NovelToon NovelToon
KETULUSAN HATI ELINA

KETULUSAN HATI ELINA

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Henny

Elina Jovanka melihat bagaimana hancurnya kehidupan ibunya saat ayahnya memutuskan untuk memiliki 2 istri. Saat sang ibu meninggal, Elina berjanji tak akan pernah menikah jika suaminya berpoligami.
Saat ia dipertemukan dengan cinta pertama dalam hidupnya, Okan Atmaja langsung melamar Elina dan mereka menikah. Elina yakin kalau Okan akan mencintainya sebagai satu-,satumya wanita dalam hidupnya. Namun, Elina tak pernah membayangkan kalau untuk mendapatkan restu dari ibu mertuanya, ia harus merelakan Okan menikah dengan gadis lain.
Sanggupkah Elina bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Simpan Dalam Hati

Ingin rasanya Arkan memeluk Elina saat melihat bagaimana terluka Elina menerima kenyataan yang baru saja Arkan sampaikan.

"Arkan, aku mau pulang." Elina berdiri dan bermaksud akan pergi namun Arkan tiba-tiba menahan tangan Elina.

"Jangan dulu pergi saat hatimu belum tenang. Berbahaya."

Elina merasa sangat rapuh dan hancur. Arkan secara perlahan menarik tangan Elina dan memeluk perempuan itu. Tangannya mengusap punggung Elina perlahan.

"Mengapa ibu mertuaku membenci aku seperti ini?" Isak Elina dalam pelukan Arkan.

"Menangislah, Elina. Menangislah sebanyak yang kau mau agar hatimu merasa tenang." kata Arkan dengan penuh kelembutan.

Elina seakan menemukan tempat untuk menumpahkan semua isi hatinya. Tangisnya semakin dalam sampai akhirnya ia menyadari sesuatu. Secara spontan ia melepaskan pelukan Arkan.

"Maafkan aku, Arkan. Seharusnya aku tak boleh memeluk mu. Aku sudah menikah."

Arkan mengangguk. "Aku memelukmu tak ada maksud apapun, Elina. Aku hanya ingin membuatmu tenang."

"Terima kasih. Aku memang merasa tenang sekarang." Elina mengambil tissue yang ada di meja kerja Arkan. Ia membersihkan wajahnya.

"Hati-hati menyetirnya ya? Atau kau mau aku mengantarmu? Biar mobilmu diantar oleh sopirku."

Elina menggeleng. Ia menatap Arkan dengan wajah yang dibuat setegar mungkin. "Arkan, apakah ada kemungkinan bagiku untuk hamil?"

"Dokter Kirana mengatakan kalau kemungkinan itu ada. Lusa, beliau sudah ada. Jadwal pertemuanmu pukul 5 sore. Dia akan memberikan obat agar indung telurmu bisa diperbaiki. Ingat, jangan minum apapun juga yang diberikan oleh ibu mertuamu. Dan jika kau memutuskan untuk melaporkannya ke polisi, aku ada bersamamu."

Elina merasa tersentuh dengan perhatian Arkan. "Akan kupikirkan. Aku pergi dulu ya. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Elina meninggalkan ruangan dokter Arkan masih dengan hati yang terluka. Ia masuk ke dalam mobilnya. Tangannya meraih ponselnya. Ia ingin menceritakan semua pada konselornya. Ia belum sanggup mengatakan ini pada Okan, Anita atau Dewi.

"Hallo mba Olivia...." dan mengalirlah cerita dari mulut Elina. Ia kembali menangis.

"Kau harus kuat, Elina. Bersyukurlah karena Tuhan menolongmu untuk tahu semuanya sebelum indung telurmu benar-benar rusak. Sekarang apa keputusanmu? Kau mau melaporkan ibu mertuamu?"

"Aku bingung, mba. Nggak tahu harus bagaimana. Aku rasanya tak mau lagi pulang ke rumah. Entah bagaimana rasanya harus memandang wajah ibu mertuaku.

"Elina, belajar untuk mengampuni. Apapun keputusanmu nanti, semuanya ada konsekuensi. Mba hanya berharap agar kamu tetap tenang. Karena hanya orang yang tenang yang bisa memikirkan segala sesuatunya dengan baik. Perbanyak ibadahmu. Tuhan tak akan membiarkan orang baik selamanya dizolimi."

"Makasi, mba."

Elina pun mengakhiri percakapan mereka. Menjalankan mobilnya dengan tenang. Ponselnya berbunyi. Alarm mengingatkan waktu sholat Ashar. Elina pun melihat sebuah masjid dan mampir di sana. Ia bersyukur karena selalu membawa peralatan sholatnya di mobil.

Kembali Elina merasakan ketenangan setelah i menyelesaikan sholatnya. Namun entah mengapa Elina enggan untuk pulang. Setelah membuka mukena, ia masih tetap duduk di depan pintu masjid. Pikirannya jauh menerawang. Mengingat kembali saat pertama bertemu dengan Okan. Semuanya sangat indah. Jatuh cinta diusia remaja. Elina tak pernah menduga, sejak ia jatuh cinta pada Okan, hatinya tak pernah mau berpaling pada yang lain. Elina sudah mencoba berkali-kali untuk dekat dengan pria lain, namun kenyataannya, ia selalu mengingat Okan.

"Nak, apa yang kau lakukan di sini?" tanya seorang perempuan bercadar hitam.

"Maaf, aku hanya merasa tenang berada di masjid. Ibu pengurus masjid ini?"

"Saya guru ngaji. Suami saya imam di sini. Sebentar lagi magrib. Saya perhatikan kalau kamu sudah beberapa jam ada di sini."

"Saya punya masalah, Bu. Rasanya cobaan ini sangat berat. Saya tak sanggup lagi memikulnya."

"Panggil saja, umi. Nama saya umi Sitti. Saya nggak tahu masalahmu apa. Namun percayalah. Allah tak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan kita. Sabar, iklhas dan tawakal. Akan ada saatnya, Allah memulihkan keadaanmu."

Elina mengangguk.

"Mau sholat magrib?"

"Iya, umi."

Selesai sholat, Umi Sitti menyampaikan pengajaran iman bagi Elina sambil menunggu sholat ashar. Hati Elina semakin merasa damai.

*******

Okan berdiri di teras rumahnya dengan gelisah. Ini sudah hampir jam 8 malam dan Elina belum pulang. Sudah puluhan kali Okan menghubunginya namun ponsel Elina tidak aktif.

Ya Allah, jangan sampai terjadi sesuatu pada Elina. Aku takut kalau ia sampai celaka.

Anita dan Dewi juga tak tahu kemana Elina pergi.

Tak lama kemudian, Okan melihat mobil Elina memasuki gerbang. Ia langsung menarik napas panjang. Ada perasaan lega dalam hatinya. Okan segera menyusul Elina ke garasi mobil.

"Sayang, aku sangat...." kalimat Okan terhenti. Ia kaget melihat mata Elina yang bengkak. Sangat jelas terlihat kalau Elina menangis sangat lama.

"Ada apa?" tanya Okan dengan wajah khawatir.

Elina tak menjawab. Ia hanya mengambil tangan kanan Okan dan mencium punggung tangan suaminya.

"Maaf, mas. Aku pulang terlambat." Kata Elina lalu segera melangkah menuju ke dalam rumah. Elina memilih ikut pintu samping.

Pintu sambil sebelah kanan langsung berhadapan dengan ruangan makan. Terlihat Susi sedang minum sesuatu. Elina teringat dengan sup yang pernah diantarkan Susi padanya. Dadanya terasa bergemuruh.

"Assalamualaikum!" Elina akhirnya menyapa. Ada Okan yang berjalan di belakangOkan

"Waalaikumsalam." balas Susi.

Elina hanya tersenyum sekilas dan langsung menuju ke tangga. Okan tetap mengikutinya tanpa bicara. Di ujung tangga, Elina berpapasan dengan Larasati yang sedang menggendong Haikal. Dada Elina langsung terasa sakit. Namun di dalam hati, Elina mengingat kata-kata umi Sitti. Dia harus belajar mengampuni.

"Selamat malam, bu!" Elina akhirnya menyapa mertuanya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ke

Larasati hanya mengangguk. Ia juga sepertinya memperhatikan wajah Elina yang terlihat kacau dengan mata yang bengkak.

"Okan, tolong peluk Haikal sebentar."

"Ibu, berikan dulu pada pengasuhnya. Aku mau menyusul Elina."

"Ada apa dengan Elina?"

"Aku nggak tahu, Bu." Okan bergegas menuju ke kamar Elina.

Saat ia membuka pintu kamar, Elina tak ada. Ia tahu Elina pasti ada di kamar mandi karena ada bunyi air yang terdengar.

Tak sampai 10 menit, Elina sudah keluar dari kamar mandi. Ia sudah menggunakan piyamanya. Rambutnya diikat satu.

"Sayang, ada apa?" tanya Okan?

"Nggak ada apa-apa, mas." Elina perlahan naik ke atas tempat tidur. Ia membaringkan tubuhnya sambil membelakangi Okan.

"Sayang, kamu pasti menyembunyikan sesuatu." Okan ikut naik ke atas tempat tidur. Ia menarik punggung Elina agar istrinya itu menatapnya.

"Mas, aku capek."

"Tapi ada apa, sayang. Kamu nggak mungkin menangis sampai matamu bengkak begitu kalau tidak ada apa-apa."

Elina berada di ujung kebimbangan. Haruskah ia mengatakannya?

"Eli....!" Okan menyentuh tangan istrinya. "Apa yang kau sembunyikan?"

"Dokter mengatakan kalau indung telur ku mengalami kerusakan. Itulah sebabnya aku menangis." Elina tertunduk. Ia tak sanggup mengatakan apa penyebab sesungguhnya sampai ia menangis.

Okan membelai pipi istrinya. "Eli, bukankah aku pernah katakan padamu, cintaku padamu lebih berarti dari apapun juga. Aku tak akan pernah berubah sekalipun kau tak bisa hamil. Kita bisa adopsi anak jika kau mau."

"Tapi aku perempuan, Okan. Aku menginginkan memiliki anak dari rahimku sendiri."

Okan memeluk Elina. "Sayang, jangan susahkan dirimu dengan berita ini. Mengapa kau tak mengajakku ke dokter bersamamu? Bukankah tadi setelah makan siang, aku katakan kalau jadwalku kosong?"

"Aku juga baru ditelepon sesudah makan siang." Maafkan aku yang berbohong, mas.

Okan melepaskan pelukannya. "Jangan menangis lagi." Okan menghapus air mata Elina.

"Aku mau tidur, mas." Elina kembali membaringkan tubuhnya. Okan memeluk Elina dari belakang. Ia berusaha menenangkan istrinya sambil mengusap pundak Elina.

*********

Waktu terus berlalu. Elina memilih untuk menyimpan semua peristiwa itu dalam hatinya. Ia juga masih terus berkonsultasi dengan dokter Kirana. Kali ini Okan selalu menemaninya. Namun Elina sudah meminta dokter Kirana untuk merahasiakan mengenai jamu buatan mertuanya itu.

Bayi Haikal kini berusia 4 bulan. Elina sesekali memeluknya walaupun ia tahu kalau Larasati tak terlalu suka Elina dekat dengan Haikal. Susi sudah kembali berkuliah semenjak Haikal berusia 2 bulan. Ia hampir selalu pulang malam karena sedang menyelesaikan tugasnya karena sebentar lagi ia akan ujian proposal. Haikal bahkan lebih banyak diurus oleh Larasati dan pengasuh bayi.

Rumah yang Okan bangun hampir rampung semuanya. Menurut Okan, tak sampai satu bulan, Elina sudah bisa mengatur perabotan yang telah mereka pesan.

Hampir setiap malam, Okan memilih tidur bersama Elina. Ia akan berada di kamar Susi jika Haikal rewel dan menangis di tengah malam.

Okan sebenarnya ingin melaksanakan niatnya untuk menalak Susi. Tapi akhir-akhir ini Larasati sering sakit sehingga Elina meminta untuk menundanya sampai mereka pindah rumah.

Suatu hari, Larasati pernah marah karena Elina tak mau meminum jamu yang dia buat.

"Dokter memintaku untuk tak meminum obat atau jamu apapun juga selama proses pengobatan. Aku sendiri juga heran. Kenapa indung telurku sampai bermasalah pada hal sebelumnya pernah hamil." Ujar Elina. Ia dapat melihat wajah Larasati agak gugup. Namun ia tertolong karena Susi datang membawa Haikal.

"Eh, cucu nenek. Kesayang nenek." Ujar Larasati lalu mengambil Haikal dari gendongan Susi.

Lagi-lagi Elina menyimpan semua itu dalam hatinya.

"Ibu, hari ini aku pulang malam, ya? Soalnya salah satu dosen pembimbingku memberikan jadwal sesudah magrib." Ujar Susi yang sudah siap ke kampus. Elina dapat melihat kalau Susi sekarang memakai tas kuliah yang mahal, baju-baju yang dipakainya juga hampir selalu baru. Susi bahkan selalu berdandan jika keluar rumah.

"Baiklah."

"Stok ASI-nya hanya dua botol. Jadi berikan saja susu formula." Kata Susi sebelum akhirnya pergi.

Elina pun naik kembali ke kamarnya. Ia sudah terlambat ke toko kuenya hari ini.

Saat ia masuk ke kamar, dilihatnya Okan masih memakai jubah mandinya dan sedang memeriksa tabletnya.

"Mas, kok belum ganti baju? Ini sudah jam 8."

Okan memandang Elina sekilas lalu kembali konsentrasi dengan tabletnya.

"Ada apa sih, mas?" tanya Elina penasaran. Ia mengambil kemeja Okan lalu membuka jubah mandi suaminya dan mulai memakaikan baju Okan.

"Terima kasih, sayang. Aku sedang memeriksa laporan pemakaian kartu kreditnya Susi. Bulan ini dia sudah menghabiskan hampir 40 juta."

"Apa?" Elina terkejut.

"Dia memang membeli baju Haikal dan juga susunya. Tapi keperluan Haikal tak sampai 5 juta. Selebihnya adalah ia belanja untuk dirinya sendiri. Beberapa kali makan di restoran mewah dengan bayaran di atas 2 juta. Aku akan merubah nya menjadi kartu kredit berlimid. Susi terlalu boros." Okan yang sudah memakai celananya menatap Elina. "Pengeluaran mu bulan ini hanya 4 juta. Semua pengeluaran mu hanya bumbu dapur, daging dan sayuran. Mengapa kamu nggak pernah menggunakan untuk dirimu sendiri?"

"Aku kan punya penghasilan ku sendiri, mas."

Okan memeluk Elina. "Aku bangga padamu, sayang. Namun aku juga sedih karena semua barang yang kau pakai untuk dirimu, selalu menggunakan uangmu."

Elina hanya tersenyum.

Okan selesai mengenakan pakaiannya. Keduanya pun turun ke bawa. Okan mencium pipi putranya yang sedang berjemur di halaman depan.

Keduanya pun pergi dengan mobil yang berbeda.

***********

Siang ini, Elina mengantar kue ke sebuah restoran. Malam nanti akan di adakan pesta di ruangan khusus yang ada di samping restoran.

Dewi sedang sakit, sepertiny dia hamil lagi. Makanya Elina yang mendampingi para pekerja.

Saat semua kue sudah di turunkan, Elina pun hendak beranjak pergi. Matanya menatap seorang gadis yang berpakaian seperti yang Susi kenakan tadi pagi. Tapi gadis ini tak menggunakan hijab. Elina akan mengacuhkannya sampai perempuan itu menoleh ke arah Elina.

Itukan Susi? Ya itu baju dan tas yang ia kenakan tadi pagi.

Yang membuat Elina makin terkejut, ketika seorang pria berkulit sawo matang duduk di hadapannya. Pria itu memegang tangan Susi dan menciumnya mesra.

Elina sangat terkejut.

Siapa ya pria itu???

1
Hr sasuwe
👍
pipi gemoy
vote Thor ✌🏼
pipi gemoy
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👏🏼🙏🏼🌹
pipi gemoy
👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼👏🏼☕🙏🏼
pipi gemoy
balas. Eli jgn terlalu polos 👻🌹
pipi gemoy
beh Okan, padahal bisa langsung talak Susi kan nikah siri juga tapi ajak kongkalikong spy ibu mu tak tahu👻👻👻👻👻👻👻
pipi gemoy
gemes nya gue sama si Eli 👻😑
pipi gemoy
congrats Eli n Okan 🌹
pipi gemoy
hadir lagi Thor ☝🏼
Dewa Rana
teknik arsitektur, Thor, bukan teknik arsitek
Dewa Rana
bagus Thor
fitri
bagus banget ceritanya...
karyanya memang keren²...
fitri
nyesek bangetttt....😭😭😭
Retna Tri Tunjung
akhirnya happy buat Elina dan Okan..
Retna Tri Tunjung
aku baru baca novel ini, sp maraton bacanya, di part ini sp menangis aku....
Ari Peny
aq baca lg novelmu thor kangen kemesraan keduanya
keke global
part termewek 😭😭
keke global
novel novelnya ga ad yg gagal
Elsye Nurhayati
Luar biasa
🇬 🇪 🇧 🇾
hai ak baru Nemu kisahnya ellina,mba ellina kamu hebat,
mas okan juga hebat otthornya juga hebat

Tuhan berkahi dan terus berkati terus pimpin MB ellina dan keluarga serta othor ,sehat,belimpah sukacita amin🙏❤️❤️❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!