NovelToon NovelToon
Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Tuhan,Izinkan Aku Berdosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Teen / Penyelamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ulva k

Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.

Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.

"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."


Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.

Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.

Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?

Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 16

Jam 10.16.

Surau kayu itu tidak ada yang napas. Cuma suara hujan kecil di atap seng yang bocor.

Semua mata di gamis putih ku. Yang kerak lumpur merahnya sudah kering, retak-retak kayak tanah makam ibu ku kemarin.

Ustadz Mahmud masih senyum. Senyum yang dulu bikin semua santriwati putri diam kalau dia lewat depan asrama.

"Laila, sini. Jangan bikin malu Bapak kamu di depan orang sekampung. Kasih Ustadz itu apa yang ada di saku kamu itu. Itu pasti flashdisk berisi khayalan kamu lagi. Sini Ustadz benerin."

Dia maju satu langkah. Sepatu putih bersihnya menginjak lantai kayu surau yang becek. Tidak takut kotor.

Dua santri senior di belakangnya ikut maju.

Mami Asih yang masih pakai daster coklat, langsung geser, berdiri di depan aku. Badan Mami kecil, tapi nutupin aku yang di belakang pintu.

"Ustadz tidak boleh ambil barang orang tanpa izin,". Bukan suara Mami LC lagi. Suara Mami Asih yang marah kalau anaknya di kos tidak setor. "Ini lagi tahlilan orang meninggal, Ustadz. Bukan razia kamar santriwati."

Bapak yang di depan, yang dari tadi berdiri kaku pakai peci hitam, akhirnya jalan ke luar. Ke arah aku. Bukan ke arah Ustadz Mahmud.

Bapak lihat gamis putih berlumpur ku. Lihat tangan ku yang gemetar pegang saku.

"Laila" Bapak bisik, cuma aku yang denger. "Apa itu, Nak?

Aku tidak jawab. Aku cuma buka saku ku pelan.

Ada dua di dalam saku yang kerak lumpurnya paling tebal itu.

Satu Flashdisk merah KW yang Mami kasih tadi pagi jam 5 di dapur, masih di plastik. Kosong. Palsu.

Satu: Flashdisk merah asli yang penuh lumpur kering, panas. Isinya video CCTV hotel Melati Sampit. Video Kyai Rahman. Kyai yang selama ini dipanggil wali di pondok. Yang foto-foto aibnya aku ambil diam diam pas kyai Rahman mabuk berat di ruang via

Kalau yang asli aku colok kesebuah laptop satu kampung akan lihat. Dan setelah itu, aku tidak akan pernah bisa balik jadi Laila lagi. Aku akan selamanya jadi Alia di mata kampung ini.

Ustadz Mahmud lihat tangan ku ragu-ragu di saku.

"Ah, itu kan..." Ustadz Mahmud ketawa lagi, lebih keras. Biar satu surau dengar. "Itu flashdisk yang dia curi dari pondok! Isinya data keuangan pondok! Pantas dia kabur! Pak , anak Bapak ini maling!"

Satu surau langsung rame. Ibu-ibu berbisik lebih kencang.

"Astaghfirullah Laila"

Bapak dengar itu. Tangan Bapak yang tadi mau megang pundak ku, langsung turun. Malu.

Itu pancingannya. Ustadz Mahmud pinter. Dia tidak perlu ambil flashdisk ku. Dia cuma perlu bikin Bapak ku malu lagi. Biar Bapak yang usir aku dari surau kayu ini, kayak pondok usir aku malam hujan itu.

Mami Asih yang denger kata "maling" itu, tidak tahan.

Mami balik badan, Mami tarik tangan ku keluar dari saku. Mami paksa.

Dan yang ketarik adalah...

Flashdisk merah KW yang masih di plastik.

Mami angkat tinggi-tinggi. Biar satu surau lihat.

"INI?! INI YANG USTADZ BILANG DATA KEUANGAN PONDOK?!"

Mami sobek plastiknya. Banting flashdisk KW itu ke lantai kayu becek surau.

KRAK.

Plastik merah KW itu pecah jadi dua. Di dalamnya kosong. Tidak ada chip. Tidak ada apa-apa. Cuma plastik mainan anak-anak yang Mami beli di pasar cuma 15 ribu.

Satu surau diam.

Ustadz Mahmud mukanya berubah. Dari senyum jadi pucat.

Karena dia tahu, kalau yang dibanting Mami itu KW yang kosong... berarti yang asli masih ada.

Di saku ku yang satunya. Yang masih aku genggam erat-erat sampai kuku ku masuk ke lumpur kering itu.

Aku lihat Mami. Mami kedip ke aku. Satu kali.

Artinya: Sekarang.

Aku jongkok pelan di lantai kayu becek surau. Gamis putih berlumpur ku yang keraknya retak-retak itu nyentuh air becek. Lumpur keringnya luntur lagi, jadi basah lagi, jadi merah lagi.

Aku ambil pecahan flashdisk KW yang kosong itu.

Aku berdiri. Aku lihat Ustadz Mahmud tepat di matanya. Pertama kali setelah aku diusir.

"Ustadz, ini memang kosong," aku ngomong. Suara ku pecah, tapi keras. Satu surau denger. "Karena yang asli masih di sini."

Aku angkat tangan kiri ku. Yang genggam flashdisk merah asli yang penuh lumpur kuburan ibu ku.

"Di dalam sini bukan data keuangan pondok, Ustadz. Isinya foto foto dan vidio di Hotel Melati Sampit. Kamar 07.

Aku tidak bilang isinya apa. Aku tidak perlu. Karena Ustadz Mahmud langsung mundur satu langkah. Sepatu putih bersihnya akhirnya kena air becek surau.

"Kamu kamu fitnah! Kamu halu!" Ustadz Mahmud . Tapi suaranya tidak lembut lagi. Pecah.

Bapak yang di samping ku, lihat flashdisk lumpur di tangan ku. Lihat muka Ustadz Mahmud yang pucat.

Bapak pelan-pelan pergi pinjam laptop anak tetangga yang rumah nya dekat surau ini,dan membawanya ke depan kami.

Bapak taruh di lantai kayu becek, dekat kaki ku yang pakai gamis putih berlumpur itu.

Bapak bisik, cuma aku dan Mami yang denger:

"Laila, kalau memang itu bukti kenapa kamu dibilang difitnah di pondok... colok di sini. di depan orang sekampung. Colok di sini. Biar Bapak saja yang lihat dulu. Bapak yang selama ini malu jemput kamu."

Air mata Bapak jatuh ke laptop itu.

Jam 10.20. Yasin belum selesai dibaca. Nasi berkat masih utuh.

Di lantai surau kayu yang becek, ada laptop terbuka. Di tangan ku ada flashdisk merah asli yang masih anget, penuh lumpur merah kuburan ibu ku, yang di dalamnya ada 4 nama dan satu nama Kyai.

Di depan ku ada Ustadz Mahmud yang sepatu putihnya sudah kotor becek, siap nyerang kalau aku colok.

Di samping ku ada Mami Asih pakai daster coklat, yang kos pink pudarnya sudah digerebek dan dinding 4 namanya sudah dicat putih

Semua lihat tangan ku.

Mau dicolok atau tidak?

1
Garrel
semngat laila💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!