"Tekan dadanya, pasti air sudah masuk ke paru-parunya. Tekan dadanya supaya airnya keluar!"
Shen Yunan mengatakan itu dengan tersengal-sengal. Itu harus terlihat dramatis di mata semua orang.
Dia pelayan segera mendekati Shen Yunan.
"Nona, anda tidak apa-apa. Kami bantu..."
Shen Yunan melambaikan tangannya ke arah pelayan yang ingin membantunya.
"Jangan pikirkan aku, tolong dia dulu. Bajunya basah, dia bisa sakit!"
Xie Rongyuan melihat ke arah Shen Yunan. Setidaknya dia ingin tahu seperti apa orang yang telah menyelamatkannya.
"Kamu siapa?" tanya Xie Rongyuan yang merasa dirinya sudah lebih baik setelah para pelayan mengikuti saran Shen Yunan.
"Aku... aku nona keempat kediaman Marquis Shen! aku sepertinya tersesat. Bisa kalian bantu aku ke istana Yipping?" tanya Shen Yunan.
"Rongyuan... Rongyuan!"
Seorang pria datang dengan berlari ke arah Xie Rongyuan. Melihat pria itu, Shen Yunan tak melepaskan pandangannya. Dia memaku pandangannya pada pria yang saat ini menggunakan pakaian bangsawan biasa, tanpa jubah putra mahkotanya itu.
'Xie Yuzin! akhirnya kita bertemu lagi!' batin Shen Yunan dengan dendam yang bergejolak dalam dadanya.
Shen Yunan segera berdiri.
"Kalian ini benar-benar pantas dihukum!" katanya menunjuk ke arah Xie Yuzin.
"Dia..." Xie Yuzin menjeda ucapannya, karena Xie Rongyuan menyentuh tangan kakaknya itu.
"Dia yang telah menyelamatkan aku!"
"Nona, ganti saja pengawal mu. Paling tidak yang namanya pengawal itu harus selalu berada di dekat tuannya. Dimana kamu tadi, memangnya kalau nyawanya hilang kamu bisa ganti? huh, kesal sekali! tolong antar aku ke istana Yipping!" kata Shen Yunan yang langsung berbalik dan minta di antar pergi oleh salah satu pelayan Xie Rongyuan.
Pelayan itu menoleh ke arah Xie Rongyuan, dan Xie Rongyuan mengangguk.
"Kakak, jangan marah padanya. Dia hanya khawatir padaku!"
Dari jauh beberapa orang menggumam.
"Gadis itu berani sekali, apa dia tidak tahu kalau yang bicara padanya itu putra mahkota!"
Sedangkan Shen Yunan yang mengetahui hal itu tetap melangkah dengan cepat.
'Huh, rasanya masih kurang memaki. Tapi kalau aku keterlaluan memakinya, yang ada aku ketahuan punya dendam padanya. Yang penting aku sudah memakinya, cukuplah meski belum benar-benar puas!' batinnya.
***
Bersambung...
Namun jika lelaki menangisi seorang wanita, maka wanita itu adalah yg paling beruntung di cintai begitu hebat oleh pria yg mencintai nya..
Dan wanita itulah suhu pawang buaya cinta..
bikin lupa diri dll🤭