Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 30
Bab 30: Orang Tua Hendro
Bu Yati tidak menjawab pertanyaan Pak Tono malam itu.
Jawabannya datang beberapa bulan kemudian, turun dari mobil hitam mengilap yang berhenti tepat di depan rumah mereka.
Kampung Sumber langsung hidup. Anak-anak yang bermain kelereng berhenti. Ibu-ibu yang sedang membeli sayur di gerobak menoleh. Mobil itu terlalu bersih untuk jalan sempit mereka, terlalu mahal untuk berhenti di depan rumah Pak Tono yang cat pagarnya sudah kusam.
Hendro keluar lebih dulu. Wajahnya tegang.
Di belakangnya turun seorang laki-laki berusia sekitar lima puluhan, kemeja batiknya halus, jam tangannya mengilap. Pak Wibowo tidak perlu bicara untuk membuat orang tahu ia terbiasa didengar.
Perempuan di sampingnya turun lebih lambat. Bu Nur memakai kerudung sutra, tas kecil bermerek, dan parfum yang baunya sampai ke teras sebelum langkahnya sampai. Matanya bergerak cepat, menyapu halaman, kursi plastik, sandal yang berjajar, dinding ruang depan, lalu berhenti pada tirai jendela yang warnanya sudah pudar.
Satu kerutan muncul di dahinya.
Bu Yati melihatnya dan langsung tahu, perang sudah dimulai sebelum salam diucapkan.
"Assalamu'alaikum," kata Hendro.
"Wa'alaikum salam." Bu Yati menyambut dengan senyum secukupnya. "Silakan masuk."
Tari berdiri di belakang ibunya, memakai kebaya sederhana warna biru muda. Tangannya dingin. Pak Tono duduk di kursi utama, berusaha menegakkan punggung agar terlihat seperti kepala keluarga yang berwibawa. Guntur bersandar di dekat pintu kamar, mata tajam. Bagus sengaja datang, katanya ingin menemani Tari, padahal Bu Yati tahu anak itu juga ingin melihat drama.
Begitu duduk, Bu Nur meletakkan tasnya di pangkuan, tidak di meja.
"Rumahnya... ramai sekali," katanya.
Nada itu halus. Isinya tidak.
Bu Yati menuang teh. "Rumah kecil memang begitu, Bu. Kalau hati penghuninya lapang, semua orang bisa masuk."
Guntur menunduk menahan senyum.
Pak Wibowo berdeham. "Kami datang karena Hendro mengatakan ingin serius dengan Lestari."
Tari sedikit kaku mendengar nama lengkapnya dari mulut orang asing. Hendro menoleh kepadanya, seakan ingin memastikan ia baik-baik saja.
"Kami juga ingin bicara serius," jawab Bu Yati.
Bu Nur mengambil gelas teh, mencium aromanya sebentar, lalu meletakkannya lagi tanpa minum. "Hendro anak pertama kami. Sejak kecil hidupnya tertata. Sekolah bagus, lingkungan bagus, rumah luas. Dia biasa dengan standar tertentu."
Pak Tono menggeser duduknya. Wajahnya mulai tidak enak.
Bu Nur melanjutkan, "Saya tidak merendahkan siapa pun. Tapi pernikahan itu bukan cuma dua orang. Ada keluarga, kebiasaan, cara hidup. Kalau nanti Tari tinggal di Surabaya, dia harus menyesuaikan diri."
Matanya turun ke meja makan kecil di sudut ruangan. Di sana Tari sudah menyiapkan nasi, sayur asem, ayam goreng, sambal terasi, dan kerupuk. Masakannya sederhana, tetapi semua dibuat sejak pagi. Tangan Tari bahkan masih sedikit merah karena terkena minyak panas.
"Menunya rumahan sekali," ujar Bu Nur. "Hendro biasanya makan lebih teratur. Di rumah kami, kalau ada tamu penting, paling tidak ada lauk yang pantas."
Tari menunduk lebih dalam.
Bu Yati melihat jari anaknya menyentuh bekas merah di punggung tangan. Ada panas yang naik ke dadanya, tetapi ia menahannya. Tidak semua hinaan perlu dibalas dengan suara tinggi. Ada hinaan yang lebih sakit kalau dipantulkan dengan tenang.
"Kalau tamunya datang membawa hati baik, sayur asem juga cukup," kata Bu Yati. "Kalau hatinya sudah asam dari jalan, disuguhi restoran hotel pun tetap kurang."
Guntur batuk keras. Bagus menutup mulut dengan gelas.
Bu Nur menatap mereka, jelas tersinggung, tetapi masih menjaga senyum tipis.
"Tari bisa belajar," kata Pak Tono cepat, sebelum Bu Yati bicara. "Anak saya penurut."
Tari menunduk.
Bu Yati menoleh kepada Pak Tono. "Tari bukan barang yang harus cepat-cepat ditawarkan."
Pak Tono tersedak kata sendiri.
Hendro menegakkan tubuh. "Bu, Pak, saya sudah bilang. Saya tidak mau Mbak Tari dipaksa pindah sebelum siap."
Bu Nur menatap anaknya. "Kamu jangan bicara seperti belum mengerti hidup. Istri ikut suami itu wajar."
"Wajar kalau istri memang mau."
Ruangan menjadi sunyi.
Pak Wibowo meletakkan kedua tangan di lutut. "Baik. Kita bicara praktis saja. Berapa mas kawin yang keluarga ini minta?"
Tari mengangkat wajah.
Bu Yati tidak bergerak.
"Kami bisa bayar," lanjut Pak Wibowo. "Asal setelah menikah, Hendro tetap tinggal di Surabaya. Kariernya tidak boleh terganggu. Keluarga kami punya nama. Jangan sampai urusan rumah tangga membuat dia terseret ke lingkungan yang tidak selevel."
Kata selevel jatuh di ruang depan seperti batu dilempar ke piring kaca.
Guntur bergerak maju, tetapi Bagus menahan lengannya.
Bu Yati tersenyum tipis. "Pak Wibowo pikir anak saya dijual?"
"Jangan salah paham. Ini bentuk penghargaan."
"Kalau menghargai, Bapak bertanya apa yang Tari inginkan. Bukan berapa harga agar dia bisa dibawa."
Bu Nur tertawa kecil. "Bu Yati, jangan terlalu sensitif. Kami hanya menjaga masa depan Hendro."
"Masa depan Hendro atau nama baik keluarga?"
Mata Bu Nur menyipit.
Pak Wibowo mencoba mengambil alih. "Kami tidak menolak Tari. Tapi kami harus memastikan dia cocok. Hendro itu anak pejabat. Lingkungan kami berbeda. Kalau nanti ada acara resmi, apa Tari siap? Kalau ada tamu kantor, apa dia bisa membawa diri?"
Tari meremas ujung kebaya.
Hendro hendak bicara, tetapi Bu Yati mengangkat tangan kecil, menghentikannya.
"Pak Wibowo," kata Bu Yati pelan, "kalau Bapak dan Ibu memang sangat pandai menjaga anak, boleh aku bertanya satu hal?"
Pak Wibowo tampak puas, mengira Bu Yati akhirnya melunak. "Silakan."
"Putri."
Hanya satu nama.
Wajah Hendro berubah. Tari menoleh cepat. Bu Nur membeku.
Bu Yati tetap duduk tegak. "Putri juga anak Bapak Ibu, kan? Anak perempuan. Darah sendiri. Kalau keluarga ini begitu rapi, begitu besar, begitu berstandar tinggi, kenapa Putri bisa terjebak di kampung bertahun-tahun tanpa ada yang mencari dengan benar?"
Udara seperti ditarik keluar dari ruangan.
Pak Wibowo menatap Bu Yati dengan mata keras. "Itu urusan keluarga kami."
"Tadi Bapak bilang pernikahan bukan cuma dua orang. Ada keluarga. Jadi aku perlu tahu keluarga seperti apa yang akan berdiri di belakang Hendro." Bu Yati mencondongkan tubuh sedikit. "Aku melihat sendiri surat Putri. Aku melihat Hendro datang seperti orang kehilangan separuh nyawa. Aku juga melihat, waktu anak perempuan kalian menderita, yang paling cepat bergerak bukan rumah besar kalian. Tapi orang kampung seperti aku."
Bu Nur berdiri setengah. "Jaga bicara Ibu."
"Aku sedang menjaganya. Kalau tidak, dari tadi aku sudah bicara lebih kasar."
Guntur tidak lagi menahan senyum. Pak Tono malah pucat, mungkin karena baru sadar istrinya tidak gentar bahkan di depan orang yang kelihatan punya jabatan.
Pak Wibowo merendahkan suara. "Kami punya alasan."
"Alasan apa? Malu? Capek? Menganggap anak perempuan yang bermasalah lebih baik disembunyikan?" Bu Yati menunjuk Tari tanpa menyentuh. "Anakku juga perempuan. Bedanya, aku tidak akan membuang dia demi nama baik."
Tari menggigit bibir, matanya basah.
Hendro berdiri.
"Pak, Bu," katanya, suaranya terkendali tetapi tegang. "Saya membawa kalian ke sini untuk menghormati keluarga Mbak Tari. Bukan untuk menghina."
Bu Nur menoleh tajam. "Kamu sekarang membela mereka?"
"Saya membela yang benar."
"Hendro!"
"Mbak Tari tidak pernah meminta uang Bapak. Bu Yati tidak pernah meminta jabatan Bapak. Justru keluarga ini yang membantu Putri ketika kita semua terlambat."
Pak Wibowo berdiri perlahan. "Kamu lupa siapa yang membesarkanmu?"
"Saya tidak lupa. Karena itu saya masih mengajak bicara baik-baik."
Bu Nur menunjuk Tari. "Sejak dekat dengan perempuan ini, kamu berubah."
Tari mundur setengah langkah, tetapi Hendro langsung berdiri di sampingnya. Tidak menyentuh berlebihan, hanya cukup dekat agar semua orang melihat ia memilih posisi.
"Saya berubah sejak Putri ditemukan," kata Hendro. "Sejak saya sadar di rumah sendiri, suara anak perempuan bisa tidak didengar."
Kali ini Pak Wibowo tidak punya jawaban cepat.
Bu Yati melihat wajah Bu Nur. Di balik parfum mahal dan kain halus, ada panik yang tidak bisa ditutup. Orang seperti Bu Nur sanggup menghina dapur orang lain, tetapi paling takut jika dapur rumahnya sendiri dibuka.
"Kalau Bapak Ibu datang untuk mengenal Tari, silakan," kata Bu Yati. "Kalau datang untuk membeli dan mengukur harga anakku, pintu masih di sana."
Pak Tono menatap istrinya seperti baru mengenalnya untuk kesekian kali.
Bu Nur mengambil tasnya dengan gerakan kasar. "Tidak usah sok paling bermartabat. Keluarga kecil seperti ini biasanya baru bicara keras karena belum melihat uang yang cukup."
Bu Yati berdiri.
Tari langsung memegang lengan ibunya. "Mak..."
Bu Yati tidak maju. Ia hanya tersenyum, dingin sekali. "Aku memang orang kecil, Bu Nur. Karena itu aku tahu bedanya uang belanja, uang mahar, dan uang untuk menutup mulut. Yang terakhir itu baunya paling busuk."
Wajah Bu Nur merah.
Pak Wibowo menahan istrinya. "Kita pulang."
Hendro tidak bergerak.
"Kamu ikut," kata Pak Wibowo.
Hendro menatap ayahnya. "Saya antar Mbak Tari dulu tenang. Setelah itu saya pulang sendiri."
"Jangan mempermalukan kami."
"Saya sedang berusaha agar kita tidak lebih malu."
Bu Nur mengeluarkan tawa pendek yang hampir seperti desis. Ia berjalan ke pintu, sandalnya menghantam lantai. Di teras, ibu-ibu yang pura-pura menyapu langsung menunduk sibuk.
Sebelum masuk mobil, Bu Nur berbalik. Matanya melewati Hendro, menusuk Tari, lalu berhenti pada Bu Yati.
"Ini belum selesai."
Pintu mobil dibanting.