NovelToon NovelToon
TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

TERTUKAR DI RS ELISABETH SEMARANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Malam hujan di RS Elisabeth Semarang, dua bayi tertukar karena gelang pink. Clarissa hidup mewah di Graha Candi Golf, Aurel menderita di Gunungpati. 18 tahun kemudian, tes DNA membongkar rahasia. Siapa yang akan hancur saat kebenaran terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma Rempah di Balik Kabut Dingin

Pagi hari di kawasan lereng Gunung Pati datang dengan selimut kabut putih yang tebal, menyisakan butiran embun yang menempel di daun-daun kopi dan kaca jendela. Udara dingin pegunungan menusuk hingga ke tulang, namun suasana di dapur rumah Aurel justru hangat oleh kepulan uap dari kuali besar tempat ibunya merebus racikan kunyit asam dan jahe merah.

Aurel membantu menyusun botol-botol kaca steril ke dalam keranjang rotan. Di balik ketenangannya, pikirannya terus berputar pada tugas baru yang dibebankan Rama padanya kemarin. menjadi penanggung jawab sub-divisi Kurasi Produk Tradisional sekaligus berkolaborasi dengan Clarissa.

"Yakin kamu sanggup kerja bareng anak ketua yayasan itu, Rel?" tanya Ibu sambil menyaring cairan rempah ke dalam wadah besar, wajahnya menyiratkan kekhawatiran yang tulus. "Ibu tahu, anak-anak dari perumahan elit atas itu tidak biasa dipatahkan argumennya."

Aurel tersenyum kecil, meletakkan botol terakhir ke dalam keranjang. "Mau nggak mau, Bu. Kalau Aurel mundur, mereka bakal nginjak-injak harga diri kita dan usaha jamu Ibu. Aurel bakal pegang kendali bagian kurasi ini dengan benar. Lagian, Rama sudah kasih lampu hijau."

Meski berkata demikian, Aurel tahu persis bahwa Clarissa tidak akan tinggal diam. Dan instingnya sama sekali tidak meleset.

setelah selesai membantu ibunya ia lalu mandi, sarapan dan berangkat ke sekolah.

Pukul 07.30 WIB, koridor SMA Loyola sudah ramai oleh siswa-siswi yang lalu-lalang mengenakan seragam rapi. Begitu Aurel melangkah masuk ke ruang OSIS untuk menyerahkan draf awal kurasi produk UMKM, suasana langsung terasa kaku.

Clarissa sudah duduk di balik meja administrasi bersama Jessica dan Felicia. Di depan mereka terbentang setumpuk berkas proposal. Saat melihat Aurel datang membawa map biru, senyuman sinis terukir di bibir Clarissa.

"Wah, dateng juga anak rajin kita," sambung Felicia dengan nada menyindir. "Kira-kira bawa proposal jamu gendong yang higienis nggak tuh?"

Aurel mengabaikan ejekan tersebut. Ia melangkah tenang dan meletakkan mapnya di atas meja. "Ini draf kurasi produk UMKM lokal Gunung Pati yang diminta Rama kemarin. Aku sudah masukkan data perajin kerajinan bambu dan produsen jamu tradisional."

Clarissa mengambil map itu dengan ujung jarinya, membukanya sekilas seolah-olah benda itu menjijikkan, lalu menutupnya kembali dengan bunyi brak pelan yang cukup nyaring.

"Proposal kamu ditolak, Aurel," ucap Clarissa tanpa beban, menatap lurus dengan tatapan meremehkan.

Dahi Aurel mengernyit. "Ditolak? Atas dasar apa? Penilaian kurasi baru akan dibahas pleno minggu depan bersama pembina OSIS."

Clarissa menarik selembar kertas berlogo resmi sekolah yang sudah ia siapkan sejak semalam. "Ini surat penolakan administratif. Setelah diverifikasi oleh seksi perizinan dan kebersihan, produk jamu rumahan kamu dinilai tidak memenuhi standar sanitasi pameran eksklusif SMA Loyola. Jadi, usulanmu otomatis gugur dari daftar."

Jessica dan Felicia menahan tawa melihat ekspresi Aurel. Mereka mengira Aurel akan langsung panik, memohon, atau marah besar.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Aurel menatap surat itu lekat-lekat, lalu tersenyum tipis. Senyuman yang membuat jantung Clarissa berdegup kencang karena merasa ada yang tidak beres.

"Verifikasi sanitasi dan kebersihan?" tanya Aurel tenang, suaranya terdengar jernih di ruangan yang mendadak sunyi. "Aneh sekali, Clarissa. Tim lab biologi sekolah kita bahkan belum pernah mengambil sampel produk kami untuk diuji. Dan lagi, penandatanganan surat penolakan resmi sekolah harusnya melibatkan ketua OSIS dan pembina, bukan sekadar keputusan sepihak dari seksi perizinan."

Wajah Clarissa memerah. Buku-buku jarinya mencengkeram meja. "Kamu berani menuduhku memalsukan prosedur?!"

"Aku tidak menuduh, Clarissa. Aku hanya menyatakan fakta," balas Aurel sambil merapikan kacamatanya. "Kalau surat ini sampai ke meja Pak Rama atau pembina OSIS hari ini juga, kira-kira siapa yang bakal kena sanksi karena menyalahgunakan wewenang administrasi?"

Suasana di ruang OSIS seketika membeku. Jessica dan Felicia terdiam, tidak berani bersuara lagi. Clarissa mendelik tajam, matanya menyala penuh amarah tertahan. Ia menyadari satu hal: Aurel sama sekali bukan lawan yang bisa ditundukkan hanya dengan gertakan birokrasi murahan.

Sebelum Clarissa sempat membalas, pintu ruang OSIS terbuka lebar. Rama melangkah masuk membawa tumpukan brosur pameran.

"Ada apa ini? Kok tegang banget?" tanya Rama heran melihat Aurel dan Clarissa yang saling berpandangan tajam dengan jarak hanya beberapa jengkal.

Aurel menoleh ke arah Rama, mempertahankan senyum tenangnya. "Tidak ada apa-apa, Ram. Clarissa dan aku sedang mendiskusikan penyesuaian standar kurasi produk tradisional. Betulkan, sa?"

Clarissa menelan ludahnya dengan susah payah, memaksakan seulas senyum kaku di hadapan Rama demi menjaga imej sempurnanya. "I... iya, Ram. Cuma salah paham kecil soal berkas

"Cuma salah paham kecil soal berkas administrasi," sambung Clarissa dengan suara yang sengaja dilembutkan, meski kilatan matanya masih menyimpan bara kemarahan yang luar biasa.

Rama mengangguk-angguk kecil, sama sekali tidak menangkap ketegangan bawah permukaan yang baru saja nyaris meledak di ruangan itu. Ia meletakkan segepok brosur promosi di atas meja utama. "Baguslah kalau kalian bisa langsung klop. Ingat, pameran UMKM budaya ini bukan sekadar ajang unjuk gigi ekstrakurikuler, tapi pertaruhan reputasi SMA Loyola di tingkat kota. Jadi, aku butuh kerja sama yang solid dari kalian berdua terutama dalam hal transparansi kurasi."

"Tentu saja, Rama. Kami akan bekerja secara profesional sesuai prosedur yang berlaku," jawab Aurel dengan nada datar namun penuh penekanan, matanya menatap lurus ke arah Clarissa yang kini menggertakkan gigi di balik meja.

Begitu Rama berbalik dan pamit untuk menemui pembina OSIS di ruang guru, suasana di ruang OSIS kembali menegang seolah ditarik hingga batas maksimal. Jessica dan Felicia segera berdiri di samping Clarissa, mencoba memberikan dukungan moral meski nyali mereka sendiri sudah ciut melihat ketenangan mental Aurel.

Clarissa bangkit dari kursinya, mendekati Aurel dengan langkah tergesa. Ia mencengkeram tepi meja kecil di hadapan Aurel, lalu berbisik tajam, "Jangan merasa di atas angin dulu, Aurel. Kamu mungkin bisa lolos dari jebakan administrasi pagi ini, tapi permainan baru saja dimulai. Pameran ini milik yayasan, dan aku pastikan produk jamu murahan ibumu itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di aula utama."

Aurel tidak bergeming sedikit pun. Ia justru memiringkan kepalanya sedikit, menatap manik mata Clarissa dengan pandangan menyelidik yang membuat sang ketua seksi acara itu merasa telanjang. "Silakan coba cara licik lainnya, Clarissa. Tapi ingat, setiap tindakan yang kamu ambil untuk menjatuhkan usahaku, akan aku jadikan bumerang yang menghancurkan kredibilitasmu sendiri di hadapan seluruh siswa Loyola."

Tanpa menunggu balasan dari Clarissa yang sudah kehabisan kata-kata karena amarah, Aurel memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang OSIS dengan kepala tegak. Di luar, embusan angin pagi lereng Gunung Pati menyambutnya, membawa ketenangan sekaligus tekad yang kian membaja di dalam dada.

Sementara itu, matahari perlahan naik lebih tinggi, menembus lapisan kabut tipis yang mulai membubung dari pucuk-pucuk pohon kopi. Di dapur rumahnya yang sederhana, aroma rempah jahe merah, serai, dan kunyit masih mengepul harum, berpadu dengan uap air yang menempel di dinding bambu. Ibu baru saja selesai mengemas botol-botol racikan terakhir ke dalam kardus pelindung ketika Aurel membuka pintu dapur dengan senyuman hangat.

"Bagaimana di sekolah, Rel? Anak-anak elit itu tidak macam-macam lagi, kan?" tanya Ibu cemas, langsung meletakkan kain serbetnya dan menghampiri sang anak.

Aurel menggeleng pelan, lalu merangkul bahu ibunya dengan penuh kelembutan. "Aman, Bu. Aurel bisa tangani semuanya kok. Tadi sempat ada sedikit drama birokrasi, tapi sudah beres. Pihak sekolah justru menyambut baik draf kurasi kita. Sebentar lagi, jamu buatan Ibu bukan cuma dikenal di desa kita, tapi juga bakal mejeng di pameran bergengsi tingkat kota."

Wajah Ibu yang tadinya menyiratkan guratan lelah seketika berbinar terang. Air mata haru hampir tumpah di sudut matanya. Ibu memeluk Aurel erat-erat. "Alhamdulillah... Ibu bangga banget sama kamu, Rel. Kamu selalu tahu cara berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus merendahkan orang lain."

Namun, di balik kehangatan pelukan itu, Aurel tahu bahwa pertempuran sesungguhnya belumlah usai. Clarissa bukanlah tipe gadis yang akan menyerah begitu saja setelah mengalami kekalahan telak di ronde pertama.

Benar saja. Menjelang siang hari, rumor aneh mulai berhembus di koridor sekolah. Beberapa siswa dari kelas lain mulai berbisik-bisik saat melihat Aurel lewat. Topik bisikan itu tidak jauh-jauh dari tuduhan miring bahwa produk jamu tradisional yang diajukan Aurel menggunakan bahan-bahan murah berkualitas rendah dan tidak higienis.

Aurel yang mendengarnya di dekat papan pengumuman hanya tersenyum tipis. Ia tahu persis siapa dalang di balik penyebaran gosip murahan tersebut. Clarissa sedang mencoba mendiskreditkan reputasinya di hadapan publik sekolah sebelum rapat pleno kurasi resmi digelar minggu depan.

Saat jam istirahat kedua tiba, Aurel memutuskan untuk mendatangi ruang laboratorium kimia sekolah. Ia membawa serta sampel uji laboratorium mandiri yang sebelumnya pernah ia urus di balai kesehatan kecamatan bersama ibunya sebuah langkah preventif yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari untuk mengantisipasi sabotase semacam ini.

Di sana, ia menemui Pak Joko, guru pembimbing laboratorium yang juga dikenal sangat objektif dan disegani para siswa.

"Pak Joko, saya ingin menyerahkan sertifikasi uji higienitas dan kandungan nutrisi resmi untuk produk jamu tradisional lereng Gunung Pati ini. Dokumen ini diterbitkan langsung oleh instansi kesehatan daerah minggu lalu," kata Aurel sopan sambil menyerahkan map transparan berisi dokumen penting tersebut.

Pak Joko menerima map itu, membaca lem demi lem dengan teliti, lalu mengangguk kagum. "Luar biasa, Aurel. Dokumen ini sangat lengkap dan kredibel. Jarang sekali ada siswa tingkat SMA yang memikirkan aspek legalitas dan kesehatan seprofesional ini untuk produk UMKM keluarga. Kenapa tiba-tiba menyerahkan ini sekarang?"

"Hanya untuk memastikan bahwa semua standar sekolah terpenuhi tanpa celah, Pak. Agar tidak ada pihak yang bisa meragukan kualitas produk lokal kami saat pleno nanti," jawab Aurel tenang.

Pak Joko tersenyum bijak. "Baiklah. Saya akan pegang dokumen ini dan melampirkannya langsung ke meja kepala sekolah serta pembina OSIS. Kamu tenang saja, integritas ilmiah di sekolah ini tidak bisa dibeli hanya dengan pengaruh kekuasaan atau nama besar keluarga."

Mendengar itu, beban berat yang sempat menggelayuti pundak Aurel seketika terangkat. Ia mengucapkan terima kasih dengan tulus kepada Pak Joko sebelum meninggalkan laboratorium.

Sore harinya, saat bel tanda sekolah usai berdering serentak, awan mendung mulai bergelayut di atas langit Gunung Pati, menandakan hujan deras akan segera turun. Di gerbang sekolah, Aurel melihat Clarissa berdiri di samping mobil sedan mewahnya, tampak sedang berbincang dengan wajah kesal sambil memegang ponsel. Ketika pandangan mereka beradu untuk sesaat, Clarissa buru-buru membuang muka dengan ekspresi penuh kekalahan yang tak lagi bisa disembunyikan.

Aurel melangkah mantap keluar gerbang, membiarkan angin sore menerpa rambutnya yang terikat rapi. Ia tahu, langkahnya ke depan masih panjang dan penuh liku. Namun, berbekal ketulusan usaha ibunya dan kecerdasan yang ia miliki, Aurel siap menghadapi badai apa pun yang disiapkan oleh Clarissa dan dunia elite SMA Loyola.

1
Siti Gemini 75
Ok kak 👍
Siti Gemini 75
Ok siap
Gabutz
lanjuttt ceritanya bagusss...
kalau bisa double up
Putri Sajak
Semngat nulis kak💪, yok singgah di karya aku komen komen n like kk🤭
ANGGA
🗿
ANGGA
kapan update lagi
Siti Gemini 75: ini udah aplod lagi
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!