NovelToon NovelToon
Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Wanita Suci Dunia Binatang Yang Terlupakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Roditya

Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.

Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.

Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.

Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?

Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 — Senjata dari Kegelapan

"Serigala es di jalur utara?!" mata paman Bimo membelalak kaget mendengar teriakan penjaga menara.

"Berapa banyak?!" potong Aron cepat, tangannya langsung memegang erat gagang tombaknya.

"Lebih dari duapuluh ekor! Dan ada gerakan kelompok orang di belakang mereka!" jawab penjaga itu dengan napas memburu.

Aron menoleh pada Yana dan Paman Bimo. "Bimo, kumpulkan semua pemburu yang tersisa! Naikkan pertahanan di dinding utara!"

Yana, meski lengannya masih terbebat kain tebal akibat luka cakar beruang, langsung melangkah mengikut ayahnya menuju menara pengawas bagian barat.

Angin dingin meniup kencang rambutnya saat Yana menaiki tangga kayu menara.

Dari atas ketinggian, hamparan salju di luar benteng terlihat jelas.

Paman Bimo menyerahkan teropong tabung kayu pada Aron. "Lihat ke arah celah bukit batu itu!"

Tubuh Aron mendadak kaku. "Itu... Suku Rubah?"

"Mana? Coba aku lihat!" sahut Paman Bimo.

Yana juga ikut mengambil teropong dari tangan ayahnya dan mengamatinya sendiri.

Di balik rimbunnya pohon cemara yang mulai membeku, sekelompok prajurit berselubung mantel bulu oranye-kecokelatan tampak berjalan beriringan. Namun, yang membuat rahang Yana mengeras bukan kedatangan Suku Rubah—melainkan dua sosok yang berjalan di tengah-tengah rombongan itu.

Luka dan Ayla.

"Mereka... sangat akrab dengan orang-orang Suku Rubah?" bisik Paman Bimo terperanjat saat ikut melihat dari celah dinding menara. "Lihat! Luka tertawa bersama pemandu Suku Rubah!"

Ayla berjalan dengan tenang di sebelah seorang pria tinggi berselimut bulu rubah emas yang tampak seperti pemimpin rombongan.

Tidak ada raut takut atau tertekan di wajah Ayla maupun Luka.

Mereka justru memandu kelompok Suku Rubah menyusuri celah jalan pintas yang selama ini menjadi rahasia pertahanan Suku Serigala.

"Pengkhianat kotor!" maki Paman Bimo, meninju dinding kayu menara hingga bergetar. "Baru satu jam keluar dari gerbang, mereka langsung menjual jalur suku kita pada Suku Rubah!"

Yana menyipitkan mata, memperhatikan kawanan serigala es yang bergerak mendahului rombongan Suku Rubah. Kawanan serigala itu tidak bergerak seperti binatang liar yang mencari makan.

Gerakan mereka teratur, seolah-olah sengaja digiring ke satu titik.

"Serigala es itu sengaja digiring kesini," kata Yana dingin, suaranya menembus deru angin utara. "Suku Rubah memakai racun perangsang emosi untuk membuat kawanan serigala es mengamuk ke arah benteng kita. Ini bukan kerusuhan binatang biasa, ini serangan yang telah dirancang."

"Mereka sengaja memanfaatkan kelengahan kita setelah kekuatan pemburu kita berkurang!" pangkas Aron dengan wajah memerah murka. "Bersiap! Jangan biarkan mereka mendekat!"

Sebelum perintah Aron selesai disampaikan, raungan melengking berdering dari balik semak-semak luar benteng.

AWOOOO ....

Gerbang kayu bagian luar pertahanan pertama suku srigala seketika hancur berkeping-keping dihantam oleh tubrukan tiga ekor serigala es raksasa berbulu putih perak.

Pagar kayu pelindung itu ambruk dalam hitungan detik.

"Pagar depan jebol!" teriak seorang penjaga dari bawah. "Serigala es menembus jalur utama!"

Kepanikan seketika meledak di tengah pemukiman.

Para wanita menjerit sambil merangkul anak-anak mereka sembari berlari menuju balai suku.

Para pemburu senior yang tersisa berusaha menahan serbuan dengan kekuatan mereka, namun jumlah prajurit yang bisa bertarung saat ini sangat sedikit Sebab sebagian besar sedang berburu dihutan.

"Kekuatan kita terlalu sedikit." teriak Paman Bimo frustrasi saat menarik tali busurnya. "Kita kekurangan orang! Kalau begini terus, dalam lima menit mereka akan masuk ke area pemukiman!"

"Yana! Mundur ke belakang!" perintah Aron, bersiap melompat turun untuk bertarung jarak dekat.

"Tunggu, Ayah!" panggil Yana keras.

Yana berbalik dan berlari cepat menuju gudang penyimpanan kayu pribadi di samping rumah Kepala Suku.

Tanpa ragu, ia merobek kain kulit tebal yang menutupi dua peti kayu besar di sudut ruangan.

Yana memikul peti itu dan membawanya keluar ke tengah lapangan dengan gerakan sigap. Dengan sekali tendangan, engsel peti terlepas, menyingkapkan tumpukan belasan senjata kayu berstruktur besi dengan tuas pemutar dan tempat anak panah beruntun.

"Paman Bimo! Ayah! Panggil seluruh pemburu ke sini!" seru Yana nyaring.

Paman Bimo dan sepuluh pemburu tersisa berlari mendekat dengan napas terengah-engah. "Senjata apa ini, Yana?!"

"Panah otomatis," jawab Yana lugas tanpa berbelit-belit. "Setiap wadah bisa menampung sepuluh anak panah sekaligus. Kalian tidak perlu menarik tali busur satu per satu. Cukup kokang tuas di bagian bawah dan tarik pemicunya!"

Yana mengambil satu unit, mengarahkan moncong senjata kayu itu ke arah seekor serigala es yang baru saja meloncat melewati puing-puing pagar.

CTAK! CTAK! CTAK! CTAK!

Empat anak panah berujung besi meluncur berturut-turut dalam hitungan detik, menancap telak di leher dan dada serigala es tersebut hingga binatang raksasa itu ambruk seketika di atas salju.

Para pemburu terpana melihat kecepatan membunuh senjata tersebut.

"Jangan diam saja! Ambil dan isi celah benteng!" perintah Aron, matanya berbinar melihat keajaiban senjata buatan putrinya.

Sepuluh pemburu senior langsung menyambar panah otomatis itu.

Tanpa butuh waktu lama untuk belajar, mereka berdiri berjejer di atas panggung pertahanan di dalam benteng.

CTAK-CTAK-CTAK-CTAK-CTAK!

Hujan anak panah beruntun menderu tanpa henti menembus udara dingin.

Kawanan serigala es yang tadi bergerak liar tak terkendali, seketika bertumbangan satu per satu.

Lolongan kesakitan menggema di celah bukit saat tubuh-tubuh besar berbulu tebal itu roboh menimpa tumpukan salju tebal.

Suku Rubah yang mengintai dari balik pohon cemara terkejut setengah mati melihat pertahanan Suku Serigala yang mendadak mengeluarkan gelombang anak panah tanpa jeda.

Tanpa menunggu perintah, rombongan Suku Rubah bersama Ayla dan Luka berbalik arah dan melarikan diri kembali ke dalam kegelapan hutan.

Pertempuran yang tadinya diprediksi akan menjadi pembantaian bagi Suku Serigala berakhir dalam waktu kurang dari lima belas menit.

Asap tipis melayang di udara dingin di luar gerbang suku.

Dua puluh bangkai serigala es raksasa tergeletak tak bernyawa di atas tanah bersalju.

"Dewa Binatang..." bisik Paman Bimo terpana, lalu menoleh pada Aron dan Yana. "Daging dari dua puluh serigala es ini... ditambah bulu tebal mereka yang sangat hangat... ini cukup untuk memberi makan seluruh suku sampai musim dingin berakhir!"

Warga suku yang tadinya bersembunyi perlahan keluar.

Sorak-sorai meledak di tengah pemukiman saat mereka menyadari ancaman besar telah sirna.

Aron menepuk bahu Yana dengan rasa bangga yang mendalam, sementara para pemburu menatap Yana dengan tatapan penuh hormat.

Malam harinya, setelah seluruh daging buruan dipotong dan dibagikan ke tiap rumah, Yana berbaring di kasurnya. Lengan kiryi yang terluka terasa agak berdenyut, namun rasa lelah yang menumpuk akhirnya membuat Yana tertidur pulas.

Dalam lelapnya, suasana di sekitar Yana mendadak berubah.

Bukan lagi kamar kayu yang dingin, melainkan, sebuah padang rumput hijau luas di bawah naungan langit keemasan yang hangat.

Di depan Yana, berdiri sosok raksasa berwujud serigala putih bersinar dengan mata emas yang memancarkan kearifan.

Dewa Binatang.

Yana tidak merasa takut. Ia berdiri menatap sang penguasa hutan dalam mimpinya.

"Anakku," suara Dewa Binatang terdengar menggema lembut di dalam kepala Yana, bagai ketukan air di atas batu bening. "Kamu telah menjaga sukumu dari kehancuran dengan keberanian dan pikiran yang tajam."

"Aku hanya melakukan apa yang harus kakukan," sahut Yana tenang.

Sosok serigala putih itu melangkah mendekat, menundukkan kepalanya sejajar dengan tubuh Yana.

"Pengetahuan dan perubahan adalah bagian dari alur dunia yang tak bisa kamu hentikan sepenuhnya," ujar Dewa Binatang dengan nada penuh petunjuk. "Kamu tidak perlu terlalu keras menghindari perubahan. Hanya saja... pastikan setiap perubahan yang kamu bawa tidak merusak keseimbangan alam dan tanah yang memberimu kehidupan."

Yana terpaku mendengar pesan itu. Sebelum sempat bertanya lebih jauh, cahaya keemasan di padang rumput itu mendadak semakin terang, menyilaukan pandangannya dan menyerap seluruh kesadarannya kembali ke alam nyata.

1
Asra
Menarik! semangat berkarya nya kak.🙌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!