Selama tujuh malam, dia memimpikan hal buruk tentang pria yang selama ini dicintainya. Ketika hari lamaran tiba, dia memilih membatalkan perjodohan dan menjadikan Arus, pria berandal yang dibenci warga desa, sebagai alasannya.
Namun, semakin dekat dengan Arus, semakin dia menyadari bahwa pria itu tidak seperti yang orang-orang katakan. Di balik luka dan reputasinya, tersimpan kehidupan yang tak pernah dia bayangkan.
Awalnya hanya pelarian. Tapi bagaimana jika arus yang dia ikuti justru membawanya menemukan cinta yang sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CICAK rawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5
"dari pada aku hidup terus seperti ini, lebih baik aku menyusul anakku saja" ungkap Alya di atas balkon rumah sakit.
Brak....
Arus yang baru masuk membawa makanan, langsung menjatuhkan makanannya.
Tatapannya tertuju ke arah Alya yang sudah berdiri di atas balkon lantai 13.
Alya sedikit menoleh....
"maaf arus, aku tau kau berniat membantu. Tapi percuma, semua orang percaya kepada Laras walau aku bisa menang dalam pengadilan tapi Laras pasti bisa menyudutkan ku di hadapan warga desa hingga aku terlihat paling bersalah"
ucapan ini adalah ucapan terakhir Alya sebelum tubuhnya benar benar meluncur bebas ke bawah.
Arus berlari...
Dug....
Komputer di atas meja kamar arus sedikit bergoyang.
Arus membuka mata, ia tersadar dari mimpi.
Arus menatap ke sekitar, ia masih di kamarnya yang ada di panti.
Ia menatap jam di laptop yang masih menyala.
"jam 4"gumamnya..
Arus menutup laptop itu, lalu ia berjalan menuju balkon kamar yang ada di lantai 2 itu.
Menatap pemandangan cahaya terang dari kejauhan.
Perlahan ia mengambil rokok di saku dan menghidupkannya.
Hembusan asap rokok terlihat berat dan panjang.
"mimpi ini lagi... Kenapa 1 Minggu ini aku selalu memimpikan wanita itu" batinnya.
Arus membuka ponselnya, melihat tanggal di sana yang menunjukkan tanggal 27, tanggal di mana hari lamaran kakaknya.
Setelah menghabiskan rokok di tangan, arus menatap jam yang sudah menunjukkan pukul 6, ia menyambar jaket dan perg.
Saat di depan pintu panti, ia berpapasan dengan wanita yang baru turun dari mobil mewah.
"kak, mau ke mana pagi pagi gini" tanya seorang gadis cantik.
"ada urusan" balas arus.
"urusan apa kak, apa aku boleh ikut..."
"gak usah, lebih baik fokus ke anak anak" ucap arus berlalu pergi.
Putri terus memperhatikan arus yang melaju dengan motornya meninggalkan panti.
"nona muda, apa kita perlu mengikuti tuan muda arus." tanya sopir putri.
Putri menggeleng.
"tak usah, kalo dia tau dia pasti marah"
perjalanan ke desa tempat tinggalnya gurun perlu menempuh hampir 4 jam perjalanan, di tengah jalan ia mampir untuk membeli beberapa barang.
Tak lupa dia pergi ke sebuah apartemen untuk mandi dan mengganti pakaian.
Saat keluar, arus sudah menggunakan baju Koko lengkap.
Setelah sampai ke desa, arus tak pulang ke rumahnya.
Motornya malah mengarah ke salah satu rumah kayu di desa itu.
Itu adalah rumah Alya, rumah Alya memang satu satunya rumah yang belum berubah sejak puluhan tahun.
Arus mengetuk beberapa kali, namun tak ada penghuni rumah yang menjawab.
Karena rumah kosong, arus memacu motornya lagi ke rumah keponakan Alya.
Benar saja, di sana telah ramai orang.
Arus tak memperdulikan orang orang itu, dia masuk begitu saja.
Orang orang di sini juga tak ada yang menghalangi, lagi pula di dalam ada keluarga arus yang tengah melamar Lia untuk Anhar.
"arus akhirnya kamu datang"
walau terlambat, tapi sang ibu tetap senang melihat putra ke duanya itu mau datang.
Namun arus tak duduk di dekat Anhar, dia malah duduk ke dekat juan, ayah Alya.
Tentu semua orang bingung dengan tindakan arus ini.
"Arus mau apa kamu.." tegur Anhar..
Namun arus tak memperdulikan kakaknya itu, ia malah menatap Juan.
"begini, kedatangan saya ke sini mungkin tak selaras dengan tujuan asli saya. Karena ini di rumah anda"
tentu mendengar ini, menambah kebingungan seisi ruangan itu.
Terutama Juan....
"arus apa maksudnya ini...?" tanya Juan.
"aku arus pradana ini melamar putri bapak yang bernama Alya yurisa agar menjadi istri ku"
seketika, ruang itu menjadi hening.
Anhar sebagai kakak mengulurkan tangan untuk menarik adiknya itu.
"arus, apa apa ini.."
Namun langsung di tepis oleh arus.
"jangan ikut campur urusanku..." jawab arus tegas.
Sedangkan Juan, langsung menatap dewangga..
Sedangkan Alya yang mendengar ini langsung ingin menjawab, namun mulutnya keburu di bekap oleh Lia.
"ly, jangan macem macem. Ini urusan orang dewasa."
dewangga mencoba menggelengkan kepalanya sebagai isyarat kepada Juan.
Juan yang mengerti isyarat ini mengangguk sedikit ke arah dewangga.
"jadi begini nak arus..."
"aku menerima..." seru lantang Alya memotong ucapan ayahnya.
Ia sudah melepaskan dekapan dali Lia.
Juan tentu langsung menatap anaknya itu dengan tajam.
"Alya duduk" serunya..
Alya dengan yakin menggeleng.
"kami saling mencintai, jadi tolong pa, restui kami" pinta Alya.
Juan tak dapat berkata kata lagi dengan tingkah anaknya ini, bahkan dia sempat bingung.
Padahal sebelum kejadian penolakan lamaran kemarin, Alya adalah anak penurut.
"aku tau, di mata anda saya tidak pantas. Tapi tolong yakin dengan ku, jika ada pertanyaan sebagai syarat aku akan menjawabnya sebisaku"
"jadi begini, anakku walau begini dia termasuk muslim yang taat. Jadi apa kamu bisa membaca kitab dengan lancar..?"
"tentu, ayat mana yang perlu saya bacakan." jawab arus tenang.
Dewangga langsung menarik sedikit baju Juan.
"jangan kitab, di umur 13 tahun dia sudah menghafal 30 jus".
Awalnya Juan ragu, namun saat arus membacakan salah satu ayat tanpa melihat Al-Qur'an.
Juan akhirnya percaya, dia mencari hal apa lagi untuk menghentikan arus.
Setiap pertanyaan yang ia lontarkan arus dapat menjawabnya dengan mudah.
"kalo begitu pendidikan, walau dari keluarga miskin tapi Alya lulusan s1 dengan nilai yang baik.".
Juan tak sembarangan melontarkan pertanyaan, karena sejak lulus SMA tak ada yang pernah melihat arus berkuliah.
"apa perlu saya keluarkan surat kelulusan saya.. Saya lulusan S2 di Harvard university di Cambridge, negara bagian Massachusetts, Amerika. aku menggunakan beasiswa langsung karena pilihan bakat."
"rus, sejak kapan kamu kuliah" tanya Anhar.
"arus tak basa basi, dia mengambil ponsel dan menunjukkan dokumen kelulusan yang tersimpan di email-nya."
melihat ini Juan tak bisa menjawab lagi.
Juita maju ke samping arus.
"aku tau, anakku memang kurang baik dari sifat maupun cara bicaranya. Tapi tolong biarkan mereka bersama, kita tau memisahkan anak yang saling mencintai akan menyakiti keduanya"
Juan sedikit menarik napasnya lebih dalam.
"baiklah kalau begitu, sekalian saja kita tentukan tanggal pernikahan mereka langsung saja"
arus pun tak lupa memberikan gaun yang ia beli tadi di jalan pulang.
Setelah semua berlalu, mereka akhirnya kembali ke rumah masing masing. Dan acara pernikahan arus dan Alya akan di selenggarakan setelah 1 bulan acara Anhar dan Lia.
Kabar lamaran arus ini sampai menggemparkan 1 desa.
Ada yang menyebutnya romantis dan tentu ada yang menyebutnya ini ketidak sopanan, bagaimanapun lamaran ini terjadi di rumah orang lain.
Sedangkan Bagas selama beberapa hari hanya terdiam di rumah, wanita pujaan hatinya yang telah ia sukai dari kecil kini sudah akan menjadi milik orang lain.
sedangkan Alya hanya bisa terdiam di dalam kamarnya sambil melamun memegang gaun di tangan.
Ada rasa campur aduk di hatinya, rasa bebas karena dia sudah bisa merubah apa yang ia mimpikan dan rasa takut untuk menghadapi sifat arus.
Ia sedikit menatap gaun di tangan..
"apa ku kembalikan saja..." gumamnya.