"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berganti Prioritas 06.
Suara derit sepatu di lapangan semen itu mendadak berhenti.
Timy melempar bola ke sembarang arah, membuat pelatih berteriak kesal dari pinggir lapangan.
Timy melangkah lebar-lebar menuju tangga tribun. Ia tidak peduli lagi pada sisa waktu latihan. Pikiran nya telanjur berantakan sejak melihat Kanaya menyembunyikan wajah di lututnya, dan Nawang yang duduk terlalu dekat di sana.
"Kita pulang," kata Timy begitu sampai di depan mereka. Napasnya memburu, keringat menetes dari ujung rambutnya yang acak-acakan.
Matanya hanya tertuju pada Kanaya yang wajahnya masih sepucat kertas. Kanaya mendongak, matanya yang kemerahan mengerjap pelan. "Tim, latihan lu—"
"Udah kelar," potong Timy cepat. Ia beralih menatap Nawang. Ada kilat bersalah sekaligus keras kepala di matanya. "Neng, Aa anter Naya balik dulu ya? Kondisinya gak bener ini. Bahaya kalau dia maksain naik angkot sendirian."
Nawang menatap Timy, lalu beralih pada Kanaya. Sebagai pacar, pikirannya tahu Timy sedang menjalankan perannya sebagai sahabat masa kecil yang protektif.
Namun, sebagai perempuan, ada cubitan kecil di dadanya saat melihat bagaimana fokus Timy beralih total dalam hitungan detik.
"Iya, Aa. Bawa Naya pulang. Dia butuh istirahat," jawab Nawang, memaksakan segaris senyum yang tulus.
Timy mengangguk cepat, tampak lega karena tidak harus berdebat. "Nanti Aa pesenin ojol buat Neng. Bentar." Jari-jari Timy bergerak cepat di atas layar ponselnya yang agak basah oleh keringat. "Udah di pesan. Driver-nya lagi otw ke gerbang depan. Neng tunggu di lobi aja, jangan kehujanan."
"Lu gak usah repot-repot, Tim. Gue bisa balik sendiri," sela Kanaya, suaranya serak. Ia merasa menjadi beban, dan yang lebih buruk, ia merasa sedang merebut sesuatu yang bukan haknya.
"Gak usah bawel lu Nay. Ayo," cetus Timy, langsung menarik pelan pergelangan tangan Kanaya agar gadis itu berdiri. Gerakannya tegas, tapi tidak kasar.
Nawang hanya memperhatikan punggung keduanya yang menjauh menuruni undakan tribun. Sebelum bayangan mereka hilang di belokan koridor, Kanaya sempat menoleh ke belakang. Tatapan matanya sarat akan rasa bersalah yang teramat sangat kepada Nawang.
Nawang membalasnya dengan anggukan kecil, mencoba mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Walau kenyataannya, udara di sekitarnya mendadak terasa lebih dingin.
Di luar, langit seolah sepakat dengan kekacauan hari ini. Hujan deras tumpah tanpa ampun, mengubah jalanan aspal sekolah menjadi aliran air yang deras.
Nawang berdiri di lobi sekolah yang mulai sepi. Angin dingin berembus kencang, membawa tampias air yang membasahi ujung sepatunya.
Tak lama, sebuah motor matic dengan pengendara berjaket hijau-hitam berhenti di depan lobi.
"Neng Nawang?" tanya abang ojol, suaranya agak teredam jas hujan penutup kepala.
"Iya, Pak," jawab Nawang. Ia memakai tudung jaket basket milik Timy yang belum dikembalikan, gadis itu bersiap menembus tirai hujan.
Namun, tepat sebelum kakinya melangkah mendekati motor ojol, sebuah suara mesin yang sangat ia kenali terdengar dari arah parkiran samping.
Itu motor vespa matic putih milik Timy. Motor yang biasanya menjadi tempat Nawang bersandar setiap sore, menghirup aroma parfum Timy yang bercampur wangi matahari. Nawang refleks menoleh.
Di atas motor matic putih itu, Timy mengendarai dengan saksama di tengah guyuran hujan. Di belakangnya, Kanaya duduk dengan tubuh agak membungkuk, kedua tangannya mencengkeram erat jaket parasut Timy agar tidak terjatuh.
Wajah Kanaya disembunyikan di balik punggung lebar Timy, mencari perlindungan dari trauma dan dingin yang menderanya.
Motor itu bergerak pelan melewati area lobi menuju gerbang luar. Dan saat itulah, saat motor mulai melaju membelah rintik hujan yang rapat, Nawang menatap satu titik yang membuat dada nya mendadak terasa kosong. Jok belakang motor matic putih Timy.
Secara fisik, jok itu memang diisi oleh Kanaya. Namun bagi Nawang, ada sebuah ruang tak kasat mata di sana yang mendadak terasa asing.
Jok yang biasanya menjadi areanya, tempat ia bertukar cerita receh tentang guru-guru di sekolah, kini menampung kerapuhan orang lain.
Ruang yang selama ini ia pikir adalah miliknya sendiri, ternyata memiliki pintu darurat yang bisa terbuka kapan saja untuk masa lalu Timy.
Timy bahkan tidak menoleh ke arah lobi saat lewat. Fokus cowok itu sepenuhnya terbagi antara jalanan yang licin dan memastikan gadis di belakangnya tidak tumbang.
"Neng? Jadi naik?" tegur abang ojol, memecah lamunan Nawang.
Nawang tersentak. Ia menelan ludah yang terasa kesat di tenggorokan. "Eh, iya, Pak. Jadi."
Nawang naik ke boncengan ojol. Begitu motor mulai bergerak melaju, angin malam dan air hujan langsung menghantam wajahnya.
Dingin, tapi entah kenapa rasa sesak di dadanya jauh lebih mendominasi.
Di depannya, lampu belakang motor putih Timy perlahan mengabur di balik tirai hujan yang semakin lebat, lalu benar-benar hilang di tikungan jalan raya.
Nawang mengeratkan pegangannya pada besi belakang motor ojol.
Pikirannya terus berbisik bahwa Timy hanya menolong sahabatnya.
Namun hatinya mulai mempertanyakan satu hal, kapan ia harus memulai menjadi orang yang selalu mengerti, ketika batas antara persahabatan dan prioritas di dalam hidup kekasihnya sendiri mulai mengabur?
......................
...****************...
Tbc,