Nafisa tak pernah menyangka kehidupan rumah tangganya akan berakhir setelah mengetahui suami dan ibunya menjalin hubungan di belakangnya. Lebih menyakitkan lagi, sang ibu bahkan mengandung anak dari suaminya.
“Kenapa harus suamiku, Bu?!”
Hatinya hancur. Kepercayaannya musnah.
Lalu, langkah apa yang akan diambil Nafisa setelah mengetahui pengkhianatan dua orang yang paling ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu yang Dibangun di Atas Kebohongan
Malam pun berganti pagi. Nafisa telah bersiap untuk berangkat kerja. Ia mengenakan pakaian rapi, sementara tas kerja sudah tersampir di bahunya. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, ia melangkah menuju pintu rumah.
Baru saja tangannya hendak meraih gagang pintu, suara klakson mobil terdengar dari luar.
Tin!
Langkah Nafisa terhenti. Ia mengernyit heran, lalu berjalan mendekati pintu dan membukanya.
Begitu pintu terbuka, matanya langsung tertuju pada Dewangga yang berdiri bersandar di sisi mobilnya. Pria itu tampak santai.
“Buruan,” seru Dewangga begitu melihatnya.
“Pak Dewangga, kenapa Bapak pagi-pagi begini datang ke rumah saya?”
Alih-alih menjawab, Dewangga justru menggerakkan tangannya, menyuruh Nafisa segera menghampirinya.
“Loh, tapi ... Bapak tahu rumah saya dari mana?”
“Tidak perlu banyak omong. Tinggal buruan masuk. Oma ingin bertemu denganmu.”
Nafisa tertegun. “Eh, tapi, Pak, ini sudah jam—”
“Pekerjaan bisa dilakukan dimana saja. Buruan.”
Dewangga membuka pintu mobil, lalu masuk ke dalam tanpa memberi kesempatan kepada Nafisa untuk melanjutkan protesnya.
Nafisa menghela napas panjang. Namun, karena Oma Rima ingin bertemu dengannya, ia akhirnya mengalah.
Ia kemudian mengunci pintu rumah. Setelah memastikan pintunya terkunci, Nafisa menghampiri mobil Dewangga dan membuka pintu penumpang.
Pria itu sudah duduk di balik kemudi ketika Nafisa masuk dan memasang sabuk pengaman.
“Kenapa Oma ingin bertemu dengan saya, Pak?” tanyanya sambil merapikan tas di pangkuan.
“Saya tidak tahu.”
Nafisa menoleh, menatap wajah atasannya yang mulai menjalankan mobil. “Apa Oma sudah tahu kalau kita hanya berpura-pura, Pak?”
“Mungkin.”
Jawaban singkat itu membuat Nafisa terdiam. Ia mengalihkan pandangan ke luar jendela, memperhatikan jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan.
“Saya jadi merasa bersalah sama Oma Rima, Pak. Bagaimana ini?”
Nafisa menggigit bibir bawahnya. Rasa bersalah kembali menghampiri.
Ia menunggu Dewangga memberikan tanggapan, tetapi pria itu justru mengalihkan pembicaraan.
“Jadi, sudah ditandatangani?”
Nafisa menoleh. Dewangga masih fokus menyetir, kedua tangannya memegang kemudi dengan mantap.
“Sudah, Pak.”
“Suratnya dibawa?”
“Dibawa, Pak. Ada di dalam tas saya.”
Dewangga meliriknya sekilas. “Kemarikan.”
Nafisa mengerutkan kening, tetapi tetap membuka tasnya. Ia mengeluarkan amplop cokelat berisi surat perceraian yang telah ditandatangani Damar, lalu menyerahkannya kepada Dewangga.
Pria itu menerima amplop tersebut dan meletakkannya di dekatnya.
“Biar saya yang mengurus.”
“Eh—”
“Kalau saya yang mengurus, prosesnya mungkin hanya butuh beberapa hari.”
Nafisa mengurungkan niatnya untuk bertanya lebih jauh. Ia mengangguk kecil, menerima keputusan atasannya.
“Baik, Pak.”
Setelah itu, tak ada lagi percakapan di antara mereka.
Nafisa kembali memandang ke luar jendela, membiarkan matanya mengikuti deretan bangunan yang mereka lewati.
. . .
Beberapa saat kemudian, mobil yang ditumpangi Nafisa dan Dewangga mulai mengurangi kecepatan. Kendaraan itu berbelok memasuki pelataran rumah sakit, lalu berhenti tepat di area parkir. Setelah memastikan mobil terparkir dengan baik, Dewangga mematikan mesin.
Nafisa melepaskan sabuk pengamannya, kemudian meraih tas yang berada di pangkuan. Begitu turun dari mobil, ia melihat Dewangga sudah menunggunya di samping kendaraan.
Seperti kemarin, pria itu mengulurkan tangan dan menggenggam tangannya dengan lembut.
Nafisa sempat tertegun, tetapi ia tak menolak ketika Dewangga mengajaknya berjalan menuju gedung rumah sakit. Sesekali, ia melirik wajah atasannya itu dari samping, mencoba menebak apa yang sedang dipikirkan pria tersebut.
Sayangnya, Dewangga hanya berjalan dengan tenang tanpa mengatakan apa-apa.
Tak lama kemudian, mereka tiba di depan kamar Oma Rima. Dewangga mendorong pintu perlahan, lalu mempersilakan Nafisa masuk lebih dahulu.
“Oma ....”
Oma Rima yang sedang duduk di atas ranjang rumah sakit langsung menoleh. Begitu melihat kedatangan mereka, wajah perempuan paruh baya itu seketika berbinar. Senyum lebar pun mengembang di bibirnya.
“Kalian sudah sampai juga.”
Nafisa segera menghampiri ranjang. Ia meraih tangan Oma Rima, lalu menciumnya dengan penuh hormat.
“Bagaimana kabar Oma?” tanyanya lembut.
“Alhamdulillah, Sayang. Oma baik setelah ada kamu di sisi cucu Oma.”
Senyum Nafisa sedikit tertahan.
Ia tak menyangka Oma Rima akan mengatakan hal itu dengan wajah sebahagia ini. L
Nafisa melirik Dewangga yang berdiri tak jauh darinya. Rupanya, pria itu juga sedang menatapnya.
Pandangan mereka bertemu sesaat.
Nafisa hanya mampu membalasnya dengan senyum tipis sebelum kembali menoleh kepada Oma Rima.
Namun, ia tak mungkin mengungkapkan semuanya begitu saja, terlebih ketika Oma Rima terlihat begitu bahagia.
“Nafisa, Sayang, Oma punya sesuatu untukmu.” Oma Rima mengulurkan tangan ke meja kecil di samping ranjang, lalu mengambil sebuah kotak mungil. “Tolong dijaga, ya.”
Nafisa menatap kotak itu dengan bingung ketika Oma Rima menyodorkannya.
“Apa ini, Oma?”
“Gelang.” Oma Rima tersenyum sembari meletakkan kotak tersebut di telapak tangan Nafisa. “Ini gelang yang selalu Oma berikan kepada calon menantu. Simpan baik-baik untuk menantumu nanti.”
Nafisa terdiam.
Matanya tertuju pada kotak mungil itu, tetapi tangannya tak kunjung bergerak untuk menerimanya. Ia benar-benar tak menyangka Oma Rima akan memberikan sesuatu yang begitu berharga kepadanya.
Bagaimana mungkin ia menerima gelang tersebut?
Padahal, hubungannya dengan Dewangga hanyalah sandiwara. Ia bukan calon istri pria itu, apalagi menantu yang selama ini diharapkan Oma Rima. Bahkan, pernikahannya sendiri baru saja berakhir setelah pengkhianatan Damar terbongkar.
Dalam waktu dekat, statusnya akan berubah menjadi janda.
Nafisa menelan ludah. Ia tak langsung mengambil kotak tersebut. Ia merasa ini bukan hak nya apalagi dirinya akan segera menjadi janda.
Tapi apa kata orang dan publik jika mereka tahu pemimpin Mahardika Fashion House menikah dengan seorang janda.
Terutama Oma Rima yang tahunya dirinya calon istri Dewangga yang berpura-pura agar wanita paruh baya tersebut merasa senang.
“Kenapa, Sayang?” tanya Oma Rima ketika menyadari Nafisa belum juga menerima kotak itu. “Kamu gak suka?”
“Bukan begitu, Oma ....” Nafisa buru-buru menggeleng. Ia berusaha tersenyum, meski hatinya terasa berat. “Saya hanya ....”
Kalimatnya menggantung. Ia mengalihkan pandangan kepada Dewangga, berharap pria itu memberikan isyarat atau setidaknya membantunya mencari alasan untuk menolak pemberian Oma Rima dengan halus.
Namun, alih-alih membantunya, Dewangga justru memasang wajah seolah menyuruhnya menerima saja gelang tersebut.
Nafisa mendengus pelan. Rasanya ia ingin menginjak kaki atasannya itu karena telah membiarkannya menghadapi situasi sulit seorang diri.
Sayangnya, ia tak bisa melakukan hal itu di hadapan Oma Rima.
Nafisa kembali menoleh kepada perempuan paruh baya tersebut, lalu berusaha mengukir senyum di bibirnya meski terasa berat.
“Oma, kayaknya gelang ini disimpan dulu saj—”
Ucapannya terhenti ketika sebuah tangan menyentuh bahunya.
“Ambil saja,” bisik Dewangga di dekat telinganya. “Kalau Oma tahu kita hanya berpura-pura, kondisi Oma bisa kambuh lagi.”
Nafisa terdiam.
Ia menoleh sekilas kepada Dewangga, lalu mengalihkan pandangan kepada Oma Rima. Perempuan itu sedang menatapnya dengan mata berbinar dan senyum tulus, sama sekali tak menyadari percakapan singkat di antara mereka.
“Naf ...?” panggil Oma Rima lembut, seolah menunggu jawaban darinya.
Hati Nafisa mencelos. Ia tak tega melihat tatapan penuh harap itu, Dengan ragu, Nafisa akhirnya menerima kotak tersebut dan menggenggamnya erat-erat.
“I-iya, Oma. Aku akan menjaganya.”
Senyum Oma Rima seketika melebar. Wanita itu tampak puas mendengar jawabannya, sementara Nafisa hanya bisa membalas senyum tersebut dengan perasaan yang semakin tak menentu.
‘Hanya sementara, sampai Pak Dewangga menemukan calon istri yang setara dengannya.’
.
Disisi lain.
Damar baru saja keluar dari kamar tidurnya di rumah orang tuanya. Dengan langkah santai, ia berniat menuju meja makan untuk sarapan sebelum memulai aktivitasnya. Namun, baru beberapa langkah berjalan, suara sang ayah menghentikannya.
“Lalu, bagaimana pernikahanmu dengan Nafisa?”
Damar menghentikan langkah. Ia menoleh ke arah ruang tamu, tempat ayahnya duduk di salah satu sofa. Pria paruh baya itu bahkan tak langsung menatapnya, seolah pertanyaan tersebut hanyalah sesuatu yang perlu segera diselesaikan.
Damar menghela napas berat. Ia sudah menduga perceraian itu akan menjadi pembicaraan begitu dirinya kembali ke rumah orang tuanya.
“Bercerai, Yah.”
Barulah sang ayah mengangkat wajah. Tatapannya tertuju pada Damar tanpa sedikit pun menunjukkan simpati.
“Baguslah kalian bercerai. Nafisa gak akan sengsara kalau terus hidup bersamamu.” Ayahnya berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada kecewa. “Apalagi, kamu sudah berhasil menghancurkan hubungan ibu dan anak.”
Damar terdiam.
Ucapan itu terasa seperti tamparan yang telak. Ia semula mengira ayahnya hanya akan menyalahkannya karena telah merusak rumah tangganya sendiri.
Damar menunduk. Jemarinya mengepal di sisi tubuh, sementara rasa bersalah perlahan mengusik hatinya.
“Ya, aku salah, Yah,” akunya lirih.
“Kalau kamu sudah tahu salah, seharusnya kamu berpikir sebelum bertindak.” Ayahnya menyandarkan punggung ke sofa, lalu menatapnya tajam. “Sekarang, segeralah menikahi wanita itu dan pergi dari sini. Jangan sampai kamu membuat keluarga ini malu karena ulahmu.”
Damar mendongak. “Tapi, bagaimana dengan pekerjaanku?”
“Berhenti saja kalau perlu.” Ayahnya menjawab tanpa ragu. “Tinggallah di rumah mendiang kakek dan nenekmu. Garap sawah mereka, lalu nikmati sendiri hasilnya. Tapi ingat, jangan pernah menjual sawah itu. Ayah hanya meminjamkannya kepadamu, bukan memberikannya.”
Damar terdiam cukup lama sebelum akhirnya mengangguk.
“Baiklah, Yah.”
Tak ada gunanya membantah. Bahkan niat untuk sarapan pun seketika menghilang. Damar bahkan tak berselera melihat makanan yang sudah tersedia di meja makan. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan.
Sesampainya di mobil, ia duduk di balik kemudi dan mengambil ponsel dari saku celana. Jemarinya bergerak cepat di atas layar, mengetik pesan untuk calon istrinya itu.
Damar segera menekan tombol kirim. Ia meletakkan ponsel di samping kemudi, lalu menyalakan mesin mobil.
Beberapa saat kemudian, kendaraan itu mulai bergerak meninggalkan kediaman orang tuanya.
Damar menatap jalan di depan dengan pikiran yang bercampur aduk.
Sedangkan di rumahnya, Yulia baru saja menyelesaikan mandi pagi. Rambutnya masih basah, dengan beberapa tetes air yang sesekali jatuh membasahi bahunya. Ia berjalan menuju meja rias untuk mengambil handuk kecil ketika suara notifikasi ponsel terdengar.
Kling!
Yulia menoleh, lalu meraih ponsel yang tergeletak di atas meja. Sebuah pesan dari Damar muncul di layar.
Damar: Sayang, aku hari ini ingin sarapan di rumah.
Senyum perlahan terukir di bibir Yulia setelah membaca pesan itu.
“Masih ada waktu,” bisiknya sambil tersenyum penuh arti.
Ia beranjak menuju lemari pakaian, lalu membuka kedua pintunya. Matanya menyusuri deretan pakaian yang tertata rapi hingga berhenti pada sebuah gaun favorit Damar.
Tanpa ragu, Yulia meraih gaun itu dan mengangkatnya di hadapan tubuhnya. Senyum di bibirnya semakin lebar saat membayangkan bagaimana Damar akan bereaksi ketika melihatnya mengenakan pakaian tersebut.
sempet" nya lagi acara serius pada saling sindir 😄
nafisa blm punya anak tp nnti pasti suruh nanggung biaya bayi itu iuhhh.